
Bagaimana bisa, Dilraku menikah, dengan begitu mudahnya, sedang aku di sini masih memperjuangkan untuk bisa kembali membangun mahligai rumah tangga dengannya. Lidahku mendadak kelu dalam segkejap, tak mampu berucap walau hanya sepatah kata, sampai sosok laki-laki paruh baya itu, menepuk pundakku, mencoba menguatkan. Pantas saja kemarin dia sempat bertanya, tempat tinggalku, nyatanya dia ingin datang berkunjung.
"Kenapa Bapak enggak bilang apa-apa waktu saya ke sana sebulan yang lalu."
"Karena memang saya tidak mau kalau rencana ini harus batal.”
"Boleh say a tahu dengan siapa Dilra menikah."
Bapak mengeluarkan ponselnya, menujukan padaku sebuah foto pasangan dengan busana senada tengah bersua foto di sebuah taman, sepertinya mereka tengah melakukan sesi foto preweding.
“Lupakan Dilra!"
Begitu pintanya, bagaimana bisa melupakan putrimu, kalau saja mudah, maka hari ini tidak akan ada drama patah hati, atau bisa jadi aku sudah berdiri dengan pasanganku ketika menyambut kedatanganmu.
~~
Setelah kepergian Bapak, Ibuku mendekat, dia terus bertanya undangan siapa yang kini berada dalam genggaman, karena aku hanya diam saja tanpa berniat menanggapi ucapannya, hanya sesekali menatapnya dengan perasaan yang entah, wanita itu, bolehkah aku membencinya sekali saja, setidaknya untuk saat ini.
"Lang? Coba ibu lihat undangannya siapa yang nikah? Dilra kan, sudah Ibu bilang Dilra itu gak cocok buat kamu, dia itu serakah."
Ibu terus saja berbicara buruk tentang Dilra, tak pernah kah dia merasa menyesali perbuatannya dulu, saat dia menangis di depan Pak Hasan apa itu hanya semu belaka. Lama-lama perlakuan Ibu yang selalu merasa benar sendiri, membuat jengah, di depan Ibu aku mulai merobek kertas undangan itu hingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Dia sedikit mundur, setelahnya rautnya menegang seketika.
"Ibu mau aku menikah lagi?"
"Ya, kamu masih muda Lang, jangan mau kalah sama Dilra."
"Harus berapa kali lagi aku menikah Bu? berapa kali juga perempuan yang mau Ibu bikin gila seperti Dilra?"
"Lang Ya Allah kenapa kamu ngomong begitu."
"Ibu sadar enggak selama ini Dilra tak pernah kurang ajar sama Ibu, tapi Ibu terus saja menyalahkannya, menghinanya bahkan menahan haknya.’
Ibu menangis terisak.
“Ibu mau aku menikah dengan perempuan seperti apa lagi, aku bukan robot, salah kalau aku ingin punya keluarga? Kenapa seolah Ibu tak mau punya cucu, aku ini sudah dewasa Bu, jadi tolong jangan lagi mencampuri urusanku."
"Lang maafin Ibu, ibu benar-benar gak ada maksud kayak gitu hiks hisk hiks."
"Harusnya kalau dulu Ibu pernah ada di posisi Dilra, sebagai perempuan Ibu bisa mengerti perasaan Dilra, tapi kenapa malah membalas perlakuan Eyang dulu pada menantu Ibu yang gak salah apa-apa?"
"Lang maafin Ibu, sekarang kamu mau ke mana?"
"Malam ini aku gak pulang."
Entah aku mau pergi ke mana yang jelas, ketika melihat Ibu di rumah sepanjang hari, hal itu seperti mengingatkan kembali ke masa lalu, bayang-bayang Dilra selalu saja mengganggu, membayangkan dia akan berbagai tempat tidur bersama pria lain membuatku frustasi. Malam ini kuputuskan untuk tidur di bengkel, sudah lama sekali aku tak bermalam di sini, meski karena itu Mia dan Ibu tak berhenti menelepon.
