
Tuhan, kenapa Engkau seperti tengah mempermainkan takdir kami. Apa rencana di balik kisah ini, tentang rumah tangga kami, benarkah masih memiliki masa depan?
Kini Dilra harus kembali menelan pil pahit kekecewaan, meski dalam hati aku ingin bersamanya tapi sisi lain hatiku merasa terlalu egois kalau, tetap memaksakan hubungan ini. Aku mengejar wanita itu, sampai ke gerbang utama Pengadilan Agama, ia sempat berhenti sejenak memegangi ujung pagar, bahunya sedikit berguncang.
"Dil."
"Jangan sentuh."
"Mas minta maaf."
"Kalau Mas berniat ingin pisah, kenapa kemarin memohon padaku? Apa Mas anggep ini main-main?"
"Dil kita bisa kembali, setelah kamu sembuh."
"Aku masih waras Mas, aku gak gila.”
"Siapa yang bilang kamu gila, gak ada sayang, Mas cuma pengen lihat kamu baik-baik aja.”
“Apa Mas pikir aku akan baik-baik saja setelah hari ini.”
"Mas harus bagaimana lagi Dil, kamu bilang setiap kali lihat Mas, dada kamu sakit, sekarang kalau kita kembali tinggal dalam satu rumah, kamu akan terus melihat Mas, setiap waktu, mana tega Mas melihatmu terus kesakitan seumur hidup."
"Cukup! Hiks hiks hiks.”
"Dilra bagaimana mediasinya berjalan lancar?" tanya Bapak.
Bapak dan Ibu mertua baru saja tiba, melihat kami berseteru seketika mereka merengkuh Dilra yang terisak.
"Aku mau pulang Pak."
"Loh kenapa lagi Lang?" tanya Bapak melempar tatapan heran.
"Dia sudah menalakku.”
Sejenak Bapak terdiam, wajahnya menatap dengan mata membulat sempurna, keterkejutan bercampur amarah yang membuncah jelas tergambar dalam sorot matanya.
Rahangnya perlahan mengeras, juga telapak tangan yang mengepal erat, seakan bersiap untuk melayangkan pukulan kapan saja. Ibu yang menyadari perubahan emosi Bapak, lengannya dengan cepat menggenggam buku-buku tangan Bapak yang mulai memerah.
"Sabar, lirih Ibu, yang masih sampai ke pendengaran. Hingga bisa kulihat Bapak sedikit melonggarkan kepalannya, sekarang malah berganti dengan kedua lengan mereka yang saling bertaut.
"Ayo pulang Dil,’ katanya dengan nada lebih tenang. Setelahnya sosok mereka menghilang di balik mobil. Tidak ada yang baik-baik saja saat hati patah menjadi beberapa bagian, begitu denganku, ini mungkin gila, melepas dia yang masih kucintai, tapi lebih gila lagi kalau aku tetap memaksa.
~
Rumah ini, terlalu besar. Kini tinggal aku sendirian, menanti masa itu kembali, masa saat Dilra bisa kembali ceria, tertawa juga bercerita tentang banyak hal, ada banyak yang hilang darinya, tapi sayang sudah terlambat untuk menyadari semuanya. Tentang sebuah kehilangan yang begitu menyiksa, kupikir semua bisa kulewati dengan mudah, nyatanya mencintai tanpa memiliki raganya seperti mati perlahan.
Seperti ketika bunyi takbir menggema di seluruh penjuru, waktu di mana hampir semua orang di tempatku, berkumpul bersama sanak keluarganya yang terjadi denganku justru tenggelam dalam kesepian sendiri.
"Lang, kenapa kamu diem aja di situ?" Ibu mendekat ke arahku.
H-1 sebelum lebaran aku pulang ke rumah Ibu di kampung.
"Gak apa-apa.’
__ADS_1
"Kamu masih marah sama Ibu."
"Enggak.’
"Bagaimana hubungan kamu sama Dilra, baik-baik aja kan?"
"Gak ada yang baik-baik aja, kami udah pisah, sesuai permintaan Ibu dulu, sudah ya, mau keluar sebentar.’
Ibu terdiam, dia juga tak mengejar seperti biasa, entah apa yang ada dalam benaknya, mungkin senang.
Lucu!
Kenapa ada seorang Ibu yang suka melihat anaknya menderita, andai saja aku tak mengingat jerih payahnya membesarkanku sejak dulu, aku tak pernah ingin menemuinya lagi. Demi terus menyenangkan hati, aku kehilangan sebagian dalam diriku, sekarang aku hidup penuh kekurangan, tanpa anak istri, saat seharusnya kurasakan hangat pelukan mereka, aku malah bersahabat dengan kesepian setiap hari.
