
#PART 7
Kring... Kring... Kring...
Jean berdecak kesal setelah melihat nama yang tertera di layar Hpnya. Telah berulang kali dia mengabaikan telepon tersebut, namun si penelepon tidak mau berhenti menghubunginya.
"Ada apa? Bukankah aku sudah memberitahumu untuk tidak menghubungiku lagi?!"
"Beginikah caramu berbicara dengan ayahmu?" orang yang menghubungi Jean adalah ayahnya, Zain Ferdinan Derosse.
"Cih"
"Kau! Pulanglah"
"Drama apa lagi yang ingin kau mainkan?"
"Kau! (membuang nafas kasar) aku tak mau rekan - rekan kerjaku mencemooh keluarga Derosse dikarenakan putri tertua tidak menghadiri pesta ulang tahun adiknya"
Jean segera mematikan sambungan teleponnya. Dia merebahkan diri ke atas sofa yang terletak di belakang meja riasnya.
Apa lagi yang diinginkan oleh Pak Tua itu?
"Arggh sial!! Kau menghancurkan moodku pak tua!" teriak Jean sambil mengusap kasar wajahnya.
*
*
*
*
*
Cahaya matahari menyusup melalui sela - sela jendela kamar, membuat sosok gadis yang tengah tertidur mengerjapkan matanya akibat silau. Dia meregangkan semua otot - ototnya lalu mengambil posisi duduk di tepi ranjang.
Sudut matanya melirik pada jam dinding yang tergantung di sebelah kiri tempat tidurnya dan menunjukkan pukul 7.23 am. Suara ketukkan pintu membuat gadis itu terbuyar akan lamunannya.
"Masuk" ucapnya
__ADS_1
Di detik berikutnya sosok wanita paruh baya bergaun merah dengan membawa segelas cangkir teh terlihat memasuki ruang kamar tersebut.
"Astaga sayang. Cepatlah bersiap - siap! Kita akan berangkat sebentar lagi" perintah wanita paruh baya tersebut.
Gadis itu pun mengernyitkan dahinya. Berangkat? Kemana? Tanpa pikir panjang gadis itu pun merebahkan kembali badannya di atas kasur.
Wanita paruh baya itu merasa sangat geram dengan kelakuan gadis di depannya. Akhirnya dia menarik selimut yang menutupi tubuh anaknya itu.
"Ma.. Sebentar lagi!" rengeknya
"Kau harus bersiap - siap sekarang Ele, kita harus ke salon agar kau terlihat cantik nanti di pesta ulang tahunmu!"
Mata gadis yang bernama Helena itu pun langsung terbuka lebar ketika mendengar kata "ulang tahun". Dia segera bangun dari tidurnya dan berlari menuju kamar mandi untuk bersiap - siap.
Sementara itu di sisi lain...
Jean yang telah berpakaian rapi segera melesat pergi menggunakan mobilnya menuju ke kost - kost an sahabatnya. Dia berencana untuk pergi ke kantornya untuk melihat - lihat sejauh mana para polisi telah menyelidiki kasus Ertan. Sebelum berangkat, Sherly menelpon agar ikut dengan Jean.
#FLASHBACK#
Kring... Kring... Kring...
"hm? "
"jeany, jalan - jalan yuk"
"jalan sendiri sana" jawab Jean kesal dan ingin mematikan sambungan telepon sambil mengecek jam pada sudut atas layar hp nya yang menunjukkan pukul 6.15 am.
"ehh tunggu! Jangan dimatiin dong. Ayo lahh, sekali - kali refreshing gitu. Mau yaa, please"
"hmm jam 8 gue berangkat"
"oke tap- Tut.. Tut... Tut" Sherly mendengus kesal akibat kelakuan sahabatnya itu
Akhirnya Sherly mengirim pesan kepada Jean untuk melanjutkan kata - katanya yang terputus tadi.
Ting! Merasa hp nya berbunyi Jean kembali mengecek layar hp nya dan nampak sebuah pesan dari Sherly yang bertuliskan
Jeanyy ban motor gue bocor, tolong jemput yahh😚 hehe
__ADS_1
Jean menghirup napas panjang dan membuangnya kasar, tapi di sisi lain dia merasa senang karena mempunyai teman yang dapat menerimanya dan selalu menemaninya di saat - saat sulit.
#FLASHBACK OFF#
Sampailah mobil Jean di depan kost Sherly, dia membuka hp nya dan mengirim pesan ke Sherly agar keluar. 5 menit berlalu namun Sherly belum juga keluar, akhirnya Jean memutuskan untuk keluar dsri mobil.
Langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang tak asing baginya tengah memarkirkan motornya tak jauh dari Jean berdiri.
"Sean?" sapanya
Pria yang merasa namanya dipanggil itu pun menoleh ke arah Jean. Mata mereka beradu pandang, Sean melotot tak percaya dengan sosok gadis di hadapannya. Dia segera turun dari motornya dan memeluk Jean.
"Kakak!" ucapnya
Jean pun membalas pelukan adiknya hingga beberapa saat dia pun mendorong adiknya. Dia menatapnya tajam serta membolak - balikkan tubuh Sean.
"Apaan sih kak? Pusing Sean"
"Beneran Sean?"
"Iyalah, siapa lagi coba?"
"eh tunggu - tunggu... Padahal dulu kamu setinggi ini lohh" Jean meletakkan tangannya di samping bahunya. Pasalnya mereka terakhir bertemu ketika Sean masih berumur 16 tahun. Sean pun hanya bisa nyengir kuda mengingat tingkah kakaknya yang dulu sering mengatainya cebol.
"Cebol!" celetuk Sean sambil mengacak - acak rambut Jean.
"hei-"
"ehem"
Suara deheman tersebut membuat kedua insan itu menoleh ke arah suara, di sana tampaklah sosok gadis cantik dengan rambut yang tergerai tengah menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Author biasa aja kali ngeliatinnya" kata Sean
"Sean atut" imbuhnya sambil memasang puppy eyes
"nggak usah sok imut kamu Sean!" perintah Author
"emang Sean imut kok"
__ADS_1
Jean dan Author bergidik ngeri melihat ekspresi Sean yang sok imut itu.