LOVE PSYCHOPATH

LOVE PSYCHOPATH
#PART 29


__ADS_3

#PART 29


Suara dering telepon mengejutkan kedua J yang masih terlelap, dengan mata yang masih terpejam tangan Jean bergerak mencari sumber suara.


“Halo?”


“Kak, Kakak ke Rumah Sakit XX sekarang. Jantung Ayah kambuh” Jawab Sean dari seberang


Mata Jean langsung terbuka lebar, dia melihat ke arah layar Handphonenya untuk mengecek nama penelpon.


“oke kamu tunggu sebentar” Jean mematikan sambungan telepon lalu terduduk diikuti dengan Jade.


“Ada apa?” tanya Jade


“Jantung Ayahku kambuh” Jawab Jean dengan santai


Dia mengusap kasar tengkuknya, ada perasaan kesal di hatinya karena bangun dengan terkejut.


“Apa kau sengaja menggodaku pagi – pagi seperti ini Jean?” tanya Jade lagi sambil memandangi tubuh atas Jean yang polos.


Jean mengernyitkan dahinya alu mengikuti arah pandang Jade, seketika dia langsung menutupi tubuhnya menggunakan selimut dan turun dari kasur. Bruk! Kaki Jean terasa gemetar tak kuat untuk menahan beban tubuhnya.


Jade langsung turun dan memakai celana boxernya, lalu menggendong Jean ke kamar mandi. Diletakkannya tubuh Jean secara perlahan ke dalam bath up.


“Kamu mau apa?” tanya Jean penuh selidik melihat Jade akan melepas boxernya


“Mandi lah”


“Nggak boleh”


“Ayolah Jean”


“Jangan macam – macam yaa” perintah Jean dengan tatapan tajam


“Mana ada macam – macam yang ada cuma satu macam kok” gurau Jade sambil terkekeh

__ADS_1


“Janji Cuma mandi, jangan yang lain – lain”


“Hmm” Akhirnya Jean mengizinkan Jade untuk mandi bersama


Dia segera melepas boxernya dan ikut berendam di dalam bath up sambil memangku Jean. Ya memang awalnya tidak terjadi apa – apa, namun lambat laun Jean mulai merasakan ada sesuatu yang bangkit di bawah sana.


Tangan Jade yang semula diam kini mulai bergerilya dengan bebas ke tubuh Jean. Plak! Sebuah pukulan keras mendarat pada lengan keka Jade.


“Kamu sudah janji nggak macam – macam”


“Oh iya? Kapan? Tadi aku nggak janji tuh, Cuma jawab hm doang” elak Jadensaambil mengecupi tubuh Jean bagian belakang.


“Jade, aku harus ke rumah sakit” Jade menghentikkan aksinya, dia benar – benar lupa dengan keadaan Ayah Zain.


“Baiklah, tapi malam nanti kau harus menidurkannya” ucap Jade sambil menunjukkan miliknya yang sudah berdiri dengan kokoh.


Jean menoleh ke arahnya dan memberikan sebuah tatapan tajam. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tanpa dosa.


Beberapa menit kemudian, mereka berdua telah rapi dan segera menuju ke rumah sakit XX, tempat Ayah Zain di rawat.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Jean cuek, mengingat jika dia masih mempunyai dendam kepada Ayahnya ketika kecil.


“Ayah masih drop, dan ...” Sean menggantungkan perkataannya, lalu melirik ke arah wanita yang masih terdiam di atas bangku. Jean mengikuti arah pandang adiknya itu. Helena? Ada apa dengany- tunggu di mana wanita sialan itu?!


“Jelaskan Sean” ucap Jean penuh penekanan


Seanpun mengangguk dan membawa mereka bertiga ke taman Rumah Sakit, dia merogoh sakunya lalu memberikan sebuah amplop kepada Jean. Mata Jean terbelalak setelah membaca isi amplop tersebut.


Dia langsung meremasnya dan membuangnya ke sembarang arah, kaki jenjangnya melangkah mendekati Helena. Plaak! Jean menampar keras pipi kiri Helena.


“Apa yang kau rencanakan bersama dengan ibu sialanmu itu hah?!” seru Jean sambil menjambak rambut Helena.


“Lepas Jean!” Teriak Helena mengaduh kesakitan.


Kedua laki – laki di sana hanya terdiam, menjadi penonton setia dari pertengkaran kedua wanita di hadapannya. Entah mengapa kini pikiran mereka berdua kosong, mendadak O2n:v.

__ADS_1


Taman Rumah Sakit yang semula tenang kini mendadak ramai, para perawat serta pendamping pasien berbondong – bondong untuk melerai kedua wanita itu.


“Nona, tolong lepaskan ini di rumah sakit” ucap salah satu perawat di sana


Setelah akal sehat Jade kambali, dia segera menarik tangan Jean dan mengunci tubuhnya sehingga Jean tidak dapat bergerak.


“Lepasin Jade!” teriak Jean sambil meronta – ronta


“Atur napasmu Jean, tenangkan pikiranmu” Jean memejamkan matanya dan mencoba mengatur napasnya yang telah memburu tersebut. Setelah agak tenang, Jade pun melonggarkan kunciannya pada tubuh Jean.


“Ele! Jelaskan!” Seru Jean membuat Helena terkejut.


Helena terdiam sesaat, lalu dia mencoba memberanikan diri untuk menatap wanita di depannya itu dan mulai menceritakan semuanya yang dia tahu.


#Flashback ON#


Beberapa hari setelah pernikahan Jean, Zain disibukkan dengan pekerjaannya. Mengetahui tentang dirinya memiliki riwayat penyakit jantung, diapun memanggil pengacaranya untuk mendiskusikan pewaris dari perusahaan MD Group.


Mendengar hal itu, Tasya berniat merayu suaminya agar memberikan posisi pewaris MD Group kepada putrinya, Helena.


“Sayang, ada apa pengacara Jimmy kemari?” tanya Tasya berbasa basi


“Seperti yang kau tahu, aku sudah tua. Bahkan akupun tidak tahu sampai kapan aku bisa bernapas”


“Jangan berkata seperti itu Yah!”


“Aku ingin berhenti, dan biarkan anak – anakku yang melanjutkan semuanya” Tasya tersenyum licik


“Hmm Yah, bagaimana jika Ele yang menjadi pewaris MD Group?”


“Sayang, Jean adalah anak tertua, dia yang lebih berhak untuk menjadi pewaris MD Group”


“Tap-“


“Sudahlah, aku lelah” Zain sengaja mengalihkan pembicaraan, karena dia tahu dengan apa yang dipikirkan oleh istrinya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2