Tak ada yang spesial, seperti lebaran sebelumnya Ibu hanya sibuk membeli kue dan pakaian hari raya, enggan memasak seperti Ibu-ibu yang kebanyakan, lebih memilih membeli sayur matang yang dipesan lewat tetangga. Sejak kecil keluarga kami tak punya tradisi harus makan ketupat sayur, entah apa alasannya, padahal kami terbilang mampu kalau hanya membuat ketupat sayur sederhana, sampai-sampai dulu aku sering iri pada teman-teman yang makan enak saat hari raya tiba, sedang di rumahku, tak ada yang spesial. Bukan tak pernah bersyukur tapi saat anak-anak dulu mana tahu urusan orang dewasa, tapi seiring waktu kami sekeluarga jadi terbiasa dengan hal itu, tak ada ketupat tak ada rendang juga makanan khas hari raya lainnya.
Berbeda dengan Dilra, dia tak pernah absen menyajikan ketupat sayur, juga makanan khas lainnya, Dilra pandai sekali membuat kue kering, rasanya enak, entah kapan aku bisa merasakannya lagi, bisa menjahilinya lagi saat dia dengan begitu serius mengoles kuning telur di atas kue atau di saat dia menaburkan parutan keju di atas nastarnya, aku akan sibuk menggelitik pinggangnya yang ramping, menggodanya sampai dia merasa jengkel. Wajah lucunya yang penuh tepung karena ulahku, hal sederhana itu, kenapa malah membuatku sakit, sakit karena tak akan pernah terulang lagi.
Sejak kami resmi berpisah, aku kerap mengunjungi rumahnya di akhir pekan, melepas rindu dengan Dion juga dengan wanita yang tak pernah tersenyum lagi saat melihatku.
Hari itu aku berniat, untuk memberinya kunci rumah pada Dilra, rasanya untuk tinggal di sana sendirian, aku juga tak akan sanggup terlalu banyak kenangan tentang kita di sana, tapi Dilra malah menolak.
"Itu rumahmu Mas, aku enggak mau Ibu semakin benci sama aku."
“Tapi itu hakmu Dil, namanya saja pakai namamu, jadi itu punya kamu, terima Dil.”
“Aku enggak bisa terima, ini ambil lagi kuncinya,’ katanya sembari memindahkan kunci itu ke tangan. Gegas kuletakkan kunci itu di meja yang letaknya tak jauh dari sini, sekali aku menyerahkan, maka tidak akan pernah kutarik kembali kata-kataku.
"Menikahlah lagi Mas, aku ikhlas." “Apa maksudmu Dil."
"Aku akan tetap menunggumu Dilra,’
“Menunggu untuk apa? Aku sudah lebih baik sekarang, hidupku jauh lebih tenang sendiri, jadi mari kita lupakan...”
“Sudah enggak usah diteruskan. kalau begitu mari kita rujuk Dil? Bukankah kamu sudah bisa ikhlas dengan semuanya, buktinya kita bisa berbicara setenang ini."
Dilra hanya diam menatapku.
“Dil asal kamu tahu, aku melakukan ini, semata-mata hanya untuk menyembuhkan lukamu, tapi kenapa setelah semuanya membaik kamu malah memilih pergi.”
"Karena pernikahan itu sakral Mas, kamu enggak bisa mempermainkan talak dan rujuk seperti ini, juga punya harga diri."
"Mas enggak peduli Dil, Mas akan tetap menunggu kamu, Mas bodoh karena memilih melepas kamu, tapi Demi Allah Dil itu untuk kesehatan kamu, kembalilah padaku Dil mari kita bangun kembali rumah tangga kita, kasihan Dion kan, sekecil itu harus kehilangan figur orang tuanya.”
"Justru karena Dion masih kecil enggak akan baik kalau dia harus tinggal bersama kita?"
"Apa maksudmu Dil?” "Aku ingin punya banyak anak Mas."
“Lalu apa masalahnya, Mas bisa kasih anak buat kamu, Mas masih sehat.”
“Tapi Ibu, selalu saja tidak suka kalau aku tengah mengandung anakmu.”
“Ibu sudah di kampung Dil.”
