
“Aku enggak mau jadi suami durhaka Dil.”
"Lalu mau sampai kapan kita terus menjauhkan diri dari keluargamu Mas?"
"Sampai kamu hamil."
"Ini?"
Dilra tiba tiba saja menunjukkan test pack garis dua, sontak saja membuatku terperanjat.
Dia hamil, Dilraku hamil.
Kurengkuh tubuhnya dengan erat, penantian yang cukup lama ini, akhirnya membuahkan hasil.
"Jadi bagaimana Mas?"
"Kita enggak akan pulang Dil, tolong jangan tanyakan hal itu pada Mas, biarkan Mas menikmati saat-saat bersamamu Dil, menikmati kehamilanmu," ucapku sembari mengusap pelan perutnya yang datar.
Tanpa sadar seutas senyum perlahan melengkung, menyadari di dalam sini, ada calon anakku.
“Aku merasa berdosa dalam posisi seperti ini Mas.’
"Aku yang lebih berdosa Dil, kalau membiarkanmu kembali berkumpul dengan keluargaku, aku mengenal mereka tahu dengan jelas watak mereka seperti apa, jadi tolong jangan paksa Mas melakukan itu.”
"Aku bukan sedang memaksa Mas, hanya mengingatkan kalau kamu masih punya tanggung jawab pada Ibumu, hanya itu."
"Aku sudah memberinya jatah tiap bulan kami tenang saja."
"Apa suatu hari jika kamu sudah tua renta, Mas bakal terima kalau anak Mas cuma kasih Mas banyak uang tanpa mau melihat Mas sama sekali.”
“Itu enggak akan terjadi Dil, ada kamu yang selalu di sampingku."
"Mas aku enggak tahu sampai kapan aku hidup, berhentilah menyiksa dirimu, pergi temui orang tuamu, setidaknya pergilah sendiri, kalau memang kamu enggak izini aku buat ikut."
Kamu tak tahu bagaimana Ibuku, kalau dulu saja dia bisa mengikutiku sampai ke rumah, bukan tidak mungkin kalau dia akan melakukan hal yang sama, tak ada jaminan kalau ibu telah berubah, hanya karena menikah? Belum tentu juga Om Guntur bisa mengubah Ibu.
"Sudah Mas katakan tidak, ya tidak Dil, ayo masuk di sini gak baik buat kamu, anginnya terlalu kencang.”
Kutuntun Dilra masuk ke rumah, menyiapkan sarapan untuknya dan dedek bayi, hari kupersilahkan wanitaku duduk di depan mini bar, spesial menyambut kehamilannya kubuatkan nasi goreng, sudah lama juga aku tak memasak untuknya, akhir-akhir ini kami selalu keluar, sekedar jalan-jalan santai menghabiskan waktu di akhir pekan, padahal biasanya kami sibuk menghabiskan waktu di rumah seringnya aku yang menggantikan memasak makanan untuk Dilra.
"Wah papah masak, awas gosong Pah."
"Enak saja, enak begini dibilang gosong."
“Hahaha biasanya juga gosong Pah."
Dion malah menertawakanku, membuat nyali kian menciut, melihat nasi di wajan sudah mulai hitam-hitam sebagian. Sudahlah angkat saja, dan sajikan seadanya, meski sudah sering berlatih nyatanya aku memang tak bakat memasak.
"Apa pun yang kamu masak aku makan sayang.’ Dengan lembut Dilra berkata sembari tersenyum.
"Enak, Sayang.’
"Masa? Coba Mas mau cicip.”
“Asin pahit ih enak dari mana!” kataku. Dilra hanya terkekeh di kursinya.
"Lain kali biar aku yang masaklah Mas, enggak perlu repot-repot begini.”
"Sayang kalau nanti kamu melahirkan, siapa yang mau mengurus kamu nanti coba kalau Mas enggak bisa masak sama sekali, seenggaknya Masnya bisalah dikit dikit."
"Sebegitu besarnya Mas mau mengurus aku?"
"Ya sayang, loh kok kamu malah sedih?"
“Enggak apa-apa sayang.”
