
Luka itu belum sembuh, dia berbohong menutupi sendiri lagi seperti dulu, agar semuanya terlihat baik-baik saja, seringnya dia memikirkanku, ingin membuatku nyaman, untuk terus hidup berdampingan dengan Ibu, dia yang lebih memilih terluka seumur hidup sedang aku masih ragu, ragu untuk menyelamatkan hidupnya lagi dan lagi.
"Sayang kita pindah rumah lagi?"
"lya sayang, gak apa-apa ya, Mas bosen pengen cari pengalaman baru.”
"Gak apa-apa sih, tapi kok ngedadak banget, Ibu Mia juga udah di kabarin, kalau kita mau pindahan?"
Aku tersenyum padanya, jelas sengaja tak kubari mereka, kalau Ibu tahu bisa saja dia menyusul kita seperti dulu.
"Udah."
"Sayang, soal urusan kerjaan aku bagaimana? Masih 2 minggu lagi.’
"Kamu kerjakan dulu setelah itu baru kita pindah rumah."
"lya sayang, terus Ibu kenapa gak pulang ke sini, dia masih di rumah sakit apa di mana?"
"Gak usah mikirin Ibu ya sayang, kamu fokus aja sama kerjaan kamu, biar kita bisa cepat pindah. Soal job Om Guntur gak usah di ambil ya."
"Kenapa Mas, kan kemarin aku udah terlanjur nyanggupin.”
"Kapan emang acaranya?”
"3 minggu lagi Mas."
"3 minggu, oke boleh tapi setelah itu kita langsung pindah ke rumah baru.”
"Terserah kamu aja, sini biar aku yang teruskan beres-beresnya, Mas tuh ngapain pakai bantuin aku beres-beres segala, bukannya semalem katanya gak tidur, waktuaku bangun malah rumah udah rapi semua."
"Di bantuin si Mbak juga tadi.”
"Sudah kamu istirahat aja lagi, udah rapih juga rumahnya.’
"Aku udah tidur kelamaan Mas, gak mau tidur lagi."
"Ya sudah sini.”
"Ke mana?"
"Peluk Mas!"
Dilra tersenyum lalu menghambur memelukku, kudekap tubuhnya semakin erat, aroma bunga lily seketika menyeruak, dia masih saja bertanya kenapa aku pindah mendadak padahal rumah ini baru dibeli seminggu yang lalu. Semua ini kulakukan untukmu Dil, untuk kebaikanmu juga.
"Kamu jangan lihat aku begitu dong Mas,’ katanya sembari merunduk malu.
Ada sesak yang kian menjalar, mengingatnya tertawa, menangis juga berteriak dalam waktu bersamaan, apa dia tak mengingatnya sama sekali, sekarang jika hanya dilihat dari luar, Dilraku tampak baik-baik saja, tapi sebenarnya semua semu, luka itu tetap hidup, mungkin juga tidak akan pernah mati, semua pilihannya ada di tanganku, membiarkannya atau tetap berusaha menyembuhkan Jukanya. Malam berlalu, kini kami sudah terbaring di tempat peraduan, saksi bisu saat cinta kita menyatu.
“Sayang, kenapa dari tadi peluk aku terus?” katanya, aku sedang memeluk tubuhnya dari arah belakang.
"Hey kok basah, Mas nangis ya?” Dilra berbalik menatapku, gegas kuhapus jejak basah yang tanpa tahu diri keluar begitu saja.
__ADS_1
“Kamu udah janji kan Dil, buat cerita apa saja, sama Mas, semua yang kamu rasakan, kenapa masih aja kamu pendem sendirian?”
"Aku?"
“lya kenapa kamu gak pernah jujur sama Mas?"
“Aku baik-baik aja kok Mas.” Seketika dia memalingkan wajah.
“Kalau kamu baik-baik aja kenapa gak mau lihat Mas."
“Mas, tadi siang aku kenapa?"
“Kamu...’ Aku ragu untuk memberitahunya. “Kenapa? Aku kenapa Mas?"
“Sudahlah batalkan saja semua projek wedingmu kita pindah sekarang."
"Jadi Mas pindah hanya karena aku, abagaimana Ibu?"
“Dia akan menikah Dil, lagi pula Ibu masih sehat, masih bisa melakukan semuanya sendiri.”
