Love Of Blood

Love Of Blood
#32


__ADS_3

***Hangatnya perapian malam


Mengingatkanku akan hangatnya pelukanmu


Kesejukan sungai kebahagiaan


Bagai menatap senyummu


Damainya jiwaku


Di mana belas kasih itu?


Bersamamu seperti mimpi semu


Hanya bisa merasakan abadinya duka


Dalam hati tersimpan banyak doa


Kau bilang kita pasti bisa


Bisa saling mencintai


Bersama sampai tua


Bersatu hingga mati


Kau bilang perbanyak doa dan harapan


Impian kita pasti kan terwujud


Namun apa yang terjadi kini?


Biarlah langit yang memutuskan


Satu keinginan


Cinta kita jangan sampai berubah


Hati kita tetap menyatu


Menciptakan bahagia bersama


Tak semudah yang kita duga


Bagaimana harus ku hentikan air mata?


Impian kita hanya sebatas dalam mimpi


Biarlah langit yang memutuskan


Tentang akhir cerita cinta kita***


__________________________________________


"Aku harus memberitahu Frans bahwa aku telah kembali. Dia pasti sangat mengkhawatirkan ku." ucap Aca


drrtt..drrtt..


"Aca, dia menelfon ku. Itu tanda nya dia sudah kembali?" tanya Frans pada dirinya sendiri


"Tidak, aku tidak bisa berbicara dengan nya. Aku sangat merindukan nya, tapi jika ingat masalah perusahaan aku merasa sangat marah. Maaf Aca, aku harap kamu baik-baik saja."


Frans akhirnya memilih untuk mematikan ponsel nya karena tak ingin berurusan dengan Aca untuk sementara waktu


"Huh.. Frans sibuk kah?" keluh Aca


"Tidak, dia tidak sibuk. Pasti dan sesuatu. Aku harus bertanya kepada siapa ya? Ah Sasya, dia pasti tau sesuatu."


Aca menelfon Sasya.


"Halo Aca kenapa malem-malem gini nelfon?" tanya Sasya


"Gapapa kok Sya, aku cuma mau tanya aja soal Frans. Apa selama aku pergi ada sesuatu yang terjadi padanya?" tanya Aca


"Emang kamu pergi kemana, kok aku nggak tau sih." ucap Sasya

__ADS_1


"Yang bener kamu nggak tau?"


"Iya seriusan aku nggak tau, soalnya akhir-akhir ini aku sibuk bekerja." jawab Sasya


"Baiklah tak perlu difikirkan. Bagaimana, apa kau tau sesuatu tentang Frans?" tanya Aca


"Aku tidak tau, tapi beberapa hari yang lalu ia pergi berlibur dengan ibunya." jawab Sasya


"Kemana?"


"Mana ku tau, kau fikir aku wartawan yang terus-menerus bertanya."


"Dasar anak ini. Baiklah terimakasih." jawab Aca


"Ya sama-sama, ya sudah aku matikan dulu. Aku mau pulang kerja."


"Hati-hati ya, udah malem nggak baik anak perempuan jalan sendiri." ucap Aca


"Duh kesayangan ku lagi khawatir ya. Tenang aja aku pasti baik-baik saja. Dasar...." ucap Sasya


"Daaa...."


"Huhh, Ternyata Frans selama ini menikmati hidupnya. Ini tak seperti yang aku fikirkan."


Sementara itu di sisi lain Frans masih terus memikirkan keadaan perusahaan dan cara untuk mengembalikannya ke keadaan semula


"Halo, Leo?" Frans menelfon Leon


"Halo, ada apa kak?" tanya Leon


"Kau sudah menemukan Aca?"


"Ya sudah, aku baru saja akan memberitahu mu." jawab Leon


"Aku sudah tau, barusan dia menelfon ku. Aku sedang tak ingin bicara dengan nya."


"Kenapa? Bukan kah selama ini kau sangat merindukan Aca?"


"Tentu, tapi ada hal yang membuat ku begini. Perusahaan sedang kacau, dan kau tau siapa yang melakukan ini? Papa Aca." jelas Frans


"Bagaimana bisa?"


"Ini masala pekerjaan kak, apa hubungannya dengan Aca?" tanya Leon


"Aku tau ini tidak ada hubungannya dengan Aca. Tapi rasanya emosi tidak bisa terkontrol jika mengingat Aca ataupun papa nya." ucap Frans


"Baiklah kak, kau tenang saja. Untuk masalah keuangan kau tak perlu khawatir, aku yang akan menangani nya." jelas Leon


"Tidak, kau tak perlu melakukan nya. Aku yang akan mengatasi ini sendiri!" jawab Frans


"Ayolah kak, kita ini keluarga. Mana mungkin aku membiarkan mu menanggung beban ini sendiri."


"Hei bocah, kakak mu ini sudah dewasa. Dia bisa mengatasi masalah ini sendiri. Dan dengar, disini aku yang paling tua. Jadi masalah kau dan Mama aku yang tangguh jawab." ucap Frans


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Leon


"Aku akan masuk ke agensi menjadi seorang idol."


