Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Ancaman Bapak


__ADS_3

“Biarkan saja Bu,’ kata Bapak.


Aku masih terhenyak dengan emosi Bapak, yang tak biasa ini, tak bisa kubayangkan Ibu harus mendekam di penjara.


“Kenapa kamu enggak terima Lang? anak saya dulu periang, sejak nikah sama kamu jadi begini, orang tua mana yang mau terima?"


“Apa enggak bisa di bicarakan secara kekeluargaan Pak."


"Kamu takut? Ingat ya Galang, saya menitipkan Dilra ke kamu, untuk dibahagiakan, bukan dibuat menderita, lihat keadaannya sekarang, kalau tahu kelakuan kamu dan keluargamu begini, cih sudah kutolak kamu dari dulu.”


“Sebaiknya kamu pergi saja ya Lang, kami butuh ketenangan di sini, kalau bisa enggak usahlah kembali lagi ke sini,’ kata Ibu mertua. Belum juga mampu menenangkan Bapak, sekarang Ibu malah menyuruh pergi.


“Saya akan bicarakan ini dengan Ibu saya, tapi kalau boleh apa enggak sebaiknya dibicarakan secara baik-baik dulu Pak."


"Bawa Ibumu ke sini, setelah itu baru diputuskan mau di bawa ke ranah hukum atau enggak.’


"Baik Pak, besok saya bawa Ibu ke sini, kalau gitu saya pamit dulu.”


Hari itu aku berniat mengutarakan semua yang terjadi, tapi lbu dan Mia tak ada di rumah, entah ke mana mereka, hingga azan maghrib berkumandang, masih belum pulang juga, aku sengaja tak mau mengabari mereka kalau aku pulang lebih awal, sesuai yang diucapkan Ardi tempo hari.


"Gak ada salahnya curiga sama Ibu dan adik lu, jagan karena mereka keluarga, lu mengabaikan perasaan wanita yang udah susah payah ngelahirin darah daging lu sendiri.’


"Lu paham kan selama ini gue peduli banget sama Ibu, gue gak percaya mereka bisa setega itu, apalagi sampai ke ranah mencelakai Dilra."


"Lu yang salah, dari awal selalu menolelir kesalahan kecil Ibu lu, harusnya bisa adil antara Ibu sama Istri, jangan berat sebelah, Dilra itu anak orang Bro, gila namanya kalau lu menikahi dia tapi enggak pernah kasih nafkah," ucap Ardi.


"Gue pikir awalnya baik-baik aja Di."


"Zalim lu, hak-hak istri lu enggak ditunaikan, ujungnya tetap saja Tuhan enggak bakal ridho, lihat Dilra sekarang, kenanya ke mental, sekarang pilihan lu cuma dua, lepaskan dia atau lu mulai tegas sama Ibu lu, bakti sih bakti, tapi kagak begitu juga konsepnya, memang siapa yang mengajarkan rumah tangga keuangan dipegang orang lain? Sesat lu! Emosi gue!"


Aku masih diam, merenungi diri yang nyatanya terlalu egois, terlena dengan dalih Dilra yang tak pernah menuntut lebih.


"Sekali-kali coba deh, awasin Ibu lu diem-diem, kalau masih gak percaya sama omongan orang, atau gak pasang CCTV sekalian, biar tahu itu kenapa Dilra sampai bilang Ibu lu yang bikin dia keguguran,’ katanya setelah itu Ardi menyarankan supaya cepat menyusul Dilra ke rumahnya.


Untuk itu aku mulai memasang CCTV di tempat-tempat yang biasa Ibu lewati, semoga Ibu dan Mia tak menyadari kehadiran kamera yang kupasang di beberapa tempat, tapi ke mana mereka sampai Selarut ini belum pulang juga, rumah dibiarkan kotor dan berdebu, halaman depan berserakan dedaunan, bekas piring kotor di wastafel juga masih berantakan.


Tapi sepertinya ini piring baru, jangan-jangan Ibu dan Mia juga tak puasa


Astaghfirrullahaladzim.


Jadi yang dikatakan Dilra waktu itu juga benar, soal [bu dan Mia yang hanya pura-pura puasa, aku tak percaya saat itu, malah balik menuduh Dilra yang memfitnah, parahnya lagi Ibu dan Mia juga tahu, mereka menguping pembicaraan kami.


"Jadi kamu fitnah Ibu Dil?” kata ibu, bahkan Mia dan Ibu sampai masuk ke kamar kami.


“Aku gak fitnah Ibu, Mas Galang yang nanya, aku cuma jawab,” jawab Dilra.


"Kamu lebih percaya istrimu dari pada Ibu Lang, hiks hiks hiks," Ibu malah menangis.


