Love Diary Rendi

Love Diary Rendi
(Happy Ending) Kehilangan akal Sehat bagian 3


__ADS_3

“GEDUBRAK!!” Rekan Rja, memukulku hingga aku tergeletak tak berdaya didekat pintu kamar itu,


RJA pun menggambil balok dan mengayunkan balok itu kearah Rekannya sendiri.


Namun si rekanya itu berhasil menepisnya, dan membuat Rja terpental dibanting olehnya, Tenaga Rekan Rja itu sungguh kuat, dua kali lipat dari preman yang ku temui waktu itu.


“kita lihat sampai mana kamu bisa bertahan seperti itu Rja?” tanya Rekan Rja sambil menggayunkan baloknya mengarahkan kekepalaku, aku pun ditangkapnya, dengan tangannya menarik kerah bajuku, aku yang tak berdaya itu hanya bisa menatapnya matanya, tampa sadar dan tidak sadarkan diri aku pun mengucapkan sepatak kata.


“coba bercerminlah dimataku??” Tanyaku yang bertatapan sambil melotot kearah Rekan Rja yang ingin memukulku.


Dan Tiba-tiba Rekan Rja tak bisa bergerak, setelah itu aku pun terasa tak sadarkan diri dan jiwaku seperti melayang enteng tak ada beban.


Rekan Rja yang menatap mataku, dan seperti kehipnotis tak sadar diri juga dan tak bergerak, Seketika Rekan Rja itu seperti dicekik oleh sesuatu dibagian lehernya hingga terbang kelangit langit, tampa ada yang menyentuhnya, aku pun yang tak sadarkan diri itu berdiri dengan mengangkat tangganku, dan mengucapkan.


“Mending kau mati saja!!” jawabku yang sedang tak sadarkan diri itu,


Rekan RJA pun terpental ketembok dan kembali lagi kedahapanku sambil melayang seperti tercekik, dan seakan diangkat terbang ke langit langit,


“Sepertinya kamu gak bisa nafasya?” tanyaku yang tak sadarkan diri itu.


"Ree, Hentikan ini!! Jawab Rja yang berteriak kearahku.


"Tadi aku bilang hentikan kamu tak mau dengarkan" jawabku yang sedang melihat kearah rekan Rja yang tak berdaya itu.


"Aku mohon maafkan aku, ini salahku Ree" kata Rja yang memohon kepadaku,


"oke, aku terima maafmu" jawabku.


Dan ahirnya Rekan Rja, yang ada diatap langit itu terjatuh hingga kepalaya berdarah dan tak bisa berkata apa apa lagi.


Aku pun menghampiri Putry dengan perlahan, dan membuka tali yang terikat ditangan Putry, Putry pun tersadarkan diri, dan melihatku yang melepaskan ikatannya.


Namun semakin lama diriku merasa lemas, dan pusing, aku pun pingsan dengan menggengam tangan Putry, dan aku sedikit melihat sosok Ferzan yang melihatku dengan senter kecil. yang Menyinariku dan aku mendengar samar samar ramai orang berdatanggan ke rumah kosong itu.


Ferzan membangunkanku yang sedang lemas, dengan memegang tali bekas mengikat Putry, dan aku masih memegang tangan Putry, dia selamat disampikku karena aku masih lemas, aku pun pisngan kembali dihadapan Putry yang sadar dan tak berpakaiyan, lalu Ferzan memberikan jaketnya kepada Putry, untuk menutupi tubuhnya.


“aku dimana? dimana Rja?” tanya Putry yang tersadar, melihatku pingsan.


“sudah jangan di fikirin, fikirin kondisimu sekarang” jawab Ferzan yang membawa Putry pergi, dan Rja pun menyerahkan diri, rekan Rja pun meniggal dunia dengan patah tulang lehernya.


Orang tua Putry juga datang melihat kejadian ini, semua orang menolongku dan membawaku kerumah sakit, dan Rja pun di introgasi di kantor polisi dua anak yang tak sadar diri, hanya aku dan Putry yang selamat dan polisi sempat datang ke TKP, ahirnya polisi menutup kasus tersebut dengan catatan


Kasus pembunuhan anak dibawah, umur dengan pelaku tidak diketahui, 4 anak menjadi korban 3 luka luka dan 1 terbunuh oleh pelaku, Menurut saksi mata pelaku pembunuhan tersebut adalah orang dewasa.


dan sebenarnya, aku telah menjadi tersangka, sebab hanya aku satu satunya orang membawa tali saat pingsan. namun semua itu tak mungkin kulakukan, dengan tubuhku yang kecil ini mana mungkin membunuh Rekan Rja dengan luka yang begitu serius.


