Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Dia Terluka


__ADS_3

“Astaghfirrullah." Tanpa sadar aku malah mundur ke belakang, punggung jadi bersentuh langsung pada ujung meja kerjaku.


"Loh Mas, Mas Enggak apa-apa?" tanya Farah.


“Enggak apa-apa, saya baik-baik saja, Di kayaknya gue enggak bisa lanjut kerja lagi, gue ijin pulang dulu ya, sorry banget.”


“Santai saja, gue tahu banget posisi lo,” kata Ardi.


“Thanks ya"


~


Sepanjang perjalanan macet di mana-mana, katanya di Masjid Raya dekat kota kami ada tausiah dari Ustad Kondang yang terkenal. Banyak jamaah yang datang memadati halaman masjid, kendaraan yang keluar masuk di sekitar Masjid membuat jalanan jadi padat merayap.


“Ustaz, saya ingin menceritakan keluh kesah. Saya sudah menikah punya anak umur 5 bulan sehabis nikah saya tinggal dengan mertua. Saya tidak betah tinggal di tempat mertua, setelah melahirkan saya meminta pada suami untuk mengontrak tapi suami tidak mau. Alasanya, Ibunya seorang janda dan dia anak laki-laki satu-satunya. Dia bilang lebih baik pisah dari pada mengontrak, menurut ustaz saya harus bagaimana, sedangkan saya masih sayang sama suami?" Seseorang sepertinya baru saja bertanya, karena laju kendaraan sangat lambat aku jadi sedikit banyak menyimak tausiyah tersebut. Pertanyaan itu, kenapa seolah menamparku aku pernah mengatakan itu tepat saat Dilra keguguran yang ke dua. Saat mobil melewati gerbang Masjid. Kuparkirkan mobilku di sana. Hatiku mendadak terpanggil, jelas aku sedang butuh solusi dari masalahku yang begitu pelik.


"Nasihat kepada suami terlebih dahulu. Hidup ini bukan untuk saling menindas, justru sebaliknya untuk saling mengabd. Maka suami yang bijak akan selalu memikirkan ketenangan istri. Jangan egois, kalau seorang istri tidak betah di suatu tempat dengan alasan yang masuk akal, wajar suami berpikir agar nyaman untuk istrinya. Istri itu bukan sekedar jasad di dalamnya ada ruh dan hati yang harus kita perhatikan biarpun seorang suami adalah imam jangan dibiasakan jadi diktator."


"ke dua para Istri kewajibanmu itu patuh pada suami, karena dia imammu, suami punya kewajiban pada orang tuanya, beda kalau sudah menjadi seorang istri, patuhnya berpindah pada suami."


"Artinya dari pertanyaan tersebut mungkin, suamimu itu harus menjaga ibumu. Pahamlah, sepahit apa pun itu akan menjadi berkah, karena mungkin saja kalau meninggalkan ibunya sangat berat. Mending istrinya di pisah, bukan maksudnya benci, bukan juga berarti benar-benar pisah. Diatur saja bagaimana caranya apakah istri sesaat di sana sesaat di sesaat di sini,’ ujar Pak Ustaz itu panjang lebar.


~


Jiwaku lebih tenang sekarang setidaknya untuk semalam saja, tidurku bisa nyenyak. Saking nyenyaknya satu rumah tak ada yang sahur. Lihatlah Dil, rumah tanpa kamu jadi kacau begini. Sejak kepergian Dilra seringnya kami terlewat makan sahur baru bangun saat azan subuh berkumandang, atau bahkan seringnya jam lima pagi. Hari ini aku pergi ke rumah Dilra. Mengabaikan sikap ketus mertuaku, aku tetap bertekat tak peduli kalau di sana akan dimaki-maki. Ini demi keutuhan rumah tangga kami akan kulakukan apa pun. Begitu sampai, rumah Dilra tampak sepi. Mobil pribadi milik Bapak yang biasa terparkir di depan juga tak tampak. Jangan-jangan mereka sedang pergi keluar. Tadinya aku ingin menunggu tapi sudah tiga jam berlalu mereka tak kunjung datang juga. Ke mana sebenarnya? Tidak lama setelah itu, mobil mereka datang dari arah yang berlawanan. Aku segera keluar, tak sabar bertemu Dilra dan Dion. Sayangnya mereka tak turun, hanya Ibu yang turun untuk membuka pagar rumah. Aku terus mengikuti mereka meski sikap mereka acuh, hingga tiba saat Dilra keluar dari mobil Wajahnya benar-benar pucat pasi, dia bahkan di papah Bapak dan Ibu untuk masuk.


“Sayang, kamu kenapa?" tanyaku khawatir.


aku berusaha mendekat, membantu memapah Dilra yang masih membisu sejak turun dari mobil. Hanya mata sayunya yang menatap lemah ke arahku.


"Pak Bu, biar Galang saja yang bawa Dilra ke dalam."


"Sudah enggak usah,’ sentak Bapak.


"Tapi kashian Pak, takutnya Dilra enggak kuat jalan lagi."

__ADS_1


"Di bilang enggak usah, ya enggak usah!" sentaknya lagi.


