
#PART 31
Setelah menyampaikan semuanya, Helena kembali teruntuk menahan isak tangisnya. Sungguh dia dibuat bingung karena setelah ini dia pasti akan di tendang dari Keluarga Derosse, Tasya? Dia telah kabur ke luar negeri menghindari tuntutan yang akan diberikan oleh Zain.
“Jean, aku mohon tolong aku” pintanya sambil menggenggam tangan Jean
Jean hanya menatapnya datar, jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat menikmati ekspresi yang di tampilkan di wajah Helena.
“Walaupun kita bukan saudara, tapi kita dibesarkan bersama”
**Saudara dia bilang? Apakah dia lupa jika Ayah selalu membelanya kapanpun dan dimanapun
Batin Jean*
“Aku tak bisa membantumu” genggaman tangan Helena langsung terlepas. Pikirannya benar – benar kacau saat ini.
“Tapi.. sepertinya kenalanku dapat membantumu” ucap Jean membuat Helena kembali bersemangat.
“Benarkah? Terimakasih Jean”
“Kau yakin akan menerimanya?” tanya Jean memastikan
“Tentu Jean” Jean pun tersenyum penuh kemenangan. Dia segera menghubungi kenalannya itu dan meminta janji temu dengannya.
“Baiklah, bersiap – siaplah. Jam 8 kita berangkat” ujar Jean sambil berjalan menuju ke dalam rumah sakit untuk melihat kondisi Zain.
Langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria berpostur tinggi dengan usia sekitaran 40an sedang berdiri di depan ruang VIP temoat Zain di rawat. Pria itu pun ikut menoleh ke arah Jean, lalu di detik berikutnya dia membungkukkan badannya untuk memberi salam.
“Nona” sapanya yang dibalas anggukan oleh Jean
“Apa sudah sadar?” tanya Jean kepada pria di sampingnya
__ADS_1
“Belum nona. Hmm, bisakah kita bicara nona? Bersama dengan Tuan Sean” Sean menatap bingung kepada pria itu, namun dia tetap mengikuti langkah kakaknya menjauh dari keramaian.
Pria tadi mulai menjelaskan semua pesan yang telah diberitahukan Zain kepadanya, termasuk untuk pewaris dari Group serta lainnya. Ya, pria itu adalah pengacara pribadi Keluarga Derosse yang tak lain adalah Pengacara Ziko
“Silahkan tanda tagani berkas ini, Nona” ucapnya sambil menunjukan berkas pemindahan kekuasaan presiden direktur.
Jean hanya diam dan menatap berkas dihadapannya dengan datar, lalu diapun menatap Sean dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Sean yang lebih berhak menjadi pewaris MD Group” Sean pun melototkan matanya kepada Jean
“Kakak, kau tahu kan. Aku tidak mau menjadi pewaris Ayah” rengek Sean sambil menunjukkan puppy eyesnya berharap agar Jean dapat luluh.
“Mungkin kau lupa Sean. Aku seorang dok-“
“Banyak kok dokter yang sekaligus jadi CEO” celetuk Sean mendapatkan tatapan tajam dari Jean
Pengacara Ziko hanya menghembuskan napasnya kesal melihat tingkah kedua kakak beradik dihadapannya itu yang sama sekali tidak berubah dari dulu. Namun, di lain sisi dia juga merasa senang karena kondisi Jean telah lebih baik dari saat terakhir kali mereka bertemu.
Jean mengambil berkas tersebut dan menanda tanganinya, lalu menyerahkan kembali berkas tersebut kepada pria di hadapannya itu.
“Baiklah, saya pamit Nona dan Tuan muda”
Kakak beradik itu kembali ke posisi di mana ada Helena dan juga Jade yang sedang duduk di atas kursi besi di depan ruang VIP.
“Jade, kamu nggak ke kantor?” tanya Jean setelah melihat jam tangannya dan menunjukkan pukul 06.30 AM
Mata Jade membulat dengan sempurna, dia benar – benar melupakan pekerjaannya. Dia juga ikut mengecek Handphone nya untuk melihat jam.
“Ya ampun Aku lupa sayang” ucapnya sambil sedikit berlari, namun tiba – tiba dia memberhentikan langkahnya dan balik menuju Jean. Cup! Kecupan singkat mendarat di bibir Jean.
“Jangan lupa sarapan ya” Semua orang yang di sana melototkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
“Ciee yang lagi kasmaran. Pantas saja tadi lama ke sini lama, pasti lagi bu-” kata Sean sambil tersenyum meledek
“Diam!” seru Jean membuat Sean terkejut namun tidak membuatnya takut. Dia semakin meledek kakaknya
“Lagi buat sarapan kak, kenapa marah? Jangan – jangan beneran ya lagi buat ponakan” imbuhnya sambil tertawa cekikikan.
Jean menatap jengah ke arah adiknya itu, entah kenapa sejak bertemu dengan Jade hidupnya terasa lebih berwarna. Dan dia juga merasa nyaman bersamanya.
# Di tempat lain
“Kau sudah mengerjakan semua yang ku perintahkan?” tanya salah seorang pria kepada anak buahnya
“Sudah Tuan” jawab salah satu anak buah dari pria tersebut sambil menunjukkan barang bukti
Pria itu pun tersenyum sambil membuka tas pinggangnya dan mengeluarkan amplop coklat yang lumayan tebal, lalu memberikannya kepada anak buah di hadapannya.
“Itu bayaran kalian, apa cukup?”
“Cukup Tuan, senang bekerja sama dengan Anda” ucapnya lalu keluar dari gang sempit yang minim pencahayaan itu.
Setelah menunggu beberapa saat, pria itu menyusul anak buahnya untuk keluar dari gang sempit agar tidak terlihat mencurigakan. Di dalam mobil, dia mendengar Handphonenya berdering.
Dia melihat nama pengrim pesan dari notifikasi, dengan segera dia membuka pesan tersebut dan senyum dengan penuh kemenangan.
...
Good Job!
TBC
Jangan lupa LIKE, KOMENTAR, dan VOTE yaa
__ADS_1