"Jangan bercanda." ucap Leon dengan nada mengejek


"Di saat seperti ini apa aku terlihat bercanda?"


"Tentu, apa kau fikir aku akan percaya begitu saja dengan omong kosong mu?" tanya Leon


"Hei aku serius. Menjadi selebriti bukan lah hal yang sulit. Lagipula hanya pekerjaan ini yang dapat menghasilkan uang dengan cepat." jelas Frans


"Apa kau yakin?"


"Yakin!"


"Dengar kak, kau tak perlu melakukan hal seperti ini. Adik mu ini sekarang sudah bisa mencari uang sendiri, dan apa kau tau aku sekarang adalah orang kaya. Aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan mudah." bujuk Leon


"Adikku, tolong beri muka kakak mu ini sedikit saja. Ini sudah keputusan akhir, aku akan menjadi seorang selebriti." tegas Frans


"Baiklah baiklah, seperti nya kita harus bertemu terlebih dahulu agar aku bisa mendapatkan tanda tangan mu sebelum kau menjadi terkenal." ejek Leon

__ADS_1


"Anak ini masih saja suka mengejek orang. Oh iya, aku ingin memberitahu mu hal buruk. Mama masuk rumah sakit karena serangan jantung mendadak setelah mendengar kabar perusahaan."


"Dasar bodoh, kau baru memberitahu sekarang?" teriak Leon


"Tenanglah, sekarang mama sudah di rumah sakit. Beberapa hari lagi kami akan pulang."


"Tidak bisa, katakan dimana kalian. Aku akan kesana sekarang juga."


"Dasar merepotkan, baiklah aku akan mengirimkan alamat nya besok." jawab Frans


"Sekarang dong ngapain harus besok sih?" gerutu Leon


"Ya ya ya baiklah."


Skip.


Leon akhirnya memutuskan untuk pergi menemui Frans dan ibunya.


Brakk.. (suara pintu terbuka)


"Kak Frans?" teriak Leon


"Ssttt.. Tenang lah, Mama baru saja tertidur. Ayo kita bicara di luar." ajak Frans


Frans dan Leon memilih untuk pergi mengobrol di cafe seberang jalan yang dekat dengan rumah sakit. Sepanjang perjalanan semua orang menatap mereka berdua dengan kagum karena ketampanan kakak beradik ini yang tiada tanding.


"Leon lihatlah, belum jadi artis saja aku sudah mempunyai banyak fans." ucap Frans dengan sombong


"Fans apanya, mereka semua itu menatap ku." jawab Leon


"Ah sudahlah kau ini sama sekali tak bisa mengalah padaku sedikit saja."


"Maaf kak, tapi memang kenyataan aku jauh lebih tampan dari mu. Hahaha." ejek Leon


"Dasar anak ini, jelas-jelas aku lebih tampan dari mu." jelas Frans


"Oke cukup, mengapa kita tidak saling mengakui saja bahwa kita memang sama-sama tampan."


"Terserah kau saja anak kecil.


Oh iya, bagaimana bisa kau datang kemari dengan sangat cepat. Bukankah sangat sulit mendapatkan tiket pesawat di waktu seperti ini?" tanya Frans


"Aku sudah mengatakannya, aku sekarang adalah orang kaya. Mana mungkin aku kesulitan untuk mendapatkan tiket pesawat." jawab Leon


"Memang nya apa pekerjaan mu, kau tidak menjadi pembunuh bayaran kan?"


Leon terdiam seribu bahasa. Ia sangat terkejut akan pertanyaan Frans.


"Hahahaha, mengapa wajah mu menjadi pucat. Tenang lah aku hanya bercanda." seru Frans


"Haha, kau ini. Mmm aku berhasil membangun sebuah perusahaan ketika berada di luar negeri." jawab Leon dengan terbata-bata.


"Hebat! Kau bisa sesukses ini dalam waktu singkat." puji Frans.


"Hei mengapa kau berkeringat, AC disini bukan kah cukup dingin?" tanya Frans


"Ah, i i iya dingin. Tidak, maksudnya aku kepanasan." Leon masih belum nyaman karena pertanyaan Frans tadi.


"Kak, bagaimana hubungan mu dengan Aca?" Leon mengalihkan pembicaraan.


"Seperti yang aku katakan di telfon. Sudahlah jangan bahas masalah ini dulu. Sekarang kesehatan mama adalah yang terpenting." jawab Frans


"Oh, ya kau benar."


"Leon, biaya rumah sakit Mama kau yang bayar ya. Hehehe." ucap Frans


"Apa-apaan ini, bukankah kau bilang akan bertanggungjawab atas kelangsungan hidup ku dan Mama?"


"Sudahlah jangan terlalu pelit. Besok kalo aku udah jadi artis banyak duit aku ganti 10x lipat." jawab Frans


"Hahaha, baiklah-baiklah. Mengapa kau menjadi lebih serius seperti ini."


plakk (memukul kepala Leon)


"Dasar anak ini, berani nya mengerjai orang tua." ucap Frans

__ADS_1


"Oh iya, kau istirahat lah di hotel. Biar aku yang menjaga mama disini."


"Ya baiklah, hati-hati." jawab Leon.


__ADS_2