Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
mencari jodoh


__ADS_3

“Jangan bilang kamu suruh Mas buat cari jodoh buat ibu.”


“Kenapa enggak.’


Aku sedikit terkekeh, memang tak salah, jika dipikirkan Ibu seakan menaruh cemburu tiap kali aku dan Dilra berdekatan.


"Siapa ya yang cocok buat [bu?”


"“Gak tahu Mas, tapi yang jelas harus laki-laki yang bisa membimbing Ibu ke jalan yang benar, harus punya dasar agama yang kuat.”


"Kenapa kamu masih sebegitu peduli sama ibu, Dil?"


“Aku pernah kehilangan orang tua Mas, rasanya gak bisa dijelaskan, apa lagi setelah tahu cerita tentang !bu, yang di perlakukan enggak baik sama keluarga mertuanya, aku merasa nasibku sama dengan Ibu, tapi kalau suatu hari nanti kita punya menantu aku janji sama diriku sendiri, buat memperlakukan dia dengan baik.”


"Harus sayang, jangan bikin anak kita harus memilih ibu atau istrinya, doakan aku panjang umur ya biar aku bisa tetap nafkahi seumur hidup kamu."


“Aamiin, pulang yuk, sudah lama juga kita di sini"


Saat kami tengah bersiap pulang ponsel Dilra berbunyi.


"Dari siapa?" tanyaku.


"Hiro."


Entah kenapa aku tak suka melihat Dilra menerima telepon darinya.


“Boleh diangkat kan?"


“Hmm boleh dong.”


“Assalamualaikum, ada apa Mas?”


Apa Mas? Dia memanggil laki laki lain dengan sebutan Mas, sama sepertiku?


Aku sengaja mendekat, agar bisa mendengar apa yang tengah mereka obrolkan sayang hanya sama-samar di telinga, aku tak dapat menyimak apa pun.


"Mas, aku dapat job wedding, buat akhir bulan ini."


"Akhir bulan? 2 minggu lagi dong?"


“Hmm, dadakan soalnya, boleh kuambil?"


Aku ragu, ingin sekali menolaknya tapi melihat wajah Dilra begitu bersinar, mana tega kulakukan. Apa lagi mengingat ucapan Farah saat di kantor.


"Setahuku ya Mas orang yang pernah depresi akan lebih baik kalau dia tetap sibuk, setidaknya ada kegiatan, biar pikirannya enggak terfokus pada masalah itu terus menerus.”


Dilra butuh kesibukan, agar luka itu tak melulu menghantuinya, apa lagi sekarang Ibu susah sekali dipisahkan darinya, aku harus secepatnya mencarikan jodoh untuk Ibu.


"Kalau Mas gak mengizinin gak apa-apa biar aku tolak aja.”


"Gak apa apa Dil, terima aja”


Wajah Dilra langsung berbinar lagi, senang melihatnya penuh semangat seperti ini, meski tak diungkiri, di dalam sini ada sedikit cemburu. Cemburu melihatnya akan terus berdekatan dengan Hiro, laki-laki yang dulu melamarnya, aku takut Dilra akan berpaling, bagaimana pun dia laki-laki mapan juga rupanya cukup menawan.


“Kamu senang Dil?"


“lya, besok kemungkinan aku sibuk Mas, apa gak apa-apa Dion aku tinggal sama si Mbak?"


"Boleh sayang.”


Dilra masih sibuk dengan ponselnya sepanjang jalan dia terus berbalas pesan, entah dengan siapa, mungkinkah dengan Hiro.


“Pesan dari siapa sih sayang, seru banget.’


"Sama klien, mau ada janji ketemu, kebetulan masih satu kota sama kita, makanya job ini dilempar ke aku Mas. Calon pengantinnya humble Mas, enak saja di ajak bicaranya, tapi dia ajak ketemu sore ini, bagaimana?"


"Mau Mas temeni?"


"Yakin mau antar, biasanya lama loh Mas."


"Kenapa gak ketemu di rumah saja?”


“Ada Ibu, enggak enak."


Ibu? Lagi lagi Ibu, semua karena Ibu yang selalu ingin menang sendiri.


“Ya sudah Mas anter kamu saja ya, jam berapa ketemunya."

__ADS_1


“Jam 5 sih Mas"


"Masih 2 jam lagi, kita makan dulu aja, sambil nunggu, tenang saja nanti Mas pulang duluan kalau memang Dion sudah mulai rewel, by the way, gak sama Hiro kan?"


“Enggak lah, dia kan masih di luar kota."


“Koh kok kamu tahu? Sering menghubungi?"


"Kan tadi dia menelepon, kamu kenapa sih Mas, cemburu?"


"“Cemburu? Mana ada cemburu, Mas percaya kok sama kamu."


“Bener gak cemburu?" Dilra malah


mendekatkan wajahnya, lalu memasang mimik menyebalkan.


