Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Dia Tidak Baik Baik Saja


__ADS_3

"Dilra sama kamu enggak? pergi dari sore belum balik lagi." Sebuah pesan, dikirimkan Bapak mertua ke nomorku, karena tak sabar gegas kulakukan panggilan.


“Assalamu'’alaikum Pak, memangnya Dilra tadi bilangnya mau pergi ke mana?"


"Dilra cuma bilang mau jalan sebentar, masalahnya dia mengajak Dion juga, Bapak khawatir, benar dia enggak sama kamu?"


“Enggak Pak, ya sudah saya cari Dilra dulu.”


"Kabari saya kalau sudah ketemu."


Ya Allah Dil, kamu ke mana, ini sudah hampir memasuki jam buka puasa.


Nomornya tak pun tak aktif, apa dia sengaja tak ingin ditemui. Bagaimana kalau Dilra mencoba bunuh diri? Astaghfirrullah, tunjukan jalanmu ya Allah, selamatkan istri dan anak hamba, jangan biarkan mereka menghadapmu dengan cara yang salah, hamba mohon ya Allah lindungi mereka.


"Wouy naik mobil yang bener!! Bisa menyetir enggak? Sudah bosan hidup!" umpat seorang pengendara motor yang hampir saja tertabrak olehku.


"Maaf maaf Pak." Orang itu tak menjawab malah mencebik, lalu langsung tancap gas.


Kuraup wajah kasar, mencoba menetralkan kesadaran yang nyaris hilang karena khawatir berlebihan.


Ke mana ya Allah, sekali saja berikan hamba kesempatan untuk memperbaiki segalanya, sekali saja.


Kaca mobilku tiba-tiba digebrak dari luar.


"MAJU! MACET DI BELAKANG"" kata seseorang berpostur tambun dengan kemeja yang kancingnya dibiarkan terbuka, juga ada handuk kecil yang ditaruh di pundaknya.


Kubalas dengan menangkup kedua tangan, lalu lekas menancap gas kembali, mencari Dilra yang entah ke mana. Ini sudah pukul 5 sore, saat melewati area pemakaman, entah kenapa aku berpikir Dilra mungkin ke sana, dia selalu rutin mengunjungi anak-anaknya di sana. Dan benar saja seorang perempuan berhijab tengah duduk tak jauh dari makan ke dua anakku.


"Dil, sayang?" Dia tak menengok.


"Mau apa ke sini?" lirihnya.


"Ya Allah Dil, Mas sama Bapak mencari kamu ke mana-mana."


"Aku cuma mau mengajak main mereka, apa salah?"


Mataku mulai memanas lagi, aku memeluk perempuan itu dari belakang, ada bayi Dion yang tengah meminum ASI dari Dilra secara langsung, wajahnya tampak riang, dia bahkan tersenyum saat aku menatapnya.


"Sayang kasihan Dion kepanasan loh, pulang yuk, udah kenyang juga mereka main sama kamu, sekarang waktunya main sama Dion ya?"


Dilra tak lantas menjawab, hanya pandangannya yang terlihat menunduk ke arah wajah Dion. Dilra tersenyum, setelahnya dia mengusap kedua nisan anakku, yang bersebelahan. Lalu seketika malah terisak, bahunya berguncang hebat, dan itu membuat Dion ikut menangis.


Gegas kugendong Dion, tak mau kalau sampai dia malah terjatuh. Dilra masih terus terisak, aku hanya mengusap punggungnya pelan, berusaha mengerti apa yang dia rasakan, sekarang baru terasa perihnya luka Dilra, dia menanggungnya sendirian tanpa pernah ditumpahkan padaku.


Kehilangan 2 buah hati, di salahkan, juga hidup tanpa uang sama sekali.


"Kita pulang ya, Mas antar, Dion sudah menangis tuh."


Dilra malah merebut Dion dariku, lalu setelahnya berjalan cepat, keluar area pemakaman, masih dengan wajah basah, orang-orang melihat ke arah kami, tapi Dilra begitu tak peduli dia terus berjalan sampai pada sebuah halte baru berhenti dan duduk di bangku panjang.


Nafasnya terengah-engah, cukup jauh berjalan, pasti lelah juga. Aku harus kuat kali ini, tak boleh lemah, apa lagi menampakkan kesedihanku padanya.


"Sayang puasa?" Dilra hanya melirik, lagi-lagi membisu.


"Kalau puasa Mas beli makanan buat buka kamu tunggu di sini ya, sebentar aja."


"Enggak usah, aku mau pulang.”


"Iya nanti Mas antar pulang ke rumah kita.’


"Enggak mau.’


