
“Mas ambilkan makan, ya?"
"Aku belum masak.”
"Ya sudah kita makan di luar.” Dia menggeleng.
"Kenapa? Enggak baik menunda buat buka puasa.’
“Mas saja yang makan di luar aku buka di rumah.’
"Katanya enggak masak, mau makan apa?"
"Mie instan banyak di dapur, aku bisa makan itu."
“Sayang, dengar, mie instan enggak baik buat kesehatan apalagi buat Ibu menyusui, butuh banyak nutrisi.” Dilra menggeleng lagi.
"Kenapa? Biar aku di rumah saja."
"Ya sudah kita order go food saja bagaimana?"
“Buat Mas Saja, aku enggak usah."
"Mana bisa begitu sayang, sudah kalau enggak mau biar Mas pesankan sekarang. Kita batalkan dulu puasanya, Mas ambilkan minum sebentar ya."
“Terima kasih, Mas." Kuusap rambutnya pelan, lalu pergi ke bawah mengambil air. Aku berpikir dia akan menunggu di ranjang sampai aku datang lagi dengan air, nyatanya Dilra malah memunguti barang-barang yang bercecer di lantai.
“Minum dulu, biar Mas yang beresin."
"Enggak usah, sebentar lagi juga beres."
“Sudah biar Mas saja." Kugenggam lengannya menghentikan aktivitasnya yang terus saja Memungut barang-barang di lantai. Dilra menatapku, mungkin dia juga merasa aneh, aku dan Dilra tak pernah sedekat ini sebelumnya sudah lama sekali, apalagi sejak ada Dion. Dia terlalu memagari dirinya dariku.
"Dil, minum." Akhirnya dia mau minum juga.
“Bentar lagi go food sampai, turun ke bawah yuk."
“Tapi ini?" Dia kembali menunjuk ke bawah.
"Kamu tunggu di bawah saja, nanti mas menyusul sekalian buang ini.” Dilra tampak gugup, seperti tak yakin aku akan melakukannya. Dia terus menatapku, tapi akhirnya setelah keluar pintu, bisa kudengar derap langkahnya makin menjauh.
"Sudah datang Mas.” Makanan sudah disiapkan di bawah, lengkap dengan minuman dingin yang dia buat sendiri. Kami makan dalam diam sampai akhirnya pintu rumah kami di buka dari luar, tampak sekali khawatir di wajah istriku. Dia mempercepat makannya dan setelah melihat Ibu dan Mia yang datang, raut khawatir bercampur kesal itu semakin nyata.
__ADS_1
“Loh baru makan kamu, Lang?"
"lya Bu, tadi Dilra enggak masak, makanya beli di luar."
“Oh, beli dua saja?"
"lya, memangnya Ibu belum makan?"
“Udah sih, tapi ‘kan namanya di rumah tinggal sama-sama."
"Nanti Galang pesankan lagi buat Ibu sama Mia, tadi buru-buru jadi enggak sempat berfikir ke sana.” Ibu melemparkan tatapan tak suka padaku terutama pada Dilra, meski sebelumnya dia menolak, tapi tetap kupesankan. Setelah Dilra menarik ujung bajuku, lalu berbisik pelan, meminta supaya memesankan untuk mereka juga. Ibu langsung masuk kamar, sementara Dilra, meski piring makannya masih banyak dia seperti kehilangan selera. Dia hanya minum banyak air dingin, katanya sudah kenyang. Mana bisa begitu, aku saja belum kenyang sama sekali. Setelah makanan datang, aku mengantarnya ke kamar Ibu, dan saat aku kembali ke meja makan Dilra sudah tak ada lagi di sana, mungkin sudah ke kamar. Benar saja, dia sudah terbaring di ranjang.
"Bener sudah kenyang?" Dilra hanya mengangguk, katanya dia ingin tidur sebentar. Ya sudah niatku ingin menanyakan apa yang terjadi padanya tadi sore urung lagi, Dilra hanya turun ke bawah untuk salat. Sampai sahur dia baru bangun lagi. Memasak makanan seperti biasa, lalu makan sahur dalam diam. Sementara itu, [bu dan Mia terus saja bercerita keseruan mereka selama buka bersama, sesekali mereka juga tertawa, tapi Dilra begitu tak peduli. Ekspresi datarnya sungguh membuatku jadi tak nyaman, setelah makan pun dia masih diam. Ibu dan Mia sudah kembali ke kamar sedang istriku sedang membersihkan piring kotor bekas kami makan.
"Dil, tadi sore kenapa?" Aku sudah tak tahan akhirnya kuputuskan untuk menanyakan hal itu di dapur setelah memastikan kami hanya berdua di sini. Dilra tampak menengok ke belakang ke kanan dan ke kiri lalu baru menatap wajahku.
"Enggak apa-apa.’
"Dil, Ibu enggak pernah kasih kamu uang ya?" Dilra malah melotot ke arahku, dia tampak terkejutkah?
