Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Hidup Slalu Punya Pilihan


__ADS_3

Hidup selalu punya pilihan, ada yang memilih mengakhiri segalanya, memulai hidup baru entah dengan orang lain, atau tetap berdiri di atas kaki sendiri. Sebagian lagi memilih bertahan, meski terus diterpa badai juga luka, tekatnya tetap bulat, kokoh meski setiap hari, dinding pertahanannya makin rapuh, diterjang nestapa di segala penjuru.


Tak ada batasan dalam bersabar, karena saat mencapai ambang batas maksimal, maka yang hadir hanya keputusasaan. Perkara mudah bagi Tuhan membulak-balikan hati manusia, apa lagi untuk hamba hamba yang tak pernah lelah menengadahkan tangan, memohon di setiap sujudnya. Tak ada makhluk yang bisa mengubah takdir Sang Khalik, tapi dengan tetap berada di jalannya, maka semuanya akan terasa lebih mudah.


~


"Sudah sebulan Mas enggak pulang, sebenarnya ada apa? Apa semua baik-baik saja?"


"Semua baik-baik saja sayang, Ibu sehat Mia juga sehat, enggak kurang apa pun."


"Boleh aku bicara dengan Mia?"


"Mas sedang di luar.”


"Selalu begitu, ya sudah kirim nomor Mia aja, biar aku tanya langsung."


"Enggak bisa Mas lagi sibuk, sudah dulu ya bye sayang.”


Aku terpaksa melakukan ini Dil, maaf karena lagi lagi kebohongan yang kukatakan padamu.


"Kenapa sih Mas enggak jujur sama Mbak Dilra?" tanya Mia.


"Mas susah payah bikin Dilra enggak ketergantungan obat obatan dari psikiater, butuh bertahun-tahun buat Mas bisa punya keturunan lagi, Mas tahu Dilra seperti apa, dia bisa kembali depresi karena masalah Ibu, diamlah Mia jangan menambah beban Mas dengan ikut menyalahkan Dilra!"


“Bukan maksudku begitu Mas, tapi masalahnya Ibu, Mas enggak bisa kan menutupi semua ini dari..."


"DIAM!"


Mia tampaknya tersentak padahal hampir sebulan aku kerap berkunjung ke rumahnya, baru minggu ini dia mau bicara padaku. Tapi sungguh keadaan ini, membuatku hilang kendali.


"Kamu pikir gampang jadi aku, Mia? Kamu tahu rasanya rumah tangga disetir mertua, sakit bukan? Mana empatimu? Kamu ingin jadi seperti Ibu, anakmu laki-laki, lihat dia sekarang!" Mia hanya tertunduk sembari terus melangkah menjauhiku.


"LIHAT ANAKMU"" Saat itu juga Mia mengikuti arahanku, menatap Saka dari kejauhan, bocah kecil itu tengah bermain di luar halaman, aku cukup tahu diri, tak mungkin berbicara kasar di depan anak kecil seusianya.


"Kamu ingin seperti Ibu, di masa depan apa kamu juga akan membalaskan sakit hatimu nanti pada menantumu?" Mia malah menangis, tapi sungguh tangisnya kali ini tak membuat hatiku tersentuh.


"JAWAB."


"Enggak Bang, aku tahu aku salah.”


"Berhenti di kamu, enggak ada lagi balas balasan sakit hati, siapa yang salah, siapa juga yang kena getahnya, atau kamu mau berakhir seperti Ibu.”


“Aku minta maaf Mas, hiks hiks."


"Kamu pikir Mas enggak pusing menghadapi kalian, kepala Mas cuma satu, badan Mas juga cuma satu, tapi kalian selalu menuntut Mas ada, ada, dan ada, enggak peduli keadaan Mas, kalian pikir Mas enggak punya kehidupan? Kurang apa Mas sama kalian, Mas nikah di usia 38 tahun, demi kamu sama Ibu Mas lakukan, salah? kalau di usia Mas yang menginjak angka 40 mau memikirkan hidup Mas sendiri, enggak bisa kah kamu mengurus Ibu?" Mia terduduk di lantai dia bersimpuh di depanku, sembari terus memohon maaf dariku.


"Kamu ini perempuan, harusnya kamu lebih mengerti perasaan Ibu, harusnya aku yang menyalahkan kamu, kenapa Ibu bisa pergi, bisa depresi! apa saja yang kamu lakukan?”