"Tapi Mas, aku gak mungkin ninggalin kerjaan yang dikasih Hiro, tapi kalau Om Guntur mungkin bisa."
"Maaf karena Mas gak bisa bahagiain kamu, kita harus pergi Dil tolong sekali ini saja, ikuti Mas.’
“Lalu bagaimana sama kerjaan Mas, karir Mas yang udah Mas bangun susah payah."
"Ada Ardi, Mas akan tetap dapat bagian meskipun tak banyak, kita ingin punya banyak anak bukan?"
“Lalu bagaimana bisa kita akan punya anak banyak kalau kamu masih aja mengonsumsi obat-obatan itu.’
“Aku bingung Mas, di sisi lain dia Ibu kamu, tapi sisi lain juga, hatiku sakit Mas, sakit karena selalu disalahkan, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya gak perlu dibesar-besarkan.”
Aku memeluk Dilra lagi, dia hanya membisu, cukup lama kami berada dalam posisi ini, hingga tanpa sadar, Dilra sudah terlelap dalam rengkuhanku, wajahnya begitu tenang tak seperti biasanya, saat dia dipaksa terlelap oleh pengaruh obat tidur. Masih terngiang di telinga ucapan dokter saat itu.
“Ibu Dilra mungkin bisa masuk rumah sakit jiwa kalau terus berada di lingkungan yang penuh tekanan."
Jadi mulai hari ini Dil, bagaimana pun caranya siapa pun orangnya tidak ada yang boleh menyakiti kamu, aku yang membuatmu begini, maka aku juga yang akan menyembuhkan lukamu. Kukecup kening wanitaku yang tengah terlelap itu, Jalu setelahnya aku beranjak keluar berniat menghubungi Ardi, mengatur janji temu dengannya.
"Gimana bisa sih lu ninggalin kerjaan kayak gini, gak mau gue."
"Dilra sakit Di, dia bisa makin parah kalau tetep ditekan terus, gue harus pergi, jauhin Dilra sama Ibu, gak bisa lagi gue nyatuin mereka.”
"Ya lu mau pergi kemana coba?"
"Yang jelas keluar kota ini.”
"Oke, lu boleh pergi. Tapi gue cuma bisa ngasih lu segitu tiap bulannya, karena gue juga harus bayar orang buat gantiin posisi lu."
"Gak masalah, bagian gue itu kalau bisa lu kasih aja ke nyokap gue, transferin aja ke rekeningnya tiap bulan, nanti gue kasih deh nomornya.’
"Gampang itu, tapi lu gak bakal narik saham dadakan kan?"
__ADS_1
"Tenang aja.”
"Terus mau kerja apa di sana?"
“Gue ada rencana buka bengkel lagi, doain gue ya.”
"Gila lu! Gue gak ngerti lagi kalau ada di posisi lu, bisa jadi gue yang gila beneran."
"Dah lah, thank's ya buat semuanya, Oh ya soal Om Guntur, Dilra gak bisa bantu dia ngurus pernikahan anak angkatnya, gue mau cepat-cepat pindah, lu kasih pengertianlah sama dia, mungkin nanti gue bakal temuin Om Guntur secepatnya.’
"Gampang itu mah bisa di atur.’
"Sip, gue pamit ya.”
Esok harinya kami juga mengatur janji temu dengan Om Guntur, benar kata Ardi dia laki-laki yang ramah dan cukup santun. Bahkan saat kami membatalkan kerja sama kami, dia tak keberatan sama sekali, katanya mungkin bisa lain waktu, benar kata Ardi penampilan tak selamanya mencerminkan isi hati.
"Salam buat Bu Rima ya,’ katanya sebelum kami berpamitan. Aku dan Dilra saling menatap, tapi kemudian tawa kami pecah.
“Orang tua juga berhak jatuh cinta Dil? kataku sembari merekatkan pundaknya padaku.
Sedang Om Guntur sudah bertengger di motornya, bersiap melaju sendirian, tak terbayang di masa mendatang Ibu akan duduk di jok belakangnya, lucu juga. Akhir akhir ini Dilra begitu sibuk, beberapa kali ibu kerap datang berkunjung untungnya dia sedang tak ada di rumah, tengah menyiapkan gedung beserta mengurus keperluan lain bersama timnya. Sesekali Hiro juga berkunjung ke rumahku, seperti hari ini, dia dan Tim dilra semua berkumpul, sehari lagi resepsi digelar. Melihat Dilra mendiktekan tugas dan tanggung jawab masing-masing orang di timnya, sejenak aku terkesima, dia terlihat pintar, aku bangga. Sesekali perempuan itu melirikku, yang tengah duduk santai menyesap kopi di mini bar kami, aku tersenyum sekilas, membalas senyumnya yang juga merekah manis ke arahku.