Sudah dua minggu Ibu berkunjung ke apartemen, katanya rindu padaku, kasihan karena aku tak ada yang mengurusi makan dan pakaiannya, tapi yang dia lakukan setiap hari malah membuatku semakin muak, setiap ada kesempatan selalu berkata buruk tentang Dilra, apa tempat seperti itu masih bisa di sebut rumah, sedang saat berada di sana jiwaku tak pernah lagi merasa pulang. Malam ini kuhabiskan untuk berselancar di dunia maya, sekadar melepas penat sejenak.
__ADS_1
Ada banyak perempuan yang kerap komentar saat aku mengapload sesuatu di sana, seperti hari ini ada 4 orang perempuan yang entah siapa berkomentar ria di postinganku, awalnya memang aku tak pernah peduli, semua karena Dilra yang tak suka saat aku terlibat obrolan dengan perempuan lain, lama-lama aku jadi terbiasa, mengabaikan mereka yang mendekat entah dengan tujuan apa. Seperti akun facebook bernama Rere, berawal hanya iseng, tapi tanpa disangka obrolan kami berlanjut ke pesan pribadi, hampir setiap hari kami bertukar kabar.
Tak seperti perempuan lainnya Rere itu berbeda, sosoknya dewasa dan hangat, meski aku tak yakin juga Rere ini sudah menikah atau belum, konyol bukan? bagaimana bisa aku menjalin hubungan dengan orang yang masih samar identitasnya, tapi rasa nyaman ini terlalu kuat, aku tak pernah menemukan perempuan yang bisa cocok denganku, selain Dilra. Lagi-lagi Dilra, kapan kamu bisa menghilang dari pikiranku.
Entah bagaimana rupanya, saat bersua foto perempuan itu selalu membalikkan badan, sekalinya tidak, wajahnya ditutupi masker dan kacamata, tapi firasatku mengatakan sepertinya dia wanita cantik. Perasaan macam apa ini, rasanya aku bagai cinta buta, aku tak peduli rupa perempuan itu, yang jelas bersamanya jiwa ini seolah merasa hidup setelah sekian lama mati suri.
Akhir-akhir ini sikap Rere aneh, dia selalu ingin tahu tentang masa laluku, khususnya tentang Dilra, apa dia knawatir kalau aku masih belum bisa melupakannya. Meski kenyataannya sukar sekali untuk menghapus namanya dalam benak, tapi setelah kehadiran Rere rasanya perlahan ingatan tentang Dilra mulai berkurang.
Sayang saat kujelaskan semuanya Dilra malah tak mau membalas pesan, padahal sebelumnya sudah kukatakan soal permintaan untuk melihat wajahnya, kalau pun dia menolak maka aku tak akan memaksa, tapi soal ajakan bertemu, sungguh aku berharap kali ini dia tak menolak permintaanku. Tidak tahu ini kebetulan atau tidak, Rere satu kota dengan Dilra.
Hari berlalu sejak penjelasanku itu, Rere tak mau lagi membalas pesanku bahkan sekarang akunnya menghilang, jangan-jangan aku diblokir, sempat kupinjam akun Ardi sekedar mengecek akun Rere, benarkah aku di blokir?
Nyatanya tidak, Rere hanya tutup akun. Tapi kenapa? Apa dia tengah berusaha menghindar dariku? Sesulit inikah jalan takdirku, setelah sekian lama mencari perempuan yang sejalan denganku, saat sudah merasa yakin kalau dia pun punya perasaan yang sama, yang terjadi malah kami semakin menjauh, tepat saat aku mulai memberanikan diri mendekatinya.
Suatu malam di apartemen, aku terbangun saat azan subuh berkumandang, seperti biasa, setelah kepergian Dilra tak ada lagi yang menyiapkan pakaian apa lagi sarapan, harus kusiapkan sendiri. Sebelum berangkat kuseduh teh hangat sembari menunggu jarum jam menunjukkan pukul 6. 30. Saat kubuka akun sosial media, ada satu pesan yang belum terbaca.
"Mas aku mau ketemu kamu.’
Ya Tuhan setelah dua minggu kami tak berkabar, hari ini Rere kembali mengirimkan pesan.
"Ya Allah Mbak ke mana aja, saya sembat khawatir takut Mbak jadi ilfill, gara-gara saya ajak ketemu mendadak."
"Enggak kok."
"Kapan bisa ketemu?"
"Akhir pekan ini bagaimana?"