"Aku bahkan rela bercerai demi Ibu, tapi kamu! hanya 3 tahun Mia, kamu bikin Ibu pergi dari rumah! APA YANG KAMU LAKUKAN SEBAGAI ANAK! Seenaknya kamu melimpahkan semua kesalahan padaku, aku sabar, kamu mengabaikanku sebulan ini, aku tahan Mia, tapi kamu malah makin tidak tahu diri, menyalahkan Dilra segala, apa yang kau tahu tentang Dilra hah?"


"Bang tolong maafkan aku Bang hiks hiks."


“Minggir! Tak sudi aku menginjakkan kaki di rumah ini, kau memang kaya Mia, tapi tak seharusnya kamu biarkan Ibumu di jalanan, dia memang pernah salah membuatmu keguguran, tapi tak patut kamu meninggalkannya sendiri di saat dia terpuruk, kamu dendam sama Ibu?"

__ADS_1


"Aku enggak pernah meninggalkan Ibu Bang.”


"Kamu pergi jalan-jalan dengan Saga padahal Ibu sedang terpuruk, kamu biarkan Ibu sendirian, di mana perasaanmu Mia?"


“Dari mana Abang tahu semua ini.”


"Saga! Suamimu yang cerita, dia bahkan lebih menyayangi ibu dari pada kamu, putrinya sendiri.”


"Hiks hiks aku memang benci sama ibu Bang, aku benci karena dia membuatku kehilangan janinku waktu itu, menyiksaku setiap hari, aku sakit Mas, sakit hiks hiks, tapi demi Allah aku enggak menyangka kalau Ibu bakal depresi seperti ini, maafkan aku maafkan aku Mas."


"Mas tolong jangan pergi, ayo kita cari ibu sama sama.”


Mengabaikan Mia yang histeris, lebih baik menenangkan diri dengan Saka, anak kecil itu mengingatkanku pada Dion, sudah sebulan tak berjumpa, membuatku rindu. Dilra tiba-tiba saja menelepon lagi.


"Mas tolong jujur, bagaimana keadaan Ibu?”


Nada suara Dilra berbeda, dia terlihat khawatir.


“Ibu baik-baik aja, lagi istirahat sekarang-’


“Mas! Aku ini istri kamu sampai kapan sih menutupi kebohongan dari aku?”


“Kebohongan apa si Dil, Mas enggak bohong apa-apa.”


“Jelas-jelas tadi aku lihat Ibu di chanel youtube, bagaimana bisa kamu bilang di rumah, coba aku mau mengobrol sama Ibu."


“Chanel youtube siapa Dil? Kamu serius? Di mana Ibu sekarang."


“Katakan dulu kenapa Ibu bisa sampai di tempat orang-orang yang punya gangguan kejiwaan?"


"Ya Mas pikir sendiri, kenapa bisa Ibu ada di sana.’


"Dil tolong kasih tahu Mas, Ibu di mana sekarang biar Mas susul, sudah dua bulan ibu gak pulang ke rumah, Mas sudah cari ke mana-mana tapi nihil, nanti di rumah Mas jelaskan masalahnya."


"Di Bandung, nanti aku kasih tahu alamat detailnya di whats app."


"Terima kasih sayang, terima kasih, dan maaf karena Mas enggak jujur soal ini."


Lantas setelah telepon ditutup, aku langsung menuju ke tempat yang ditunjukan Dilra, tentu bersama Mia dan Saga.


Mobil menepi tepat di halaman parkir yayasan itu, di sana ramai, tapi hanya dengan menatap mata mereka hatiku begitu teriris, ada sejuta luka dalam berbagai macam masalah, dibiarkan menahun, hingga tiba di mana hari itu, hari di mana semua harapan berakhir pada jalan buntu, keputusasaan, juga kecewa yang menyatu. Mereka sudah bahagia dengan versi masing-masing, memilih tenggelam pada dunia yang mereka anggap lebih membahagiakan, ketika jiwa-jiwa mereka bebas. Saat kami memasuki gerbang, ada yang tertawa, menatap kosong untuk waktu yang lama, juga ada yang mendekat sekedar bertanya, memastikan kalau kami seseorang dari masa lalunya atau bukan. Seorang laki-laki berpostur tambun menyambut kami dengan hangat, saat kutanya kenapa mau merawat mereka? Bukankah akan sangat merepotkan.


