LOVE PSYCHOPATH

LOVE PSYCHOPATH
#PART 19


__ADS_3

#PART 19


Cahaya matahari menyusup melalui sela – sela jendela dan mengintip Jean yang masih terrtidur pulas di atas ranjang. Perlahan diapun mengerjapkan matanya menerima pancaran dari sinar tersebut.


Astaga.. tubuh Jean rasanya seperti remuk, pegal di seluruh penjuru. Dia merutuki dirinya sendiri mengingat apa yang tadi dia lakukan bersama Jade.


Dia melangkahkan kakinya perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket, bahkan kini kakinya saja tidak dapat menopang tubuh Jean dengan benar.


“S*alan kau b*ngs*t!! Aku bersumpah akan menggantung kepalamu di balkon rumah ini!” teriak Jean di tengah – tengah guyuran air shower. Membutuhkan waktu lama untuk Jean membersihkan diri.


Dia menatap tubuhnya dari pantulan cermin di kamarnya. Terdapat banyak tanda merah yang ditinggalkan oleh Jade di sana, terutama pada bagian leher dan dadanya. Jean mendengus kesal, memakai pakaian kerah dengan tinggi pun tidak menutupi tanda merah yang berada di lehernya. Dia pun membuka kopernya dan mengambil syal, lalu pakaikannya syal itu pada lehernya.


Jean menuruni satu per satu anak tangga menuju dapur yang terlihat sepi, yahh bagaimana tidak jam menunjukkan pukul 8.00 AM tentunya semua orang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing – masing.


Para pelayan menunduk hormat ketika mendapati Jean memasuki dapur.


“Selamat pagi, Nyonya muda. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Rere, salah satu pembantu di rumah itu

__ADS_1


“Mama di mana?”


“Nyonya menemani Nyonya besar ke rumah sakit untuk konsultasi”


“Ooh ya, apakah masih ada bahan makanan? Aku lapar” Semua pelayan yang ada di sana dibuat terkejut dengan pertanyaan Jean


“Ahh anu maaf Nyonya muda, tapi pesediaan makanan kita sudah habis Pak Anto dan Bu Ratna baru saja berangkat belanja, pasti membutuhkan waktu lama untuk kembali. Hmm tapi sepertinya masih tersisa mie instan di kulkas. Akan saya buatkan dulu, permisi”


“Tunggu! Selesaikan pekerjaanmu. Akan ku buat sendiri” sergah Jean


“Tapi...”


Diana yang baru saja memasuki rumah langsung dikagetkan dengan menantunya yang tengah memakan mie instan di meja makan.


“Jean, jangan memakan itu sayang. Nanti kau bisa sakit” ucapnya sambil ikut mendudukan diri di samping Jean.


“nggak papa kok Ma, sesekali nggak masalah hehe. Mama mau? Nanti Jean buatin” tawar Jean yang dijawab gelengan kecil oleh Diana

__ADS_1


“Nenek di mana Ma?” tanya Jean kepada Diana


“Ada, lagi istirahat di kamar. Loh, kamu mau pergi?” Diana melihat pakaian Jean yang telah rapi


“Iya Ma, Jean mau ke rumah Sherly”


“oo begitu, hati – hati ya sayang” Jean hanya menganggukan kepalanya dan melenggang pergi menuju garasi.


Dia menatap garasi dengan tatapan aneh, Astaga! Jean lupa jika ini bukan di rumahnya, lalu bagaimana Jean bisa keluar? Pak Anto yang merupakan supir dari keluarga itu masih belum pulang dari pasar. Haruskah Jean memesan taxi? Arghhh! Sial.


Mau tak mau Jean harus kembali lagi ke dalam rumah dan menunggu Pak Anto dari pasar. Diana mengernyitkan dahinya melihat Jean yang kembali lagi.


“Ada yang ketinggalan, Jean?”


“Jean lupa Ma, mobil Jean masih di rumah” jawab Jean sambil cengengesan. Diana hanya menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan menantunya itu.


“ya sudah ini pakai mobil Mama saja” tawarnya sambil menyodorkan kunci mobil kepada Jean

__ADS_1


“ehh nggak usah Ma, lagian Jean sudah pesan taxi kok. Sebentar lagi juga datang”


TBC


__ADS_2