Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Awal Kebencian


__ADS_3

PoV Ibu Mertua.


"Kalau Ibu enggak salah kenapa harus takut?" ucap Galang. Dia ini tak bisa kah diam sebentar.


"Jawab Bu, saya tidak butuh maaf dari anda."


"Saya memang salah, saya sudah melarang Dilra untuk tidak naik motor sendiri, tapi Dilra tetap ngotot.’


"Bukannya anda yang tidak mau keluar uang lebih untuk naik taxi? Anda suruh Dilra ke pasar sendiri, sampai lebih dari satu kali dalam sehari, padahal anda tahu kandungan Dilra lemah?"


Kenapa juga laki-laki ini, pintar sekali bicara, aku benar-benar tersudut, si Dilra itu pasti sudah bicara macam-macam, kali ini tak boleh tinggal diam, Galang harus membantuku.


"Lang, Ibu beneran gak pernah nyuruh istrimu macam-macam, percaya sama Ibu."


Ayo Lang bantu Ibu, bela Ibu seperti biasanya, rayu mertuamu itu.


"Tinggal jujur aja Bu, Galang juga gak bisa bantu apa-apa."


Apa? Dasar anak tak tahu terima kasih.


Susah payah aku membesarkanmu, apa salahnya ingin menikmati sedikit harta anak lelakiku sendiri, lagi pula aku tak membuat Dilra kelaparan, aku hanya tak suka dia malas-malasan.


Perempuan kok loyo, mau jadi apa suamimu nanti, aku sejak dulu tak pernah tidur-tiduran saat hamil, orang hamil tuh harus banyak gerak, anak jaman sekarang dikasih tahu malah ngeyel.


"Saya gak salah Pak, tolong jangan fitnah saya."


"Ya sudah biar polisi saja yang menentukan anda ini salah atau enggak."


"lya iya saya ngaku salah Pak, saya yang gak suka Dilra malas-malasan, orang hamil kok tidur-tiduran aja."


Wajah Pak Hasan memerah menahan emosi yang membuncah, sedang aku hanya mampu menunduk bermandikan peluh, bajuku sudah hampir basah karenanya.


"Anda ini punya hati enggak? Bisa dengar enggak? Anak saya harus istirahat total, kandungannya lemah, harusnya anda sudah tahu, mengingat Dilra sudah pernah keguguran, kenapa malah melakukannya lagi? Anda ini perempuan atau bukan heeuhhhh.’


"Ya Allah Bapak sabar!" teriak Bu Sinta, Pak Hasan sepertinya mulai kalap, aku tak mau ambil risiko, kutarik saja Galang yang hanya diam saja di sisiku, bersembunyi di balik badannya. Tak menyangka semua jadi rumit begini, andai sebelumnya Galang memberi tahu kalau kedatangan kami hanya untuk dimaki-maki begini, tak sudi kuinjakkan kaki ke rumah ini.


"Kamu dengar sendiri Lang Ibumu itu manusia bukan? Dia membunuh cucunya sendiri, sengaja menyuruh anakku, mengerjakan semuanya sendiri, kenapa juga harus ke pasar, apa tidak ada tukang sayur keliling, jangan-jangan anda juga yang menjadi penyebab keguguran Dilra yang pertama."


"Saya tidak melakukan apa pun Pak Hasan sumpah.’


“Anda pikir saya percaya, anda bisa membohongi semua orang tapi tidak dengan saya, lihat ke sini, bicara sekarang!"


Aku harus bicara apa, tubuhku sudah gemetar bukan main, si Galang malah diam saja, jadi patung saja sekalian.


“KATAKANII!"


“Astaghfirrullah Bapak, yang tenang Pak,” Bu Sinta lagi harus menenangkan suaminya.


Bagaimana bisa Dilra punya orang tua yang tak tahu sopan santun begini, aku ini perempuan seenaknya bicara dengan nada tinggi begitu.

__ADS_1


“Saya mengaku salah Pak Hasan saya khilaf hiks hiks ampuni saya Pak, jangan masuk kan saya ke penjara.’


“Anda anggap apa anak saya? Apa salah dia, sampai anda tega menyuruhnya di luar batas, apa perlu saya beberkan di sini?"


“Anda membangunkan Dilra di pagi buta, sengaja membuatnya capek? Apa sebenarnya tujuan anda?"


