
Sesampainya di rumah sakit nyatanya aku terlambat, Ibu mertua sudah menyusul Bapak menghadap Tuhan.
Innalillahi wa inna illahiraji'un, kenapa lagi lagi Dilra, dia tak bersalah Tuhan, kenapa malah menghukumnya, merebut semua kebahagiaannya, sekaligus tanpa aba-aba. Wanita itu luruh ke lantai, dia sampai tak sadarkan diri karenanya, sedang bayi Dion di gendong sanak keluarganya yang lain.
Entah siapa laki laki yang merengkuh tubuh Dilra saat aku bersiap berlari, lengan kekarnya sudah lebih dulu menangkapnya. Saat aku sampai laki laki itu menatap sekilas, sekarang baru kulihat dengan jelas, dia Hiro, laki-laki yang dulu melamar. Dilra ditangani di dalam, sedang jenazah Ibu di urus agar bisa cepat di bawa pulang, keadaan kacau kala itu, sebagian keluarga Dilra di pemakaman, di rumah sakit hanya ada Paman Dilra, mereka harus berbagi tugas.
Aku lebih memilih mengantar jenazah, ikut
ke dalam mobil, bukan tak peduli pada Dilra hanya saja menurutku Hiro bisa menjaga Dilra dengan baik. Keluarga Dilra hanya satu di kota ini, maka dari itu tak banyak yang bisa di andalkan, masih ada waktu untuk melakukan prosesi pemakaman hari ini, belum terlalu sore juga, apa lagi cuaca cukup cerah.
Di rumah Dilra warga sekitar sudah menyambut kedatangan jenazah, almarhum Bapak baru saja dimakamkan tadi pagi, jadi di sini masih banyak warga yang masih berkumpul, suasana duka menyelimuti, baru sepekan keluarga Dilra kembali berharap Bapak bisa lekas pulih nyatanya Tuhan malah memiliki jalan cerita sendiri, kini Bapak tak lagi menahan sakit, tapi kepergian beliau meninggalkan jejak kehilangan yang menyakitkan, terutama Dilra.
Aku tak tahu Dilra sudah di rumah atau belum, seharian ini aku berjaga di area pemakaman, tapi bisa kulihat dia, saat iring-iringan jenazah mulai memasuki area pemakaman, Dilra dipapah oleh tetangga sekitar, matanya sembab, jelas sekali dia begitu rapuh, jarak kami begitu dekat, tapi wanita itu tampaknya belum sadar, mungkin karena pakaianku sudah kotor bercampur tanah kuburan, rumah Dilra masih area pedesaan, meski dia cukup berada tapi warga di sini, lebih mernilih memakamkan keluarga di pemakaman umum, seringnya warga dan keluarga juga ikut menggali kubur. Saat jenazah Ibu di keluarkan dari keranda mayat lagi lagi Dilraku tumbang, semua mata memandang mendadak basah, begitu pilu nasibmu sayang.
"Tolong antar saja Dilra ke mobil Bu Pak, takutnya kalau di sini terus malah enggak kuat."
Lantas beberapa warga berinisiatif menggendong Dilra ke mobil, sedang aku melanjutkan memasukkan jenazah |bu ke liang lahad. Prosesi pemakaman selesai, aku kembali ke rumah Dilra sekalian membersihkan diri.
Sepertinya Dilra masih belum terjaga, dia masih terbaring di kamarnya, sedang Dion bocah kecil itu tampak aktif berjalan ke sana kemari, anak sekecil itu mana mengerti kehilangan. Saat hendak pulang, Om Chandra malah melarang, dia bilang tak ada yang bisa diandalkan di sini, ya sudah toh sudah lama juga aku tak berjumpa dengan Dion. Anak itu, begitu menyadari aku berada di dekatnya, dia segera berjalan dengan cepat meski tertatih-tatih, tetap berusaha memeluk lututku dengan erat.
“Papapa!" katanya.
Kuusap rambutnya yang tipis itu, entah kapan akan tumbuh, sejak lahir sampai sekarang rambutnya tak banyak berubah. Menjelang malam tetangga sekitar masih banyak yang takziah, di antara mereka mencoba menguatkan Dilra yang rapuh, wanita itu hanya mengangguk, kadang-kadang bagi kita yang merasa kehilangan, suatu kalimat penguatan justru membuat jiwa kami, malah makin melemah.
Tampak saat orang-orang masuk ke kamar, mengusap punggung wanita itu, yang terjadi justru Dilra makin tersedu.
Tak ada yang bisa menyembuhkan kehilangan kecuali waktu, bahkan seringnya rasa itu memilih menetap selamanya.
Saat malam tiba tetangga sudah tak ada lagi yang berkunjung, Dilra keluar dari kamar, berjalan perlahan ke kamar mandi, mungkin ingin membersihkan diri, kurasa dia belum mandi sejak tadi.
