Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Akhir Sebuah Kisah


__ADS_3

"Kau tahu rasanya saat menggantungkan harapan setinggi langit tapi tiba tiba dihempas, dibanting dengan kasar hingga jatuh bercerai berai di bumi.


Aku dan harapan itu sama, baru tadi pagi hidupku terasa terang benderang, setidaknya hubunganku dan Dilra sudah punya ruang di masa depan tapi dalam sekejap cahaya itu padam, berganti patah hati yang menusuk kalbu, lagi lagi aku seperti tengah di permainkan takdir.


Haruskah aku menikah dengan wanita lain? Tapi untuk apa? Membahagiakan [bu lagi, unjuk gigi pada Dilra kalau aku bisa hidup bahagia tanpanya atau untuk mencari kebahagiaan. Ketiga alasan itu lagi-lagi muncul, bagaimana bisa hidup tenang, kalau jauh di sana ada anak laki-laki yang tak pernah tersentuh kasih sayang ayahnya untuk waktu lama, atau bisa jadi mungkin selamanya.


~


"Lu di mana Lang?" Ardi menelepon.


"Guest Guest di Pontianak."


"Mau apa ngebolang sampai sana, jauh amat, sini balik! kerjaan banyak, enggak mau tahu besok harus sudah sampai."


"Gue enggak bisa Di, mertua gue di rumah sakit, kena stroke gara gara gue, masa iya ditinggal pergi.”


"Sebentar mertua siapa? Bukannya lu Duda?”


"Bapaknya Dilra maksud gue.’


"Ya elah apa lagi sih ini bocah, sudah lah move on kenapa, negara kita juga enggak kekurangan perempuan kok, kenapa sih lu kejar anak orang sampai sebegitunya, namanya orang udah gak mau Lang, ya sudah tinggalkan, rese sih, tanggung sendiri akibatnya.”


"Tiga hari lagi gue balik, gue enggak mengerti Di, kenapa bisa begini, awalnya gue pikir enggak bakal serumit ini.”


"Oke tenangkan diri lu dulu, gue back up deh semuanya, saran gue stop Lang, biarin Dilra menjalankan hidupnya sendiri."


"Mana bisa Di, hari ini gue baru tahu kalau Dilra depresi parah setahun terakhir, gue meerasa bertanggung jawab sama masalah yang menimpa dia."


"Boleh lu merasa bertanggung jawab, berarti nurani lu enggak mati, masalahnya sekarang Dilranya mau enggak menerima pertanggung jawaban dari lu?”


"Nah itu dia Di, Dilra terang-terangan mengusir gue."


“Jangan egois Lang, ibaratnya lu itu sumber penyakit buat Dilra, pilihannya ada di lu, mau tetap meneruskan atau lepaskan dia, kasihan anak orang lu bikin sakit jiwanya, susah di sembuhkan Lang.”


~


Menang Jadi api kalah jadi abu, dalam kisah ini, kita sama sama kalah, sama sama merasa sakit, tak ada yang menyatu, semua harapan itu seakan pupus.


Tiga hari berlalu sikap Dilra semakin dingin, dia tak mau kuajak bicara, sama seperti dulu. karena dibutakan bakti aku telah kehilangan segalanya.


Dengan berat hati akhirnya aku kembali ke rumah, sepi dan sunyi, penolakan Dilra kemarin sungguh merubah cara pandangku, tentang rumah tangga, konsep baktinya seorang anak laki laki, juga didikan Ibu yang salah kaprah sejak awal. Apa bedanya peran istri dengan pelayan, benar kata Ardi, wanita itu harusnya dimuliakan, atau kamu sendiri yang akan di hinakan suatu hari nanti. Hanya menunggu waktu dan semuanya menimpaku begitu mudah.


“Lang buka Lang ini Ibu, cepet buka!"


"Ada apa Bu, tengah malam kok ke sini, Ibu sama siapa?”


"Mia Lang... hiks hiks hiks." Apa lagi kali ini Tuhan.


Ibu terus saja tergugu, sembari memanggil nama Mia, sudah cukup lama tapi dia masih belum menjelaskan apa pun. Apa aku salah kalau hari ini, melihat Ibu menangis di depan mata, justru hati ini seolah membeku, kalau biasanya akan larut dalam kepedihannya juga, tapi kali ini malah biasa biasa saja.


"Mia hamil hiks hiks hiks.”


Anak itu! Sudah kuperingatkan agar jaga diri, malah tetap saja kelepasan.


"Sama siapa?"


"Dia bilang sama teman sekolahnya hiks hisk tapi anak itu malah gak mau tanggung jawab."


"Di mana Mia sekarang?"

__ADS_1


"Di rumah."


"Ibu tinggalkan Mia sendiri di rumah? Kenapa sih gak di ajak ke sini.’


Ibu malah menggeleng, lalu setelahnya dia menangis tersedu sedu, kini bahkan sedikit meraung. Hingga bunyi ponsel Ibu berdering, tampaknya dia tak mendengar, masih larut dalam tangisnya.


