Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Dilraku Kembali


__ADS_3

"Kenapa enggak jujur dari awal Dil, kamu tahu Mas cari kamu ke mana.”


Dilra masih diam tapi air matanya tak berhenti mengalir dari sudut mata, perlahan aku mendudukkannya di kursi, tak enak juga karena kami sudah jadi pusat perhatian di tempat ini.


"Kamu curang Dil, kamu membiarkan Mas kehilangan kabarmu, tapi diam-diam kamu malah terus mengawasi Mas, lewat akun Rere.’


"Maaf, aku pecundang bukan?"


"Enggak, siapa yang bilang Dilraku pecundang?"


Dilra hanya tersenyum menatapku, lalu setelahnya kembali memalingkan wajah ke arah jendela, menyeka air matanya pelan.


"Mari rujuk Dil?"


"Rujuk?" Wajah wanita


"Kenapa? Bukankah kamu pura-pura menjadi Rere karena masih peduli padaku-"


"Aku enggak siap Mas, mungkin selamanya aku enggak akan pernah menikah lagi,’ katanya dengan wajah sendu.


"Dil..." Sembari berusaha menggenggam


punggung tangan Dilra, sayang dengan cepat pula dia menariknya.


"Kamu bisa bicara, tapi enggak perlu, pegang-pegang Mas.”


Lagi-lagi dia memperjelas jarak di antara kami.


"Maaf Dil."


"Kamu trauma dengan pernikahan Dil?"


"Apa seperti ini bisa dinamakan trauma Mas?"


"Kamu masih sangat muda Dil, bagaimana bisa mengatakan enggak mau menikah lagi, apa namanya kalau bukan trauma?"


Dilra terdiam sejenak, tapi kulihat lengannya meremas kuat tisu hingga hampir hancur.


"Apa pun namanya aku belum siap kalau harus kembali mengulang kehidupan


pernikahan, terutama sama Mas.”


"Karena perlakuan ibu?" Dilra tersenyum getir.


"Aku enggak mau nantinya jadi penghalang bakti anak laki-laki pada ibunya, dan aku enggak mau menempatkan kamu pada posisi sulit lagi, ketika harus memilih ibu atau istri."


"Oke Mas mengerti, tapi tentang perasaan kita, harus bagaimana Dil."


"Mas, perempuan menikah itu agar ada yang melindungi, ada yang bertanggung jawab atasnya, sedangkan aku, apa yang kudapatkan saat menikah denganmu, sekedar pembelaan pun kamu enggak bisa kasih, sampai hal yang paling dasar, nafkah lahir kamu korbankan semua demi kebahagiaan ibu, istri mana yang bisa tahan dengan keadaan seperti itu?"


"Aku salah Dil, untuk itu mari perbaiki semuanya, kita bangun rumah tangga dari awal lagi, hanya kita tanpa Ibu.”


Bukannya menjawab Dilra justru sedikit terkekeh.


"Menikah itu bukan hanya tentang kita Mas, tapi tentang menyatukan dua keluarga.’

__ADS_1


"Tapi yang menjalankannya kita, bukankah hal itu yang kamu inginkan.’


“Aku sudah bilang, enggak akan nikah lagi, sekarang lihat saja bagaimana sikap Bapak padamu, juga sikap Ibumu padaku, apa Mas sanggup mendamaikan mereka?"


"Kenapa tidak Dil?"


Dilra lagi-lagi tersenyum tapi kali ini dia malah bangkit dari tempatnya berdiri, dan berlalu begitu saja setelah dia mengatakan, kalau hubungan kita terlalu rumit, rasanya tak akan layak memiliki masa depan yang indah, aku mengejar, dengan harapan, dia mau sekali Saja memberi kesempatan, lagi pula aku sudah sampai di sini, jauh-jauh terbang ke pulau lain, aku tak mau sia-sia lagi.


"Izinkan Mas bicara sama Bapak, Mas pasti bisa meyakinkannya buat kasih kamu ke Mas lagi."


