
"Sabar Dil, Mas tahu ini berat. Kamu harus kuat ya."
"Bayiku enggak ada Mas, sudah enggak ada,” katanya sambil terus terisak. Dilra semakin terpuruk. Hampir seminggu aku tak berangkat ke kantor karena harus menemani Dilra. Kondisinya benar-benar lemah waktu itu. Dia sering tidak sadarkan diri saat mengingat bayinya, masalahnya Dilra juga menolak diurus oleh Ibuku. Bahkan berada dalam satu ruangan dalam waktu yang cukup lama, kesehatan Dilra bisa langsung menurun.
"Dek kan Mas harus kerja, Adek sama Ibu ya. Mas sudah bilang biar jaga kamu.”
"Aku enggak mau merepotkan orang lain. Aku mau pulang saja. Kalau mau kerja silakan, tapi antar aku pulang dulu, Ibu itu suka menjelekkan aku ke tetangga sini,’ katanya sambil sesekali menengok ke kanan dan ke kiri. Sejak kehilangan anaknya kurasa Dilra jadi sering waspada berlebihan.
"Ya sudah, nanti Mas bilang lagi sama Ibu biar enggak menjelekkan kamu lagi. Sekarang makan ya, Mas suapi." Begitulah Dilra dia terus merajuk ingin pulang. Bukan aku tak mau mengantarnya, kondisinya sangat lemah. Bagaimana bisa dia tahan dengan kondisi jalanan. Rupanya Ibu mendengar ucapan kami, aku baru ingat sekarang kenapa Dilra kerap kali waspada saat kami tengah bicara berdua, terutama kalau itu berkaitan dengan Ibu. Dia selalu saja kedapatan menguping pembicaraan kami. Ya Tuhan, kenapa aku baru sadar setelah sekian lama. Andai waktu bisa bergerak mundur sehari saja. Aku pasti akan menahan istriku waktu itu. Sayang di dunia ini tak akan ada yang bisa menghentikan apalagi mengulang waktu. Kini hanya sisa-sisa penyesalan yang tiap detik semakin menyiksaku. Penyesalan karena mengabaikan Dilra terlalu lama. Perempuan yang dengan suka rela memberikan haknya pada Ibuku begitu saja dengan harapan agar ia bisa sedikit saja menerima simpati dari Ibuku.
Saat itu kami keluar kamar beriringan bermaksud membicarakan tentang Ibu yang kerap menjelekkan nama Dilra ke tetangga. Sayang itu terlambat, Ibu sudah ada di balik pintu, jelas dia telah mendengar semuanya. Seketika itu juga Ibu menangis. Kami merajuk ingin pulang. Dilra yang merasa bersalah meminta maaf pada Ibu. Bahkan sampai mencium tangan Ibu, memohon agar dia tetap tinggal, tapi Ibu malah mengabaikannya. Ibuku memilih pergi dari rumah dan tinggal di rumah kami yang dulu di desa. Tak menyangka kalau itu malah jadi buah simalakama untuk Dilra. Hampir sebulan Ibu memilih menetap di kampung. Kata Mia Ibu terus menangis seharian. Hal itu bukanlah kebohongan semata, terbukti ketika bertandang ke rumah lamku, mata Ibu sembab, jelas sekali ada jejak tangisan yang berlarut-larut di sana.
Saat itu bodohnya aku yang malah menawarkan gajiku untuk di pegang ibu semua. Termasuk jatah bulanan Dilra juga. Tampaknya Dilra tak setuju, tapi melihatku yang begitu tak tenang berjauhan dengan Ibu juga aku yang kerap menyalahkan karena menjadi penyebab kepergian Ibu. Akhirnya dengan berat hati dia menerima usulanku. Itu kesalahan fatal yang akan kusesali seumur hidup. Menjatuhkan Dilra pada derita berkepanjangan. Harusnya setelah aku tahu dengan baik, sikap Ibu, aku tak gegabah mengambil keputusan, sayangnya aku terlalu egois. Sejak saat itu Dilra tak banyak bicara, tak pernah mengeluh lagi. Pikirku semua berjalan normal, bahwa benar kalau Ibu telah berubah. Padahal kenyataannya Dilra telah memilih memikul deritanya sendiri. Pada akhirnya saat dia kembali mengandung. Kami harus kehilangan calon buah hati kami lagi. Dilra keguguran lagi. Dokter bilang, Dilra harus bed rest tak boleh banyak berpikir juga, tapi entah apa yang terjadi dengannya hanya empat bulan bayi itu bertahan di perut.