“Enggak, apaan sih Dil, Mas lagi konsentrasi menyetir.”


"Tapi aku harus ambil laptop sama album foto di rumah, kita pulang dulu saja."


Jelas aku cemburu Dil, sayang aku tak mungkin egois, melihatmu begitu bahagia, mana tega membiarkanmu kecewa karena penolakanku.


Di rumah Ibu sudah menyambut kami dengan muka masam, sempat mengomel karena aku yang memilih kabur, pari pada menunggunya ganti baju.


"Sudah lah Bu, orang cuma keluar sebentar aja kok dipermasalahkan, aku capek mau istirahat, kalau Ibu masih mau begini terserah."


“Galang kamu kok kayak begini sama Ibu!”


"Ya terus ibu maunya bagaimana? Suruh aku dan Dilra cerai lagi?" Kali ini aku sedikit emosi, mungkin efek karena telepon dari Hiro tadi. Ibu sedikit mundur ke belakang, dia tampak terkejut, sejenak dia berhenti bicara, memilih merunduk menatap lantai rumah kami. Maafkan aku Bu, bukan maksudku tak menghormatimuy, tapi sekali saja, mengertilah kondisi anakmu.


"Mas, istighfar,’ bisik Dilra, sembari menggenggam erat lenganku.


"Kenapa ibu diam? Mau menjelekkan istriku lagi? Mau bilang aku durhaka lagi, ayo!"


"Mas, sudah Mas,’ sekarang Dilra malah memegangi dadaku, aku jadi mundur beberapa langkah menjauh dari Ibu yang masih membisu di tempainya.


"Aku sama sekali gak keberatan, kalau Ibu mau tinggal di sini, silakan, tapi tolong jangan bikin masalah terus-terusan, aku mau hidup tenang.’


"Kenapa ibu diam saja? Benar mau aku dan Dilra pisah lagi? AKU GAK BISA, DAN GAK AKAN PERNAH."


"Sayang sudah, Mas masuk ke dalam ya, ayo aku anter." Dilra menggandengku, menarik paksa agar aku ikut ke kamar, meninggalkan Ibu yang masih saja mematung di tempatnya, bisa kulihat [bu tergugu, tapi entah hatiku mungkin telah membatu, melihatnya sedih pun tak tersentuh sama sekaali, bisa saja dia hanya pura-pura, bukankah biasanya juga begitu.


"Sayang, dengarkan aku hey lihat aku, dia Ibu kamu, satu-satunya orang tua yang kamu punya, bagaimana kalau besok dia sudah gak ada umur, kamu gak bakal nyesel?"


"Mas capek Dil, capek menghadapi Ibu."


Dilra memelukku erat, mMenenggelamkan kepalaku ke dadanya.


“Aku mengerti sayang, tapi enggak begini caranya, gak baik teriak-teriak sama orang tua, Ibu sampai menangis loh tadi."


"Kalau enggak begini bagaimana menyadarkan Ibu Dil, lihat ini?"


Aku meraih seplastik obat di nakas,obat-obat anti depresant yang masih rutin Dilra minum setiap hari.


"Kalau Ibu gak dikerasi, mau sampai kapan kamu minum ini Dil, aku gak benci Ibuku, aku benci sikapnya yang keras kepala, merasa benar sendiri, kamu gak salah Dil, jadi mau berapa orang lagi yang mau Ibu rusak mentalnya, aku malu, malu sama kamu.’


Dilra malah terisak.


"Aku senang kamu berada di pihakku Mas, tapi gak dengan memarahi Ibumu seperti tadi’


"Katakan padaku kalau ada cara lain biar Ibu sadar, kalau ada gak mungkin Mas lakukan hal kayak tadi.”


"Bukankah kita sudah membicarakannya tadi Mas, mari kita coba cara itu, jangan begini sayang, aku pernah merasa kehilangan orang tua, aku cuma gak ingin kamu merasakannya juga.”


"Orang tua yang seperti apa dulu Dil, kamu gak tahu kehidupanku dan Mia dulu, bagaimana kedua orang tuaku memperlakukan kami? Mereka yang seharusnya dicap durhaka bukan aku.”


Dilra hanya memelukku tanpa berucap apa pun lagi, hanya menahan isaknya agar tak bersuara, mungkin takut di dengar orang lain, bagaimana pun kamar kami bersebelahan dengan rumah orang Iain.


"Kamu tahu, mereka cuma sibuk bertengkar, Bapak doyan selingkuh, Ibu cuma sibuk mengejar bapak, sibuk dandan padahal kami belum makan sejak pagi, apa orang tua seperti itu akan membuatku menyesal Dil?"


"Dari rahimnya kamu dilahirkan Mas, mana bisa bilang begitu, kalau memang kamu membencinya, lalu kenapa dulu kamu begitu membela Ibu, meskipun tahu Ibu salah.”