"Sebelum melakukannya ada baiknya yakinkan dulu Ibu, bisa enggak menerima aku jadi mantunya lagi."


"Itu bisa diatur Dil, |bu sudah kutempatkan di kampung, Mia juga sudah pindah sekolah, rumah kita kubiarkan kosong, kau tahu Dil Mas enggak sanggup buat tinggal di sana lagi, terlalu banyak kenangan tentang kita, itu bikin Mas sakit, tolong Dil sekali saja."


“Oke, Mas bisa temui Bapak besok sore, sekarang lebih baik Mas pikirkan baik-baik solusi apa yang Mas lakukan buat pernikahan kita nanti.”


“Satu lagi aku butuh imam yang tegas dan mengayomi, kalau hal paling dasar saja Mas enggak bisa lakukan, maka lebih baik mundur dari sekarang; katanya seraya terus melangkah mendekati area parkir, saat itu seseorang ikut mendekat ketika Dilra mulai membuka pintu mobil, mereka adalah Dion dan pengasuhnya. Dionku sudah besar, tertatih-tatih bayi laki-laki itu melangkah.


Sayang kau tak kenal Ayah kah? Saat aku berusaha memajukan ke dua lenganku, menawarkan agar dia mau kugendong, bocah mungil itu malah melongos, ria lebih memilih memeluk kaki Dilra yang berada di belakang. Kenapa rasanya pilu, selama ini Dilra berjuang sendirian membesarkannya, tentu wajar kalau Dion tak mengenalku. Sekarang bayi itu malah tertawa karena Dilra mengangkatnya.


"Sayang ini siapa?" Dilra mendekatkan bayi itu ke wajahku, sekarang semua baru terlihat jelas, anak itu lekat menatapku.


"Sayang ini Papah, kamu lupa sama Papah nak?"


"Mas..."


"Maafkan Mas Dil, maafikan Mas."


"Ya sudah, ayo masuk'"


"Mas Masuk?"


Kau tahu Dil bagaimana bisa aku akan jatuh hati pada wanita lain kalau sikapmu selalu saja begini. Di perjalanan wanita itu lebih banyak diam, terakhir dia bicara, saat pengasuhnya kedapatan, terus mencuri pandang padaku dengan raut wajah bingung.


"Dia Papahnya Dion Mbak,’ kata Dilra, dan setelahnya gadis kecil itu, tak lagi berani mengintaiku dengan sorot matanya yang membesar, sekarang dia sedang asyik mengajak Dion bermain mobil-mobilan.


"Dil soal foto itu, kenapa Bapak bisa dapat foto prewed kamu sama laki-laki, dia siapa Dil?"


"Mana fotonya?"


"Hmm Mas gak punya, tapi Mas tahu ciri-cirinya dia tinggi, kulitnya putih, terus punya jambang."


"Dia cuma partner bisnis aja Mas."


"Bukan calon suami baru?”


"Jadi sekarang kamu sedang cemburu Mas?"


“Hmmm, apaan sih Dil." Seraya menggaruk kepala yang tak gatal ini, bagaimana bisa Dilra bicara hal itu di depan orang lain, lewat kaca yang di gantung di dashboard bisa kulihat, dua perempuan itu terus saja menertawaiku.


"Memang selama ini kamu kerja apa? Kenapa harus ketemu sama laki laki, kenapa enggak sama perempuan saja, memang enggak bisa...”


"Mas!" Dilra sedikit menyentak, mungkin karena aku juga yang keterlaluan, bicara banyak tanpa cari tahu dulu apa yang terjadi sebenarnya.


"lya Dil, sorry, jadi apa pekerjaanmu?"

__ADS_1


"Aku buka jasa rias pengantin Mas, dan kebetulan, laki laki itu punya usaha di bidang fotograpi, kami jadi tertarik untuk kerja sama.”


"Dalam hal apa?"


"Ya bikin WO berdua.’


“Berdua? Hanya berdua, enggak ada yang lain lagi?"