"Hallo siapa ini?"


"Ini Bibi Lang, Bi Umayah, Neng Mia, Bibi bawa ke rumah sakit ya, dia menenggak pembersih kamar mandi, Bibi sudah kasih dia minum air kelapa sudah muntah juga tapi tetap berbusa Bibi bingung Lang.”


Duniaku rasanya gelap dalam sekejap, adik perempuan yang kujaga dengan sepenuh hati haruskah dengan cara seperti ini saat hendak menghadap Tuhannya. Aku menarik lengan Ibu tanpa bicara apa pun, mengatakan yang terjadi sebenarnya hanya membuat Ibu panik, bukankah perempuan lebih mengutamakan rasa dari pada logika, yang ada malah membuatku gugup di jalan. Jarak rumah kami masih dalam satu kota hanya saja Ibu tinggal di daerah kabupaten sedang aku di tengah perkotaan,


"Kita kok ke rumah sakit Lang? Mia kenapa Lang?"


"Kita berdoa saja Bu, semoga Mia enggak apa-apa."


Adikku masih menempuh pendidikan di bangku SMK tinggal beberapa bulan lagi dia lulus tapi kenapa malah terjadi hal di luar batas, bagaimana sebenarnya lingkungan pergaulannya selama ini, lagi-lagi aku gagal menjadi Kaka yang baik, gagal jadi ayah gagal jadi suami lengkap sudah.


“Bi Mia bagaimana?"


“Masih ditangani dokter di dalam Lang.’


Tak jauh dariku (bu terduduk lemas di bangku, matanya terus saja berlinang, aneh kenapa dia hanya diam bukankah seharusnya khawatir, atau setidaknya bertanya keadaan putrinya.


“Apa yang Ibu sembunyikan, jangan bilang Ibu yang bikin Mia nekat menenggak pembersih kamar mandi."


Ibu lagi-lagi mengelak, dengan sangat terpaksa aku menarik lengannya sedikit kasar, tanpa peduli Bi Sumiah dan suaminya menatap kami dengan perasaan heran.


“Ibu cuma minta Mia menggugurkan kandungannya tapi Mia malah kukuh mau mempertahankan.”


Aku menatap wanita itu dengan perasaan hancur, apa yang ada di pikirannya sebenarnya.


“Ibu ngelakuin ini untuk nama baik kita untuk masa depan Mia juga"


Ibu terkesiap, dia mundur satu langkah, beberapa orang mulai memisahkan kami.


“Ibu lebih baik pulang, jangan di sini, [bu macam apa sih Ibu ini, Ibu telah gagal mendidik kami semua sekarang Ibu ingin cuci tangan menyuruh Mia aborsi, ibu tau tindakan Ibu malah bikin nyawa Mia terancam, sekarang apa jadinya Mia malah ingin mengakhiri hidupnya kan?"


“Lang sudah Nak, Bu Rima lebih baik pulang saja dulu, tenangkan diri [bu ya.” Bi Sumiah menengahi.


Ibu tak banyak protes dia memilih pergi, itu lebih baik bagi kami semua, kadang aku ragu apa aku dan Mia ini benar anak yang keluar dari rahimnya sendiri.


Kenapa wanita itu hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa peduli perasaan orang lain sekali pun itu Mia putrinya sendiri, dibandingkan aku hubungan mereka tentu lebih dekat.


Mia sudah terjaga wajahnya pucat pasi, saat melihatku tatapannya begitu pilu.


"Maafkan Mia Bang, Mia gagal jaga kehormatan keluarga kita."


"Jujur Abang kecewa, marah sama keadaan kamu, tapi ya sudah kita bahas lain waktu saja."


Sekarang Mia malah terisak, matanya sudah basah, sempat-sempatnya anak itu menanyakan keadaan Ibu, padahal Ibu juga yang membuatnya sefrustrasi itu.


"Siapa Ayahnya Mia?”


"Teman sekelasku Juna namanya Bang, tapi dia enggak mau tanggung jawab malah menuduhku murahan.”


"Kenapa dilakukan, apa kamu di paksa?"


"Aku jalan sama dia waktu itu, aku enggak mengerti lagi apa yang terjadi malam itu pas aku bangun aku sudah tidur di penginapan sama Juna.’

__ADS_1


"Ya Allah Mia, kamu di jebak namanya, biar Abang yang kasih pelajaran sama dia.”


"Jangan Bang, Mia takut mereka menyuruh Mia gugurkan bayinya, Mia enggak mau menambah dosa lagi.”


"Lalu sekarang apa namanya kenapa Mia malah nenggak cairan itu? Itu dosa sayang.”


"Mia bingung Bang, Ibu selalu aja kasih Mia jamu untuk menggugurkan kandungan, bukan hanya itu Ibu mukulin Mia tiap hari, Mia kesakitan Bang, Mia memang salah, kalau pun ibu enggak malu, Mia biar pergi tapi Ibu malah mengunci Mia dari dalam, Mia harus apa?"


