Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Kenapa Tak Jujur?


__ADS_3

Itu jelas tulisan Hiro, aku cukup dekat dengannya dulu, masalahnya sekarang, ke mana secarik kertas itu, sudah kucari, tapi belum juga ketemu. Hingga malam kian larut, kertas itu belum juga ditemukan. Kami tidur seranjang dengan Dion, katanya kangen dengan Papahnya, tapi dengan begitu jelasnya bisa kurasakan kegelisahan menyelimuti suamiku, tidurnya tak nyenyak, terus bergerak ke kanan dan ke kiri, memaksa terpejam tapi mungkin tak kunjung terlelap, lantas aku yang sudah terlelap sejak tadi jadi terbangun karenanya.


“Ada apa Mas? Gak bisa tidur?"


"Eh Dil, Mas ganggu kamu ya?" Aku menggeleng lalu berjalan memutar ranjang duduk tepat di sampingnya, raut itu tampak gelisah, sembari berinisiatif mengusap rambutnya, karena hal ini biasanya mampu membuat dia sedikit lebih tenang.


"Besok Mas mau jual bengkel yang dekat Pasar buat pengobatan Mas sisanya mau buat tambahan biaya pengobatan Ibu juga."


"Kenapa harus di jual, memang sudah ada pembelinya?”


“Ada, Mas janji Dil setelah Mas sembuh Mas akan lebih giat lagi, cari uang, kamu setuju kan?"


"Enggak.’


Lantas wajah itu langsung berubah sendu, mungkin kecewa.


“"Jual mobilku saja Mas."


"Itu mobilmu Dil, Mas enggak bisa pakai uang kamu, Mas malu.”


Sekarang laki-laki itu malah memalingkan wajahnya ke arah lain, perlahan bulir bening mulai menggelincir di sudut matanya.


“Aku ikhlas Mas, ayolah untuk apa jual bengkel itu sumber penghasilan kita bukan, itu juga passion kamu."


“Tapi aku malu Dil, di mana harga diriku sebagai suami kalau untuk berobat saja aku pakai uang dari kamu."


“Mas kamu gak akan kehilangan harga diri, hanya karena kamu sakit.”


“Bagaimana pun aku akan jual bengkel kita Dil, kita butuh mobil buat ke mana mana selagi, mobil kita rusak parah, butuh waktu buat bisa normal lagi.’


"Kita bisa sewa, atau beli mobil bekas, yang murah, Mas sejujurnya aku lebih takut kehilangan kamu lebih dari apa pun didunia ini, bahkan lebih dari rasa takut kalau harus kehilangan jiwaku, melihatmu jatuh terkapar di jalanan, aku seperti menghadapi kematianku sendiri.”


Lantas Mas Galang merengkuhku dengan erat.


“Maaf membuatmu khawatir sayang.”


"Ya, tidurlah besok kita jual mobil, jangan pikirkan soal mobil untuk sehari, nanti biarkan aku yang urus untuk itu, istirahat ya, mau kubuatkan susu hangat?"


"Yang dari gunung?”


"Sudah jangan macam-macam kamu Mas.”


"Semacam boleh lah Dek."


"Makanya cepat sehat.’


"Sini deketan."


“Ini sempit banget Mas mau tidur di mana, Dionnya pindahkan dulu biar kamu bisa geseran."


Yang benar saja dia memintaku untuk tidur di bibir ranjang.


"Sekali ini saja Dil"


"Ya deh."


Lantas aku tertidur membelakanginya, dia lebih suka memelukku dari belakang, dibanding kami harus berhadapan, bisa sesak.


“Mas, ih Mas Mas Mas!! Aku mau jatuh, aku mau jatuh ya Allah."


"Yuh!


Untung saja perutku tak bersentuhan langsung dengan lantai, masih bisa tertahan oleh tangan.


“Loh Bunda kenapa di bawah?" tanya Dion sembari menatap heran.


"Bunda..."


“Eh sayang, kamu, enggak apa apa kan perutnya, enggak sakit kan.”


“Kan aku sudah bilang tidurnya geserkan Dion dulu.”


"Maaf sayang.”


“Dion kamu geser ya."


Mataku membulat sempurna melihat kelakuan suamiku, dia bahkan tak mau mengalah, bersih keras ingin tidur di sampingku. Aku tahu kamu sedang tidak percaya diri Mas kamu cemburu kan, tapi sayangnya gengsimu terlalu tinggi, hingga enggan mengakuinya, Mas aku juga rindu kamu, rindu pelukan hangatmu seperti ini.


Di pagi hari Mas Galang sudah berjalan jalan dengan tongkatnya di halaman depan, aku sampai harus berlari ke luar karena takut dia terjatuh, dan benar saja baru saja sampai di ambang pintu dia sudah terjatuh.

__ADS_1


Laki laki itu mengumpat dirinya sendiri, dia tak lantas bangkit malah kembali merutuki dirinya, yang tak berguna, berkali kali kalimat itu terlontar keluar, di subuh buta begini, dia sudah bangun hanya untuk berlatih berjalan.


