Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Luka Turun Temurun


__ADS_3

Ini tentang Iuka turun temurun, lingkungan yang mengubah, kemudian membentuk kepribadian seseorang, kesalahan yang dianggap wajar, kemudian diwariskan pada orang-orang baru yang tak ada kaitannya sama sekali, ketika mereka harus menjadi korban keegoisan diri.


Kisah ini tentang pembalasan luka. Tak ada salahnya meluapkan nestapa yang salah jika luka itu dilepaskan dengan amarah yang menggebu, hingga tanpa sadar, kita telah menjelma menjadi sosok yang sama. Sosok yang paling kita benci.


~


Hari itu, aku mendengar kabar tentang wanita itu, wanita yang selama ini jadi sumber masalah dari rumah tangga kami. Wanita yang membawa sejuta luka dan kepedihan, tak ada yang salah dariku tapi tak pernah dibenarkan. Aku pikir semua hanya tentang waktu dan semuanya berubah, seiring kami tinggal bersama nyatanya hatinya lebih keras dari batu, tak luluh meski terus dikucuri kebaikan kebaikan. Aku telah kehilangan semuanya, semua yang berharga dalam hidup, anak, pasangan, juga orang tua, kehilangan terasa begitu akrab dengan diri, menyapa berkali-kali, merenggut paksa semua suka, kemudian lagi lagi meninggalkan lara di sini, di hatiku.


"Mas, ada aku di sini, aku susul kamu ya?"


"Jangan! jangan menambah bebanku Dil, jaga dirimu baik baik, jaga calon anak kita Dion juga, demi Mas, bisa kan.”


"Dengar, buat Mas kalian itu segalanya keluarga Mas juga, enggak ada yang lebih penting semuanya sama berarti buat Mas, tapi kalau semuanya minta diperhatikan, Mas menyerah Dil, berapa kali Mas terjebak dalam posisi ini, ketika Mas harus memilih kamu atau Ibu."


"Aku tak pernah memaksa kamu untuk memilihku Mas, lakukan saja sesuai kehendak hatimu, aku enggak apa apa.” Sekali haruskah aku kehilangannya dengan satu alasan yang sama?


"Jangan katakan itu Dil, apa pun yang terjadi pernikahan kita enggak bisa dikorbankan."


"Mas menangis?" Terdengar sedikit isaknya dari seberang telepon.


"Enggak sayang.” Sudah kuduga dia tak akan mengaku.


“Pulang Mas, ada aku di sini, biar ibu sama Mia dulu, kamu bisa balik lagi setelah pikiranmu tenang.’


"lya sekitar seminggu lagi Mas pulang Dil, kita masih mau coba buat bujuk Ibu."


"Aku tunggu sayang."


"Terima kasih Dil."


"Jaga kesehatan ya Mas, makan yang benar, pasti belum makan.”


"lya Sayang, Mas cari makan habis ini.” Panggilan ditutup, setelahnya dadaku kembali sakit, sudah lama sekali aku tak lagi merasakan nyeri seperti ini, perasaan ini, seperti sebuah penolakan dalam diri, ketika suatu hal tak berjalan sesuai keinginanku. Entah kenapa rasanya sulit sekali mengendalikan diri. Entah sejak kapan? Aku tak suka ditentang, tak suka dianggap salah, perasaan seperti ingin berontak selalu muncul. Seperti hari ini, saat aku berada dalam posisi serba salah, rasa tak nyaman itu muncul kembali.


“Bunda kenapa?" tanya Dion, yang sedari terus saja memandangi, aku tak menjawab, hanya menatap sejenak pada kedua bola mata hitamnya yang cerah, dua bola mata yang selalu menjadi obat penenang saat jiwaku sedang tak baik-baik saja.


"Dada bunda sakit?” tatapan polosnya kembali menelisik, kali ini lengan mungilnya berusaha memegangi telapak tanganku, yang berada tepat di atas dada, kami sedang di atas tempat tidur, hari sudah larut malam, tapi Dion, belum juga terlelap. Kujelaskan padanya kalau aku baik-baik saja, hanya karena ingin anak kecil itu tak khawatir, dia begitu menyayangiku, sama seperti Papahnya, dia selalu saja tak bisa tenang ketika melihatku kesakitan barang sedikit.