Aku yang tengah melipat tikar, di ruang tamu di kagetkan dengan sentuhan dingin seseorang tepat di punukku.
"Kapan Mas ke sini?"
"Dari siang Dil.”
"Om yang ngasih tahu Dil, bingung mau minta bantuan siapa,’ sahut Om Chandra.
"Kok aku baru lihat?"
"Dia sibuk di pemakaman, ikut mencangkul malah."
Dilra menatapku sejenak, ada matanya mengembun kembali, tapi setelahnya dia malah berlalu tanpa berkata lagi, aku pikir dia terganggu karena kehadiaranku, nyatanya perempuan itu kembali dengan satu cangkir teh manis dan satu stoples kue.
"Sudah makan?"
Aku menggeleng, jangankan makan melihatmu tumbang berkali-kali bagaimana bisa memikirkan diri sendiri, seharian ini aku hanya memikirkan keadaanmu Dil.
"Kenapa malah lihat aku begitu Mas, jangan begitu aku enggak suka.”
"Maaf,” ucapku.
"Mau aku ambilkan?"
"Gak usah Dil Mas bisa sendiri."
"terima kasih Mas sudah mau direpotkan, padahal sikapku tempo hari sudah keterlaluan.’
"Enggak apa apa Dil, Mas mengerti."
"Itu Hiro?" tunjukku ke arah laki-laki yang tengah merapikan bangku-bangku plastik di halaman luar.
"lya.
“Calon suamimu ya?"
Dilra hanya tersenyum menatapku.
"Tunggu sebentar biar aku ambilkan makan.’
__ADS_1
"Duduk saja biar Mas ambil sendiri, sekalian buat kamu ya."
Dilra malah menggeleng, menolak dengan alasan masih kenyang, padahal dari pagi pasti belum masuk apa pun.
"Sedikit saja,’ katanya.
"Siap Tuan putri."
Dilra malah tersenyum malu-malu, senyum yang sudah lama kurindukan.
Kami makan dalam diam, saat makanan telah habis Dilra juga tak lagi banyak bicara, hanya menyuruh untuk istirahat cepat, dia lebih memilih masuk kamar.
Malam semakin larut, sayangnya mataku tak bisa terlelap, sembari menunggu pagi, aku keluar kamar, tadinya hendak membantunya minum tapi niatku urung begitu melihat bayangan seseorang terduduk di halaman.
Rasa penasaran memancing mendekat ke arah jendela, memastikan siapa seseorang di luar sana.
Ngapain coba Dilra di luar tengah malam begini.
"Dil sedang apa?”
Dilra sedikit terkesiap, matanya membesar, tapi setelahnya dia kembali menatap ke arah lain.
"Masuk Dil, sudah tengah malam, kasihan Dion loh tidur sendirian."
Saat ini mata Dilra lurus melihat ke arahku. Matanya lagi-lagi berkaca-kaca.
"Mas..." lirihnya pelan
"Ya sayang."
Seketika hening tercipta, saat kedua netra kami bertemu.
"Aku enggak kuat."
"Kamu kuat sayang."
“Enggak Mas."
“Lihat Mas!” Dilra tak peduli tetap terisak.
"Sayang, enggak ada orang yang enggak merasa kehilangan, merasa sakit juga sedih saat orang yang kita sayangi meninggal, manusiawi sayang.”
“Tapi enggak boleh kalau kamu bilang enggak kuat begitu."
“Aku harus hidup dengan cara seperti apa Mas, tanpa mereka berdua.”
"Maka seharusnya kamu juga berpikir Dion harus hidup seperti apa tanpa kalian bertiga?"
“Bertiga?"
“Bukankah kamu bilang enggak kuat." Dilra malah menangis lagi.
"Boleh sedih tapi kita enggak boleh meratapi terus menerus, doakan mereka di beri tempat yang terbaik, jangan seperti ini, belajar mari belajar buat ikhlas ya."
Dilra mengangguk.
"Duduk di atas Mas, jangan bersimpuh seperti itu."
Aku menurut.
“Kamu jelek kalau nangis Dil, kuatlah sayang, demi Dion, anak kita," kataku pelan, takut kalau nanti malah membuat Dilra makin bersedih.
“Anak kita?" katanya memastikan.
"Ya anak kita kan, ya walaupun hubungan kita kandas di tengah jalan,” kataku dengan sedikit kekehan.
"Bagaimana kabar keluargamu Mas?"
"Bisa dibilang kurang baik Dil, Ibu masih sama kerasnya seperti dulu, tapi Mia yang kasihan...’
__ADS_1
"Sorry Mas enggak bisa cerita.”
“Oke, aku gak maksa juga.”
"Kadang-kadang aku frustrasi menghadapi Ibu, harus bagaimana ya? Seringnya Mas malah tersulut emosi kalau berhadapan dengan Ibu.”
"Sabar, nanti kalau Ibu sudah enggak ada baru deh Mas terasa kehilangan itu enggak ada yang baik baik saja," ucapnya.