"Terus mau pulang ke mana?"


"Ke kampung.’


"Dil, Mas salah sudah bikin kamu menderita tapi Mas mohon kasih Mas kesempatan sekali saja.’

__ADS_1


"Aku enggak mau jadi perusak hubungan anak dengan Ibunya."


"Gak ada yang bakal meerusak Dil, enggak ada, enggak usah memikirkan yang lain."


"Tanda tangani saja surat perceraian kita Mas, supaya aku bisa hidup dengan tenang?"


“Apa selama bersamaku hidup kamu gak tenang?"


"Siapa yang bisa tenang hidup serumah dengan orang yang membenciku mati-matian tanpa sebab, dengan seorang pembunuh anak keturunannya sendiri, hanya orang-orang kurang waras yang masih bisa tertawa di tempat seperti itu."


"Dil?"


"Apa? Aku salah lagi?"


“Enggak Dil, kamu enggak salah, Mas yang salah, maaf membiarkanmu terluka sendirian.”


"Aku sudah biasa, terluka, jadi akan lebih baik, kalau kamu mempermudah jalanku, jangan lagi menahanku di sisimu Mas, karena dari awal aku dan kamu hanya sebuah kesalahan.’


"Kesalahan Dil? Hanya sebuah kesalahan?"


"ya."


"Aku mencintaimu Dil, masih sangat mencintaimu,’ ucapku.


"Cinta itu tentang tanggung jawab, apa kamu pernah memberi nafkah, enggak kan? Jadi bagian mana yang Mas sebut cinta, jatah makanku setiap hari? Aku terlilit hutang pun kamu marah-marah, tanpa tanya dulu alasannya kenapa.”


"Oke Mas salah, sekarang Mas mau memperbaiki semuanya."


"Sudah terlambat.”


"Dil Mas mohon, besok mediasi terakhir kita, kamu datang ya?"


"Kenapa aku harus datang, sudah lah aku mau pulang."


“Mau pulang pakai apa Dil?"


Dilra bangkit dari tempatnya, meraih ponsel di saku, lantas kuraih lengannya yang bersiap melangkah pergi, tapi perhatianku tiba-tiba teralihkan pada ponsel dan jemarinya yang kosong, tak ada cincin kawin yang tersemat di jari manisnya.


"Dijual."


Astaghfirrullahaldzim.


"Terus ponsel kamu kenapa jadi begini, dijual juga?"


"ya"


"Kamu jual ke mana Mas kawin kita, biar mas cari lagi?"


"Aku gadai, tapi enggak bisa buat bayar, akhirnya kena lelang."


Ya Allah Dil sesulit itukah hidupmu bersamaku dulu.


"Kapan?"


Dilra tak langsung menjawab, dia malah menatap lekat, seketika matanya mulai mengembun kembali.


"3 tahun lalu, waktu keguguran Aira, Ibu enggak mau kasih duit buat berobat ke rumah sakit, padahal dia yang sengaja bikin aku capek sampai akhirnya aku harus kehilangan putriku untuk yang ke dua kalinya."


"Aku benci dia Mas, sangat membencinya, tapi sisi lain hatiku mengatakan harus tetap menghormatinya sebagai Ibu, Ibu dari suamiku."


"Ibu sudah enggak tinggal di rumah, mereka sekarang di kampung, aku sendirian Dil."


Dilra diam, tapi tangannya meremas baju bagian dada dengan cukup kuat.


"Kamu baik-baik saja kan Dil?"


Tak ada jawaban, tapi tangan Dilra terus menepuk-nepuk bagian dadanya, aku mulai panik, tanpa pikir panjang aku berteriak meminta tolong.

__ADS_1


Aku mengambil Dion dalam gendongan sementara orang prang membantu Dilra masuk ke mobilku, Dilra sudah tak sadarkan diri. Sampai di rumah sakit.


Kau tahu apa yang dokter katakan.


Dilra baik baik saja, tak ada yang salah dengan kondisinya, jelas aku tak percaya, hingga akhirnya dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, agar hasilnya lebih akurat.


Katanya bisa jadi karena kecemasan yang berlebihan membuat Dilra sering merasakan sesak, ini karena pasien biasanya sedang dalam kondisi penuh tekanan atau mengalami situasi yang membuat trauma, hingga mampu mempengaruhi alam bawah sadarnya.


Separah itu kah luka yang kutorehkan padamu Dil?


Kini Dilra mulai terjaga, sayang dia hanya diam saat aku bertanya tentang keadaannya. Saat Dokter datang barulah dia mau bicara.


“Apa yang ibu rasakan?"


"Dada saya sakit sekali Dok, sebenarnya saya sakit apa?”