Niatku untuk melangkah mendekat pun urung, begitu kulihat Mas Galang seperti akan bangkit dari duduknya dia kembali berjalan dengan tongkatnya, berkali kali kehilangan keseimbangan, tapi dia terus saja memaksakan diri.


"Sial! Enggak guna banget gue hidup!" umpatnya.


Sebegitu terpurukkah kamu Mas.


"Sayang.’


"Dil, kamu sudah bangun, Mas lagi olahraga, bosan tiduran terus.’


"Kamu kenapa? Kok matamu merah? Kamu menangis? Siapa yang bikin kamu menangis Dil, bilang sama Mas? Ibu? Atau Mia? Mereka telepon kamu apa bagaimana Dil?"


"Semua karena Mas.’ "Mas?"


"Ya, apa selama ini aku pernah bilang keberatan mengurus Mas, enggak akan jadi sudah cukup latihannya, ayo masuk ke dalam."


"Dil, laki-laki itu harus bekerja, Mas enggak bisa lihat kamu seperti ini.”


"Kita masih punya banyak tabungan, kamu tetap imamku Mas, sehat atau pun sakit, aku akan tetap berlaku sama, menghormatimu seperti biasa, enggak akan ada bedanya, jadi stop lakukan ini, tulang kakimu enggak bisa kamu paksakan begitu, justru itu akan memperparah lukanya, jadi ayolah apa salahnya istirahat.”


"Kamu lagi hamil Dil, harusnya Mas yang ngurus kamu bukan sebaliknya."


"Sudah ayo masuk, kubuatkan teh ya."


Dia hanya berdehem lalu duduk di depan mini bar, menunggu teh buatanku siap.


"Kalau ada laki-laki lain yang dekati kamu, apa kamu bakal berpaling Dil?"


"Apa sih Mas."


"Kalau dia kayak dan tampan kamu pasti terima kan?"


"Lucu kamu Mas, untuk apa aku terima, kalau aku sudah punya kamu, bukankah kamu juga tampan dan kaya?" jawabku tanpa berpaling dari cangkir teh yang sedang kuaduk.


“Bener nih enggak bakal tergoda?"


Entah berapa kali dalam sehari kamu menanyakan perumpamaan ini, asal kamu tahu Mas, sampai kapan pun jawabannya akan tetap sama.


Kita bisa saja jatuh cinta berkali-kali, tapi menemukan orang yang tepat, yang mampu membalasnya dengan perasaan yang sama, sulit sekali, belum lagi tentang bagaimana mempertahankan ikatan itu, sungguh semuanya tak bisa di anggap sebelah mata.


"Mas merasa Hiro suka sama kamu."


"Mas serius Dil, dari cara dia lihat kamu saja Mas bisa terbaca." "Mas mau aku jauhi Hiro?” "Ya enggak begitu juga Dil.” "Akan kulakukan untukmu Mas."


Sekarang pria dia hadapanku malah salang tingkah.


"Hari ini kita kedatangan tamu Dil, Ibu sama Mia, kamu enggak keberatan kan?"


"Enggak sayang."


"Kalau Ibu macam macam lagi, bilang sama Mas ya, gak akan lama kok, paling sehari dua hari."


"Aku bukan anak kecil Mas, aku akan baik-baik aja kok."


"Mas enggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan calon bayi kita, sudah sejauh ini kita melangkah, kalau harus mulai dari awal lagi...”


"Enggak akan sayang, sudah jangan banyak pikiran, aku mau masak, kutinggal ke pasar enggak apa-apa?"


Saat hendak ke pasar, lagi-lagi rumahku kedatangan tamu, kau tahu siapa yang datang,


Hiro kali ini dia membawa sekantung plastik cukup besar.


“Ada apa ya Mas?"


"Mau antar titipan dari Mamah, sekalian aja


lewat.”


"Mas lain kali enggak usah repot-repot begini, enggak enak juga kan tiap hari jadi mampir ke sini.”


"Ya habis bagaimana Mama yang memaksa.’


Aku melirik Mas Galang yang tengah menahan kesal.


"Oh ya maaf banget ini aku lagi buru buru mau ke pasar, jadi aku tinggal ya."


"Mau aku antar.’

__ADS_1


“Pasarnya kan dekat Mas Hiro, hanya 10 menit dari sini Dilra bisa jalan sendiri,, sambar Mas Galang, dab itu membuatku terperanjat, tidak biasanya dia mau terlibat dalam obrolan, tapi kali ini, dia bahkan berjalan, tertatih tatih mendekati kami.


"Nah itu, dekat dari sini," kataku. "Dari pada jalan mending juga saya antar."


"Gak bisa kita bukan mahram Mas, gak enak juga dilihat orang."


"Oh begitu ya sudah, saya pamit, mari Mas Galang, kalau perlu bantuan jangan sungkan hubungi saya.”


"Memangnya Dilra tak punya suami" lirih Mas Galang pelan, dan begitu dia berpaling menatapku, kuberikan senyuman termanisku untuknya.