Aku pun masih tak ingat atas kejadian saat itu, yang aku ingat hanya, aku yang dipukul oleh Rja dan Rekanya, namun dengan terheran heran mengapa Rekan Rja bisa terbunuh seperti itu?.


Dan karena kejadian ini, aku dan Ferzan harus terpisah dengan Putry, Ferzan yang dilarang ayahnya untuk bermain bersamaku dan Putry yang tak boleh keluar rumah lagi oleh ayahnya, terpaksa Ferzan dan Putry harus pergi karena tak mau dianggap durhaka melawan orangtuanya, dan berita tentangku terdengar sampai jakarta, ibuku yang dijakarta terpaksa juga aku harus meminpindahkanku kejakarta.


...🕰ΩΩ(09-01-2005)ΩΩ🕰...


Ini terahirkalinya aku bertemu mereka berdua kita berkumpul di Pohon kenanganku.


“aku gak nyakngka bisa kaya gini Ren, Rja pergi dariku” kata Putry yang sedih kehilangan pacarnya.


“kamu yang sabar ya Put, mungkin ini takdir untuk dia” kata ku untuk menenangkan hati Putry,


“kenapa bisa RJA jahat sama aku Ren?” tanya Putry sambil menangis dan bersandar dibahuku,

__ADS_1


“aku rasa, memanag dia tidak baik untuk kamu Put” kataku sambil mengelus kepala Putry yang menangis padaku,


Tiba-tiba Ferzan datang dengan berlari kearah kita berdua.


“maaf mengganggumu Ren, aku sepertinya gak bisa sama kalian lagi” kata Ferzan yang terburu buru menemuiku dengan Putry,


“Loh, kok gitu Zan” jawab Putry dengan air mata diwajahnya yang masih menangis,


“ibu dan ayahku menyuruhku menjauhi kalian, maaf aku harus pergi sekarang sampai jumpa saat dewasa nanti Ren, Put” jawab Ferzan yang terburu buru dan langsung pergi begitu saja.


Ferzan pergi dengan alasan orang tuanya aku tak bisa menolak juga, karena itu kemauan orang tuanya.


“Tuh kan Ren, Rja pergi lalu Ferzan pergi, apakah kamu juga pergi Ren??” tanya Putry yang makin bersedih hati.


“ya mana mungkin, aku gak bisa ninggalin kamu Put?” jawabku untuk menghibur Putry supaya dia tenang hatinya.


“gak papa, aku pergi juga kesurabaya nanti kalo Rendi Pergi juga” jawab Putry yang menyuruhku untuk jangan pergi.


“Mmm gak mungkin lah Put, aku pasti menjagamu kok Put” kataku sambil mengelus kepala Putry.


“Rendi ?? kemari sebentar ibu mau ngomong sama kamu” suruh ibuku dari kejauhan


“iya bu? Ada apa?” tanya ku sambil menghampiri ibuku


“kita ke jakara besok Ren!!” Teriak ibuku yang membentak tak sepertibiasanya


“apaah Bu!! aku kan masih betah disini” kataku sambil tak percaya harus pergi juga


“tuh kan bener, Rendi jahat ninggalin aku juga, kamu jahat Ren” kata Putry mendengarkan pembicaraan ku dengan ibuku dan dia menangis sambil berlari dan pulang ke rumah.


...🕰ΩΩ(10-01-2005)ΩΩ🕰...


“Rendi Bodoh!!” teriak kesal Putry dipingir sungai,


“Jebur!!” Suara Ferzan yang melempar batu besar kepinggir sungai dan Putry kaget terkena cipratan air tersebut.


“hah?? Siapa yang bodoh Put?” tanya Ferzan kepada Putry,


“semua temanku, termasuk kau dan Rendi” jawab Putry yang kesal terhadap temanya,


"Semua tak sayang kepadaku" kata Putry dan menangis di pinggir sunggai.


“Put? Kalo aku boleh jujur, sebenernya kamu sayang ke siapa Sih?” tanya Ferzan ke Putry, sambil mendekatinya,


“aku sayang kesemuanya, tapi kenapa aku di tinggal sendirian?” Tanta Putry sambil duduk mainin air sungai,


“ohh gitu?? Padahal dulu kamu sering menanti Rendi kan?” tanya balik Ferzan sambil duduk disamping Putry.


“kapan ya?? Eh dah lah kamu pergi ajah Zan aku disini mau sendiri!!” jawab Putry sambil kesal karena mengingatkan masalalu Putry dengan Rendi.


“dulu, pas kamu belum kenal aku, kamu menanti Rendi kan, sampai ku ajak ke mata air, kamu gak mau kecuali sama dia, yang kamu tunggu dan kamu harapan dikabulin juga kan? lalu kenapa kamu sia siakan sekarang, Rendi banyak menolongmu loh, termasuk aku” kata Ferzan yang flasback dimasa pertemuan mereka bertiga.