Perempuan seringnya memang begitu, baru saja kulihat matanya berembun, tapi dengan gamblang dia mengatakan tak apa apa, kenapa yang tampak di luar kerap kali tak sejalan dengan apa yang ada dalam hatinya.
Sulit dimengerti.
__ADS_1
Setelah sarapan kami berniat memeriksakan kandungan ke klinik, sembari menunggu antrean, sesekali Dilra pergi ke toilet, Dilra mengalami morning sickness, inilah yang membuat khawatir, apa lagi dengan riwayat kandungan yang lemah, keguguran dua kali, dengan, kami harus benar-benar menjaga kehamilannya kali ini.
"Kandungannya masih sangat muda ya Pak, batu 7 minggu, tapi ini kantung rahimnya sudah kelihatan, sudah bagus.”
“Kehamilan ke dua?"
“Ke emapat Bu Dok, dua yang lainnya sudah lebih dulu ninggalin kami, keguguran.”
“Oh begitu, di jaga pola makannya ya, istirahat yang cukup, ibu hamil boleh makan apa saja asal dalam porsi yang wajar, yang perlu dihindari jangan makan makanan yang meniah, takutnya banyak bakteri, yang di bakar juga tahan dulu, karena ada riwayat keguguran kalau ada flek atau perut kram, Ibu bisa langsung ke sini."
“Terima kasih Bu Dokter, sebenarnya saya juga was-was,’ ucapku.
"Insya Allah enggak apa apa, kuat dedek ya," ucap Bu Dokter sembari menatap ke arah perut Dilra.
perut Dilra.
Kami pulang, tapi setelahnya Dilra lebih banyak diam dari pada hari-hari sebelumnya, adakah yang dia pikirkan? Kalau sampai itu mengganggu kehamilannya bagaimana.
“Sayang kenapa sih? Ngomong sama Mas, enggak baik loh ibu hamil, banyak pikiran."
"Enggak apa-apa.” Selalu begitu, hampir frustrasi aku di buatnya.
"Mas."
Tiba-tiba saja dia menatap dengan raut sendu.
“Apa sayang?”
“Pulang, sebelum kami menyesal kehilangan Ibu,’ ucapnya.
"Sekalipun harus kehilangan, aku enggak akan menyesal.”
Sengaja kupalingkan wajah ke arah lain.
“Kamu bohong karena aku kan?” Aku menatapnya sekilas.
"Sudah tahu aku lakukan ini semua buat keutuhan keluarga kita, apa kamu mau kita terpisah lagi? Aku enggak mau cukup sekali!"
"Enggak."
"Mas?"
Lebih baik menghindar dari pada terus saja dirayu olehnya, apa lagi saat melihat wajah sendunya, tapi Dilra malah mengikuti sampai ke kamar, duduk tepat di samping. Dia meletakan telapak tanganku di perutnya.
"Kalau dedeknya yang ngidam mau Papahnya ketemu nenek bagaimana?"
“Pintar kamu Dil."
Dilra lagi-lagi mengulum senyum penuh harap, matanya begitu bersinar.
"lya Mas temui Ibu."
"Asyiik Papah mau turuti maunya kita."
Mataku mendadak membesar, tak biasanya Dilra sesemangat ini, mungkinkah karena kehamilannya, mood Dilra jadi banyak berubah. Dia membantu memasukkan beberapa helai pakaian ke koper, hingga saat kami harus berpisah di parkiran, satu kecupan tak lupa kulayangkan di keningnya tapi Dilra malah mengetuk pipi kanannya, genit sekali, sudah kubilang kehamilannya membuat sikapnya tak wajar, dia jadi lebih agresif. Aku mencium pipi kanan dan kirinya bergantian, tapi Dilra masih saja menggodaku dengan mengetuk-ngetuk bibirnya.
Sejenak aku ******* bibir ranum milik Dilra, hingga tanpa sadar kami melakukan itu cukup lama, sampai Dilra menepuk nepuk pundakku.
"Berangkat! atau kita bisa balik lagi ke kamar.”
“Kamu sih menggoda terus.”
Dilra tak menjawab hanya menutup mulutnya dengan ke dua tangan, lantas setelahnya mobil mulai melaju, semakin menjauhi rumah.