__ADS_1
"Tapi dia tetap !bumu, Mas tidak bisa membuangnya begitu saja demi aku, jadi lebih baik kita cukup sampai di sini, Aku permisi ke dalam ya sudah malam juga, sebaiknya Mas
cepat pulang.” "Dil, kasih Mas kesempatan, plis””
Tak ada jawaban wanita itu malah pergi menjauh, dia sempat membalikkan badan tersenyum padaku, lalu setelahnya, kembali meneruskan langkahnya. Entah kenapa perasaanku mendadak tak enak, dia tak biasanya seperti ini, sikap yang barusan kenapa aku merasa seolah dia ingin pergi jauh.
Akhir pekan berikutnya saat berniat berkunjung ke rumah Dilra, pekerjaanku mengharuskanku untuk tetap di kota, jadi terpaksa memundurkan jadwalku mengunjungi Dion, hampir sebulan aku tak pernah kes sana, kantor sedang ada masalah, entah kenapa sejak kepergian Dilra, aku jadi sering tak fokus, dan ini menyebabkan kinerjaku sedikit menurun, berkali-kali melakukan kesalahan sepele, padahal biasanya tak seceroboh itu.
Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, aku kembali ke rumah Dilra, sayang rumahnya tampak sepi, mungkin Dilra sedang berkunjung ke rumah saudaranya, tapi baru saja ingin menanyakan pada tetangga sebelah, mereka mengatakan kalau lima hari yang lalu keluarga Pak Hasan pindah rumah.
"Pindah ke mana Bu?"
"Katanya keluar kota Pak."
"Ya Allah kenapa mendadak.”
"Loh memangnya Mas enggak tahu? Bukannya Mas suaminya Mbak Dilra?”
"Hmm saya permisi dulu, terima kasih informasinya ya Bu.”
Apa-apaan ini? Gegas aku meneleponnya sayang tak pernah diangkat jadi kuputuskan untuk mengirim pesan saja.
"Dil, kamu kenapa pindah gak bilang-bilang?"
Sayang pesanku tak pernah mendapat balasan sekarang malah centang satu, bulan demi bulan berlalu, tak pernah berhenti mencari Dilra, sayang bak ditelan bumi, tak ada yang tahu kabar tentangnya, semua akun media sosial Dilra ditutup, nomornya tak aktif, aku benar-benar kehilangan akses dengannya. Tapi beruntung nomor Bapak dan Ibu masih aktif, aku terus meminta agar memberi tahu alamat tempat tinggal mereka saat ini, sayang mereka malah bungkam. Seringnya nomorku diblokir mereka, karena terlalu sering menghubungi. Beruntungnya saat itu aku bertemu Alex dia ahli di bidang lacak melacak, hanya butuh beberapa menit saja, aku bisa tahu alamat tempat tinggal mereka, ya Tuhan kenapa tidak dari dulu saja. Saat aku ke sana mereka tampak terkejut dengan kehadiranku, sayang Dion dan Dilra tak tinggal bersama mereka lagi. Parahnya mereka tetap bungkam bahkan di saat aku datang jauh-jauh ke sini, mereka tinggal di Kalimantan selama ini.
Hampir 2 minggu di sana, tapi tak membuahkan hasil, mereka seperti menahan Dilra agar tak berkunjung ke mari.
Lagi-lagi karena urusan pekerjaan yang mendesak aku harus kembali, tapi tak apa setidaknya, aku sudah punya tujuan, hanya tinggal selangkah lagi, untuk bertemu dengan Dilra.
~
“Lang kamu mau sampai kapan kayak begini sudah setengah tahun kamu luntang-lantung enggak jelas mencari Dilra ke mana-mana, Ibu cuma kasihan sama kamu, kenapa enggak coba buka hati kamu buat orang lain?” tanya Ibu.
Mendengarku akan pergi ke Kalimantan lagi, Ibu dan Mia datang berkunjung ke rumahku.
"Kalau ujungnya Ibu bikin anak orang sakit hati lagi kayak Dilra, mau berapa kali lagi aku harus menikah."
“Lang Ibu minta maaf, Ibu gak ada maksud bikin kamu kayak begini."
"Sudah lah Bu, Galang lebih suka hidup seperti ini.”
Entah kenapa pertemuan dengan orang tua Dilra membuat hidup terasa lebih bergairah. Hingga tiba-tiba pintu rumah diketuk dari luar, aku gegas membukanya.
"Bapak?" Aku mengedarkan pandangan ke
seluruh penjuru, kau tahu siapa yang datang? Dia, Pak Hasan, mantan mertuaku.
“Lang, Bapak ke sini sendiri, sebenarnya tujuan Bapak ke sini hanya mau mengantarkan ini!"
"Undangan siapa ini Pak?"
"Dilra akan menikah, jadi Bapak harap kamu jangan mengganggu Dilra lagi."
__ADS_1
bersambung...