"Saya share lock ya."
Yes!
Aku salah karena pernah berpikir yang tidak baik pada Tuhan, perihal jodoh memang hanya Dia yang tahu, semoga kali ini hubungan kami bisa melangkah ke arah yang baik.
~
Hari yang di nanti tiba, aku telah sampai di kota tempat Rere menetap. Kami membuat janji temu di sebuah kedai makan saat siang hari. Di sini cukup ramai, aku pikir perempuan ini sengaja, bagaimana pun dia harus tetap waspada bukankah aku masih orang asing baginya. Semakin lama duduk di sini, semakin tak karuan juga detak jantungku, kenapa Rere lama sekali.
Hingga saat derap langkah sepatu, yang kian mendekat itu berhenti tepat di belakangku. Lekas aku berbalik menghadapnya, sekarang baru aku tahu siapa gerangan yang berada di belakangku. Perempuan itu tertunduk, meski begitu, jelas aku bisa tahu siapa dia.
Dilra dia Dilra.
Deru nafas Dilra tak beraturan dadanya naik turun tapi wajahnya terus saja menunduk.
"Kamu kenapa di sini?" Dilra diam masih tak mau menatap.
"Mana suamimu Dil? Selamat buat pernikahanmu Dil."
__ADS_1
Aku mulai mengulurkan tangan ke arahnya. Tapi Dilra malah mendongak, menatapku dengan sorot mata mendung.
"Kamu sedang menunggu seseorang di sini?" tanyanya. Bukannya menjawab kenapa malah balik bertanya, lagi pula dari mana dia tahu. Tapi kenapa dengan hatiku, sudah tahu dia ini sudah milik orang lain, tapi melihat wajah sendunya kenapa aku jadi tak tega. Mungkinkah dia masih menyimpan cemburu padaku.
Jangan bodoh Galang, ingat dia istri orang lain.
"lya Mas lagi mau ketemu sama... orang."
"Siapa?" katanya dengan mata yang berkaca-kaca bahkan sekarang bibirnya bergetar seperti tengah menahan getir dalam hati.
"Dia perempuan kan?" tanyanya lagi.
"Calon istrimu ya?"
Kenapa dia berkata seolah aku ini berdosa, bukankah dia yang lebih dulu meninggalkanku, tiba-tiba menikah dengan laki-laki lain tanpa pernah memberiku kabar, bahkan dengan teganya menghalangiku untuk bertemu dengan Dion.
“Apa sih Dil, kalau pun dia calon istriku memangnya kenapa?”
"Kamu mencintainya?"
"Hey Dilra, ayolah kamu ini sudah menikah, pantaskah seorang istri bertanya hal seperti itu pada mantan suaminya."
Luruh sudah air mata Dilra, dan lagi-lagi perasaanku tak bisa berbohong, melihatnya seperti itu malah menyalurkan nyeri ke dalam sini.
"Aku belum menikah Mas."
"Jangan berbohong Dil, Bapakmu sendiri yang mengantar undangannya padaku."
"Apa kamu datang ke acara yang kamu sebut pernikahanku? Dan di sana apa kamu lihat aku menikah?"
Jelas tidak, aku tak pernah datang.
"Jadi maksud kamu, semua rekayasa Bapak?"
"ya
Ya Allah Dil, bagaimana bisa begini, di saat aku melupakanmu lalu mencoba membuka hati untuk wanita lain, kenapa justru kemu kembali. Apa yang harus kukatakan pada Rere nanti.
"Dil maaf tapi Mas udah janji buat ketemu seseorang di sini, Mas sudah datang jauh-jauh, cuma untuk bertemu dengan dia di sini."
"Kamu ke sini untuk bertemu Rere kan?" "Dari mana kamu tahu, nama perempuan itu?"
Dilra tak menjawab malah mengambil ponsel, lalu tak lama menunjukkan sebagian
chatingannya dengan akun bernama Galang Priambanu.
Itu, isi chatku dengan Rere. Ya Tuhan. "Kenapa dunia sesempit ini Dil?"
__ADS_1
Ingin sekali aku memeluk wanitaku, sayang ada dinding besar yang menghalangi kami. Menyadari kenyataan kalau kami bukan lagi sepasang suami istri.
Bersambung...