"Awalnya aku kasihan, Ibu selalu disakiti Bapak, aku pikir Ibu akan berubah, dengan kebaikan-kebaikanku, nyatanya sikapnya tetap sama, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, mulai sekarang aku angkat tangan Dil, terserah dia mau hidup seperti apa."


"Istighfar Mas, jangan begini."


Aku sakit Dil, bukan hanya fisikku yang diterpa pukulannya sejak dulu, tapi jiwaku juga tak luput dari pukulannya.

__ADS_1


Aku menyembunyikan cerita ini hanya karena aku malu, malu karena bukan berasal dari keluarga baik-baik yang harmonis, aku iri padamu, keluargamu begitu hangat, aku bahkan baru merasakan pulang saat bersamamu, saat bersama keluargamu.


Hal yang tak pernah kurasakan saat bersama keluargaku sejak dulu bahkan hingga sekarang, saat ada Ibu, tempat ini bukan lagi rumah bagiku, tak ada kedamaian di sini.


"Kamu pergi saja Dil, temui klienmu."


"Aku gak mungkin bisa pergi dengan keadaan Mas dan ibu seperti ini.”


"Percaya sama Mas, enggak akan terjadi apa pun, Mas takut kalau Ibu melakukan sesuatu ke kamu, pas Mas lagi emosi malah, Mas yang bakal khilaf, sebaiknya kamu pergi, biar Mas tenangkan diri di rumah, nanti Mas anter saja ya, tapi maaf Mas enggak bisa temani, Mas mau ketemu Ardi-"


"Ketemu Ardi?"


"lya mau bicarakan soal usulan kamu soal jodoh buat Ibu.’


Dilra malah tersenyum, terbuat dari apa hatimu Dil, masih saja memikirkan kebahagiaan untuk Ibuku, orang yang telah membuatmu terluka sampai sedalam itu.


~


Aku mengantar Dilra ke sebuah Cafe, sedang aku pergi ke rumah Ardi, kurasa dia punya banyak kenalan, dan benar saja, Ardi menunjukkan beberapa foto laki laki setengah baya, teman satu komunitas mogenya.


"Gue cari yang agamanya bagus, biar Ibu gue bisa diarahkan, jangan anak motor."


"Ya elah anak motor sekarang juga hatinya pink kali, tampilannya saja yang brutal.”


"Serius gue!"


"Ini penampilannya saja yang sangar, tapi aslinya dia pemilik yayasan anak yatim dan dhuafa, duda tanpa anak."


"Ke mana anak istrinya?"


"Meninggal, kecelakaan pesawat, tragis banget, pas mau menyusul dia ke tempat kerja, niatnya mau bikin kejutan, tapi takdir Tuhan malah memisahkan mereka selamanya.”


"Innalillahiwa innaillaihi raji'un."


"Gue yakin dia cocok sama Ibu lu, coba saja, besok gue atur biar mereka bisa ketemu.”


~


Ardi memang terbaik, kami mengatur janji temu esok hari, kurasa aku sudah keterlaluan pada Ibu, aku harus meminta maaf kali ini.


"Bu buka pintunya.” Sayang tak ada jawaban.


"Bu, buka dulu, aku minta maaf karena udah kasar sama Ibu, aku masuk ya?"


Tak di kunci? Kamarnya kosong? Loh Ibu ke mana?


Kususuri setiap tempat pun sosoknya tak kutemukan di mana pun.


Aku menelepon ke ponselnya sayang nomornya tak aktif, ibu pergi karena sakit hati?


"Mia apa Ibu ke rumah?" Aku melakukan panggilan dengan Mia.


"Enggak Mas, memangnya Ibu pergi?"


"lya dia pergi bawa pakaiannya,’ ucapku.


"Mungkin ke apartemen Mas balik lagi."


"Sudah Mas tanyakan dan cek CCTV di sana juga gak ada Ibu."


Ponselku berdering, satu panggilan dari Ibu.


"Hallo Bu, ibu kenapa pergi diam-diam Ibu di mana? Biar aku jemput."


"Maaf Mas ini bukan Ibunya Mas, yang punya ponsel jatuh ke sungai, tadi hampir aja keserempet motor, terus karena menghindar, mungkin kaget juga terus malah jadi jatuh ke sungai.’


"Terus bagaimana sekarang keadaan Ibu saya?"


"Belum tahu Mas masih dalam proses pencarian, sama warga.’


"Ibu di mana biar saya ke sana."


"Saya di Kampung Dukuh, di jembatan, yang mau ke kampung rambutan, kejadiannya di situ Mas."


"Oke tunggu di situ ya, saya ke sana sekarang.’


Bagaimana ini, benar kata Dilra, meski aku membencinya begitu tahu dia sedang tak baik-baik saja, hatiku akan tetap sakit, tetap menyesal meski seringnya dia menabur luka.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2