Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Dia Menyerah


__ADS_3

"Dil, jangan pergi, jangan pergi Mas mohon.’


"Mau apa lagi aku di sini Mas, sudah cukup kalau enggak ada kepercayaan di antara kita untuk apa hidup bersama. Kamu hanya percaya Ibumu, aku ini istri, Mas pikir aku suka diperlakukan begini, enggak!"


"Lalu kenapa kamu diam saja selama ini?"


"Demi anak, aku ingin anak dari kamu. Setelah ini aku tak peduli lagi, hidup saja bersama lbumu, aku muak!" Koper itu sengaja dia banting ke bawah, hingga menimbulkan bunyi gebrakan cukup keras, kemudian dengan cepat membawa Dion dalam gendongannya.


"Dil Mas mohon jangan pergi, oke kamu butuh uang ini semuanya pegang semuanya Dil, mulai sekarang biar semuanya kamu yang atur." Kuserahkan dompet pada Dilra. Sudahlah aku tak peduli lagi dengan uang. Untuk apa aku punya banyak uang kalau harus kehilangan istri. Rasanya aku tak akan sanggup. Apalagi Dion, bayi yang sudah kunantikan sejak lama, bagaimana bisa dia bawa pergi.


"Lepas!” Dilra menepis. Ibu keluar dari kamar, melihat kami yang ribut sepertinya Ibu dan Mia penasaran.


"Bawa Ibu ke kamar, Mia!" sentakku kasar, sampai-sampai membuat Ibu dan Mia tersentak ke belakang.


"Eh iya iya, Bang,’ kata Mia gelagapan. Aku memang tak biasa mengeraskan suara pada si bungsu. Entah kenapa dengan hari ini kurasa mereka telah keterlaluan. Dilra memilih diam saja dan kembali meneruskan langkah ke depan pintu. Aku berpikir dia akan membawa dompetku bersamanya nyatanya malah meletakan di meja begitu saja.


"Bawa Saja uangmu, aku sudah terbiasa hidup tanpa uang!"


"Dil mas mohon, apa enggak bisa kita bicarakan baik-baik, atau mungkin kamu mau tinggal di rumah Ibu bapak di kampung. Ayo biar Mas antar.’


"Sudah biarkan saja dia pergi, kalau istri sudah mau pisah kenapa juga harus dipertahankan,’ Sahut Ibu. Dia masih saja ikut campur, tak bisakah dia diam, ini sama sekali bukan ranahnya.


"Bu aku sama Dilra perlu bicara berdua, bisa ‘kan Ibu kasih kami waktu dulu.”


"Ibu cuma kasih saran biar kamu ...."


"Ibu bisa tinggalkan kami berdua, jangan-jangan Ibu memang senang Dilra pergi dari rumah, biar Galang jadi duda benar begitu?"


"Kamu menuduh Ibu, lupa siapa yang membesarkan kamu? Bisa-bisanya kamu bicara begitu ke Ilbumu sendiri Lang, enggak habis pikir ibu sama kamu hiks hiks."


"Bu sudahlah, Mia sudah Abang bilang ‘kan Ibu dibawa masuk, kenapa dibiarkan ke sini?”


"Ibu bisa jalan sendiri!" Ibu menyentak, setelahnya dia berjalan pergi meninggalkan kami. Aku berniat membujuk Dilra kembali sayangnya begitu menengok ke belakang Dilra sudah tak ada di sisiku. Ya Tuhan, dia ke mana. Aku berlari menyusulnya keluar, sayang itu pun sudah terlambat tak kutemukan sosoknya di mana pun.