"Kalau bukan saya siapa lagi? Mereka mah gak baka! tiba tiba minta makan kalau pun ada yang begitu cuma beberapa, seringnya mah ngorek ngorek sampah." Mendengarnya saja hatiku begitu tertampar, memang kerap kali di jalanan orang orang seperti mereka lebih memilih memungut makanan di sampah dari pada meminta ke warung-warung, ya Rabb bagaimana kalau Ibu juga melakukan itu.


“Ibu Aa mah bersih pas saya ajak ke sini juga, dia mah masih normal, masih bisa diobati.”


"Bapak ketemu Ibu di mana?"


“Di jalanan saja yang mau ke subang.”


"Ya Allah, boleh saya ketemu Ibu sekarang.”


"Boleh, kayaknya Ibu ada di musola, Si Ibu mah yang paling rajin, dia mah sepanjang hari juga banyaknya di musola."

__ADS_1


"Di musola? Ibu saya salat Pak?"


“Loh ya iya atuh, kadang kadang juga mengaji, suaranya bagus, tapi kadang-kadang juga suka menangis sepanjang hari, kalau ingat A Guntur, suaminya.’


ibuku sudah mau salat, mengaji, ya Rabb, aku bahkan hampir putus asa memintanya agar mau melakukan kewajiban salat, tapi Om Guntur hanya beberapa tahun saja, bisa mengubah Ibu, lihat lah dia sekarang, aku hampir tak mengenalinya kalau saja tak kulihat wajahnya dari dekat, gaya berbusananya yang tertutup, lengkap dengan jilbab lebar, sungguh membuat hatiku bergetar hebat. Ibu masih tak menyadari kalau aku telah berada di sisinya, pikirannya masih saja terfokus pada biji-biji tasbih dalam genggamannya.


"Ibu..." lirinku, sembari menggenggam tangannya lembut.


Ibu melirikku, matanya menatap lekat, lalu setelahnya mendung mulai menyelimuti wajahnya, bibirnya bergetar menyebut namaku, seketika itu juga aku memeluk tubuh ringkihnya dengan erat, semakin erat hingga bisa kurasakan tubuhnya berguncang hebat.


"Maafkan Galang Bu, Maafkan Galang.” Ibu tak menjawab dia malah melepaskan diri dari pelukan, menangkupkan telapak tangannya di kedua pipiku, lalu menggeleng pelan.


"Ibu kenapa bisa sampai sini?"


“Ibu mengikuti Bapak kamu Lang, kamu gak tahu ya kamu punya Bapak lagi.”


Ya Allah ibu, mengikuti Bapak ke mana, Bapak sudah tidak ada lagi di dunia, Om Guntur sudah meninggal.


"Galang tahu kok Bu, kita pulang ya, kan ada Galang, sudah ya ikut sama Galang lagi."


"Ibu mau di sini saja."


"Bu, Saka sama Dion kangen sama neneknya, Ibu tega meninggalkan mereka?"


"Di sini rame Lang, Ibu enggak suka tinggal di rumah, sepi, ibu takut sendirian, apa lagi Bapak kamu enggak pernah pulang-pulang."


Selamanya Bapak enggak akan pernah pulang Bu.


Lagi-lagi aku hanya bisa memeluk wanita ini, wanita yang seumur hidupnya harus terluka lagi dan lagi.


Menjelang malam kami bahkan tetap tak bisa membujuk Ibu untuk pulang, Pak Riswan pemilik sekaligus pengasuh yayasan ini pun kewalahan, dia mengatakan untuk membujuk pelan-pelan sampai mau, kalau dipaksa takutnya malah mengganggu psikisnya lagi, mengingat akhir-akhir ini |bu sudah jarang sekali menangis histeris, perkembangannya cukup baik hanya sesekali menangis saja, itu pun hanya dua kali dalam seminggu.


"Bagaimana Ibu?" tanya Dilra ditelepon.


"Enggak mau pulang Dil, Mas bingung bujuknya bagaimana?"


"Boleh aku coba Mas?"


"Kamu mau ke sini?”


"ya?"


"Tapi kandunganmu? Kalau Ibu berbuat macam-macam lagi seperti dulu, bagaimana?"


"Insyaallah enggak, bukannya Ibu juga sudah berubah."


"Nanti kupikirkan Dil, sebaiknya kamu di rumah saja, perjalanan ke sini jauh, enggak baik buat ibu hamil.”


"Mas ...."


"Dil Please jangan paksa Mas, Mas lagi bingung Dil, kenapa ini terjadi sama keluarga Mas?"


"Mas tugas kita hanya menjalankan takdir dengan ikhlas, jangan pernah tanya kenapa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2