
"Kalian semua jahat sama aku, kalian pembunuh. Kembalikan dua anakku, kembalikan hiks hiks hiks," teriak Dilra lagi. Kali ini dia malah menangis, setelah tadi suaranya naik beberapa oktaf.
"Kalian pembunuh!"" Dilra menangis sembari memukul pundakku, dengan keras. Aku memeluknya erat tapi Dilra malah meronta, minta dilepaskan, terus saja berteriak. Aku menutup mulutnya dengan telapak tangan, agar dia berhenti melakukan itu.
"Dia membunuh anakku Mas. Anakku mati. Dinda dan Aira, maafkan Bunda Sayang. Seharusnya kalian ada di sini, di sisi Bunda.’ Dilra menenggelamkan kepalanya di dadaku. Bagaimana bisa dia menyalahkan Ibu atas kematian anakku. Apa benar ini semua salah Ibu. Aku terus memeluk mengusap punggung yang masih berguncang karena isaknya. Sesekali mengecup keningnya demi bisa melepas sesak, yang kian merasuk ke dalam dada. Pintu rumah kami diketuk dari luar, teriakan Dilra pasti mengundang penasaran orang rumah. Gegas kubuka pintu, dan benar saja ada Ibu di balik sana.
"Usir dia Bu, suruh dia pergi, Dilra enggak mau lihat dia ada di rumah kita.” Dilra berkata dengan wajah basah. Ibu menatapku heran, tapi setelahnya menarikku keluar kamar. Rupanya sudah ada Bapa di balik dinding kamar kami. Matanya penuh dengan sorot khawatir bercampur penasaran.
"Duduk!" katanya. Aku tahu masa ini akan datang, bagaimana pun aku harus bertanggung jawab, telah mengabaikan putrinya. Aku mulai menjelaskan dengan inti permasalahan yang terjadi. Bapak hanya diam dan mendengarkan sedang Ibu, tampak mati-matian menahan air mata agar tak tumpah di depanku. Mana ada orang tua yang mau anaknya di perlakukan begitu. Lantas Bapak berdiri mendekat. Aku berpikir semuanya akan berjalan mudah. Nyatanya, dia menarik kerah bajuku lalu. Sebuah pukulan dilayangkan Bapak padaku. Aku hampir tersungkur, menerima kepalan tangannya yang mendarat tanpa persiapan di wajahku.
"Pergi kamu! Enggak usah balik lagi ke sini!" Aku ditinggalkan sendiri di ruang tamu, sekarang aku tahu mengembalikan Dilra ke rumah tak akan semudah pikiranku. ~
"Apa yang sudah Ibu lakukan ke Dilra?" Aku kembali ke rumah tak peduli meski hari sudah larut malam.
"i-ibu enggak melakukan apa pun istri kamu pasti mengadu lagi ya, menuduh Ibu yang macam-macam ‘kan? Ibu itu serba salah banget di mata istrimu,’ kata ibu, dia kembali menangis seperti biasa.
"Jangan pakai tangisan Ibu buat menutup semua kesalahan yang sudah Ibu perbuat, kenapa Ibu enggak bisa menghargai Dilra?"
"Ibu cuma mau bantu kamu supaya menjadi orang sukses, coba uang dipegang Ibu, kamu juga kan yang senang.”
"Bu, bukan seperti itu caranya. Selama ini aku percaya Ibu sayang sama Dilra mau mengurusnya, kenapa malah enggak pernah memberikan apa yang menjadi haknya. Kami kasih kepercayaan biar Ibu merasa di hargai. Istriku setuju meski itu berat. Ibu janji bakal adil tapi kenyataannya?"
"Ibu salah, Lang,’ ucap Ibu. Kali ini dia menangis sembari memukul-mukul telapak tangan ke mulutnya. Ibu tahu aku paling tak tahan dengan tangisannya. Dia seperti sengaja melakukan itu, demi membuatku kasihan. Padahal seharusnya dia bisa menjelaskan dengan tenang tanpa tangisan.
“Apa yang Ibu takutkan, aku bakal tanggung jawab. Kenapa Ibu selalu minta lebih. Kasihan Dilra jadi sering mengalah demi Ibu. Semua itu dia lakukan supaya Ibu mau menghargai dia." Ibu hanya diam. Dia duduk terisak di sofa ruang tamu kami. Kalau sudah begini aku bisa saja khilaf pada perempuan yang telah merawatku hingga dewasa ini.
“Ibu tolong jawab aku apa yang Ibu lakukan ke Dilra sebelum dia keguguran?” tanyaku. ibu yang tadinya tertunduk mendadak mendongak. Wajahnya tampak terkejut, tetapi selanjutnya malah menangis lebih pilu lagi.
__ADS_1
"Apa lagi Lang, Ibu enggak melakukan apa-apa. Istrimu itu kenapa selalu saja menyalahkan Ibu?" katanya sambil terus terisak. Aku pikir tidak ada gunanya meminta keterangan dari Ibu, jawabannya selalu saja sama.
"Mia, ke sini cepat!" teriakku.
"lya Bang, bentar,’ sahutnya dari dalam kamar.
“Tenangkan Ibu, Abang mau keluar, ada
urusan sebentar."
“Kamu mau ke mana lagi, Lang?" tanya Ibu.
"Maaf Bu, Galang harus pergi. Tenangkan diri Ibu dulu, aku enggak mau kelepasan. Pikiranku lagi kacau.” Sekarang lbu malah luruh ke lantai. Dia terus saja terisak sembari memohon maaf padaku. Aku tak tahan lagi kalau sudah begini. Aku hanya mampu memeluk lalu memapahnya sampai kamar.
