Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Jangan Tinggalkan Aku?


__ADS_3

PoV Dilra


Aku pernah mengatakan kalau tugas makhluk hanya menjalankan takdir yang digariskan Sang Khalik dengan ikhlas, tanpa pernah berpikir kalau aku akan bertukar tempat dengannya, hanya berselang hari, lagi-lagi nestapa menyapa, dari sekian banyaknya makhluk ciptaan Mu, kenapa Engkau memilih dia untuk kembali pada-Mu hari ini.


"Bu, tenang ya, coba saya periksa, apa yang ibu rasakan sekarang?"


"Dada saya sakit.”


"Coba Ibu ambil nafas dalam-dalam tahan sebentar, ya tahan, keluar lagi pelan-pelan.”


Berhasil, dia membuatku jauh lebih tenang.


"Lakukan itu tiga kali ya Bu, ayo pelan pelan saja, relaks."


Aku pasrah, mengikuti arahannya.


"Bagaimana nyerinya? Sudah berkurang."


"Sedikit berkurang Dok.”


"Boleh saya tanya sesuatu, coba lihat wajah Mas ini, siapa namanya?"


"Dia suami saya Dok, apa dia juga tak mengakuinya ke orang lain.”


Apa begitu memalukan beristrikan wanita sepertiku. Mas Galang menunduk saat tatapan kami baru saja bertemu, beruntung saat itu, kondisiku baik baik saja hanya shock berlebihan, esok harinya Dokter mengizinkanku untuk pulang, tapi Mas Galang tak mau menjemput juga, nomornya tak aktif, di saat seperti ini, Kenapa kamu begitu acuh, aku di tempat ini juga karena menolongmu Mas, tapi sedikit saja kamu tak pernah peduli, memilih pergi, entah ke mana.


Perlahan aku berjalan ke luar sendirian, banyak orang yang menatapku dengan tatapan aneh, aku kembali membalas menatap mereka satu persatu, apa yang aneh dariku. Sekarang aku mematut diri di cermin yang berada di toilet rumah sakit.


Semua masih terlihat wajar, hanya wajahku yang pucat pasi, bukankah wajar bagi pasien di rumah sakit pucat, kenapa tatapan mereka tadi itu menyiratkan keprihatinan, sebuah tatapan iba, hidupku memang menyedihkan, tapi rasanya tak mungkin kalau orang-orang di luar sana akan tahu bagaimana menyedihkannya hidup yang kujalani.


Ada yang tak beres tapi apa?


"Ya Allah Dil, Mas cari kamu Mas pikir kamu udah pulang sendiri.’


Mas Galang tiba-tiba saja sudah berada di luar pintu toilet, dari mana dia tahu aku ada di sini, ah sudahlah.


"Aku bisa pulang sendiri Mas, enggak perlu repot repot jemput.”


"Mas mau tunjukan sesuatu sama kamu, ayo ikut." Kali ini tanpa peduli persetujuan dariku, pria itu langsung menarik lengan, menuju sebuah tempat, masih di area rumah sakit, hanya beda ruangan saja, aku sempat bertanya siapa yang hendak kita temui, dia memilih bungkam, katanya aku akan tahu saat tiba di sana.


"Masuk dan lihat siapa yang terbaring di sana."


Aku mendekati ke arah pasien di ruang ICU itu banyak alat yang terpasang di dada dan perutnya juga selang oksigen yang terpasang ke mulutnya.


"Siapa dia Dil?" lirihnya.


"Mas Galang." Sungguh aku dibuat heran karenanya.


Bagaimana bisa, ini semua terjadi Mas Galang ada dua, satu terbaring di ranjang satu lagi berdiri di depanku.


"Dil ayolah lawan rasa itu, jangan biarkan kamu tenggelam lebih dalam lagi, sebut nama Tuhanmu Dil, lawan sekali lagi, jangan menyerah.”


"Lihat saya dan lihat suamimu di ranjang, apa sekarang kami tampak sama?"


Bagaimana bisa ini terjadi kenapa Mas Galang ada dua, tidak mungkin, ini pasti karena aku salah fokus, konsentrasi Dil, tenangkan dirimu, bukan fokus yang kudapat, sekarang malah sakit luar biasa di bagian kepala datang dengan tiba tiba.


Aku menepis saat kurasakan lengan kekar seseorang yang entah siapa itu menggenggam dengan erat pergelangan tanganku, sudah kukatakan aku baik baik saja tapi pria itu masih saja tak mau melepas cengkeramannya. Tanpa pikir panjang, aku menyerah, kembali kutelan obat-obatan itu lagi, tak ada reaksi sakitnya malah makin menjadi, laki-laki itu malah mencegah saat aku bersiap menenggak kembali obat di genggaman.