Hampir 6 jam perjalanan aku bari sampai ke rumah Mia. Mia membuka pintu, tapi tatapannya begitu tak bersahabat, dia acuh malah memilih berlalu meninggalkanku sendiri di luar, tak mempersilakan masuk sama sekali, aku terus menunggunya di luar, ingin mengejarnya tapi Mia malah menutup gerbang rumahnya rapat rapat. Hingga datang Saga yang membukakan pintu untukku.
"Ya Allah Bang, ke mana saja? Ayo masuk, maafkan istriku ya Bang."
Saga berbeda, dia menyambut hangat kedatanganku, mempersilahkan duduk di dalam, meski Mia sama sekali tak menampakkan diri, bahkan Saga yang menyuguhkan air dan beberapa camilan padaku.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik Bang.’
"Loh ini siapa? Anakmu?"
“lya ini Aldo, sini sayang ini Pa Dek, salim dulu.”
Anak kecil itu mendekat ke arahku, mencium tanganku lalu kembali mendekat ke Saga, menyembunyikan diri, dia tampak malu padaku, wajar mungkin karena pertama kali bertemu.
"Ada apa sebenarnya kenapa Mia marah sama saya?"
"Mungkin karena pas Ibu kecelakaan Mas enggak datang ke sini, dihubungi juga susah.’
"Loh Ibu kecelakaan?"
"lya, Om Guntur meninggal."
"Innalillahi wa inna illahi raji’un."
"Terus Ibu ke mana?”
“Ibu...
"Ibu ke mana Ga? Jangan bilang Ibu meninggal juga.’
"“Bukan Bang, Ibu hilang."
"Hilang? Bagaimana bisa?"
"Ibu sempat depresi sejak kejadian Om Guntur meninggal dunia, Ibu selamat, tapi jiwanya terguncang hebat, Ibu sempat kami rawat, dia tinggal bersama kami, tapi sudah 3 bulan Ibu enggak pernah pulang, biasanya kalau pun hilang paling lama 3 hari balik lagi atau enggak ketemu di jalan, ini sampai sekarang belum pulang juga Bang."
Astaghfirrullahaladzim.
"Kenapa Bang? Diminum dulu Bang."
Aku menyesap teh yang disuguhkan Saga, sedikit melegakan, tapi sungguh sesak ini masih tetap membelenggu.
"Kita masih terus cari Bang, tapi belum ada hasil.
"Ya saya mau cari Ibu saja, terima kasih tehnya salam buat Mia ya, maaf saya enggak ada pas Ibu butuh saya." Saga menawarkan supaya aku beristirahat sejenak apa lagi mengingat aku baru saja menempuh perjalanan jauh.
Ponselku terus saja berdering, panggilan dari Dilra.
"Sudah sampai Mas?"
"Sudah sayang."
"Bagaimana keadaan Ibu? Baik-baik saja kan?"
"bu?"
"Ya Ibu sayang, memang Mas belum ketemu Ibu?"
"Ibu sehat sayang."
“Alhamdulillah, lain kali kalau aku ikut ke sana boleh kan Mas."
"lya sayang, oh ya sepertinya Mas bakal lama di sini, mungkin seminggu, enggak apa-apa?"
"Enggak apa-apa dong sayang terus bagaimana kabar Mia dan semuanya, sehat?”
"Sehat, sayang sudah dulu ya, Mas mau ajak ibu jalan-jalan."
"Oh gitu, ya sudah hati-hati ya."
Tak mungkin kukatakan pada Dilra keadaan Ibu, aku belum siap kalau harus kehilangan dua-duanya, bisa saja Dilra memilih mundur dari pernikahan ini karena merasa bersalah, dia pasti akan menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi pada Ibu. Apa ini hukuman baginya, tapi kenapa begini, kenapa Engkau memberinya hukuman tanpa memberinya kesempatan untuk berubah.
Maafkan aku Bu, maafkan aku. Allahuakbar harus kucari ke mana lagi. Tunjukan jalanmu ya Rabb.
__ADS_1
Bersambung....