
"Dil kamu kalau bisa satu bulan jangan mampir ke rumah dulu ya, terus ada baiknya kamu di rumah aja jangan ke mana-mana selama sebulan.’ Sebuah pesan singkat dikirimkan padaku, tumben sekali biasanya Bapak lebih senang menelepon, dan ini, kenapa juga melarang keluar rumah untuk sebulan, jelas itu bukan waktu yang sebentar.
“Loh kenapa memangnya Pak, Dion saja sudah ngomong mau ketemu Eyang."
"Kan lagi pandemi begini, mending di rumah Saja, jangan telepon dulu Bapak lagi ada pekerjaan,’ balas Bapak lagi.
Aneh.
Tak dapat diungkiri, issue pandemi di wilayah kami meningkat drastis, tapi Bapak biasanya tak sepanik ini, ya sudah lah dari pada berdebat akan lebih baik menurut saja. Sebenarnya aku dan Dion sudah bersiap berkunjung, hanya tinggal memesan taxi online lalu pergi. Dion sempat menangis saat kembali masuk ke rumah, beruntung karena masih ASI, hal ini tak terlalu merepotkan, harusnya bulan depan Dion sudah disapih, usianya genap 2 tahun.
Putraku tumbuh dengan baik, tinggi juga berisi, tak seperti dulu, saat kami berada di rumah itu, Dion dan aku, sampai begitu kurus, karena untuk makan saja di jatah. Entah kenapa Ibu Mas Galang begitu membenciku, awalnya aku pikir kami hanya dua orang asing yang butuh penyesuaian, tapi seiring berjalan waktu mulai tersadar kalau kebenciannya kian hati semakin mendarah daging.
Apa lagi saat tahu aku tengah mengandung, raut wajahnya seketika ditekuk, bukankah seharusnya cucu pertama selalu dinanti kehadirannya, tapi putriku Dinda berbeda, di usia kandungannya yang masih 6 bulan, Dinda harus keluar, pemicunya sepele katanya karena seteres yang berlebihan juga kelelahan. Bagaimana tidak setiap kali aku istirahat barang sebentar, Ibu selalu saja berteriak-teriak, ada saja yang dia minta ketika lantai bersih maka dia akan memerintah untuk membersihkan jendela, padahal menurutku jendela tak mesti dibersihkan tiap hari karena letak jendela rumah kami jauh dari jalan raya, jadi seminggu sekali pun tak masalah, tapi Ibu tetap saja mengomel tanpa henti, padahal kalau kulihat tindak tanduk Ibu, dia bukan tipe orang yang resik, buktinya dia terbiasa dengan barang-barang yang berserakan di lantai, bahkan sering saat membeli sesuatu dia langsung masuk kamar, dan tidur bersama barang belanjaannya. Jelas aku melihatnya karena sepertinya Ibu sengaja kerap membuka pintu kamar, setelah dia pulang belanja. Sekali waktu pernah kudengar beliau berkata pada Mia.
"Pintunya buka saja biar dia tahu, siapa yang lebih disayang sama Galang."
Aku hanya menggeleng saat mendengarnya niatku untuk lewat ke depan kamarnya pun harus urung, ada pintu samping rumah yang bisa di akses dari dapur jadi akan lebih baik kalau lewat sana saja. Itu hanya sebagian kecil masalah yang Ibu buat, ada banyak hal besar yang terkadang membuatku hampir frustrasi, seperti saat meminta uang untuk check up karena setelah kuret Ibu malah melontarkan kalimat pedas.
"Kamu itu jadi perempuan bagaimana sih, yang kreatif dikit kek, kayak saya dulu jualan buat tambah penghasilan suami."
"Mas Galang yang enggak mengizinkan Bu."
"Si Galang tuh ya memang bodoh memilih istri, sudah jaga anaknya saja enggak bisa sampai keguguran,’ katanya waktu itu, seumur hidup tak pernah terpikirkan akan bertemu wanita yang tak berperasaan seperti itu. Tanpa sadar mataku malah berembun tiap kali bayangan-bayangan itu terlintas dalam benak, seolah kejadian itu kembali terulang, jejak nyerinya masih terasa menyesakkan sanubari. Setahun berlalu nyatanya tak ada yang berubah, luka ini tetap lah sama, malah kurasa bertambah sakit setiap kali bayangan-bayangan itu muncul, menyadari bahwa aku hanya sendiri, sendirian tanpa dia di sampingku lagi.