Kurasa sejak tahu Mas Galang bisa sembuh dalam waktu yang cukup lama, sikap Hiro mendadak berubah, dia jadi lebih berani menunjukkan perhatiannya, padaku, padahal dulu dia begitu menghormati marwahnya wanita tapi sekarang sikapnya mulai membuatku risi. Seperti saat ini, dia mengikutiku dari belakang, dengan mobilnya yang berjalan pelan, masih saja membujuk begini, apa rencana-Mu ya Rabb.


“Mas Demi Allah aku tak pernah mendoakan keburukan untuk Ibumu tapi kenapa Allah membuat Ibu jadi seperti ini.”


“Mas enggak tahu Dil, apakah ini ujian atau hukuman, yang jelas, Mas enggak akan menyerah untuk membuat ibu kembali normal."


Ibu benar-benar berubah, dia seolah menjelma menjadi sosok yang lain. Seperti saat ini, pagi-pagi sekali Ibu sudah berada di dapur mencuci piring, mencuci semua baju, aku yang tak biasa dengan ini lantas mendekat ke arahnya meneruskan pekerjaannya yang belum selesai.


Kami berbagi ruangan, tapi semua terasa asing dan aneh, tak ada umpatan darinya tidak ada hinaan juga cacian yang keluar dari mulutnya.


Kami terus sibuk dalam pekerjaan masing-masing, aku bukan tak mau mengajaknya bicara tapi sungguh aku masih bingung dengan apa yang terjadi, sesekali aku tetap mengawasinya, kali ini dia bersiap menghidangkan teh.


Dua teh dalam satu nampan, mengabaikanku yang sedari tadi ada di sampingnya, Ibu lantas berlalu begitu saja membawa teh itu, ke ruang tamu, dan kau tahu apa yang dia lakukan? Duduk sambil kembali memainkan biji-biji tasbihnya, Aku sudah tak tahan melihat semua ini, kudekati Ibu meski Mas Galang sudah wanti-wanti melarangku agar tetap jaga jarak.


“Bu, lagi nunggu siapa?"


“Mas Guntur.’ Astaghfirrullahaladzim.


"Bukannya Bapak sudah enggak ada."


"Ibu sudah bosan dengar kata itu, suami Ibu masih hidup, dia akan datang hari ini, kamu tahu dia selalu meminta saya untuk berzikir sembari menunggunya dari pulang kerja, supaya tehnya terasa lebih nikmat, lihat tasbihnya cantik bukan, ini hadiah dari Ma Guntur."


“Cantik Bu, cantik sekali tasbihnya kayak Ibu."


"Kamu juga cantik.” "Bu, [bu ingat aku?"


Ibu malah menggeleng, pantas saja dia terlihat abai padaku, di dalam memorinya bahkan tak ada namaku.


Aku mendekati perempuan itu, duduk persis di sampingnya


"Aku istrinya Mas Galang, Dilra, Ibu ingat?"


"Maafkan ibu karena enggak bisa ingat kamu.”


"Enggak apa-apa, yang pentung mulai sekarang Ibu bisa panggil aku Dilra.’ Dia terdiam, sekarang matanya lekat menatapku.


"Nak, kenapa kamu begitu lembut? Padahal Mia putriku sendiri tak begitu."


"Maka anggaplah aku putrimu juga Bu."


"Apa aku pernah berbuat salah padamu di masa lalu Nak?"


"Yang dulu biarkan saja berlalu Bu, yang penting sekarang kita sama-sama.’


"Kamu perempuan baik, sayang aku tak banyak mengingatmu."


"Boleh aku memeluk Ibu?"


*Kenapa tidak, bukankah kamu anak mantuku?"


Gegas aku merengkuhnya dengan erat untuk pertama kalinya kami berada sedekat ini, nyaris tanpa jarak.


"Kenapa menangis Nak?"


"Aku teringat orang tuaku Bu.” "Memangnya ke mana mereka.” "Sudah meninggal dunia, dua-duanya."


"Innalilahi wa innaillahi raji'un, sini anggap Saja Ibu orang tua kamu sendiri.” Allahuakbar, sungguh besar kuasamu ya Rabb, beginikah caramu memutar balikan takdir, menghilangkan sebagian ingatannya, tapi justru dia menjelma menjadi sosok yang begitu hangat.


"Dil hay kenapa? Kalian baik-baik aja kan?" Mas Galang tampak heran melihat pemandangan yang tersaji di depannya.


"Aku baik Mas."


"Kalian pelukan?" Aku hanya tersenyum ke arahnya dengan wajah yang sudah basah, seutuhnya.


"Papa Papah aku menemukan ini."


Tiba-tiba Dion mendekat ke arah kami dengan secarik kertas lecek di tangannya. Dan kau tahu sungguh jantungku mendadak berdebar karenanya, bagaimana pun


seharusnya kuceritakan semua ini sejak awal.

__ADS_1


Kehilangan masih menjadi momok menakutkan dalam hidup, bersahabat dengan sepi setiap hari, juga ketika hampa menyelimuti sepanjang waktu. Dia hanya seorang hamba penuh dosa, mencoba berjalan mendekat ke Rabb nya, tapi takdir malah berkata lain, sungguh tak ada yang bisa menebak, ke mana arah takdir berjalan.


Bersambung...


__ADS_2