
Kabar kematian Adam Mahendra, sang CEO yang kaya raya segera menyebar dengan cepat. Semua media lokal maupun internasional berlomba-lomba mencari berita tersebut.
Kabar tersebut pun juga telah terdengar di telinga Leon. Dengan segera ia kembali ke Indonesia untuk mencari tau perihal apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa basa-basi Leon segera mengerah kan semua detektif terhebat dalam organisasi nya untuk menuntaskan kasus ini.
Tok... tok... tok... (suara pintu di ketuk)
"Nak Leon?"
"Halo tante Ema, bagaimana kabar anda?" tanya Leon
"Tante kurang baik nak, kau pasti sudah tau mengenai apa yang terjadi." jawab Ema dengan sedih
"Tante jangan sedih, Leon di sini dateng buat bantu Tante. Oh iya, gimana kata polisi?" tanya Leon
"Adam memang korban pembunuhan. Tante ngga habis pikir, orang mana yang tega ngelakuin ini. Padahal selama ini suami tante adalah orang yang baik." ucap Ema sambil meneteskan air mata.
"Gimana Aca? Dia udah tau tan?" tanya Leon
"Belum nak, walaupun tante tau cepat atau lambat Aca akan mengerti masalah ini. Tapi tante belum bisa ngomong langsung, Aca pasti akan merasa sedih." jawab Ema
"Tante harus kasih tau Aca sebelum dia tau kabar ini dari orang lain. Itu bisa bikin Aca lebih sedih tan." kata Leon
Percakapan mereka pun berlangsung cukup lama. Seringkali Ema bercerita sambil meneteskan air mata, dan untung nya Leon selalu bisa menenangkan nya. Beberapa jam kemudian Leon pamit pergi karna ada urusan yang harus segera ia selesaian. Tapi sebenernya kepergian nya itu semata-mata untuk menyelidiki masuk Adam Mahendra, ayah Aca.
"Tante, Leon pamit pergi dulu. Masih ada urusan yang harus Leon selesaikan." pamit Leon
"Iya nak Leon, terimakasih udah dateng ya. Makasih juga udah mau dengerin cerita tante, berkat kamu tante sedikit ngerasa lega." jawab Ema
"Tante jangan lupa kasih tau Aca secepat nya. Jangan sampai dia tau dari orang lain." kata Leon
"Sebenarnya tante berniat memberi tahu Aca perihal masalah ini setelah hasil otopsi papa nya keluar. Tante ngga tega ngebayangin betapa sedih nya Aca." ucap Ema
"Yaudah Tante yang sabar ya. Leon janji Leon akan bantu tante cari tau siapa pelaku nya dan mengurus masalah ini sampai selesai.
Kalau gitu Leon pamit ya tan." ucap Leon sembari mencium tangan Ema
"Iya nak sekali lagi terimakasih ya. Hati-hati di jalan." sambung Ema.
Leon bergegas kembali ke markas nya untuk mengerah kan semua anak buah nya mencari tau masalah tersebut.
Tak butuh waktu lama, dalam beberapa jam mereka sudah dapat melacak keberadaan dua diantara empat pelaku pembunuhan tersebut. Berkat kecanggihan alat dan otak jenius para anggota nya, secepat mungkin ia dapat menemukan tempat persembunyian para pelaku itu. Mereka tinggal di perkotaan di sebuah apartemen mewah untuk menyamarkan diri jika mereka adalah seorang pembunuh.
"Siap kan helikopter, kita pergi ke tempat itu sekarang juga." perintah Leon
__ADS_1
"Tapi bos, ini akan terlihat kurang baik jika semua orang melihat anda. Secara, anda adalah pengusaha yang terkenal. Masa iya mau jemput paksa orang tanpa alasan yang masuk akal." ucap Lucas.
"Lucas benar bos, images anda sebagai seorang pengusaha yang terkenal akan sedikit mengalami masalah." timpal Vagos
"Bagaimana jika bos tetap dalam helikopter dan kita yang akan turun untuk membawa dua orang itu pergi?" tanya Jack
"Saran kalian masuk akal. Tapi aku akan menyeret orang-orang biadab itu sendiri. Untuk penampilan kalian tenang saja, aku akan menyamar sehingga tidak akan ada orang yang tau. Kalian tetap dampingi aku dan bawa beberapa penjaga untuk memantau dari jauh. Pastikan tidak ada satu pun media yang datang. Kita bersiap sekarang!" jelas Leon
"Baik bos, kita akan menggunakan dua helikopter. Saya akan mengkonfirmasi pihak hotel terlebih dahulu agar tidak menimbulkan kegaduhan. Silakan anda bersiap dan masuk ke helikopter." ucap Vagos
Tak lama kemudian mereka telah selesai bersiap dan bergegas pergi ke tempat persembunyian dua pelaku yang telah terdeteksi itu. Leon menggunakan setelan baju yang terlihat simple namun tetap kasual dan memadukan nya dengan sepatu bot berwarna coklat tua serta menggunakan masker dan topi. Dengan pakaian yang sesederhana itu tetap saja ia tak bisa menyembunyikan kharisma dan ketampanan nya yang luar biasa.
Skip
Di hotel.