“Kenyataanya dia pergi kan gak mau tinggal sama aku lagi disini” jawab Putry dengan sedih.


“bukan itu Putry!! maksutku Rendi itu cinta sama kamu, tapi kamu tak pernah liat kan, dia menagis kesepian gak punya teman dan dibully karena mendekatimu, dia gak mau nyuruh kamu buat cinta? tapi dimataku aku Rendi mencintaimu dengan tulus" jawab Ferzan


“tunggu? Kamu bilang dia cinta sama aku?” Tanya Putry yang baru sadar akan arti cinta.


“iya buktinya, dia berkorban nyawa loh, dia yang nyelametin kamu dirumah kosong, lalu menyelamatkan mu disaat terjebur sungai ini, walapun dia gak bilang tapi hatinya hanya untuk kamu Put” kata Ferzan yang membuat Putry tersugesti kepadaku. -_-

__ADS_1


“kamu bener Zan?? kata Rendi juga gitu cinta butuh pengorbanan, tapi gimana ya?” tanya Putry yang labil dihatinya,


“belum terlambat, kereta menuju Jakarta jam dua, mending kamu susul dia” kata Ferzan sambil menyuruh untuk Putry menggejarku,


Putry pun berlari ke rumahku namun aku sudah berangkat ke stasiun ahirnya putry menyusulku ke stasiun dengan ibunya dan benar saja kata Ferzan kalo keretanya belum berangkat aku pun masih menunggu disana dengan ibuku, Dan tiba di stasiun Kereta Putry mencari keberadaanku di stasiun.


...(bertemulah mereka berdua distasiun)...


"Rendi!!!" teriak Putry dari jauh,


“Putry!! kamu ngapain di sini?” kataku menyapa putry sambil heran,


“PRAK!!” Putry menampar ku dan berkat


“sakit gak?”tanya putry sambil menagis didepanku,


“gak papa kok kalo itu buat kamu tersenyum aku gak papa kamu tampar terus” jawabku sambil kesakitan mengelus pipiku.


“itu bukti kalo kamu cinta sama aku? Kenapa gak jujur Ren sama aku?” tanya Putry sambil menangis lagi bukan tersenyum,


“bohong Put, aku gak cinta sama kamu?”jawabku sambil berpaling badan gak mau liat tangisan perempuan itu,


“Bohong!! kamu yang ajarin aku arti cinta! yang kamu bilang cinta butuh berkorban, kamu udah ngorbanin nyawamu untuk aku kan Ren” jawab Putry yang menarik tanggan ku sambil menagis,


“Apa yang seperti itu bukan cinta Ren?” tanya Putry kepadaku.


...Aku pun terdiam gak bisa berkata dan sedikit meneteskan air mata...


“kenapa kamu diam Ren? Kamu cinta kan sama aku? Jawab ren??” tanya Putry kepadaku dan memelukku dari belakang,


“iya put ? aku cinta sama kamu” jawabku sambil menghadap Putry dan menatap mata Putry, Putry menciumku dan membasuh air mataku,


“kalo kamu sedih dan terluka bisa terobati dengan itu kan, jadi ku mohon jangan sedih ya Ren, aku juga cinta kamu, aku hanya mau kamu disisiku” kata Putry yang sedih dengan wajah penuh air mata.


“kamu mau jadi pacarku? Ya Walaupun aku jauh disana?” tanyaku mengusap air mata dipipi Putry.


“iyah Ren aku mau” jawab Putry sambil mengangguk,


“kayaknya ada drakor gratis nih?” jawab ibuku yang melihatku dan Putry menangis berduaan, Putry pun tersenyum pipinya memerah dan malu malu


“ibu?? Mau gak punya menantu kaya Putry?” kataku yang bertanya kepada ibuku,


“Masa ibu sia siain sih perjuangan Putry dan rendi sampai disini?” jawab ibuku yang berpendapat tentang ku dan Putry,


“-_- memangnya ibu tau dari mana kalo aku berjuang?” kataku dalam hati


“aku Rasa ibu Rendi baca buku diarymu Ren makanya tau” kata author masuk dalam Cerita :p


Dan HAPPY ENDING aku dan Putry berpacaran, dengan jurusan Jakarta Lamongan, amanah dariku kita tak perluh malu mengungkapkan apa yang kita ingin kan dan pasti, jangan menyerah dan tetap yakin menjadi dirimu sendiri.



(Siapapun yang bersungguh sungguh mengapainya, pasti ahirnya akan mendapatkan apa yang dia impikan**nya**)


SELESAI


Rendi Ghani Dhanestha


10 January 2005.

__ADS_1


__ADS_2