“Aku tahu dosisnya,’ kataku tegas dengan sorot mata tajam.


Seketika cengkeramannya mulai melemah perlahan, aku begitu kepayahan, kurasa kematian akan lebih baik bagiku saat ini, sayangnya sejak dulu Tuhan seakan enggan menerimaku di sisinya, berkali kali aku mendekati tapi Dia seakan kembali melemparku ke dunia. Saat itu aku lupa apa yang terjadi, mungkin juga aku tertidur untuk waktu yang lama, hingga saat terbangun, beruntungnya pakaianku masih lengkap, bagaimana pun berada sekamar dengan pria asing harus tetap waspada, bodohnya aku malah menelan pil itu tanpa pikir panjang.


"Dil, Kamu sudah bangun?"


"Hiro? Kamu, di sini? Sedang apa?”


“Alhamdulillah, kamu kenal aku?"

__ADS_1


"Jangan bercanda, ya jelas ah kenal.”


"Kenapa Dil?"


"Mas Galang.’


"Dia masih hidup Dil, Allah memberinya kesempatan kembali.”


"Allahuakbar, alhamdulillah, ya Rabb.”


"Ati ati Dil, perut kamu baik baik saja kan, tadi kamu minum obat itu apa enggak akan pengaruh ke janin kamu."


Apa lagi ini Tuhan, kenapa aku begitu ceroboh.


"Ini minum ini.”


"Susu?"


“Bukankah susu bisa menetralisir, setidaknya sampai kamu selesai melihat Galang, setelah itu baru kita konsultasi ke dokter."


"Terima kasih ya, karena Mas jadi ikut repot." Hiro hanya mengangguk, setelahnya dia memilih pergi meninggalkan kami berdua.


“Mas andai Tuhan tidak mendengar doaku, maka akan lebih baik kalau aku menyusulmu saja, jangan lakukan ini padaku Mas, sudah cukup kurasakan kehilangan berkali-kali, sekarang bangunlah Mas, mari berbahagia seperti katamu.”


Andai ini hanya sebuah delusi, bangunkan aku, sayangnya lagi-lagi ini sebuah kenyataan, laki-laki itu hanya terbaring di ranjang.


Kamu berjanji akan merawat bayi kita sama-sama, kenapa tak lekas bangun dari tidur panjangmu Mas.


Sudah 3 hari sejak kecelakaan itu, matanya belum pernah sekali pun terbuka, meski dokter mengatakan kondisinya sudah mulai membaik, seharusnya hari ini dia mulai terjaga, rasanya hariku sedikit bergairah, aku datang dengan sebuah lap dan baskom berisi air hangat, mengelap sebagian anggota tubuh Mas Galang, agar kelihatan lebih segar.


Setelah beres kembali kutatap wajah itu.


"Sayang cepat sembuh ya, kamu ganteng kalau sudah mandi, Dion sudah kangen sama papahnya, masa Mas enggak kangen."


Lagi-lagi diam saja, tapi sungguh aku tak peduli, dia akan mendengar atau tidak, mengajaknya bicara setiap hari membuatku lebih merasa hidup.


"Mas sudah sadar? Alhamdulilah."


“Ka mu ti dur nya nyenyak ba nget,’ katanya terbata-bata.


“Hmmm aku semalam enggak bisa tidur Mas, kepikiran kamu, saking senangnya kata dokter hari ini Mas bakal sadar."


"Tunggu sebentar ya, dokter lagi ke sini.”


Aku pikir setelah sadar dari tidur panjangnya proses pemulihannya akan sebentar nyatanya, dokter mengatakan butuh waktu berbulan-bulan sampai Mas Galang bisa kembali normal.


Hari itu kami pulang, setelah hampir 2 minggu di rumah sakit, saat itu aku yang salah meminta bantuan Hiro untuk ikut membantu kami pulang, aku kerepotan tak mungkin kalau harus kupapah Mas Galang sedang saat itu kondisiku sedang kurang sehat, terus muntah tanpa henti sejak semalam.


Meski tak ada penolakan yang terlontar darinya, aku menyadari dia tengah menahan cemburu, tapi mau bagaimana lagi tak ada sanak saudara di kota ini.


