
“Pegal kakinya?"
“Enggak kok, Mas.”
"Sini Mas pijitin."
"Enggak usah kakiku kotor, lagian kan Mas lagi...”
“Mas bisa! Karena Mas pincang jadi kamu pikir enggak bisa ngurus kamu!"
“Bukan begitu, Mas hiks hiks."
“Astaghfirrullahaladzim, maaf Dil. Aku bikin kamu takut." Saga hanya melirikku dia paham betul, tak mau ikut campur masalah kami.
“Maaf Mas kelepasan.”
“Sudah aku bilang aku gak mau dipijat, kenapa Mas malah bentak aku.” Inilah yang aku takutkan aku tak mampu membendung emosi, dan akhirnya malah terjadi. Aku masih berupaya menarik kaki Dilra agar bisa kupijat, tapi dia kembali menurunkan kakinya ke bawah.
"Sudah kubilang gak usah, turunkan aku di sini.’ Ya Tuhan, kenapa Dilra jadi sensitif sekali. Biasanya dia tak begini, ini di mana mana mungkin keturunkan dia.
“Turun atau aku lompat."
"Berhenti Saga, kita putar balik."
"Enggak usah aku pulang sendiri aja."
“Naik apa?"
"Grab! Mas pergi aja terapi sendiri. AKuu gak mau nemenin orang yang gak percaya sama aku.
"Ya sudah Mas tungguin sampai dapet grab."
"Sekalian aja putar balik, lihat ini udah jam berapa, Mas berangkat aja. Aku bisa sendiri."
"Yakin?"
"Va"
"Udah Mas turutin aja, ibu hamil. Maklum aja.
"Tuh kan Saga aja ngerti,’ kata Dilra. Kalau sudah begini aku bisa apa selain menuruti kemauannya. Meski berat hati, aku tetap melanjutkan perjalanan ke rumah sakit sedang Dilra kutinggalkan di jalanan. Mobil memasuki area parkiran rumah sakit. Tepat saat itu juga sebuah pesan masuk ke nomorku. Satu pesan dari Mia, katanya dia meminta izin mengajak Ibu jalan jalan keluar. Padahal baru saja ingin kutanyakan tentang Dilra apakah dia sudah sampai rumah atau belum, tapi Mia bilang sudah sampai di taman. Itu namanya bukan izin tapi memberi tahu. Perasaanku jadi mendadak tak enak.
“Saga putar balik, aja kita pulang. Enggak jadi terapi." Saga mengernyit tapi dia tak bertanya apa pun, hanya menyetujui pintaku dan lantas memutar balik mobilnya. Kami melaju dengan kecepatan maksimal, rupanya dia mengerti dengan kecemasanku pada Dilra. Benar saja sesuatu sedang terjadi, sebuah mobil terparkir di halaman rumah. Mobil Hiro, tak ada siapa pun di rumah lantas mereka berdua sedang apa di dalam. Aku berjalan cepat meski harus tertatih tatih karena masih memakai alat bantu. Saga segera berlari menyusul, dia terus saja mengingatkan agar aku bisa mengontrol emosi. Sayangnya itu terlambat.
__ADS_1
"Kalian!" "Kurang ajar!
Dilra berteriak meminta untuk berhenti, tapi sungguh emosiku sudah memuncak apalagi melihat mereka berdua.
Aarghhi!!
"Sampai hati kalian zina, atau jangan jangan yang kamu kandung itu bukan anakku, Dilra?”
"Mas cukup kamu keterlaluan. Tega kamu menuduh aku serendah itu.’
“Apanya yang tak bisa kamu bahkan berpelukan dengan laki laki lain di saat rumah sepi. Aku menawarkan diri untuk mengantar pulang, tapi kamu menolaknya, jadi ini alasannya?”
"Kamu kesepian, Apa hasratmu tak tertuntaskan karena aku sakit hah?"
"Cukup!" Dilra berteriak sembari menutup kedua telinganya, di sudut matanya bulir bening mulai berjatuhan. Bukan hanya kau yang sakit, tapi aku jauh lebih sakit. Mengabaikan teriakannya yang makin melengking. Aku terus menghunjami pukulan demi pukulan pada laki laki itu. Puas rasanya! Saat pukulan demi pukulan itu melayang ke wajahnya. Sesekali laki laki tak tahu diri ini harus kuberi pelajaran, atau habisi saja sekalian biar dia tahu diri.
"Mas sudah kumohon sudah cukup jangan pukul lagi." Dilra seperti ingin menggeser tubuhnya mendekat tapi sepertinya urung, setelah tatapan tajam dariku.
"Kamu takut dia mati, takut anak di perut kamu gak punya Bapak."
"Mas!" teriak Dilra. Dia tampak meremas perutnya tapi sungguh aku tak peduli. Saga langsung menarik tubuhku. Bagai orang kesetanan. Aku kalap hingga membabi buta. Hiro tak melawan, mungkin sengaja untuk mendapat simpati dari Dilra. Cih, ingin sekali aku meludahi wajahnya.
"Pergi saja Mas, jangan bikin tambah kacau, sorry ya,’ ucap Saga, dia baru sampai ke ruang tamu, lantas Hiro langsung pergi tanpa berkata apa pun lagi, Jalu dengan cepat pula Saga menyusul ke luar.
"Ah, hmmm Aw." Dilra seperti kesusahan untuk bangkit, aku menatap sebentar masih beranikah dia meminta tolong setelah apa yang dia lakukan barusan.