Dia yang namanya tak pernah bisa kuusir di
dalam sini, meski telah berkali-kali menelan kecewa karena sikapnya yang kerap membawa luka.
Apa kabarmu Mas?
Sudahkah ada penggantiku?
Kenapa kisah cinta kita harus berakhir dengan cara seperti ini, kita masih saling mencintai tapi harus terpisahkan karena keadaan.
Aku mencoba menutup segala akses tentangnya aku pikir dengan itu bisa membantu, agar bisa lebih cepat melupakannya, nyatanya rindu itu malah semakin menggebu.
Diam-diam, akhirnya aku mengawasinya lewat akun baru yang kubuat khusus hanya untuk mengetahui kabar tentangnya. Tak banyak yang dia bagikan di sosial media, hanya saja sesekali dia tetap mengapload fotoku atau foto kami meski tanpa caption. Melihatnya sungguh tak dapat diungkiri ada yang berdenyut di dalam sini, setidaknya di hatinya masih tersemat namaku.
Dalam gelap malam aku sering terjaga, apa salah kalau masih menyimpan rasa ini, masih mendoakannya seperti dulu, tapi berharap kami tak pernah dipertemukan. Di balik layar ponselku foto kami terpampang, perutku yang membuncit karena mengandung Dion baru Saja dia upload 5 menit yang lalu.
Ini sudah pukul 3 dini hari, dia pasti masih terjaga, ada apa Mas, kenapa tak lantas tidur dengan cepat, bukankah perkerjaanmu di awal pekan selalu menumpuk. Selama ini aku mengawasinya dalam diam tak berani sekadar berbagi tombol like apa lagi menyapa, tapi hari ini hasratku mendadak membuncah, apalagi saat dia membuat status baru, dengan menyematkan fotoku di dalamnya.
"Berbahagialah sayang, semoga Allah lancarkan segalanya sampai hari bahagiamu."
__ADS_1
Apa ini.
Hatiku mendadak sakit, Mas Galang bukan tipe laki-laki yang kerap mengumbar kemesraan atau masalah apa pun di sosial media, tapi kali ini, kata-katanya yang tadi.
Haruskah aku menyapanya kali ini.
Kalaupun kulakukan bukankah dia tak tahu kalau aku ini Dilra.
Bismillah.
Dengan tangan gemetar, juga hati yang berdentum-dentum tak berirama, aku mulai mengetikan sesuatu di kolom komentarnya. Sayang nyatanya aku tak seberani itu, lagi-lagi kalimat itu hapus, ketik lagi tapi kuhapus lagi kemudian. Aku ragu juga takut, apa aku pantas ingin tahu, tapi fotoku ada di sana, dan dia pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa Ka?" Hmm hapus Lagi deh.
"Kenapa sama istrinya."
Loh tahu dari mana kalau dia ini istrinya, apa tak terlalu ketahuan ingin tahu nantinya? Oke coba kirim dan lihat responnya, tinggal selangkah lagi agar komentarku muncul, tapi satu persatu komentar baru muncul.
"Sabar ya Mas."
"Yang kuat ya Mas."
"Move on Mas."
Aku jadi ragu untuk mengirim komentarku ke sana, tapi kalau tidak di coba, aku mungkin akan terus hidup dalam rasa penasaran.
Sudahlah kirim saja.
10 menit berlalu Mas Galang belum juga merespon komentar dari kami, hampir satu jam aku terus mengawasi layar ponselku. Sayang Mas Galang hanya membalas komentar dari Mas Ardi, katanya,
"Berisik lu!" Lihatlah dia masih tetap sama, enggan membalas komentar dari perempuan mana pun, meski aku tak lagi di sisinya, teringat saat aku pernah cemburu karena hal itu, entah kenapa aku merasa konyol sekali, aku malah menangis saat mengetahui, dia berbalas komentar dengan teman perempuannya tepat saat kami hendak terlelap di ranjang. Mungkin karena hormon kehamilan perasaanku jadi lebih sensitif,padahal biasanya aku tak pernah secemburu itu, hal ini terjadi saat aku hamil Dinda, putri pertama kami, sayang Allah telah memanggilnya lebih dahulu.
Tapi tiba-tiba notifikasi di ponselku berbunyi, Mas Galang baru saja membalas komentarku.