"Ibu baik baik saja, hanya Ibu sepertinya terlalu banyak pikiran, stres berat juga bisa memicu timbulnya nyeri pada bagian jantung.’


“istirahat yang cukup, dan coba untuk relaks ya Bu.”


“Apa benar hanya karena itu, saya sering sekali merasa sakit seperti ini, semua bilang karena pikiran tapi kenapa bisa sakit sekali?"


Dokter malah tersenyum.


"Saya ada rekomendasi dokter yang ahli dalam menangani kasus semacam ini, kalau ibu mau..."


“Enggak usah Dok."


"Ya sudah, saya sudah resepkan obat untuk Ibu, di minum ya, saran saya jangan memikirkan banyak hal, tetap relaks, itu akan lebih baik untuk kesehatan Ibu."


“lya terima kasih Dok.”


Jujur aku masih kurang puas dengan penjelasan Dokter tadi, lantas kuikuti dia, lalu saat kami berada di luar ruangan, tentang dokter yang dia rekomendasikan itu siapa?


Aku penasaran karenanya.


"Ke psikiater Pak, Ibu butuh penanganan khusus segera Pak, yang saya takutkan kalau tidak segera dilakukan tindakan, ibu semakin sulit untuk sembuh, nantinya perlu waktu yang lama untuk bisa dikembalikan seperti semula."


Bapak dan Ibu sudah metelepon, mereka sedang dalam perjalanan ke sini, sekarang di ruangan ini hanya ada aku dan Dilra juga bayi Dion yang di tidurkan di samping Ibunya, untung lah pihak rumah sakit mengizinkan, dengan alasan kami tak punya sanak keluarga lagi.


Wajah Dilra yang pucat itu terlihat sedikit berseri saat bermain bersama putra kami, tapi begitu aku mendekat, rautnya kembali di tekuk.


Jam berlalu Dilra masih tak mau diajak bicara, sampai datang Bapak dan Ibu ke sini, keadaan jadi tidak kondusif, Bapak kembali emosi, beruntung ada suster jaga yang mengingatkan kami kalau pasien butuh ketenangan.


Dilra menangis pilu, melihat Bapak dan aku berkali, dia mengatakan dadanya kembali sakit, setiap kali melihatku.


kalimat itu, ya kalimat yang membuat aku mulai ragu, sanggupkah aku memperjuangkan rumah tangga kami, jika hadirnya aku hanya membawa kesakitan padanya.


Aku berjalan gontai keluar rumah sakit dengan perasaan putus asa, hatiku hampa dan kosong, kenangan-kenangan manis tentang kami terus saja terlintas dalam benak, semua itu begitu menyiksa.


Kami berpisah, justru di saat aku menyadari kalau aku begitu mencintainya.


Tapi kenyataan mengharuskanku tak boleh egois, kalau hanya memikirkan diriku sendiri, maka dampaknya membuat Dilra terluka seumur hidup.


~


Malam hingga menjelang pagi aku terus terjaga, menyadari betapa jahatnya diri ini hingga membuat anak manusia hampir kehilangan akal sehatnya, lalu bagaimana nanti nasib Dion tanpa Ibunya.


Kembali kutatap dokumen yang diberikan Bapak dulu, hanya butuh tanda tanganku saja dan selesai semuanya.


Aku pergi ke kantor pengadilan agama, dengan selembar surat yang sudah aku tanda tangani sebelum, harusnya kali ini mediasi ke 3 berlangsung, tapi aku pikir memaksa Dilra bertahan hanya akan membuatnya semakin tenggelam dalam duka berkepanjangan.


Seperti biasa, aku masuk ke ruangan mediasi, bertemu dengan petugas di pengadilan yang biasanya memberi nasehat padaku, wajahnya tampak sedih melihatku memberikan surat itu padanya, aku menceritakan semuanya tentang Dilra yang kerap kesakitan saat bertemu denganku, tentang Dilra yang begitu terguncang semuanya, itu membuat laki-laki di depanku pasrah, pada akhirnya kisahku dan Dilra memang layak berakhir.


Sekuat apa pun aku menahan tetap saja, ada yang mengalir dari sudut mata, menatap surat itu, yang kini telah berpindah tangan ke petugas pengadilan. Aku keluar ruangan, tapi begitu membuka pintu, seseorang berdiri tepat di sana dia menatapku lekat.


"Aku sudah mengakhiri semuanya Dil, aku resmi menalakmu."

__ADS_1


"Aku ke sini, karena ingin mempertimbangkan lagi. Kenapa kamu malah menjatuhkan talak itu."


Bersambung...


__ADS_2