"Mbak kenapa, ada yang sakit?" tanya Saga yang baru saja masuk dari arah pintu.
Dilra menggeleng, dan seketika itu juga menghentikan langkah, mengamati perubahan wajahnya yang memucat, bisa kupastikan dia kesakitan, seraya menunduk aku memegangi perutnya.
“Istigfar Mas bisa jadi Mbak Dilra jatuh, tadi Hiro gak sengaja mampir karena lihat Dilra terjatuh di lantai makanya dia bantu angkat,’ tutur Saga panjang.
Astaghfirrullahaladzim, lagi-lagi aku salah, jadi benarkah Hiro hanya berniat menolong tanpa ada maksud apa pun.
“Ayo Mas bantu, bangun,’ tawarku pada Dilra.
“Enggak mau, kalau Mas jijik sama aku enggak usah sentuh aku!"
“Jadi kamu jatuh?"
“Jelas-jelas aku jatuh, tapi yang kamu pedulikan hanya cemburu butamu Mas, sudah kubilang aku enggak selingkuh tapi kamu tetap saja enggak percaya."
“Ya sudah biar Mas bantu bangun,’ tawarku. Dilra malah mendorong, aku tak punya ancang-ancang dengan mudahnya aku terjungkal.
__ADS_1
“Kita bicara di kamar, biar kamu bantu istirahat,’ ucapku.
“Mau aku bantu, atau Mbak bisa jalan sendiri?" tawar Saga yang sedari tadi nyatanya dia menyaksikan drama rumah tangga kami. Benar katanya aku mana bisa membantu Dilra, bahkan untuk berjalan saja aku kepayahan
masih saja dibantu alat.
“Enggak apa-apa. Saya bisa jalan sendiri, tapi tolong bantu saya bangun.” Aku mengulurkan tangan ke dekat Dilra untuk ke tiga kalinya. Sejenak dia menatap ragu tapi kemudian menyambarnya juga. K ami berjalan beriringan dalam diam. Dilra lebih memilih berpegangan pada pembatas tangga, dari pada bertumpu pada lenganku.
Kami masih saling diam meski hampir sepuluh menit di kamar. Dilra lebih memilih berbaring memunggungiku. Dia tak tidur malah terisak di seberang ranjang, kami saling memunggungi walau dalam hati ingin sekali merengkuhnya, sungguh aku telah cemburu buta, hingga menutup mata dari kebenaran.
“Apa masih sakit Dil, Mau Mas oleskan minyak angin?" “Aku mau sendiri Mas, bisa kamu keluar
sebentar?" katanya tanpa menoleh.
“Kenapa, bukankah kamu bilang anakku ini anak orang Iain, apa pedulimu. Pergilah aku ingin menenangkan diri.”
"Oke Mas pergi, tapi kalau ada apa-apa kamu panggil Mas.” Tak ada sahutan lagi, sepertinya dia ingin segera aku menjauh.
Saga masih menunggu di ruang tamu dengan khawaiir dia bertanya tentang kondisi Dilra memikirkan kemungkinan apakah perlu untuk ke dokter atau tidak. Dia yang bukan siapa-siapa saja begitu peduli, sedang aku yang pasangannya malah Ifebih mengedepankan rasa cemburu yang membabi buta. Hingga mengesampingkan kesakitan Dilra, yang terus berteriak juga meremas perutnya. Untuk beberapa saat aku lebih memilih menenangkan diri, emosiku masih belum stabil. Satah-salah akan menyakiti hati Dilra lebih dalam lagi.
Dilra tak lantas keluar dari kamar hingga dia melewatkan jam makan siangnya. Mengabaikan Dion yang dari tadi bolak-balik mengetuk pintu kamar, wanita itu tetap saja
kukuh, tak mau membuka pintu.
"Sayang, buka?" pintaku. oBagai dejavu mengalami hal seperti ini terus menerus, tapi kenyataan di depanku membuatku harus terbiasa dengan sikapnya yang labil, dia tak baik-baik saja sejak saat kami berpisah waktu itu, percaya lah tak mudah menjalani hidup dengan orang-orang seperti Dilra, tapi bukan berarti tak bisa, meski dia berubah, aku tetap percaya, sisi Dilraku masih menetap di sana.
"Mas Dobrak kalau kamu enggak mau buka!"
Tak ada sahutan. Aku dan Saga kini bersiap mendobrak. Brakkk!!!
"Mas." Wanita bodoh itu bagaimana bisa dia memilih mengakhiri hidupnya, Dilra tengah bersiap menyayat urat nadi di tangannya.
"Selamat tinggal.” "Jangan!"
Dia tak peduli sekarang tangannya dengan cepat menggoreskan silet itu ke lengannya, jelas sekali wajah Dilra tampak menahan sakit, karena panik aku langsung melempar kruk dengan asal, membuatku langsung terjatuh tepat di dekat Dilra.
"Demi Allah Mas, aku enggak pernah selingkuh. Kalau kamu enggak percaya bayi ini, anakmu. Akan lebih kalau dia mati bersamaku."
"Enggak Dil mana boleh begini, aku percaya sekarang. Aku percaya sayang.
Dilra tersenyum, lengannya bergerak, dia berusaha menyentuh wajahku, dengan lengan gemetar juga penuh dengan darah, dia mengusap pelan wajahku.
Bersambung...
__ADS_1