
PoV Ibu Rima ( Mertua )
"Ibu boleh tanya dari tadi enggak ada makanan sedikit pun apa kamu enggak ada uang haus Ibu?"
"Semua uangnya dipegang mertuaku, tapi kalau sekedar buat minum sama makan nasi bungkus sih ada, Ibu mau aku belikan?" jawabnya santai, seolah itu bukan masalah baginya.
Kalau semua keuangan di tangan mertuanya, lalu putriku ini dapat apa? Sia-sia Saja rumah besar dan segala perabotan mewah, kalau setiap hari makan hati, mau beli apa pun tak bisa, semua harus atas izin mertua, bisa mati berdiri kalau aku jadi Mia. Baru sehari tinggal di sini, sudah membuat kepalaku hampir pecah, belum lagi nasi bungkus yang dibawa Mia, entah beli di mana anak itu.
Sudah lama sekali sejak usaha Galang maju, aku tak pernah makan nasi bungkusan seperti ini, Mia malah lahap sekali menyantapnya, seperti orang yang tak pernah makan berhari-hari, atau jangan-jangan memang bebar dia tak di beri makan selama ini. Bukan tidak mungkin kan? Keluarga ini tampaknya saja kaya, nyatanya kikir bin zalim, menyesal kunikahkan Mia dengan Saga, tahu begini biar saja dia melajang dulu, toh umurnya juga masih muda.
"Makannya pelan pelan Mia, kayak orang kelaparan saja!"
"Buru-buru Bu, biar cepat beres-beres lagi, mau cepat kelar” katanya diiringi tawa ringannya
"Besok minta lah ke suamimu, uang itu harus istri yang pegang.”
"lya nanti Mia ngomong, ya sudah dimakan Bu!"
"Enggak ah mending Ibu order lewat go food."
"Ya sudah terserah, tapi Ibu yang bayar ya, uang Mia cuma cukup buat beli ini.”
"Ampun kamu Mia, mending enggak usah nikah kalau begini, sudah enak kerja di pabrik, capek capek juga perut kamu kenyang, dari pada nikah malah tambah sengsara.”
"Siapa yang bilang sengsara?" suara bariton itu tiba tiba menyahut.
Entah sejak kapan Saga hadir di sini, aku sedikit kikuk karenanya bagaimana pun aku cukup tahu diri, posisiku sekarang sedang menumpang di rumahnya.
Semua membisu hingga Saga terus saja mencecar kami dengan pertanyaan yang sama, siapa yang katanya sengsara. Jelas jelas dia yang membuat Mia putriku sengsara, kenapa pura-pura tak mengerti, suami macam apa dia. "Ini Mia gak kamu kasih uang?”
"Sudah aku titipkan di Mamah, Mia bisa minta apa pun lewat Mamah”"
"Tapi kan Mamahmu enggak serumah, kasihan Mia harus bolak balik ke rumah tiap hari, kalian sudah nikah harusnya mandiri."
"Loh bukannya Mia sendiri yang sering cerita katanya Ibu yang pegang keuangan rumah tangga anak laki-laki [bu?"
Si Mia ini, kenapa enggak pintar pintar, hal seperti itu pun dia cerita.
"Ya tapi bukan berarti kamu bisa berbuat seenaknya, kasihan Mia, masa baru awal menikah sudah di bikin susah."
"Susah apa? Ini rumah dan seisinya aku kasih buat Mia, apa lagi yang kurang, tolong Bu ini urusan kami, saya merasa kurang suka kalau ada banyak orang yang ikut campur ke dalam rumah tangga kami, ibu boleh tinggal di sini tapi saya mohon maaf Ibu harusnya tahu batasan, saya permisi dulu, Mia kamu masuk, Abang mau bicara.”
"Hmm iya Bang, kuselesaikan makanku dulu."
"Udah cepat!"
__ADS_1
"lya iya Bang."
"Orang lagi makan kok di buru-buru, kan bisa nunggu sebentar!" ucapku gemas, suami kok sikapnya culas, istri sedang makan di paksa berhenti hanya untuk bicara.