“Mari berpisah Mas.” Kata-kata itu, terus terngiang di benakku. Rasanya ingin pecah. Aku berpikir semua yang ibu katakan tiap hari tentang Dilra adalah benar tentang dia yang mengurus Dilra tiap hari. Ternyata semua hanya palsu. Aku kembali ke kamar mencari kunci mobil, mencari Dilra yang mungkin masih tak jauh dari rumah kami. Sayangnya nihil, dia tak kutemukan di mana pun. Sayang, kamu ke mana? Stasiun ya aku harus ke sana, Dilra suka sekali naik kereta, mungkin dia ke sana. Aku terus menunggunya di sini. Aku yakin dia akan datang, karena setahuku Dilra tak suka naik bis. Menjelang malam nyatanya dia tak datang.


“Bangun Mas, kenapa tidur di sini ayo bangun?" ucap seseorang seraya menepuk pundakku, lantas dengan cepat aku menarik lengannya.


"Dilra, Sayang, kamu datang? Ayo kita pulang sayang, ucapku seraya mengeratkan genggaman.


"Pulang sama Mas, ya.”


"Ayo pulang.’ "Mas! Bangun Mas." Astaghfirrullahaladzim.


"Mas nunggu Siapa, tadi kereta terakhir juga udah berangkat." Suara bariton itu lagi-lagi terdengar, aku kembali mengucek mata. Rupanya hanya mimpi aku ketiduran di stasiun. Tak ada siapa pun di sini.

__ADS_1


"Oh iya Pak, saya menunggu istri saya." "Sudah kelewat mungkin.”


"lya kali, ya sudah terima kasih Mas saya permisi." Aku mengecek ponsel mencoba menghubungi Dilra kembali. Jawabannya masih sama nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Hampir saja kubanting ponsel itu ke jalanan, beruntung saat itu ponselnya berdering, aku tak menyangka itu panggilan dari Dilra, nyatanya dari Mia.


“Apa?” tanyaku, ketus jujur saja aku sedang malas bicara padanya.


"Ini Ibu, kamu di mana, Lang?" jawab Ibu, dengan nada khawatir.


"Kenapa lagi?"


“Pulang Lang, ini sudah malam.’


"Aku enggak pulang, mau cari Dilra sudah dulu ya,’ ucapku lalu setelahnya telepon pun kututup. Kamu ke mana sayang. Aku terus menyusuri jalanan sampai azan subuh berkumandang baru memutuskan untuk pulang, karena sudah tak kuat lagi menahan kantuk, di jalanan.


“Lang, Ya Allah kamu baru pulang, ibu menunggu kamu dari semalam,' ucap Ibu, dia menyambutku


"Aku mengantuk, nanti saja kalau mau bicara, Bu." Jujur aku kesal. Kecewa pada sosoknya. Dia wanita yang melahirkanku, tapi dia juga yang membuat anak istriku pergi. Aku bukan orang pemadam emosi yang baik. Kalau terus melihatnya bukan tak mungkin aku kelepasan berkata kasar atau mungkin lebih. Lebih baik menghindar dari pada harus meluapkan emosi padanya.


“Mau ke mana lagi Lang katanya mau istirahat?"


"Keluar sebentar.”


"Tapi kok sudah rapi banget, ini masih jam 6 pagi Loh."


"Kerja."


“Aku kerja dulu,’ ucapku sambil berjalan ke luar rumah.


~


Ya Tuhan lagi-lagi aku terbangun karena bayangan itu kembali datang, aku bisa gila kalau begini.


"Gileee, pagi bener, Bos!" Ardi sudah datang, melihatku yang tertidur di sofa tempat kerja kami dia langsung mendekat.


“Enggak."


"Wait kenapa, mata lo, habis begadang ya?"


"Dilra pergi dari rumah."


"Serius, kejam lo, sudah enggak pernah di kasih duit, malah diusir!"


"Mana tega gue usir, sembarangan.’


"Alah buktinya lu tega, bini enggak di kasih duit."

__ADS_1


"lya gue salah buat itu.”


"Jelas salah, kita ini laki harusnya bisa tegas, jangan Cuma mau enak-enak gratis. Kesel gue!"