Dan bodohnya aku malah menyuruh Dilra meminta maaf, pada orang yang justru memfitnahnya balik. Dilra sempat diam saat itu, menatap Ibu Mia dan aku bergantian.


"Aku gak fitnah Mas,’ lirihnya.


"Salah aku apa sih, sampai Mbak tega fitnah kita berdua, Mbak marah karena kita selalu menyusahkan Mas Galang, kita jelas puasa Mbak juga tahu itu, hiks hiks hiks."


"Aku gak mau minta maaf Mas,” kata Dilra saat itu, untuk pertama kalinya juga dia menolak, saat aku suruh, malah meninggalkan kami di kamar.


"Dilra!" aku sengaja mengeraskan suara, lalu mengejarnya sampai ke dapur.


"Aku gak salah, jangan paksa aku buat minta maaf,’ kata Dilra saat ini kami tengah berada di dapur.


"Dil, yang kamu fitnah itu Ibu dan adikku, apa kamu gak merasa bersalah sama sekali.”


"Demi Allah aku ngelihat dengan mata kepala aku sendiri mereka makan dan minum."


"Dil."

__ADS_1


"Mas cuma karena mereka keluarga kamu, Mas gak peduli kebenarannya seperti apa, apa untungnya aku bohong Mas."


"Dil Mas cuma mau kamu minta maaf."


"AKU GAK SALAH! SUDAH KUBILANG AKU GAK SALAH!!!" Dilra malah berteriak, membuatku terkejut.


Setelahnya bahunya malah berguncang hebat.


"Tinggalkan aku sendiri Mas;’ lirihnya diiringi ari mata yang mengalir melewati pipinya.


Aku masih diam dalam kebingungan, mana yang kupercaya, sedang Dilra bahkan bersumpah atas nama Tuhan.


"Pergi, pergi, kenapa masih di sini, sana pergi!" lirih Dilra sembari menatapku dengan wajah basah, bibirnya bergetar seolah yang kulakukan, begitu menyayatnya.


Satu kesalahan besar lagi yang kulakukan padanya, aku malah pergi menemui ibu, meninggalkan Dilra yang terpuruk sendirian di dapur kami.


Jam menunjukan pukul 22:30 terdengar deru kendaraan mobil yang berhenti tepat di depan rumah, aku naik ke atas kamar, sengaja sOupaya, seolah-olah aku belum pulang ke rumah, lalu mengawasi mereka lewat CCTV di ponselku.


Tak ada yang mencurigakan, hanya, kenapa Ibu jadi senang sekali belanja, padahal kemarin baru saja membeli pakaiain tapi sekarang tas-tas belanjaannya malah dua kali lipat lebih banyak dari kemarin.


Astaghfirrullahaladzim, kenapa Tuhan baru membuka semua sikap mereka saat Dilra tak lagi di sisiku, tak pernah ada yang percaya padanya di rumah ini, bahkan aku yang seharusnya melindungi malah yang paling banyak menghadirkan duka.


Ibu dan Mia antusias mengobrol sembari menjembrengkan beberapa pakaian, tawa mereka bahkan sampai terdengar ke atas, hampir 10 menit, ruang tamu sudah berserakan pakaian di mana-mana, dan tahu apa yang setelahnya terjadi, mereka lantas pergi begitu saja, masuk ke kamarnya masing-masing tanpa berniat membereskan pakaian yang berserakan di kursi tamu.


"Enak sih Bu gak ada dia, tapi males Jah aku yang ngerjain semuanya, ucap Mia.


"Udah biarin aja besok kita beresin, gak ada Masmu juga,’ kata Ibu santai, sebelum akhirnya sosok mereka menghilang dari balik pintu.


Tak terbayang lelahnya Dilra menghadapi tabiat buruk keluargaku, bukan hanya fisiknya bahkan jiwanya pun ikut tersiksa. Aku mulai turun ke bawah memunguti pakaian yang berserakan, memasukkan kembali ke paper bag lalu menyusun dengan rapih di atas meja,


sekarang aku bergerak ke arah dapur mulai mencuci satu persatu piring kotor di wastafel.


"Dil maafkan Mas, maafkan Mas Dil, bagaimana keadaanmu sudah membaikkah?"


Sebuah pesan kukirimkan ke nomornya, seperti biasa tak ada jawaban sama sekali.


"Kamu pulang kapan Lang?”


Aku masih diam menatap Ibu, yang terlihat gugup. "Kok gak bilang sama Ibu, kamu..." Ibu malah melihat-lihat ke dalam kamarku seperti tengah mencari seseorang.


"Kamu sama Dilra?" tanya Ibu kemudian.


"Sendiri.”


"Oh hmm terus yang beresin semuanya siapa? Kamu?"


"ya"


"Harusnya biar Ibu aja yang beresin, maaf ya Lang semalem Ibu ngantuk."