"lya, modalnya patungan, jadi bisnis itu kami yang atur, kami yang mengambil keputusan juga.’ Meski Dilra menjelaskan panjang lebar,


entah kenapa hatiku seakan tak pernah puas, kurasa ada yang tak beres dengan laki-laki itu, dari tatapannya saat di foto saja jelas tergambar bahwa itu sangat penuh dengan cinta.


"Sudah sampai Mas, sampai ketemu besok di rumah Ayah.”


Bagaimana ini, Dilra menyuruhku meyakinkan Ibu, sedang mengingat karakter Ibu yang keras, apa dia akan menerima Dilra lagi, sebagai mantu.


"Bu aku mau rujuk lagi sama Dilra."


"Apa? Kamu ini bodoh apa bagaimana, istri orang lain kamu nikahi.”


"Dia belum menikah, itu cuma rekayasa Pak Hasan saja.”


"Jangan gila kamu Lang, sampai kapan pun Ibu enggak bakal setuju."


"Kenapa Ibu enggak setuju? Ibu enggak mau anak Ibu senang, apa kurangnya aku sama Ibu? Apa Ibu takut uang belanja berkurang karena aku punya istri lagi?”


"Ya Allah Lang, lihat saja kamu sekarang, belum nikah saja kamu sudah ngomong begini."


"Tolong Bu, jangan halangi lagi aku untuk memulai rumah tangga lagi, atau selamanya aku enggak mau ketemu Ibu lagi."


"Ya Allah Lang, kenapa kamu tega banget sama Ibu? Ibu yang melahirkan kamu Lang, membesarkan kamu sampai dewasa, enteng banget kamu ngomong begitu."


"Bukannya Ibu tega memisahkan aku sama anak-anakku, Ibu ingat siapa yang bikin Dilra keguguran? Biar Ibu tahu bagaimana rasanya dipisahkan sama darah daging Ibu sendiri."


"Hiks hiks hiks kamu dendam sama Ibu Lang."


"Jangan bertindak seolah aku ini menyakiti Ibu terus menerus, Ibu tahu Dilra hampir gila karena Ibu, anakku dua meninggal, apa Ibu masih merasa enggak bersalah sama sekali?"


"Ibu salah Lang, Ibu mengaku salah.”


"Sekarang terserah Ibu, kalau Ibu tetap mau mempertahankan ego Ibu, melarang aku sama Dilra rujuk atau bikin istriku seteres lagi, maka lebih baik kita enggak ketemu lagi, adil bukan? kita sama-sama merasakan bagaimana rasanya kehilangan anak."


Aku tahu ya Allah, ini sudah keterlaluan, tapi harus bagaimana lagi, rasanya bagai mayat hidup kesepian, tak punya keluarga, juga menahan kerinduan tak bertepi, sungguh menyiksaku sepanjang waktu. Ibu masih terisak saja di telepon.


"Ibu masih ingat soal surat perjanjian di kantor polisi kan?"


"Jadi kamu mau penjarakann Ibu, tega kamu Lang hiks hiks."


"Aku berharap itu enggak bakal terjadi Bu, kalau sampai itu kejadian lagi, aku menyerah Bu, cukup Dinda sama Aira gak ada yang lain lagi."


"Ibu gak habis pikir sama Kamu Lang, jahat kami mau menjarain Ibu hiks hiks lya Ibu gak akan ganggu rumah tangga kamu lagi, puas kamu sekarang!!"


"Terima kasih Bu, maaf kalau Galang keterlaluan sama Ibu, tapi Galang udah dewasa, salah, kalau Galang pengen berkeluarga? Sudah dulu ya, tenangkan diri Ibu dulu."


Astaghfirrullahaladzim, maaf kan hamba ya Allah, bukan maksud hamba menyakiti perasaan Ibu, tapi rasa bersalah ini, begitu , bagaimana pun aku telah menzalimi anak istriku dulu.

__ADS_1


Masalah Ibu sudah selesai, sekarang tinggal Bapak, entah dengan cara apa aku harus meyakinkannya. Apalagi kebenciannya padaku mungkin sudah melebih bencinya Ibu pada Dilra.


Bersambung...


__ADS_2