
Sudah 2 hari Adam dan supir nya tidak kembali ke rumah. Ini membuat Ema Widya, Ibu Aca merasa cemas. Pasal nya suami nya tak pernah pergi lama dan tidak memberi tabar sedikit pun seperti ini. Hari itu, ia bergegas pergi ke kantor polisi dengan tujuan melaporkan suami nya telah hilang lebih dari dua hari.
Polisi tersebut pun menerima laporan tersebut dan bergegas melakukan pencarian. Pada hari pertama pencarian, mereka menemukan supir pribadi nya telah tewas karna kehabisan darah dengan badan yang telah membiru dan terlihat dua luka tusukan di perut nya. Ema pun berteriak histeris, ia tak sanggup membayang kan apa yang terjadi pada suami nya setelah melihat supir pribadi nya mati mengenaskan seperti itu.
"Pak, tolong segera temukan suami saya." ucap Ema kepada polisi sambil menangis.
"Tenang Bu, kami akan melakukan yang terbaik. Mohon Ibu tenang dan berdoa agar korban baik-baik saja." jawab polisi
Tiga hari telah berlalu. Pencarian terus di lakukan meski belum sedikit pun menemukan jejak dimana ayah Aca berada.
Ibu nya ingin memberi tahu Aca jika Ayah nya menghilang, tapi niat itu ia urungkan karna belum jelas di mana dan seperti apa keadaan suami nya.
Siang hari, di rumah Aca.
Tok... tok... tok... (suara pintu yang di ketuk)
"Selamat siang Bu, kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan bahwa suami anda telah di temukan." ucap polisi
"Apa, syukurlah. Terimakasih pak, sekarang di mana suami saya. Pasti di rumah sakit kan?" tanya Ibu Aca
"Benar Bu, korban sedang berada di rumah sakit untuk melakukan otopsi."
"Otopsi? Apa yang anda katakan?" tanya Ibu Aca
"Suami Ibu kami temukan dalam keadaan tewas dan telah membusuk dengan luka yang sangat parah. Dapat di pastikan bahwa suami Ibu adalah korban pembunuhan." jelas polisi tersebut
Tanpa berkata lagi Ibu Aca telah kehilangan kesadaran nya dan terjatuh di lantai. Setelah tersadar ia pun menjadi linglung dan terus-menerus menangis sambil berteriak-teriak dengan histeris memanggil suami nya.
Beberapa jam kemudian, ia sudah merasa tenang dan memutuskan untuk datang ke rumah sakit melihat bagaimana keadaan suami nya.
Air mata nya tak bisa berhenti menetes, begitu sakit ia rasa setelah melihat keadaan tubuh suami nya yang tak lagi sempurna dengan jari yang terpotong, badan yang membusuk karna ter siram air keras dan perut yang terlihat banyak jahitan karna telah di betah dengan paksa.
Ia hanya bisa menangis dan menangis.
__ADS_1
"Permisi Bu, kami dari pihak rumah sakit ingin meminta izin untuk melakukan otopsi kepada korban."
"Baiklah, saya memberikan izin. Lalu, berapa lama suami sayang bisa di makam kan?"
"Sekitar satu minggu suami anda sudah bisa di makam kan dengan layak."
"Baik dok, terimakasih." jawab Ibu Aca dengan mata yang sembab.
__________________________________________
Skip
Di Korea
"Sayang, kamu kenapa? Dari tadi aku liat kok melamun terus?" tanya Frans kepada Aca
"Aku juga ngga tau Frans, dari kemaren perasaan aku ngga enak. Kayaknya aku mau balik ke Indonesia dulu." jawab Aca
"Semoga yang kamu katakan benar. Mereka baik-baik aja." kata Aca
"Apaan sih sok romantis banget. Cewe nya juga kegatelan pake sok sedih segala. Najis!" celoteh Intan yang dari jauh telah memperhatikan Aca dan Frans.
Hari pun berjalan dengan cepat. Malam itu Intan telah kembali ke apartemen nya untuk beristirahat setelah seharian lelah bekerja dan lelah perasaan melihat kemesraan Aca dan Frans.