Dunia ini lucu, 5 tahun lamanya, dulu bahagia seakan terus menjauh dariku, sejak saat menikah dengannya aku bahkan lupa, bagaimana rasanya bahagia, tapi dengan mudahnya Tuhan mengubah segalanya, mengubah semua yang melekat pada laki-laki itu, dia kembali hadir, dengan sosok yang jauh berbeda, hangat dan begitu perhatian. Malam ini susah sekali untuk terpejam, setelah memastikan Dion terlelap aku berjalan mendekati jendela, sejenak pandanganku teralihkan pada gemerlap bintang, juga purnama bulan, di atas sana.


Aku pikir akan lebih indah jika melihatnya langsung dari luar, kau tahu ketika mendongakkan wajah, menatap langit, sejenak mampu menghilangkan lara. Menikmati indahnya ciptaan Tuhan, lalu setelahnya kita seperti diberi kekuatan baru, agar jauh lebih kuat. Keesokan paginya, aku terlambat bangun, hampir saja terlewat salat subuh kalau saja tak dibangunkan Dion. Ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari Mas Galang, mungkin karena efek obat tidur semalam tidurku jadi begitu nyenyak. Mas Galang lantas bertanya dengan nada khawatir, aku baik-baik saja pun dia masih saja berkata kalau aku berbohong, tak mungkin rasanya Mas Galang tahu dengan detail kejadian semalam, apakah ada yang mengadukan hal itu padanya.


“Aku yang telepon Bun.” Anak kecil itu tertunduk ketakutan di pojok kamar.


“Bunda enggak akan marah sayang, kenapa harus takut begitu, sini, dekat ke Bunda.” Dion lantas mendekat, dia mulai bercerita tentang perjanjiannya dengan Mas Galang, kalau setiap hari Dion wajib melaporkan apa saja yang terjadi padaku, jadi mereka berdua bekerja sama? Ya Tuhan.


“Bunda baik-baik saja sayang, sini peluk Bunda.” Meski awalnya ragu, Dion lantas memeluknya dengan erat, apa lagi saat tahu Papanya akan kembali, dia sampai berjingkrak kegirangan. Malam pun tiba seharusnya pukul 4 sore Mas Galang sudah datang, tapi kenapa sudah mendekati magrib belum juga kelihatan tanda-tanda kedatangannya. Padahal, kami telah menyiapkan makanan spesial demi menyambut kedatangannya, sayang makanan yang sengaja disajikan hangat-hangat malah kembali dingin. Aku terus mencoba menghubunginya sayangnya tak kunjung diangkai, aku jadi semakin tak tenang, tepat pukul 8 malam ponselku berdering, panggilan dari Hiro.


“Dil, kamu bisa ke Jalan Mawar enggak?"


"Ke Jalan Mawar? Mau apa?"


“Nanti saya ceritakan, cepat ya Dil?”


"Itu kan sudah dekat Mas, motormu mogok atau bagaimana?"


“Dil, please."

__ADS_1


“Ya sudah nanti aku izin suamiku dulu ya."


"Enggak usah ini aku lagi sama suamimu“"


"Maksudnya.'


"Kutunggu Dil, cepat!" Sedang apa Hiro dengan Mas Galang, bukankah mereka tak saling suka. Ya Tuhan apa pun alasannya semoga hal buruk tidak terjadi pada mereka. Aku terus melakukan mobil dengan kecepatan maksimal mengingat Hiro terus saja menghubungi dengan nada sedikit memaksa, hingga sampai ke titik lokasi yang diberikan Hiro, tubuhku bergetar hebat. Hiro memukul-mukul kaca mobil, menyuruhku membukanya, sedang aku, tubuh ini rasanya bahkan tak bisa digerakkan, pemandangan di depanku, darah yang tercecer di mana-mana, mobil yang penyok di bagian depan semua itu.