Ya Allah Bu, harus dengan cara apa menyadarkan Ibu, kalau perlakuannya selalu ditoleransi, maka ke depannya pasti makin menjadi.


Aku membawa Mia untuk tinggal bersama, meski Ibu ingin ikut tinggal juga, aku tetap menolak.


Bukan karena tak peduli, tapi perlakuannya padaku dan Mia, seperti bukan seorang Ibu.


Mia pernah bilang setiap kali Ibu mencekokinya dengan jamu, rasanya dia ingin mati saja sakitnya luar biasa menyiksa, tapi bayiku justru tetap saja bertahan, tapi kali ini tampaknya Ibu berhasil, sebelum Mia bunuh diri, nyatanya bayi dalam kandungannya sudah tak lagi bernyawa.


Ponselku tiba-tiba berdering, panggilan dari Dilra.


“Bapak meninggal.”


Innalillahi wa innalillahi raji'un.


Hari ini, aku dan Dilra tengah berduka, ujian bagi kami masih terus berlanjut, tiba di mana hari ketika Dilra dan Ibunya kembali ke pulau jawa, aku masih hidup seperti ini, bersama Mia di apartemen, sedang Ibu tinggal di kampung, tapi sungguh Mia jadi trauma berat saat bertemu Ibu, tahun ke dua setelah insiden tempo hari, dia tak pernah kubiarkan dekat dekat dengan Ibu.


Mia akan langsung menjerit dan menangis, katanya perutnya akan sakit, sakit sekali seolah dia keguguran lagi.


"Lang Ibumu loh ini, menangis terus bikin geger sekampung, mengatakan kalian anak durhaka,” kata Bi Umayah, tetangga sekaligus adik Ibu satu-satunya, sayang hubungan mereka juga tak terlalu dekat, semua karena sikap Ibu yang arogan juga egois.


Sekarang Ibu benar benar sendiri, saat aku pikir kesendirian membuat lbu sadar, nyatanya kami salah, Ibu malah makin menjadi, sering kali Bi Umayah membuat laporan, Ibu kerap berkata buruj tentangku dan Mia tak jarang Dilra pun ikut di gunjingnya.


Hingga suatu hari saat aku mengirimkan uang padanya, seperti biasa dia selalu merasa kurang, padahal 5 juta sudah lebih dari cukup untuk tinggal sendiri di kampung, kembali mengungkit baktiku, jasanya, juga air susunya lagi dan lagi.


Andai seorang anak bisa memilih ingin terlahir dari Ibu yang mana, aku pasti tak akan memilih Ibuku. Mia masih butuh perawatan, di samping itu aku harus mencukupi kebutuhan Dion, memikirkan biaya pendidikannya, juga masa depannya nant. Tapi Ibu tiap pertengahan bulan selalu memaksa minta uang lagi dan lagi, bukan aku tak mau memberi, pernah kuturuti semua permintaannya justru Ibu malah menggunakan uang itu untuk mentraktir jalan-jalan teman temannya.


"Kamu durhaka Lang, enggak bakal berkah usaha kamu kalau pelit sama orang tua, kalau tahu pada durhaka, menyesal Ibu membesarkan kalian!” umpatnya saat suatu hari dia datang berkunjung, Mia hanya diam tapi aku tahu dia ketakutan bukan main. Bagaimana mungkin seorang anak bisa trauma pada Ibunya sendiri, meski begitu Mia sudah lebih baik, traumanya hanya akan muncul kalau bertemu Ibu, itu pun sudah tak separah dulu.


“Nanti minggu depan aku pulang Bu, aku tinggal sama Ibu, tapi tolong mengerti keadaan Mia, kalau |bu masih tetap begini maaf aku enggak bisa menyatukan Ibu sama Mia."


"Kurang ajar kalian berdua, sudah kubesarkan malah membuangku, harusnya dulu waktu Bapak kalian main perempuan, kubuang saja ke sungai biar mati sekalian! Senang hidupku bisa kawin sama orang punya!"


Ibu terus meracau sampai aku tak bisa lagi menghadapinya. Setelah puas, Ibu lantas pergi. Antara khawatir dan lega itu tipis sekali, bagaimana pun Ibu pergi dalam keadaan kacau.


Hingga tiba-tiba teleponku berbunyi.


"Hallo Lang, ini saya Om Chandra, bisa ke rumah Om sekarang?"


Om Chandra ialah Paman Dilra.


"lya Om siap, kalau boleh tahu ada apa ya kok mendadak begini."


"Ibu mertuamu masuk IGD Lang."


"Astaghfirrullah kok bisa."


"Bapak mertuamu meninggal Lang, sepertinya Shinta, Ibu mertuamu shock."


Allahuakbar, aku yang salah tapi kenapa Dilra yang menanggung semua akibatnya.


"Saya sekarang ke sana, tapi Dilra sama Dion bagaimana keadaannya?”"

__ADS_1


"Itu dia Lang, mending kamu cepat ke sini deh."


Bersambung..


__ADS_2