Leon dan beberapa anak buah nya turun di lantai tertinggi hotel tersebut. Helikopter itu terus-menerus berputar-putar mengelilingi atap hotel menunggu bos nya menyelesaikan masalah nya.
"Silakan tuan, saya akan mengantar kan kalian ke ruangan yang anda cari." ucap pegawai di sana.
Leon, Vagos, Jack, dan Lucas pun mengikuti karyawan itu. Leon sudah tidak bisa menahan amarah nya. Berkali-kali terlihat tangan nya mengepal mencoba menahan diri untuk tidak berbuat hal yang buruk.
Tok... tok... tok... (suara pintu yang di ketuk)
Salah satu pelaku tersebut membuka pintu. Tanpa aba-aba Leon segera mendorong nya masuk hingga ia tersungkur.
"Kau pergilah. Tolong jaga rahasia ini, jangan sampai ada satu pun yang tau masalah ini atau kau akan tau akibat nya." ucap Jack mengancam karyawan tersebut.
"Baik tuan. Saya tidak akan berani membocorkan masalah ini kepada siapapun."
"Ya, bagus. Pergilah!" ucap Jack
Sementara di dalam ruangan, dua penjahat itu terlihat panik karna kedatangan Leon dan anak buah nya. Mereka bingung karna merasa tidak memiliki masalah dengan Leon.
"Pegang tangan nya!" perintah Leon
Dengan sigap Vagos dan Lucas memegang kedua tangan dari masing-masing penjahat tersebut.
Plak ... (suara tamparan)
"Hei, apa yang lu lakuin. Elu sama gue sekali ngga saling kenal. Lepasin tangan gue." ucap salah satu penjahat
"Woi anj**g, siapa elu berani-beraninya giniin kita. Gada otak lu, cari mati?" teriak penjahat yang lain nya
__ADS_1
Tanpa menjawab Leon meludahi wajah salah satu penjahat tersebut. Ia bahkan mengambil sebuah pisau buah dan memotong salah satu nadi nya. Penjahat yang satu merasa ketakutan melihat teman nya di perlakukan demikian.
"Bos, bos tolong lepaskan saya. Sebenarnya apa yang terjadi? Kita tidak ada masalah apapun bukan?" tanya nya
Leon menjambak rambut pelaku sambil berkata ...
"Melepaskan mu? Tunggu aku memisahkan kedua tangan dan kaki mu dari badan mu. Setelah itu, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk melepas mu." jawab Leon yang membuat tubuh penjahat itu bergetar karna menahan takut.
"Ampun bos, ampun. Aku tidak melakukan kesalahan apapun bos. Tolong lepaskan aku, dan aku akan melakukan semua yang kau minta."
"Ada dua pilihan. Pertama, katakan siapa yang menyuruh mu membunuh laki-laki bernama Adam Mahendra dan apa penyebab nya? Kedua, kau lompat sekrang juga!" ucap Leon
"Adam Mahendra? Tidak bos, aku sama sekali tidak tau." jawab nya
Tanpa basa-basi Leon menyayat pipi kiri pelaku tersebut dengan pisau. Sementara pelaku satu nya terlihat sudah mulai kehilangan kesadaran karna kehabisan darah.
"Lompat sekarang juga!" perintah Leon sambil menunjuk ke arah balkon.
"Bos aku berkata jujur. Kami hanyalah anak buah. Dua diantara kami dari total empat pelaku yang tidak ada disini adalah bos nya. Hanya dia yang tau siapa dalang dari semua ini." jelas penjahat itu.
Leon kemudian menyuruh Lucas untuk mengambil sebuah botol berisi air dan sekantong garam.
"Coba bayangkan, bagaimana jadi nya jika aku mencabik-cabik badan mu dengan pisau lalu menyiram nya dengan air keras ini dan melumuri nya dengan garam?" tanya Leon
"Bos jangan bos tolong jangan. Aku telah mengatakan yang sejujurnya." jawab nya
"Ingat tangan dan kaki nya, tutup mata dan sumpal mulut nya!" perintah Leon
Jack pun melakukan apa yang di perintah oleh tuan nya.
"Mmmmmm ... mmmmm ... mmmmm ...." teriak penjahat itu yang tak bisa berbicara
Tanpa sedikit pun belas kasih Leon dengan mudah nya menyayat semua tubuh pelaku tersebut. Dari tangan, kaki, wajah, dada bahkan punggung nya. Ia juga menyiram kan air keras dan menaburkan garam di tubuh nya.
Pelaku tersebut terlihat menggelinjang menahan sakit sambil beberapa kali terdengar rintihan dari mulut nya. Selang beberapa saat, dua pelaku itu di nyatakan sudah tak bernyawa.
"Sudah mati?" tanya Leon
"Sudah bos." jawab Jack
"Angkat dan buang mereka ke jurang. Bersihkan tempat ini, jangan sampai ada sedikit pun bukti yang tertinggal." ucap Leon
"Baik bos." kata Vagos.
__ADS_1
Walaupun penyelidikan nya kali ini tidak membuah kan hasil, tapi Leon telah mendapat kepuasan batin karna telah membunuh setengah dari penjahat itu. Ia bergegas menaiki helikopter dan kembali ke markas untuk melanjutkan penyelidikan. Sementara helikopter lainnya membawa kedua mayat itu dan membuang nya ke jurang.