Benar saja, seperti dugaanku, tiba-tiba saja tubuh Dilra luruh ke lantai. Dia terus memegangi kedua dadanya, sesekali terlihat memukulnya dengan sedikit keras, mana bisa membiarkan Dilraku terkapar begitu di hadapanku. Dengan sigap kugendong dia, sampai ke kamarnya, mertuaku pasrah, sadar kalau tenaganya sudah tak kuat lagi.


"Dil, sayang kenapa, apa yang sakit Dil?” Tangannya dingin sekali, Dilra masih menatapku dengan mata sayunya yang hampir tertutup, seraya menggenggam lengannya, merapatkan keduanya, lalu mengusapnya pelan, sesekali meniupnya berharap itu mampu membuatnya lebih hangat. Bapak dan Ibu sibuk menelepon, entah siapa mungkin dokter.


"Jangan bikin Mas takut, cerita Dil kamu kenapa?"


"Mas, 'lirih Dilra, matanya basah, jelas sekali dia tengah menahan sakit.


"lya, Sayang kenapa?" ucapku, seraya menggenggam erat lengannya yang terasa dingin.


"Mas, aku mau menyusul Aira, kasihan dia, katanya kangen sama aku.’


"Astaghfirrullah Dil, istighfar sayang!" Sungguh tak tahan kurengkuh Dilra, menenggelamkan kepalanya dalam dada, mengecup keningnya.


"Dil, enggak boleh ngomong seperti itu, anak kita bukan cuma Aira, ada Dion yang masih kecil, dia masih butuh kamu."


"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu Dil? Kenapa jadi begini."


"Aira mati karena aku enggak becus,’ kata Dilra, dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, itu membuat mertuaku menghampiri kami. Bedanya kali ini mereka datang dengan seorang perempuan.


"Di tinggal sebentar ya Pak, biar saya periksa Ibunya dulu.” Wanita itu berkata dengan penuh kelembutan.


"Ayo kamu keluar dulu Lang, biar Dilra ditangani sama ahlinya,’ kali ini Bapak bicara dengan nada biasa, tak lagi ketus seperti sebelumnya. Kami semua menunggu dalam cemas, sudah 45 menit wanita itu tak keluar kamar. Aku yang panik, mulai mendekati pintu bermaksud mengintip atau mungkin menguping. Aku sungguh tak bisa lagi mengontrol emosiku.


“Duduk!" kata Bapak.


"Dilra, Pak," rengekku, aku seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangan. Aku benar-benar mengkhawatirkan istriku.


“Duduk dulu, saya tahu kamu panik, tapi bisa 'kan tenang!"


Huh! Ya, aku harus tenang demi Dilra. “Doakan saja, lirih Bapak.


“Dion Pak, mana Dion?" tanyaku. “Kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Dilra selalu kembali sadar kalau dengar tangisan Dion, coba saja dekatkan Dion pada bundanya,’ ucapku dengan penuh keyakinan. Bagaimanapun untuk urusan yang satu aku jauh lebih mengenal Dilra.


"Bu, coba ambil Dion!” perintah Bapak.


“lya Pak, eh tapi itu Bu Winanya keluar,’ ucap Ibu, pandangannya tertuju pada pintu kamar Dilra. Ternyata baru kutahu perempuan itu psikiater.


"Bagaimana Bu, apa Dilra baik-baik saja?"


"Mbak Dilra enggak apa-apa kok hanya shock saja. Apa tadi ada yang menyinggung tentang masa-masa terpuruk yang pernah Mbak Dilra alami?" tanya Bu Wina, lanas setelahnya semua mata sekarang tengah menatap ke arahku.


“Begini ya Bapak, Ibu sebaiknya untuk sekarang tolong jangan mengingatkan Bu Dilra pada masa-masa terpuruknya itu sama saja membuat Bu Dilra kembali ke masa-masa itu, bisa kan?"


"Bapak, suaminya?"


"lya Bu," Perempuan itu tersenyum.


“Perempuan itu butuh sedikit dimengerti Pak. Sekarang Mbak Dilra sedang kehilangan sebagian gairah hidupnya. Ini berdampak pada seringnya pasien mengalami halusinasi, jadi kalau nanti Bu Dilra berbicara tentang anak-anaknya lagi. Bapak bisa alihkan ke obrolan yang lain, bisa kan?"


“Bisa,” jawabku mantap.


"Terakhir tolong jangan biarkan pasien sendirian. Soalnya masa-masa seperti ini, rentan banger untuk pasien melakukan tindakan nekat, yang bisa saja menyakiti dirinya sendiri. ltu saja ini resep obatnya, saya permisi ya,’ pamit Bu Wina.


Setelah kepergian psikiater kami semua saling menatap satu sama lain.


"Saya lagi enggak mau berdebat, tapi kalau kamu mau cari informasi tentang keguguran Dilra, kenapa enggak kamu tanya langsung sama Ibumu?"


"“Maaf saya gak tahu kalau Dilra ....”


"Sudahlah saya sudah biasa dengan kamu yang selalu enggak tahu apa-apa. Sekarang pulang aja, Dilra malah terlihat lebih baik kalau enggak ada kamu.”


"Kalau Ibumu enggak mau menceritakan yang sesungguhnya terjadi, jangan salahkan saya, kalau polisi yang akan mengusut semuanya.”


"BAPAK!!!" Ibu berteriak, mungkin terkejut dengan keputusan Bapak. Begitu pun denganku. Tidak menyangka Bapak bisa punya niatan, memenjarakan besannya sendiri.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2