Astaghfirrullahaladzim.


“DIL BUKA" Hiro terus saja berteriak sembari menggedor kaca mobilku, tapi saat ke dua mata kami bertemu, entah kenapa Hiro malah menangkupkan kedua telapak tangan, memohon padaku, agar membukanya, sekarang sudah tak ada teriakan, dan itu membuatku berani membuka pintu.


“Dilra oke, tenang ya! Ayo ikut aku.”


“Mana Mas Galang?” Mata Hiro lantas menunjuk ke bawah.


"Mas, kenapa begini, Mas, sayang bangun." Tubuh yang berlumur darah itu, tak kunjung bergerak meski sudah berkali-kali mengundangnya.


“Mas jangan bercanda, kumohon bangun, ayo pulang.”


"Dil yang kuat ya.”


“Mas Galang kenapa Mas, kenapa dia diam saja."


“Mas Galang sudah enggak ada."


"Gak mungkin Mas, enggak mungkin dia meninggalkan aku, dia udah janji buat menemani aku, Ya Allah Mas, bangun!" Aku terus memeluk tubuhnya yang terasa dingin, hanya bagian kepalanya yang masih hangat, darah segar mengucur dari kepalanya, wajahnya bahkan telah memerah bercampur darah, yang tak henti keluar, meski aku telah menyekanya berkali-kali.


"Sakit ya? Tahan ya sayang, ayo kita ke rumah sakit, biar dokter obati kamu Mas, kamu enggak bisa meninggalkan aku seperti ini, anak anak kita sama siapa Mas.”


“LEPASIN!"


"Dil Galang sudah enggak ada kamu yang ikhlas ya.’


“Enggak ada bagaimana, ini di depanku! Kenapa bilang enggak ada, dia lagi tidur, kamu enggak lihat.”


"Dilra, sudah ya, Pak tolong ini di bawa saja, enggak apa kapan ambil paksa saja.”


"KAMU! HENTIKAN JANGAN PISAHKAN AKU SAMA MAS GALANG, HIKS HIKS MAU DI BAWA KE MANA SUAMIKU, MAS HIRO TOLONG KEJAR MEREKA MAS, MEREKA MAU MEMBAWA SUAMIKU, MAS KENAPA KAMU DIEM AJA’


"Dil, mau ke mana?"


“Aku mau kejar mobil itu Mas.”


"Biar Mas yang menyetir ya?"


“Enggak, nanti Mas Galang marah, dia enggak suka aku dekat-dekat sama kamu."


"Aku sudah minta izin kok tadi, ayo biar aku antar ya.” Aku tak suka Hiro, sungguh kali ini dia sangat tidak sopan, tak hanya menyuruh orang-orang membawa Mas Galang yang tengah tertidur di pangkuan dengan paksa, sekarang dia malah mengambil kunci dalam genggaman, lalu tanpa peduli persetujuan dariku lantas dia memasuki mobil, kalau saja situasinya tak genting, enggan rasanya semobil dengan Hiro.


Kami terus berjalan dengan kecepatan maksimal, mengejar ambulans yang melesat dengan cepat, kami tak banyak bicara hanya fokus pada mobil di depan.


“Dil, kamu percaya Tuhan kan, maka berdoalah, jangan seperti ini Dil, saya tahu ini berat buat kamu, tapi kamu juga harus bisa terima ini, Galang sudah enggak ada.” Sungguh aku benar benar tak ingin mendengar apa pun yang keluar dari mulutnya, aku membencinya setengah mati sekarang, dia terus mengatakan kalau Mas Galang sudah meninggal.