"Gak enakkan Bu, gak ada Dilra?" tanyaku.


"Kamu kok ngomongnya begitu sama Ibu?"


"Gak apa-apa, biasanya kan Dilra yang beresin.’


Ibu terdiam menunduk, sekarang Mia juga menghampiri kami, dengan wajah panik


"Ikut aku yu? Ke rumah Dilra."


"Mau ngapain?" kata Ibu.


"Silaturahmi aja."


"Nanti aja deh sekalian lebaran."

__ADS_1


"Kemarin katanya Ibu mau minta maaf langsung, mau ikut sama aku segala, kenapa sekarang gak mau?”


"Bukan begitu Lang, ibu cuma lagi gak enak badan.’


"Ya sudah kita periksa sekarang, biar sore bisa langsung ke sana.”


“Enggak usah, ibu istirahat aja deh." Sekarang Ibu malah pergi disusul Mia.


"Aku tunggu di bawah Bu, kita ke sana sekarang."


"Tapi Ibu lagi gak enak badan Lang, besok aja ya."


"Semalam Ibu pulang dari belanja baik-baik aja kenapa malah sekarang sakit?”


Ibu tampak menarik nafas dalam-dalam, aku tersenyum melihatnya tapi justru membuat Ibu makin terlihat gugup.


Apa sih yang sudah Ibu lakukan ke Dilra.


Aku sengaja tak memberi tahu soal Bapak yang ingin membawa masalah ini ke ranah hukum, bukan tak mungkin Ibu akan terus menghindar.


Hingga kami tiba di rumah Dilra, Ibu tampak ragu untuk turun.


"Ayo Bu, memangnya mau di dalem aja?"


Meski pelan akhirnya kami sampai tepat di depan pintu, kami disambut ramah oleh (bu mertuaku, tapi tidak dengan Bapak, wajahnya datar tanpa ekspresi, membuat Ibu sedikit menciut.


Kalau tidak salah kenapa harus takut, melihat sikap ibu yang begini, malah membuatku kian yakin, kalau ada sesuatu yang disembunyikan.


"Langsung aja sebenarnya apa yang Ibu lakukan sama anak saya, sampai dia keguguran dulu?”


"Saya, kenapa saya disalahkan Pak, saya tidak tahu apa-apa.’


"Bagaimana bisa gak tahu apa apa, ibu tinggal serumah dengan anak saya!" Bapak sedikit meninggikan suaranya membuat ibu terkesiap, dia meliriku sekilas, aku tahu dia ketakutan bukan main, keringat dingin bahkan terlihat membasahi dahinya.


"Jelaskan saja Bu.’


"Saya gak ngelakuin apa apa Dilra yang ceroboh, dia jatuh dari motor kan?" Ibu malah meminta pembenaran.


"Mana saya tahu anda yang tinggal di rumah! Kenapa anda biarkan anak saya naik motor? Sudah tahu kan Dilra pernah keguguran, apa tidak bisa anda merawatnya, anda sendiri yang tidak mengizinkan Dilra tinggal bersama saya saat hamil yang ke dua kenapa justru anda tidak merawatnya dengan benar?”


"Kamu Lang kalau gak sanggup bayar ART sudah saya tawarkan, biar saya yang bayar, tapi Anda malah datang dan bilang bersedia membantu Dilra!”


"Saya minta maaf Pak, salah saya yang tidak bisa menjaga Dilra dengan baik, maafkan saya.’


"Alah maaf apa? Memang bisa cucuku hidup lagi, lihat istrimu sekarang, apa peranmu sebagai suami, orang salah kamu bela! Anakku kau buat menderita sampai sebegitunya heeuhh!”


Bapak malah menarik bajuku sekarang keadaan jadi kacau.


"Bapak udah pak." Ibu mertua tampak mengusap ngusap lengan Bapak.


Bugh.


Sayang itu tak berarti apa pun pukulan sudah lebih dulu mendarat di wajahku.


"Udah Bu telepon polisi sekarang, biar saja kalau orang ini enggak mau mengaku, kenapa juga harus di tahan-tahan.”


Dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya Ibu malah menangis terisak, tubuhnya luruh ke lantai, hampir saja tertunduk di depan Bapak mertuaku.


Semua orang tampak diam, tak terkecuali Bapak yang malah mencebik.


"Saya minta maaf Pak, saya yang salah, tapi saya mohon jangan penjarakan saya, hiks hiks." Sekarang Ibu malah membungkuk di depan Bapak mertua.


Seumur hidup baru melihat ibu merendahkan harga dirinya sampai sebegitunya.


"Bangun Bu.’

__ADS_1


"Diam kamu Lang, Ibu enggak mau dipenjara hiks hiks.


bersambung...


__ADS_2