
#PART 22
Jean ingin tertawa rasanya melihat tatapan mantan tunangannya itu yang telah berubah secara drastis. Mata yang pernah menatapnya dengan penuh cinta dan kasih sayang, kini beralih menjadi tatapan bengis dan dingin.
“Kau ingat sayang? Dulu mata ini pernah menatapku dengan lembut dan penuh cinta” ucap Jean mengusap pipi Rei dengan lembut dan menatap matanya dengan lekat.
“Jauhkan tangan kotormu itu dariku!” Rei memalingkan wajahnya
Jean hanya bisa tertawa kecil sambil mendudukkan dirinya di kursi yang terletak tak jauh dari hadapan Rei.
Dia menghembuskan napas panjang dan menopang dagunya dengan tangan kanannya. Jade benar - benar telah merusak moodnya kali ini. Bahkan Jean rasanya tidak bertenaga untuk menyiksa mantan tunangannya.
“Aku ingin menwarkan kerja sama denganmu Rei,”
Rei yang sedari tadi memperhatikan Jean pun merasa terheran – heran dengan ekspresi yang tergambar di wajah wanita yang dulu sangat dicintainya itu. Namun disisi lain dia merasa agak tenang, karena untuk kali ini Rei tidak merasakan sakit.
Sekali lagi Jean membuang napas panjang, dan akhirnya dia berjalan mendekati Rei. Dia merogoh kantung celananya untuk mengambil kunci. Besi yang hampir berkarat itu pun terlepas dari tangan Rei.
“Apa kau ingin menggunakan cara lain untuk menyiksaku Jean?” tanya Rei, bibirnya terangkat membentuk senyuman kecut.
Jean tetap diam tak menjawab pertanyaan dari Rei, dia menuntun Rei untuk berjalan menuju ruangannya.
“Mandilah sana” perintah Jean sambil menunjuk kamar mandi menggunakan jari telunjuknya
“Hmph gila” Gumam Rei sebelum memasuki kamar mandi
Jean mendudukkan dirinya di salah satu kursi di cafe, dia memainkan Handphone nya sambil menunggu Sherly, sang sahabatnya tiba. Beberapa menit kemudian, suara dentingan lonceng membuatnya menoleh ke arah pintu.
Nampak seorang wanita yang tengah mengedarkan pandangannya seperti mencari sesuatu, dan ketika tatapan mereka bertemu senyuman lebar terlukis di bibirnya.
“Wah kayaknya ada yang punya masalah ini, tumben banget ingat punya sahabat” sindir Sherly
“Cih berisik! Tunggu apalagi ayo duduk”
Sherly menyebikkan bibirnya sambil duduk di hadapan Jean, lalu memanggil pelayan dan mengucapkan pesanannya. Dan tak lama, pesanannya pun datang.
__ADS_1
Dia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan, tatapannya terkunci pada salah satu meja dimana terdapat pria yang nampak familiar baginya.
“Jean, bukannya itu suami lo ya?” Sherly menunjuk ke arah meja di pojok kanan, mata Jean pun mengikuti arah telunjuk Jean.
Ingatannya tentang semalam pun mulai terulang kembali, wajahnya memerah menahan malu dan juga kesal. Tanpa dia sadari, Sherly telah berdiri di depan meja yang terdapat Jade di sana
Astaga anak ini!!
Batin Jean*
“Hai” sapanya kepada Jade dan rekan kerjanya yang lain
Semua yang ada di meja itu pun menoleh ke arah Sherly, lalu di detik kemudian tatapan semuanya beralih ke arah Jade yang membalas sapaan Sherly,
“Hai, Sherly kan?”
“loh ingat rupanya” celetuk Sherly sambil cengengesan
“Sama siapa? Ayo gabung” tanya Jade sopan
“Itu! Sebentar ya, gue panggil dulu” Sherly menunjuk Jean yang tertunduk memainkan Handphonenya.
Semua rekan kerja Jadepun dibuat bingung dengan Jade yang tetiba mengusap kasar wajahnya yang sudah terlihat merah.
“Kenapa Jade? Normal kok” tanya Reza sambil meletakkan tangannya di kening Jade untuk memeriksa suhu badannya.
“Gue nggak sakit yaa” sergah Jade membuat semuanya terkekeh
Seorang pelayan datang untuk menggabungkan meja kosong dengan meja Jade, lalu Sherly mendudukan bokongnya di samping Reza dan Jean masih berdiri.
“Ayo duduk Jean. Lagi bisulan ya?” tanya Sherly
Jean menatapnya tajam lalu dengan terpaksa dia menarik kursi di samping suaminya. Seketika suasana di meja itu menjadi hening.
“Lo nggak ada kemauan buat ngenalin mereka ke kita kah?” tanya Bagas kepada Jade
__ADS_1
Jade menaikkan sebelah alisnya menatap sahabatnya itu, lalu di detik berikutnya dia memperkenalkan wanita di sampingnya yang telah berstatus menjadi istrinya.
“Dia istriku, Jean”
Semua orang yang ada di sana merasa terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Jade, terkecuali Reyhan dan Sherly yang sudah mengetahui akan hal itu.
“Wahh nggak nyangka loh Jade, lo bisa cari kakak ipar yang cantik juga” Bagas menyipitkan matanya kepada Jade dengan nada mengejek.
“Hai kakak ipar, kenalin gue Bagas”
Jean tersenyum ramah kepada semuanya, lalu dia berdiri menerima salaman dari teman – teman Jade.
“Reza”
“Yoga”
“Reyhan” ucapnya sambil terkekeh, Sherly yang melihatnya pun langsung memukul tangan Reyhan
“halahh nggak usah nyuri kesempatan kamu!”
“Nih bocah ngapain dah” Reyhan menatap Sherly dengan tatapan mengejek. Sherly semakin dibuat kesal olehnya.
Hmmm gue mencium bau – bau BBC” celetuk Reza
“BBC?” tanya Bagas dan Reyhan secara bersamaan
“Iya BBC, Benih – Benih Cinta” godanya sambil menatap ke arah dua insan yang tengah beradu mulut.
“Dihh amit - amit” Sherly bergidik ngeri membayangkan dirinya menikah dengan Reyhan. Semua orang yang di sana tertawa melihat raut wajah kesal Reyhan dan Sherly.
“sudah, lanjutkan makan kalian” perintah Reyhan dengan nada kesal
Meja itu pun kembali hening, semuanya sibuk menghabiskan makanan yang sudah dihidangkan di meja.
Ketika semua orang disibukkan dengan makanan, Reyhan malah memperhatikan pasangan pengantin baru di hadapannya itu dengan tatapan aneh.
__ADS_1
“Oh iya Jade, kalian berencana mau Honeymoon kemana?” Jean terlonjak kaget dan akhirnya tersedak ketika ingin menelan makanannya.
TBC