Heran, Saga ini jatuh cinta pada Mia atau tidak, sikapnya persis seperti suamiku.
Tuhan kenapa malah memberikan Mia jodoh yang wataknya sama persis dengan Bapaknya, culas dan perhitungan pada istri.
Hanya satu yang sampai kini belum terlihat, semoga Saga tak akan mengkhianati putriku, seberapa pun kesalnya aku pada Mia, apa lagi kalau sudah menyangkut kejadian hamil di luar nikah, tetap saja melihatnya makan terburu-buru sampai minum pun tersedak, hatiku jadi berdenyut nyeri.
"Ibu lain kali biarkan kami selesaikan masalah kami sendiri, |bu mending istirahat saja, biar nanti Mia yang teruskan, maaf ya Mia bikin Ibu capek, sudah begitu cuma bisa kasih nasi bungkus, lbu pasti enggak doyan ya, lain kali Mia belikan ibu makanan yang enak."
"Sudah sana pergi, nanti suamimu yang culas itu teriak teriak.’
"Ya, Mia ke atas dulu.”
Mia mengusap pundak, lalu berjalan pelan menaiki anak anak tangga, tatapanku tak bisa beralih darinya, kini punggungnya makin menjauh, punggung yang basah karena peluh, sampai sosoknya menghilang dari balik pintu, lagi lagi ada yang berdenyut nyeri di sini, di hatiku.
Aku kembali meneruskan pekerjaan, membereskan perabotan rumah yang masih berantakan, tinggal area dapur, alat alat masak pun serba baru dan mewah tak sepertiku dulu, semua bekas dan sudah tak layak pakai, hanya cobek dan kompor saja yang baru.
"Bu..." suara Mia lirih memanggil, dari arah belakang.
"Ibu menangis?” lirihnya.
"Kenapa? Ibu menangis memikirkan Mia?"
"Bu, Mia itu baru nikah, Mia anggap semua ini baru penyesuaian, lagian Bang Saga orang baik kok, nanti juga berubah, pelan-pelan.”
"Baik dari mana? Sama Ibu saja gak sopan?"
"Bang Saga cuma enggak suka Ibu terlalu ikut campur masalah kami, coba lain kali kalau kami sedang ada masalah Ibu pura-pura enggak tahu saja, kecuali dia pukul aku, baru ibu bereaksi, jangan kayak Mas Galang sama Mbak Dilra, Mia enggak mau kalau harus berpisah, impian Mia cuma mau menikah satu kali seumur hidup."
"Bodoh kamu Mia, bodoh hiks hiks hiks." "Sudah Bu, Mia juga gak apa-apa kok."
"Karakter itu gak bisa diubah, bagaimana kalau sama kayak Bapakmu, sampai meninggal tetap menyakiti Ibu."
“Setiap orang itu kan beda-beda, jangan begitu ah bilangnya, insyaallah Bang Saga enggak akan kayak Bapak."
"Kalau dia kayak Bapakmu, sampai selingkuh juga apa kamu mau mempertahankan?"
Mia menggeleng, dan untuk pertama kali setelah kejadian keguguran waktu itu aku memeluk Mia, memeluknya dengan begitu erat. Entah apa yang terjadi padanya selama tidak bersamaku, hingga sikap Mia berubah 180 derajat, dia tak lagi keras malah kini sifatnya mirip seperti Dilra, Tuhan aku jadi merasa seolah apa yang kulakukan dulu kini malah terjadi pada Mia. Semoga itu tak benar, aku memang egois, memaksakan kehendakku pada Galang, dengan dalih dia anak laki-laki yang harus bertanggung jawab penuh pada keluarganya, mengesampingkan tugasnya sebagai seorang suami dan ayah, tapi bukankah mertuaku juga begitu? Aku jadi berpikir apa perempuan yang sudah menikah memang selalu diperlakukan begini?
"Galang Ibu tinggal sama kamu saja ya, ibu enggak betah di sini."
Kukirimkan pesan itu pada Galang, niat awal ingin melakukan panggilan, sudah 10 kali tetap saja tak diangkat, anak itu makin keterlaluan saja, pasti istrinya itu yang sengaja membuat Galang lupa pada Ibunya. Hampir seharian aku menunggu balasan dari Galang, nyatanya pesanku dibaca pun tidak, dari tadi hanya centang dua berwarna abu.