"Huh ... Capek banget. Mandi dulu apa makan dulu ya? Mandi aja deh." ucap Intan
Pranggg... (suara piring pecah dari dapur)
"Astaga suara apaan itu, bikin kaget aja."
Intan tak menghiraukan suara tersebut dan bergegas pergi ke kamar mandi.
Bruk! (Intan terjatuh)
__ADS_1
"Anj**g, jalan lurus gini kok bisa kesandung sih. Kecapekan bener nih aku kayak nya." ucap Intan sambil memijat kepala nya sendiri.
Intan mengambil sebuah handuk untuk mandi. Ketika melintasi sebuah kaca, ia merasa melihat sesuatu dan itu bukan diri nya.
"Aaaaaaaaaaa ..." teriak Intan
Tampak dari cermin sosok lelaki tinggi dengan wajah yang menyeramkan dan darah yang mengalir dari kepala nya memperhatikan Intan. Ia ingat, makhluk ini adalah sosok yang ia rasa adalah ayah nya yang telah meninggal karna ia bunuh.
"Ayah, ayah tolong jangan ganggu Intan ayah. Intan udah minta maaf sama ayah, ayah tolong pergi." ucap Intan dengan dengan gemetar menahan takut.
Tiba-tiba sosok lain muncul di hadapan nya. Wajah nya rusak, badan nya hancur. Jari tangan nya terpotong dan hanya tersisa sekitar tujuh jari. Ia membawa sebuah pisau di tangan nya sambil berjalan mendekati Intan dengan menyeret salah satu kaki nya.
Badan Intan bergetar hebat. Rasa takut tiba-tiba menguasai diri nya, ia tak bisa berkata apapun dan hanya mampu menatap makhluk itu.
Semakin di lihat semakin mengerikan. Makhluk itu menjulurkan lidah nya yang sangat panjang untuk melilit leher Intan. Intan menangis, tatkala ia melihat wajah makhluk itu dari dekat ternyata sangat mengerikan. Wajah nya rusak parah, tengkorak kepala nya pun menghilang dan ter dapat banyak belatung disana. Mulut nya sobek hingga mencapai telinga. Bau nya sangat busuk membuat Intan ingin muntah.
Intan tak bisa bergerak sedikit pun. Perlahan tapi pasti makhluk itu meraba wajah Intan dengan tangan nya yang mempunya jari tak lengkap, Ia melumuri wajah Intan dengan darah nya yang berwarna coklat kehitaman.
Tiba-tiba makhluk itu menghilang dari pandangan. Intan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk selimut. Lalu terdengar suara memanggil-manggil nama nya...
"Intan ... Lihat aku! Aku di atas mu." spontan kepala nya mendongak melihat arah atas, tapi tidak ada apa-apa.
"Aku di belakang mu, aku berada di setiap sudut kamar mu, di setiap sudut ruangan mu, di setiap tempat yang kau kunjungi. Aku akan selalu berada di dekat mu. Ihihihihi ..."
Grep!
Tiba-tiba sepasang tangan memegang leher Intan. Makhluk tersebut lagi-lagi mencekik lehernya, tapi kali ini dengan tangan nya bukan lidah nya. Ia tersenyum memperlihatkan gigi-gigi nya yang tak berbentuk yang hanya terlihat belatung dan cacing di dalam nya.
"Huek!" kali ini Intan benar-benar muntah karna merasa sangat mual.
"Ihihihihi..." Makhluk itu lagi-lagi tertawa.
Perlahan ia melepaskan cengkraman tangan nya dari leher Intan dan menghilang. Di sisi lain sudut kamar nya, Intan melihat sosok ayah nya duduk di jendela sambil menangis melihat diri nya. Perlahan Intan melangkah mendekat ke arah ayah nya, tapi tiba-tiba ayah nya lenyap. Ia hanya bisa menangis sendiri di dalam kamar yang gelap sambil mendekap kaki nya. Sekarang, ia merasa bahwa hidup nya tak lagi tenang karna terlalu banyak kesalahan yang telah di perbuat.
__ADS_1