Tak ada gunanya menjawab, posisiku sekarang sudah tak bisa lagi mengelak, Galang anak laki-laki yang selalu bisa kuandalkan kini bagai kerupuk tersiram air, nyalinya seolah menciut di depan Pak Hasan, sekarang jalan satu-satunya hanya Dilra, aku yakin melihat sikapnya selama ini, dia pasti mau memaafkan kesalahanku.


“Izinkan saya minta maaf sama Dilra Pak, saya mohon, saya bersalah sama dia, hiks hiks."


“Aku enggak menyangka, Ibu kejam banget sama Dilra, terserah Bapak, mau melakukan apa, saya malu, saya minta maaf karena gak bisa jaga Dilra, saya menyesal, dan untuk urusan ini saya angkat tangan."


"Abang, jadi Abang membiarkan Ibu di penjara?" kata Mia.


"Abang enggak tahan di sini, Ibu tega banget melenyapkan cucu Ibu sendiri, enggak hanya satu Bu, tapi dua." Galang menggeleng menatapku dengan sorot mata memerah.


Setelahnya Galang melenggang pergi keluar, aku pikir semua ini tak akan terbongkar, aku tak pernah berniat melenyapkan cucuku hanya saja, sejak Galang menikah perhatian Galang selalu saja pada istrinya.


Aku cemburu, padahal dulu dia selalu memberiku apa pun.


Dulu Almarhum suamiku, selalu menuntutku untuk bekerja, dia tak pernah memperlakukan istrinya dengan baik, bahkan saat istri-istri orang lain sibuk belanja saat suaminya baru menerima gaji, yang terjadi padaku justru hanya gigit jari, Mas Raka hanya memberi jatah harian, uang itu hanya cukup untuk makan saja, bahkan di saat aku punya penghasilan sendiri, dari hasil berjualan sarapan di depan rumah, Mas Raka malah tak mau memberi jatah harian lagi. Aku benci Dilra, kenapa dia bisa menguasai


harta anakku, padahal aku yang mengurusnya sejak dia dia di lahirkan sampai sekarang, tanpa pikir panjang, di hadapanku, Galang menyerahkan semua gaji pada istrinya, perempuan yang baru dia kenal 1 tahun belakangan ini, padahal sekali saja dia tak pernah melakukan itu padaku, sejak dulu aku hanya diberi sebagian saja.


Meski itu lebih dari cukup, entah kenapa hatiku mendadak panas. Apa salahku? kenapa Tuhan tak adil, aku mengurus suami lebih baik dari pada Dilra, aku juga ikut bekerja untuk menyambung hidup, tapi suamiku tetap saja perhitungan. Aku hanya mengajari Dilra menjadi istri yang baik, aku memang keras padanya, karena di dalam sini, tak dapat kuungkiri, hati kecilku menaruh kebencian padanya. Dia yang mengambil Galangku, satu-satunya laki-laki yang menyayangiku dengan tulus.


Kesempatan ini malah kugunakan untuk mengerjainya, sesekali aku sengaja membuatnya kerepotan dengan ulahku, tapi entah ada apa dengannya dia tetap baik padaku tak pernah membentak atau sekedar bicara dengan nada tinggi.


Tak sepertiku dulu saat tinggal serumah dengan Ibu Mertua yang sangat kurang ajar, senang sekali membuatku repot, sesekali kubentak saja dia, sayangnya bukannya pembelaan yang kudapatkan malah tamparan dari Mas Raka.


PLAAKK


Satu tamparan dilayangkan padaku, perih sekali, tapi yang lebih nyeri justru di dalam sini, harga diriku dihempas serendah-rendahnya.


"Aku capek Mas aku hanya ketiduran sebentar, tapi Ibu malah marah-marah, alat dapur sampai di lempar-lempar, aku malu sama tetangga hikks hiks."


Luruh sudah air mata yang kutahan sejak


tadi, sembari mengusap pipiku yang panas. Apa saat seseorang merasa lelah, sebuah kesalahan? Aku tatap lekat wajah Mas Raka, berharap dia membela sekali saja. Mas Raka malah mencebik, sorot mata nyalang itu kian membuat hati semakin tersayat, hidup ini sungguh tak adil, sempat terlintas untuk mengakhiri saja semuanya, tapi melihat kedua buah hatiku, niat itu urung kembali, aku harus kuat, harus tetap hidup demi mereka.