"Terima kasih ya Mas, minum dulu?” tawarku bagaimana pun bukankah hal wajar menawarinya minum setelah hal yang dia lakukan, tapi wajah Mas Galang malah semakin tak enak dipandang.


“Enggak usah Mas pulang saja.” Hiro lantas tersenyum ramah setelah itu sosoknya menghilang di balik mobil.


Lagi lagi perutku mual, mau tak harus memuntahkannya di halaman rumah, sebenarnya sejak di jalan sudah kutahan tahan.


"Kamu baik-baik saja kan Dil? Mau periksa ayo Mas antar.


“Enggak apa apa sayang, istirahat bentar juga mendingan, kita kan baru pulang dari rumah sakit, aku malah mual lama lama di sana enggak kuat sama bau obat-obatan."


"Maafkan Mas ya."


“Untuk apa?"


"Karena enggak bisa jaga kamu.”


"Untuk itulah aku ada untukmu Mas, gantian biar bisa jaga kamu."

__ADS_1


Mas Galang mengulum senyum, tapi aku tahu hanya semu belaka, aku membantu memapahnya, di dalam Dion sudah menyambut kami dengan suka cita, dia peluk Mas Galang dengan erat, bahkan menangis sesenggukan, aku yang melihatnya jadi ikut tersentuh karenanya.


“Aku ke toilet dulu sayang."


"Mual lagi?"


Kukatakan aku baik-baik saja tapi bisa kulihat dari pantulan lemari kaca pandangan Mas Galang masih tak bisa lepas dariku, raut khawatir itu terus saja menemani sepanjang jalanku menuju toilet, apa dia lupa untuk mengkhawatirkan dirinya sendiri, kenapa justru malah lebih banyak memperhatikanku, Pintu kami di ketuk dari luar, aku beranjak untuk membukannya, rupanya Hiro dia balik lagi.


Latas aku langsung melirik ke arah Mas Galang.


"Ini ada kedongdong, titipan Mamah, kemarin kata Mamah kamu ngomong kedondong mulu di rumah sakit, diterima ya."


"Wah alhamdulillah, Terima kasih ya, salah buat Tante Jesi."


"Ya, Mas Galang saya permisi dulu, mari.” Mas Galang hanya membalas senyumnya tapi setelah itu rautnya berubah kesal.


"Kenapa enggak bilang mau kedondong, kenapa bilang sama Tante Jesi.”


"Enggak cerita Mas, jadi di rumah sakit kemarin ada yang makan rujak kedondong, aku cuma asal ngomong aja."


"Tapi kenapa pas dibawakan Hiro, wajah kamu senang banget."


"Ya senang kan rezeki Mas, masa iya orang ada kasih buah, kita cemberut, Mas cemburu ya?"


"Mas enggak cemburu.”


“Padahal aku maunya bukan kedondong kayak begini Mas, ya sudah lah."


"Memang kamu maunya apa? Tadi katanya kalau di kasih harus bersyukur ini masih saja menawar.’


"Bukan begitu Mas, aku maunya yang memoetik langsung dari pohonnya.’


"Hah?"


"Dil, di sini mana ada pohon kedondong?"


“Ada past, lah ini, Kedondong satu kantong, memetik di mana kalau enggak ada pohonnya?"


"Sudahlah aku enggak mau makan kedondongnya, kalau Mas enggak suka."


"Dil, hay maafkan Mas sayang, nanti Mas mencari kedondong buat kamu, jangan marah, sudah malan saja enggak apa apa Mas enggak marah.”


“Benar? Tapi Mas enggak boleh minta."


"Astaghfirrullahaladzim, sebanyak ini kamu mau abisin sendiri, enggak baik loh."


"Ya sudah lah enggak jadi makan."


"Ya sudah makan saja Dil, makan semuanya.”


"Hehe."


“Lain kali jangan terlalu dekat sama Hiro.”


"Mas cemburu ya?”


“Bukan begitu, kan enggak enak diliat Dion.”


"Ya sayang maaf.’


Tapi kalau dipikir pikir, aku dan Tante Jesi memang dekat, tapi rasanya untuk membelikan kedondong, agak sedikit aneh, kurasa malah ini Hiro yang membelikannya untukku, apa lagi di dalam kantong plastik ini, ada secarik kertas bertuliskan.


"Di makan ya Dil, semoga kamu suka.’


Mana mungkin Tante Jesi berbuat seperti ini, aku sampai harus meremas kertas itu dan membuangnya asal, saking gugupnya melihat Mas Galang yang tiba tiba mendekat, bagaimana pun aku tak ingin ada salah paham.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2