"Bisa enggak kamu DIEM!" Hiro hanya menatapku sekilas, lalu kembali fokus menyetir, meski begitu, aku tak henti mengucap doa dalam diam. Hingga mobil menepi di halaman rumah sakit, aku langsung turun, dan berjalan mengikuti Mas Galang yang sudah di atas ranjang, tubuhnya di dorong oleh beberapa tenaga medis. Namun, saat itu kepalaku sakit sekali, dadaku sesak juga penglihatan yang tiba-tiba saja gelap, aku tak bisa melihat apa pun, bahkan mendengar Semuanya gelap dan hening, tapi satu yang masih bisa kurasakan, seseorang menarik dari belakang. Entah siapa, aku coba menepisnya sembari meraba tembok di sampingku, berusaha terus berjalan meski, tak tahu harus berjalan ke arah mana. Bisa kurasakan tangan kekar itu kembali menariknya, meski aku menepis, dia tak peduli, hingga telingaku berdengung begitu kerasnya, aku tak tahan lagi, telingaku sakit semuanya sakit, aku kenapa ya Tuhan.


~

__ADS_1


Aku berusaha membuka mata pelan, sembari menyesuaikan cahaya lampu yang menyeruak masuk tanpa permisi, rupanya aku berada di ruangan rawat. Aku ingin pergi menyusul Mas Galang, tapi tak ada siapa pun di sini, tubuhku terlalu lemah, untuk bangun pun rasanya sulit sekali. Kutekan tombol alarm yang berada tak jauh dari ranjang. Seketika itu juga perawat datang, dia langsung memeriksa.


"Ibu lihat saya?"


"lya saya lihat, saya juga dengar.” Lantas perawat itu memeriksa mata dan telingaku, katanya semuanya baik dan normal, hanya tensiku yang rendah, dia menyarankan agar aku mau makan dan beristirahat.


"Saya enggak bisa di sini Sus, tolong antar saya ketemu suami saya, kasihan dia pasti kesakitan.”


"Suami Ibu...”


"Sus, biar saya saja yang menemani.’


"Oh iya Pak,” ucap perawat itu. Aku masih belum melihat ke arah laki laki yang tiba tiba saja masuk ke ruanganku, sungguh tidak sopan, bagaimana kalau itu membuat Mas Galang cemburu.


"Dil, bagaimana keadaanmu?" katanya lembut. Pelan-pelan aku beralih menatapnya.


"Mas?"


"lya ini aku."


"Mas Galang, ya Allah kamu sudah sehat Mas? Sudah bisa jalan alhamdulillah.” Aku memeluknya begitu erat, akhirnya kamu baik baik saja, Tuhan mendengar doaku, dia mengabulkannya, Mas Galang kembali.


"Dil, jangan begini enggak enak sama yang lain.”


"Kenapa sih Mas, enggak usah malu, kamu kan suamiku.”


"Dil, masih ada perawat !oh, dia melihat kita, Mas enggak enak."


"Biarkan saja, aku bersyukur Mas ternyata kamu selamat, aku benci Hiro, dia bilang kamu sudah enggak ada."


"Dil, istighfar, saya bukan Galang, coba lihat sekali lagi Dil, lihat baik-baik, aku Hiro Dil."


"Jangan bercanda Mas, jelas-jelas ini kamu.” Suster itu kembali mendekat ke arahku.


"Sus tolong panggilan dokter ya," kata Hiro.


“lya Pak.


"Kenapa harus panggil dokter, aku sudah enggak sakit kok, oh atau Mas sakit lagi?" Lagi-lagi Mas Galang menepis, dia terus Saja menghindar tak mau memeluk bahkan bersentuhan pun dia enggan, itu sungguh membuatku sedih dia pasti tak lagi menyukaiku.


"Hey Dil, kamu kok menangis kenapa? Ada yang sakit, tahan dulu ya nanti dokter ke sini."


"Yang sakit itu hatiku Mas, kenapa kamu terus saja menghindar, apa aku menjijikkan buat kamu."


"Ya Allah Dil, enggak begitu, kita bukan mahram bagaimana bisa aku menyentuhnya."


"Eh eh ya Allah kenapa kamu tambah menangis."


"Kita masih suami istri dan kamu bilang bukan mahram, apa kamu mau menalakku lagi Mas?"


"Ya Allah Dilra aku ini Hiro bukan Galang."


"Keluar kamu Mas, aku benci sama kamu!


Aku sedang mengandung anak kita, tapi kamu malah mau menalakku."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2