Apa tidak salah?
"Bukan istri, tapi mantan istri.”
Benar katanya Aku ini mantan istri, sadar Dilra sadar.
"Mbak belum tidur?" balasnya lagi.
Mataku membulat sempurna, sekaligus ada yang berdenyut nyeri di hatiku, apa ini berarti Mas Galang sudah mulai membuka diri. Ini aku Mas, Dilra, perempuan di foto itu, kenapa juga kamu mendoakanku agar berbahagia. Obrolan kami berlanjut sampai adzan subuh berkumandang, sebenarnya dari awal aku sudah berniat untuk tak lagi membalasnya, tapi sekali lagi aku kalah.
__ADS_1
Rindu ini terlalu kuat aku tak tahan lagi, meski dia memanggilku Rere, seperti nama akun facebookku, tapi tak apa setidaknya rindu ini sedikit terobati. Bagai candu, aku seperti sakaw, hasrat untuk menghubunginya lagi dan lagi terus saja menyiksa diri, jikalau tak tertunaikan. Hari demi hari, hingga bulan berlalu, kami semakin sering terlibat dalam obrolan panjang, hingga suatu hari dia meminta fotoku.
Tuhan bagaimana ini?
Aku bingung, harus kukirimkan foto siapa padanya, tak mungkin kalau aku mengaku, aku jelas masih mencintainya seperti dulu, tapi untuk memulai kembali rumah tangga bersamanya hatiku ragu, ketakutan luar biasa terkadang muncul begitu saja. Ketakutan kalau suatu hari aku harus mengandung tapi kembali merasakan kehilangan untuk ke sekian kalinya, aku masih belum siap mengulang kehidupan yang menyakitkan itu lagi. Hampir seminggu kami tak lagi berkirim pesan, meski Mas Galang masih kerap menyapa lewat messenger.
"Aku ingin menemuimu Mbak Rere, aku merasa kamu berbeda, apakah Mbak Rere berkenan?"
Pesannya waktu itu. Hatiku kembali berdetak tak karuan, entah karena senang atau sakit, menyadari kalau Mas Galang mungkin sudah melupakan Dilra, meski sekarang dia tetap memilihku juga, rasanya tetap saja sakit.
"Boleh, tapi sebelumnya bisakah Mas ceritakan tentang status Mas dulu, yang tentang mendoakan mantan istri Mas bahagia, memangnya ada apa dengannya? Setidaknya sebelum kita mengenal lebih jauh, aku ingin memastikan kalau Mas tidak sedang menjalin
hubungan dengan siapa pun?" "Oh itu, mantan Mas menikah 3 bulan yang lalu,’ balasnya cepat.
Ponselku hampir saja terjatuh ke lantai, bagaimana bisa dia bicara demikian aku bahkan masih sendiri hingga kini.
"Mantan Mas yang menikah itu, perempuan yang di foto itu kan?" balasku.
"Ilya Mas cuma pernah menikah sekali, Dilraba Dilmurat nama panjangnya, mungkin Mbak pernah mendengarnya? Dia menetap di Kalimantan juga sama kayak Mbak Rere."
Ya Allah Mas siapa yang memberitahumu kalau aku sudah menikah, aku masih sendiri Mas.
"Mbak soal ajakan buat ketemu bagaimana jadi kan?"
Mas Galang terus saja mengirimkan pesan itu sampai 3 kali.
"Mbak Rere enggak apa-apa kan?"
"Mbak maaf ya bukan maksud saya membuat Mbak Rere sakit hati atau apa, jangan tersinggung ya, lagi pula insyaallah saya sudah move on dari mantan istri saya.”
"Mbak Rere baik-baik aja kan.’
"Mbak Rere enggak apa-apa kan?"
"Mbak maaf ya bukan maksud saya membuat Mbak Rere sakit hati atau apa, jangan tersinggung ya, lagi pula insyaallah saya sudah move on dari mantan istri saya.’
"Mbak Rere baik-baik aja kan.”
Apanya yang baik-baik saja, kau salah Mas, tidak ada yang baik-baik saja di sini, saat mendengarmu berkata telah move on dariku. Sekarang kamu malah melakukan panggilan padaku, bagaimana bisa aku mengangkatnya, aku ini Dilra, mantan istrimu Mas.
Haruskah aku jujur sekarang juga?
bersambung...
__ADS_1