“Jangan begini Bu, biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri. Aku ingin punya keluarga sendiri. Bukan berarti aku enggak sayang sama Ibu. Aku permisi."
“lya Bang,’ sahut Mia yang langsung mendekati ibu. Kututup pintu kamar itu, meski rasanya tak tega mendengar tangisan Ibu yang justru bertambah keras. Sampai di luar rumah nyatanya ada beberapa tetangga yang berdiri di rumahku. Mereka memberondong dengan puluhan tanya tentang ibu. Aku hanya menjelaskan sekadarnya kalau ini murni masalah keluarga biasa, dan tahu apa yang membuat heran mereka malah menuduh ini semua karena Dilraku.
"Pasti gara-gara Mbak Dilra ya Mas, kasihan loh itu Si Ibu." Aku sampai mengeritkan dahi karenanya.
"Kasihan kenapa?"
“Enggak pernah di kasih uang kan sama Dilra, sering loh dia menangis di rumahku. Bilang sama istrinya, orang tua hidup enggak selamanya loh."
"Duh kayaknya Ibu sudah salah paham mana mungkin istri saya begitu, sudah ya Bu. Saya ada urusan, permisi.” Apa lagi ini, jadi selama ini yang Dilra bilang padaku benar. Ketika dia mengadu kalau Ibu suka menuduhnya macam-macam, jadi bahan gosip dengan tetangga juga benar adanya.
“Bang, aku mau pulang saja,’ ucap Dilra kala itu.
__ADS_1
"Kenapa lagi, Dek?"
“Ibu masa bilang ke tetangga aku perhitungan. Enggak pernah kasih uang, padahal setiap bulan aku kasih,' jelasnya dengan bibir yang sedikit mengerucut manja, makium saja saat itu kami masih pengantin baru. Bisa dibilang hubungan kami sedang hangat-hangatnya.
“Enggak usah didengar Dek, namanya juga orang tua kadang suka kayak anak kecil.”
“Aku malu Mas, setiap arisan ditegur sarna tetangga terus.”
"Ya terus sekarang maunya bagaimana?” tanyaku, saat itu sebenarnya aku tidak terlalu menganggap hal ini sebagai masalah.
“Ya Mas tanyakan ke Ibu kenapa melakukan itu?"
“lya nanti Mas tanyakan.” Seakan hanya angin lalu, keluhan-keluhan itu tak pernah aku sampaikan pada Ibu. Aku tak pernah menegur Ibu. Ini pun kali pertama aku menegur Ibu, sayang sekali sudah sangat terlambat. Sekarang Dilra tidak lagi tinggal bersama kami.
Lain waktu ketika Dilra keguguran. Aku yang panik langsung pulang ke rumah. Hari itu masih jam satu siang, dia di klinik sendirian. Saat kejadian rupanya Dilra tak memberi tahu Ibu. Keesokan harinya aku membawa Dilra pulang ke rumah. Katanya ini semua salah Ibu. Sekali lagi aku memang bodoh berpikir Dilra hanya terlalu banyak pikiran hingga dia menyalahkan seseorang atas musibah yang menimpanya.
“Apa salahnya aku tiduran sebentar Mas, aku cuma capek. Kenapa juga Ibu menggunjingku ke tetangga malah dibicarakan yang enggak-enggak. Hasil cucianku enggak bersih, pelitlah. Kenapa salah terus di matanya,;’ ucap dilra berapi-api. Aku bisa merasakan ada banyak kesedihan di sana. Namun, bodohnya aku malah membiarkan dia menanggungnya sendirian. Seraya memeluk istriku yang menangis tergugu di ranjang klinik. Dia terus menangisi calon buah hati kami yang telah pergi mendahului, bahkan saat kami belum bisa menimangnya.
"Sabar Dil, Mas tahu ini berat. Kamu harus kuat ya.’
"Bayiku enggak ada Mas, sudah enggak ada,’ katanya sambil terus terisak. Dilra semakin terpuruk. Hampir seminggu aku tak berangkat ke kantor karena harus menemani Dilra. Kondisinya benar-benar lemah waktu itu. Dia sering tidak sadarkan diri saat mengingat bayinya, masalahnya Dilra juga menolak diurus oleh Ibuku. Bahkan berada dalam satu ruangan dalam waktu yang cukup lama, kesehatan Dilra bisa langsung menurun.
"Dek kan Mas harus kerja, Adek sama Ibu ya. Mas sudah bilang biar jaga kamu."
"Aku enggak mau merepotkan orang lain. Aku mau pulang saja. Kalau mau kerja silakan, tapi antar aku pulang dulu, Ibu itu suka menjelekkan aku ke tetangga sini,’ katanya sambil sesekali menengok ke kanan dan ke kiri. Sejak kKehilangan anaknya kurasa Dilra jadi sering waspada berlebihan.
"Ya sudah, nanti Mas bilang lagi sama Ibu biar enggak menjelekkan kamu lagi. Sekarang makan ya, Mas suapi.” Begitulah Dilra dia terus merajuk ingin pulang. Bukan aku tak mau mengantarnya, kondisinya sangat lemah. Bagaimana bisa dia tahan dengan kondisi jalanan. Rupanya Ibu mendengar ucapan kami, aku baru ingat sekarang kenapa Dilra kerap kali waspada saat kami tengah bicara berdua, terutama kalau itu berkaitan dengan Ibu. Dia selalu saja kedapatan menguping pembicaraan kami. Ya Tuhan, kenapa aku baru sadar setelah sekian lama.
__ADS_1
bersambung...