Untuk menanggung luka seumur hidup memang terlalu lama, tapi inilah takdirku, meski disakiti berkali-kali aku tetap mencintainya, bahkan sampai Mas Raka tutup usia, masih setia mendampinginya.


Mas Raka, kupikir anakmu akan berbuat sama tapi kenapa dia malah memperlakukan istrinya dengan sangat baik, aku iri, cemburu padanya yang sekarang lebih jadi pusat perhatian putraku.


Salahkah kalau aku cemburu?


Tapi demi Tuhan aku tak bermaksud melenyapkan cucu kita.


Sekarang aku harus bagaimana Mas, Galang membenciku, dia bahkan tak peduli, saat aku tengah dicecar habis-habisan oleh besanku sendiri.

__ADS_1


~


“Maafkan saya Pak, tolong jangan di bawa ke polisi, saya janji akan memperbaiki sikap saya sama Dilra, saya mohon Pak."


Kini aku menangis di lantai, tepat di depan besan.


Aku tak peduli, dengan harga diri, bukankah aku sudah kehilangannya sejak dulu, sejak aku memutuskan menikah dengan Mas Raka.


“Saya akan tetap membawa ini ke ranah hukum."


“Jangan Pak, saya mohon jangan."


Pak Hasan malah melenggang pergi dari ruang tamu, aku tak mau hidup di penjara, kutarik ujung gamis Bu Sinta meminta belas kasihnya agar mau membantuku kali ini saja.


"Saya mohon Bu, jangan penjarakan saya hiks hiks.”


“Bangun Bu, jelaskan saja di kantor polisi kalau tidak salah mungkin ibu bisa bebas."


"Saya janji Bu, saya enggak akan menyakiti Dilra lagi, saya menyesal huhuhu."


"Saya masih bisa tenang bukan berarti saya terima Ibu berbuat zalim ke putri saya, lepaskan Bu.”


Sekarang Bu Sinta juga menyusul Pak Hasan yang tengah menelepon. Sepertinya memang benar Pak Hasan menelepon polisi untuk membuat laporan, tapi tak lama dia kembali, Galang juga masuk lagi ke ruang tamu, syukurlah kupikir tadi dia menelepon polisi.


"Saya bisa saja tak membawa kasus ini, ke polisi asal putra anda bersedia menceraikan anak saya.”


Hanya itu, tentu saja bisa, apa bagusnya anakmu itu.


Aku menatap Galang dengan perasaan Iba, juga penuh harapan.


Galang terdiam sesaat.


"Saya gak bisa,’ kata Galang.


Apa katanya, anak tak tahu di untung kau Galang.


Tak lama polisi datang membawaku, rasanya tubuhku lemas seketika, mendengar bunyi sirine saja aku takut apa lagi harus ikut masuk ke dalam mobilnya. Sesampainya di sana aku di cecar dengan begitu banyak pertanyaan, tapi syukurlah kali ini Galang ikut membantubicara.


Justru polisi malah menyarankan kami untuk menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan. Lega rasaya, tapi kakiku masih terus gemetar, karana urusan ini tak selesai begitu saja, kami diminta membuat surat perjanjian, yang isinya kalau Galang akan menanggung semua biaya pengobatan Dilra, juga aku tak diperkenankan menyentuh Dilra lagi, aku memang pernah kelepasan menamparnya waktu itu. Kalau melanggar maka Pak Hasan berhak menuntut.


Tak akan ada yang bisa menang melawanku, lihat saja. Aku menang.


Hari berlalu kupikir masalah ini selesai setelah kami keluar dari kantor polisi, nyatanya tidak, Galang malah mengantarku pulang ke kampung, awalnya aku senang karena Galang tak banyak bicara sejak keluar dari polisi, tapi justru di situlah penderitaanku dimulai, dia memintaku untuk tinggal di kampung, bersama dengan Mia.


"Kamu jaga Ibu Mi, besok Abang urus surat pindah sekolah kamu, aku pamit, wasSalamualaikum Bu.". Aku bahkan belum sempat menjawabnya tapi Galang sudah pergi dengan mobilnya.


Sekarang aku benar benar ditinggalkan, kenapa sakit sekali, ini tak sebanding saat harga diriku diinjak-injak besan tadi siang.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2