Esok hari tiba, Dilra minta diantar saat subuh, karena akad pengantin akan dilaksanakan pukul 7 pagi.
"Sayang jangan terlalu capek ya."
"Hmm makasih ya, udah mau nganterin aku pagi pagi begini.”
"Mas ikut happy kalau kamu juga happy kayak gini."
"Yaudah aku pamit ya."
Karena lusa kami mulai pindah rumah aku kembali mengecek apa saja yang mungkin masih tertinggal, sebagian barang sudah kuangkut duluan, sengaja kupekerjakan ART untuk beres beres di sana, supaya saat kami datang ke sana bisa langsung istirahat.
Selamat tinggal Ibu, selamat tinggal Mia. Setelah semua urusan Dilra selesai lantas kami semua berangkat menuju rumah baru, tak ada tahu kepindahan kami selain Ardi bahkan dia pun masih belum kuberitahu dimana tepatnya kami tinggal. Aku benar-benar ingin menghilang kali ini, entah sampai kapan, setidaknya sampai Dilraku membaik dan kami punya anak-anak, adik-adik Dion.
"Sayang mau cobain kue aku gak? Aku lagi nyoba resep baru?” suara Dilra terdengar cukup nyaring, wangi kue seketika memenuhi ruangan begitu aku masuk.
"Wangi banget sayang, coba sini.”
"Wah enak banget, pinter ya istri Mas."
Dilra tersenyum melihatku melahap potongan kue bulat-bulat, sudah 3 bulan kami tinggal di sini, selama itu juga aku tak pernah bertukar kabar dengan keluargaku. Kami semua sepakat mengganti nomor memulai hidup baru, dengan suasana yang benar benar baru pula, bukan sesekali lagi aku menahan rindu pada Mia dan Ibu, semua kutahan demi tekatku yang bulat, membuat wanitaku sembuh, menggaapai impian kami, yang ingin punya banyak anak, setidaknya sekarang bisa melihat tawa Dilra setiap hari, sudah cukup menyamarkan kerinduanku pada Ibu, bebanku sedikit berkurang apa lagi saat Dilra tak lagi AG BAM mengonsumsi obat tidur saat menjelang malam, obat-obatan yang rutin dikonsumsinya pun sudah tak sebanyak dulu. Harapan untuk kami segera memiliki momongan semakin besar. Sesekali aku tetap memgontrol keadaan Ibu dan Mia lewat akun sosial medianya, ratusan chat dari Mia yang tak pernah sekali pun kubaca, kubiarkan begitu saja, membacanya hanya akan membuat keyakinanku goyah, biarlah aku yang mengalah memendam rindu pada kalian, dari pada mengorbankan kewarasan Dilra demi aku lagi dan lagi. Hari ini seharusnya Ibu menikah dengan Om Guntur, seminggu lalu, undangannya di upload oleh Ardi begitu juga dengan Mia yang mengapload pelaminan sederhana untuk Ibu dan Om Guntur, sehari sebelumnya, dari pagi aku terus memandangi ponselku, kuharap Mia menepati janjinya kalau dia akan membuat live pernikahan Ibu.
Satu dua tiga. Notifikasi di ponselku muncul Mia sedang melakukan live di facebook. Akad Ibu sedang berlangsung, Ibuku terlihat berbeda dengan hiasan tipis-tipis juga kebaya sederhana namun elegan di padukan dengan jilbab senada berwarna putih gading ibu tampak anggun dan serasi berdampingan dengan Om Guntur.
Sah! Alhamdulillah! Gemuruh riuh tepuk tangan juga suasana haru kian sahut menyahut di ruangan itu. Seketika layar berubah, dipenuhi muka Mia yang sudah basah berlinangan air mata.
"Buat Abang yang jauh di sana, Mia tahu sekarang Abang lagi lihat kita, lihat siaran langsung Mia, pulang Bang, Mia sama Ibu kangen sama Abang.’
Bersambung...
__ADS_1