__ADS_1
Dilra tak banyak menuntut kala itu. Tidak seperti saat keguguran pertama kali. Bodohnya lagi aku malah menyalahkannya. Saat seharusnya seorang suami menguatkannya di masa masa itu. Dia makin menjauh, keguguran yang ke dua membuat hubungan kami seakan berjarak meski sebenarnya kami berada dalam satu rumah. Dia makin menjauh, apalagi saat setahun kemudian Dilra hamil lagi, Dilra menjadi temperamental. Lebih banyak diam. Tidak mau bergaul lagi. Hampir seharian dia terus rumah. Tawanya pun ikut menghilang. Sekarang entah dengan cara apa membuatnya kembali ke rumah. Kebenciannya padaku mungkin sudah mendarah daging, aku dengan segala kebodohanku yang mentoleransi begitu saja sikap ibu yang di luar batas, membiarkan Dilraku menanggung sendirian. Rumah begitu berbeda tanpanya, sepi dan sunyi tak ada santapan sahur dan buka seperti biasanya. Dari kecil ibuku terbiasa membeli, katanya lebih praktis dan murah. Padahal aku lebih suka masakannya sayang Ibuku jarang sekali turun ke dapur.
Malam ketiga setelah kepergian Dilra aku makin jarang pulang ke rumah. Pekerjaanku di sini sedang tak bisa di tinggal. Aku berencana akan kembali ke kota tempat tinggal Dilra dua hari lagi tepat saat akhir pekan tiba. Kebetulan hari ini aku hendak bertemu klien tepat pukul delapan malam. Tempatnya juga tak jauh dari rumahku, jadi sebelum magrib aku sudah pulang ke rumah. Tepat saat sepuluh menit lagi azan magrib berkumandang, pintu rumahku di ketuk dari luar. Mungkin itu driver ojek online yang mengantar makanan nyatanya malah Dilra, dan kedua orang tuanya. Ada perasaan haru saat melihat perempuan yang kurindukan itu kini tepat di depanku, tapi hanya sejenak setelahnya aku tersadar, ketika sebuah surat telah berpindah tangan padaku. Kedatangan Dirla dan keluarganya bukan untuk berdamai.
"Baca, terus tanda tangani suratnya, bisa ‘kan?" kata Bapak mertuaku, raut kesal tergambar jelas di wajahnya.
"Saya mana bisa Pak, saya masih ingin mempertahankan rumah tangga. Mari masuk dulu biar kita bicaranya enak di dalem,’ ajakku seraya menggiring mereka masuk ke dalam. Mereka pun masuk ke dalam tak terkecuali Dilra,. Sejak tadi pandanganku tak bisa lepas darinya, sedang wanita itu tampaknya mulai ris!. Dia terus mengalihkan pandangan ke arah lain sesekali juga menunduk. Tepat saat dia berjalan melewatiku, sungguh lenganku tak tahan untuk tak menarik lengannya.
"Dil, ucapku sambil menahan lengannya yang hendak lepas. Dia menatap, pandangan kami bertemu dalam sesaat, tapi tak lama dia melihat ke bawah, ke arah lengan kami yang bertaut. Aku menggeleng.
"Cepat tanda tangani!” kata Bapak tegas.
“Pak, tolong beri saya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya, saya janji akan membahagiakan Dilra,” ucapku.
__ADS_1
“"Membahagiakan apa, lima tahun kamu enggak pernah kasih anak saya nafkah. Apa enggak keterlaluan, kamu ini apa enggak pernah belajar, sampai enggak tahu kewajiban sebagai suami?" Kali ini Bapak menaikkan nada bicaranya dan itu membuat Mia dan Ibu menghampiri kami. Ibu terlihat gugup, wajahnya jelas sekali ketakutan. Dia hampir Saja mau masuk ke kamar, tapi sayang terlambat karena Mertuaku sudah lebih dahulu melihat ke arahnya. Mau tak mau mereka kembali mendekat.
"Eh ada tamu, kenapa enggak panggil Ibu, Lang,’ katanya. Mia langsung menyalami mertuaku satu persatu, mereka duduk dengan canggung di sampingku. Suasana tiba-tiba mencekam, Bapak terdengar mencebik, melihat Ibuku yang bersikap ramah padahal sebelumnya sudah terlihat Ibu hampir berbelok ke kamar. Hening melanda hanya detak jarum jam yang terdengar makin jelas. Tapi tak lama azan magrib berkumandang. Kesempatan yang bagus, setidaknya aku bisa menahan Dilraku lebih lama di sini. Aku rindu Dil.
"Kita buka puasa bareng saja dulu, Pak,’ tawarku.
“Enggak usah kita balik saja, tolong tanda tangani secepatnya,’ jawab Bapak tak ramah.
“Enggak baik loh menunda buka puasa,mending dibatalkan dulu di sini,’ bujukku yang masih tidak mau menyerah. Kapan lagi aku bisa bertemu Dilra. Aku harus membuatnya tetap tinggal, setidaknya sedikit lebih lama.
"Lihat saja mejamu masih kosong,' kata Bapak dengan ekspresi wajah merendahkan, matanya bahkan sempat tertangkap melirik ke arah ibuku.
“Hmm anu saya kebetulan enggak masak, tapi sudah pesan sih cuma belum sampai, mungkin nah itu di depan,' kata Ibu gelagapan.
__ADS_1
Bersambung...