"Enggak apa-apa, jujur saja."
"Dil, jadi benar begitu?"
"lya.
"Kenapa kamu enggak pernah bilang, ‘kan kamu bisa ngomong !bu kalau butuh, masa iya Ibu enggak kasih?"
"Minta duit ke Ibu sama saja cari penyakit, sudahlah enggak usah ikuti aku terus." Dia marah lagi, padahal aku hanya bertanya karena ingin memastikan apa yang terjadi sebenarnya. Sudahlah aku menyerah, kuputuskan untuk mendekati Ibu saja, biar aku tahu masalah ini dari dua sisi.
"Bu, Galang mau ngomong serius?”
"Ya, mau ngomong apa?"
"Ibu enggak pernah kasih istriku uang?” Ibu tampak terkejut, tapi setelahnya wajahnya tampak kesal.
"Istri kamu mengadu?"
"Dilra enggak pernah ngomong apa-apa, aku cuma penasaran Saja, benar begitu Bu?"
"Kamu kan tahu sendiri Dilra itu boros, itu lihat semenjak keuangan di pegang Ibu, usaha kamu makin maju kan?"
__ADS_1
"Bu, Dilra itu istriku, dia pasti butuh uang. Kenapa Ibu enggak kasih dia, Ibu tahu dia sampai pinjam ke Bank."
"Jadi kamu menyalahkan tbu.” Tiba-tiba saja Ibu menangis.
"Semenjak nikah kamu perhitungan sama Ibu, niat Ibu baik ingin kamu jadi orang sukses, tapi kalau ujungnya kamu menyalahkan, Ibu mending pulang saja-"
"Bukan begitu Bu, Galang sudah nikah. Waktu itu Galang pikir semuanya baik-baik saja, karena Dilra juga enggak pernah ngomong apa pun, tapi sekarang kenapa Dilra bisa sampai pinjam uang.”
"Kamu menyalahkan Ibu?" Ibu bertanya dengan wajah basah, dia menangis tergugu.
"Enggak seperti itu Bu." Saking kerasnya suara tangisan Ibu, Mia menghampiri kami.
"Ibu kenapa, Bang?” Tangis ibu makin keras, sekarang wanita itu berjalan keluar, menaiki tangga lalu menuju kamar kami. Ya Tuhan, kenapa jadi begini. Ibu langsung masuk begitu saja.
"Kamu ya Dil, kalau enggak suka sama Ibu bilang kenapa malah mengadu yang enggak-enggak sama Galang,’ sentak Ibu dari arah pintu kamar kami. Dilra menatap bingung, tetapi setelahnya dia seperti mengambil nafas panjang, lalu bangkit dari ranjangnya.
"Ibu kenapa?" tanya Dilra heran.
"Kamu yang kenapa? Kalau kamu butuh uang kan bisa bilang, kenapa pakai pinjam Bank segala?"
"Aku pinjam karena butuh, Bu."
"Apa susahnya bilang sama Ibu, kamu sengaja mau merusak hubungan Ibu sama Galang? Biar Galang menyalahkan Ibu? Terus mengusir Ibu dari rumah, hiks hiks hiks."
"Maafkan Dilra Bu, Dilra salah karena enggak berpikir dulu sebelum ambil keputusan, ke depannya Dilra enggak bakal pinjam lagi,’ kata Dilra lembut, berbeda dengan Ibu yang berapi-api. Ibu terus saja terisak, meski Dilra sudah mencium lengannya,
meminta maaf dengan sepenuh hati. Seakan itu masih saja belum cukup, Ibu masih menyalahkan Dilra.
"Mia bawa Ibu ke kamar ya, Abang perlu bicara sama Dilra." Pintu tertutup sekarang hanya tinggal kami berdua di kamar.
"Dil." Bukannya menjawab Dilra malah luruh ke lantai, menutup wajahnya dengan telapak tangan, lalu dia menangis, menangis begitu pilu. Aku mendekat ke arahnya, duduk persis di samping Dilra, menunggunya sampai mau bicara lagi, aku mulai hafal dengan kebiasaannya, dia bukan orang yang mudah di ajak bicara saat hatinya sedang kacau.
Aku menepuk pundaknya pelan sembari mendekatkan tubuhnya ke dadaku.
"Mari berpisah Mas." Kalimat itu, ya kalimat itu, berhasil membuat air mata yang tertahan sejak tadi, berhasil meluncur begitu saja.
"Mana bisa begitu Dil, Kamu menyerah?"
"Ya, rumah tangga itu seharusnya tentang kita, biar Dion ikut aku, dan kamu, ya kamu bisa fokus pada Ibu, aku ingin hidup normal sebagai manusia bebas, bukan sebagai istri yang harus tunduk pada aturan yang tak masuk akal.” Dilra bangkit, menuju lemari pakaian, dia mulai memilah baju meletakannya di kasur, lalu tak lama memindahkan ke koper besar.
bersambung...
__ADS_1