
#PART 34
Kring... kring...
Ponsel Jade berbunyi di tengah –ntengah penjelasan dari Rani. “Maaf, tolong tunggu sebentar” ucapnya sambil melangkah keluar.
Jean? Tumben sekali dia meneleponku
Gumam Jade dalam hati
“Halo?”
“Halo? Ada apa Jean?”
“...”
Merasa tidak ada jawaban, Jade mengecek ponselnya yang masih tersambung dengan istrinya.
“Jean? Halo?” tiba – tiba Jean mmengalihkan panggilan duaranya menjadi panggilan video.
Jade mengernyitkan dahinya, dengan ragu dia pun menarik tombol hijau di layar ponselnya. Wajah Jean terpampang jelas di sana menampilkan senyum manisnya membuat Jade semakin terheran – heran.
“Sudah makan?”
“Belum” Jean menggeleng lalu menyandarkan dagunya di atas telapak tangan
“Kenapa belum makan?”
“Mau di suapin sama kamu” lirih Jean namun masih dapat di dengar oleh telinga Jade
Setelah mengatakan itu panggilan video tersebut langsung dimatikan oleh Jean.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Jade mencoba menghubungi kembali istrinya, namun panggilannya selalu di tolak.
“Aihh astaga, kenapa istriku berubah menjadi menggemaskan seperti ini” Jade mengusap wajahnya tak kuat membayangkan ekspresi malu dari Jean.
__ADS_1
“Cepat selesaikan pekerjaanmu Jade, agar kau bisa bertemu Jean!” semnagat Jade pada dirinya sendiri.
#Ruang Direktur MD Group
Jean membenamkan wajahnya di tangannya merasa menyesal telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak di ucapkan.
“Sh*t!! Kenapa juga aku harus merasa malu seperti ini! Ingat Jean, kau harus memperlambat pekerjaan para polisi itu”
Jade kembali memasuki villa tersebut dengan perasaan yang berbunga – bunga, “Maaf bisakah kita lanjutkan?” tanyanya yang diangguki oleh pemilik villa.
“setelah saya mengantar nona-“ ucapan Rani kembali terhenti ketika salah seorang pelayan menghampirinya dan membisikkan sesuatu.
“apa kau tidak lihat, aku sedang ada tamu?” tanya Rani sambil berbisik
“maaf nyonya, tapi orang ini ingin berbicara langsung dengan nyonya”
“Mm, Maaf pak, saya tinggal sebentar”
“Ooh iya silakan”
“Nyawa anakmu masih berada di tanganku. Kau lupa?”
Mata Rani terbelalak, keringat dingin langsung mengalir dari pelipisnya. Tangan nya bergetar dan tak mampu lagi memegang telepon itu.
“Nyonya! Nyonya kenapa?” khawatir sang pelayan tadi
“K-kau cepat, cepat usir para polisi itu dari sini!!” titah Rani
“T-tapi nyonya-“
“Cepat! Nyawa putriku sedang dalam bahaya!”
‘B-baik!” Pelayan itu langsung berlari menuju ke arah ruang tamu untuk menemui para polisi
“M-maaf tuan, Nyonya Rani ada masalah mendadak yang sangat serius. Mohon maaf atas ketidaknyamannya” Ucap pelayan itu sambil membungkukkan badannya.
__ADS_1
Reyhan menatap wajah pelayan wanita itu dengan seksama, “Kalau begitu kami pamit dulu, maaf merepotkan” jawab Jade
“Hati – hati tuan”
“Jade, kau menyadarinya?” tanya Reyhan
“Ya. Saat ini mungkin pembunuh itu sedang mulai bergerak. Rey, perintahkan beberapa anak untuk mengawasi keluarga pemilik vila ini”
“Baik”
Mereka berdua memasuki mobil dengan Reyhan sebagai pengemudinya dan beberapa detik kemudian mobil itu telah melesat menjauhi vila.
Sebenarnya siapa wanita itu? Apakah mungkin Jean?
***
Setelah seharian berkecamuk di depan komputer, Jean memutuskan untuk pulang ke rumahnya untuk membersihkan diri. Ting! Dia pun mengurungkan niatnya untuk memasuki kamar mandi.
Brian
Bos, Renita- putri Rani sudah kami amankan
Jean
Bagus! Awasi dia. Jika perlu kau santap saja dia, tapi ingat jangan sampai mati!!
Brian
Baik bos, bagaimana dengan para penghuni vila itu?
Jean
Bakar sampai tak tersisa satu helai rambutpun
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak kalian, ayo like, komen, dan vote novel author😌
__ADS_1