"Memangnya enak ditinggal bini!" Gila ini bocah, teman lagi susah bukannya di bantu, malah habis di olok-olok.


"Bantu gue Di, enggak bisa gue jauh dari Dion.”


"Ogah kesel gue, laki-laki itu di hargai karena nafkah. Udah paling bener Dilra pergi dari rumah."|


"Emosi gue!" Ardi malah pergi keluar meninggalkanku sendirian dalam perasaan yang makin kalut. Aku tak bisa begini, hari ini juga aku harus pergi ke rumah orang tua Dilra, mungkin dia ke sana. Aku sempat mampir ke rumah untuk mengambil beberapa baju, kurasa aku butuh banyak waktu kali, ini meyakinkan Dilra bukanlah hal mudah.


“Kamu mau ke mana, Lang?" Ibu menyapaku lagi, bahkan sekarang dia ikut masuk ke kamar.


“Jemput Dilra."


“Lang,' panggil ibu, seraya memegang tanganku. Seperti biasa dia masih saja mencoba menahanku.


"Aku pergi dulu,’ ucapku, sambil perlahan melepas tangan Ibu.


"Ibu ikut ya, mau sekalian minta maaf sama Dilra langsung." Aku sempat menatapnya sebentar. Haruskah kuajak dia kali ini? Atau sebenarnya Ibu hanya sedang berpura-pura, mencari simpatiku, karena seharian aku tak mau mengajaknya bicara sama sekali.


"Ibu bisa menyusul kalau mau ikut, tolong kasih aku waktu aku sama Dilra, ini rumah tanggaku Bu, bukan aku tak mau Ibu di dekat kami, tapi jujur aku kKecewa sama Ibu."


“Lang hiks hiks."


Ibu menangis lagi.


Aku menepuk pundaknya.


"Jangan menahanku Bu. Aku tidak akan pernah lupa kewajibanku pada Ibu, tapi bukan berarti Ibu boleh, memperlakukan istriku seperti itu. AKu malu Bu. Selama ini aku berpikir Ibu amanah menggunakan uang yang aku kasih. Ibu bilang sayang sama Dilra, mau mengurusnya pas keguguran, tapi kenyataannya apa? Sekarang istriku pergi Bu. Dia bawa anakku juga. Apa Ibu enggak merasa kehilangan Dion, dia cucu Ibu!"


"Lang maaf, ajak Ibu sama kamu bisa minta maaf langsung sama Dilra, hiks hiks.” Sebenarnya aku tak tega melihat Ibu menangis, tapi entah kenapa hatiku begitu keras. Tidak terbayang begitu tersiksanya Dilra selama menikah denganku. Jangankan Dilra, Ardi yang tak ikut merasakan pun sampai sebegitu bencinya padaku.


"Aku pamit Bu, tenangkan diri Ibu, maaf aku harus pergi. Dia istri dan anakku. Aku punya tanggung jawab sama mereka.


" Aku tak terbiasa melakukan ini. Sungguh ketika kalian berada di posisiku saat ini, bukan hal mudah untuk di lalui. Mereka dua wanita yang amat kucintai. Bagaimana bisa aku harus memilih di antara ke duanya. Bisa saja meninggalkan Dilra tapi seumur hidup aku akan tenggelam dalam penyesalan tak bertepi. Mobil melaju dengan kecepatan maksimal, sayang di tengah jalan malah terjebak kemacetan parah.


“Bang ada apa sih kok macet?" tanyaku sembari menyembulkan kepala, ada pedagang asongan yang berjalan dari arah depan.


"Itu ada Ibu-ibu mau bunuh diri, mau loncat ke jalan tol.’


"Ibu-ibu Bawa bayi?" tanyaku panik.


"lya bawa bayi, loh Abangnya tahu?"

__ADS_1


"Di mana Bang di mana orangnya?" Kumohon jangan Dilra, jangan Dilra Ya Tuhan..


bersambung...


__ADS_2