__ADS_1
Pengantin baru sih pengantin baru, tapi gak begini juga kali Lang, Lang. Sudah menikah dua kali pun masih saja seperti pengantin baru sungguhan, masa iya ngelonin istrimu seharian sampai melupakan isi ponselnya.
"Bu kemungkinan aku pulang seminggu lagi, lbu tahan saja dulu ya,’ sebuah pesan dari Galang.
Aku langsung saja membuat panggilan vidio call dengannya, kepalang kesal seharian ini dia ke mana saja, bisa sampai tak membalas pesanku.
“Eh Bu kok tumben vidio call?"
"Kamu? Bajumu ke balik tu!"
Bagaimana sih pakai baju pun sampai terbalik. Galang hanya terkekeh, baru kali ini kulihat rautnya begitu bahagia, bisa kurasakan auranya pun berbeda, apa dia baru bangun.
“Mana istrimu?"
"Lagi tidur dia Bu."
“Bangunin! Istri macam apa jam segini baru bangun, mana sini tunjukkan ke Ibu."
“Sudah lah Bu, kasihan Dilra, biarkan dia istirahat sebentar.” Lagi lagi Galang malah tersenyum lagi, macam orang kurang waras saja.
“Kenapa kamu cengengesan terus? Punya istri malas kok senang, memangnya habis apa si Dilra itu pakai istirahat segala.” Bukannya menjawab Galang lagi lagi tersenyum, membuatku makin jengkel saja.
“Ibu kayak enggak pernah muda,’ katanya.
Makin menjadi saja Dilra itu, bagaimana pun caranya aku harus kembali tinggal bersama Galang, siapa tahu bisa kembali memegang kembali keuangannya sudah lama juga aku tak pernah jalan jalan, dan belanja, aku pikir saat Galang sudah berpisah, dia akan lebih memprioritaskan aku sebagai ibunya, nyatanya salah, justru jatahku makin dikurangi, hanya cukup untuk makan dan belanja sekadarnya tak seperti dulu, semua yang kumau bisa kumiliki dengan jatah Dilra yang kupangkas, tahu begitu biar saja dia menikah asal aku bisa terus hidup nyaman. Sayangnya jengah juga melihat sikap Dilra yang makin hari makin berani pada Galang, meski padaku dia tetap hormat, tapi melihat anakku diperlakukan begitu, Ibu mana yang terima, bagaimana pun juga dia imam keluarga.
~
Hari-hari bersama Mia terasa begitu menjengkelkan, masa tiap hari katanya tak pernah pegang uang, rasanya sudah tak tahan lagi, aku pergi ke rumah Galang, seharusnya mereka sudah pulang kan, sudah sepekan lebih sehari.
Sesampainya di sana rumah Galang masih sepi dan kotor, dedaunan banyak berserakan di lantai.
"Kamu di mana Ibu di rumah."
"Oh iya maaf Bu Galang bawa Dilra ke rumah baru, rumah itu sudah Galang jual, katanya Dilra gak mau tinggal di situ lagi, banyak kenangan yang bikin dia jadi sakit, Ibu kenapa ke sana gak bilang?"
"Ibu gak tahan tinggal sama Mia, ibu susul kamu ya, mana alamat kamu."
"Jangan nanti aku jemput saja, tunggu sebentar.”
Akhirnya aku tinggal bersama Galang lagi, tinggal selangkah lagi agar aku bisa kembali mengatur semuanya seperti dulu. Galang sampai, dia mengajaku masuk ke area apartemen, loh Lang ini kan apartemenmu jadi kamu sama Dilra tinggal di sini? Galang hanya tersenyum seraya membuka pintu.
"Loh ini siapa Lang?"
"Saya Kiki Bu, asisten rumah tangga di sini, Ibu bisa bilang ke saya kalau Ibu butuh sesuatu."
__ADS_1
"Apa maksudnya Lang, kan ada Dilra kenapa harus pakai ART segala?"
Bersambung...