"Kamu benci kan Dil sama Ibuku, maafkan Ibu ya?"
“Aku masih belajar buat mengikhlaskan semuanya Mas, tapi insyaallah aku sudah maafkan kesalahan ibumu.”
"Bulan depan Mia menikah Dil kamu hadir ya.”
"Hmmm, kirimkan saja undangannya ke sini.”
"Dil...
“Mas tolong jangan bicara tentang pernikahan kita...”
Dahiku berkerut karenanya, siapa juga yang akan bertanya perihal pernikahan, apa sebenarnya yang ada di pikiran wanita ini, benarkah dia masih berharap menikah denganku. Kalau benar begitu, maka hari ini, aku akan kembali berjuang untukmu Dil, tak akan kubiarkan kamu menanggung kesepian sendiri Dil, mari berbagi denganku, agar rasa itu tak begitu menyiksa.
"Kenapa malah diam?" tanyanya kembaii, tanpa sadar aku malah melamun.
"Siapa yang bertanya tentang pernikahan Dil, Mas cuma mau menyuruh kamu masuk dingin di luar."
Dilra sepertinya malu dia lantas bangkit laku berjalan pelan masuk ke rumahnya.
Seminggu berlalu, aku kembali ke rutinitas, tak lagi bulak balik ke rumah Dilra, tak enak juga dengan tetangga, bagaimana pun kami bukan lagi sepasang suami istri. Sampai juga ke pernikahan Mia, acaranya lancar, aku sendiri yang menikahkan Mia saat itu, dia terlihat sangat anggun dengan balutan kebaya modern warna putih dengan melati menjuntai sampai ke lutut.
Sedang Ibu dan aku memakai busana dengan warna senada, hubungan Mia dan Ibu juga kian membaik, Mia sudah lebih legowo, bagaimana pun Ibu hanya punya kami, kalau bukan kami yang merawat dan mengerti sikapnya, siapa lagi? Meski begitu, Mia sedikit menjaga jarak dengan Ibu, hubungan mereka tak lagi sedekat dulu, meskipun 4 bulan terakhir sudah kembali tinggal bersama di rumah peninggalan Bapak.
Hingga malam menjelang, kenapa seseorang yang begitu kunanti kehadirannya tak juga muncul.
Apa Dilra tak akan hadir ke sini. Ayolah Dil, kamu kan sudah janji akan datang. Tamu masih berjejalan masuk dan keluar tanpa henti, hingga seorang perempuan berjalan dengan anggun memasuki ball room, dia alah yang paling kunanti.
Dilra hanya sendiri tanpa Dion. Aku segera mendekat, ke arahnya.
"Akhirnya kamu datang Dil."
"Ya, maaf telat, Dion agak rewel tadi.”
"Oh sekarang ke mana dia?"
"Di mobil sama si Mbak, tidur dia, mungkin capek habis menangis."
"Syukur alhamdulillah, oh ya Dil makan dulu sana, atau mau kutemani.”
“Enggak usah, aku mau salaman dulu sama Ibu dan Mia, sudah lama juga kan enggak ketemu.”
"Ayo aku antar.”
"Kenapa sih pengen banget nganter?"
"Untuk jaga jaga.”
"Kamu pikir bu mau melakukan apa, di tengah keramaian begini?"
Aku hanya bisa menggaruk kepala, tak akan menang melawan perempuan, percayalah padaku.
"Dari jauh saja,’ lirihnya sebelum akhirnya melangkah mendekati pelaminan.
Mia tampak menyambut uluran tangan Dilra dia bahkan memeluk Dilra dengan hangat, tampak sekali Mia benar-benar menyesali perbuatannya dulu, bagaimana pun dia pernah merasa kehilangan bayi sama seperti Dilra, sedikit banyak pasti paham rasa itu, rasa rindu yang tak pernah menepi seumur hidup, rindu seseorang yang rupanya Saja tak pernah tahu. Sedang Ibu, tetap menyambut Dilra mereka tampak mencium ke dua pipi masing-masing bergantian. Syukurlah Ibu tak melakukan macam-macam, jantungku berdebar menyaksikan mereka bersalaman.
Sekarang Dilra sudah turun ke pelaminan, dia sedang makan, selesai makan Dilra tampak merapihkan jilbabnya. Melihat bayangannya lewat ponsel, lalu kembali merapikan penampilannya yang dirasa kurang rapi.
"Hadirin semuanya, di malam yang berbahagia ini, tepat di hari pernikahan adik saya Mia dengan Saga, saya bermaksud ingin menyatakan niat baik saya pada seorang perempuan cantik yang berada di ruangan ini, perempuan dengan gaun cantik warna merah muda, di ujung sana, Dilra mau kah kamu menikah denganku?"
Kalau sampai aku ditolak akan kubuat perhitungan si Ardi, awas kau!
__ADS_1
Bersambung...