Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Lamaran


__ADS_3

"Terima terima terima!"


Wajah putraku yang tadinya menegang kini makin menjadi, Dilra tak lantas menjawab, rautnya tampak terkejut, tapi setelahnya dia mengangguk dan tersenyum, Galang gegas berjalan mendekati Dilra.


"Jadi kamu mau jadi istriku?"


"Aku mau Mas,’ jawab Dilra sama-samar, karena, dia menolak untuk memakai mikrofon, Dilra tampak malu malu, tapi itu justru membuatku mual. Jadi laki laki kok ya, bodoh banget.


Kini orang orang makin bersorak, beberapa ada yang mengucap selamat juga berjabat tangan dengan pasangan itu. Sejak dulu kubesarkan dia dengan didikan keras supaya kelak bisa disegani, siapa saja, hari ini di depanku dia malah bersimpuh di hadapan perempuan yang paling aku benci. Sudah bagus mereka berpisah kenapa dengan putraku yang terus saja mengejarnya, apa istimewanya Dilra, selain parasnya yang menawan, kurasa dia tak punya nilai lebih.


Dibandingkan denganku sungguh sangat jauh, apa lagi kini penampilannya jauh berbeda, tampak elegan seperti wanita-wanita berkelas, senang rupanya dia di luaran, kerja apa? Jangan-jangan jual diri.


Bisa saja kan? Perempuan cantik, kenapa tak dimanfaatkan.


Kali ini Galang itu malah mendekati mantan istrinya membuat hatiku panas bukan main, ingin mengumpat tapi rasanya tak etis, dengan gaun kebaya yang anggun seperti ini, akan jadi apa aku di mata orang-orang, bagaimana pun imageku harus tetap baik.


Tahan Rima, ini hanya sebentar, seharusnya Dilra menolak saja putraku.


Itu akan lebih baik, dari pada aku terus ketakutan, akan bayang-bayang penjara.


"Ibu tolong jangan buat macam macam pas acara Mia, aku mau melamar Dilra, kalau Ibu gak setuju, biar semua orang tau, perlakuan ibu sebenarnya, dan yang harus ibu ingat kalau Ibu berusaha mempermalukan Dilra, maka pernikahan Mia taruhannya," kata Galang tempo hari, dia benar benar sudah kehabisan akal, bagaimana bisa mengancam begini, aku ini ibunya.


"Kamu mengancam Ibu?"


"Tolong Bu, aku dan Mia sudah dewasa, kami ingin hidup normal, punya pasangan dan keluarga."


Mia tertunduk waktu itu, dia tak banyak bicara seperti Galang, apa lagi setelah kejadian keguguran, aku dan Mia sedikit renggang, meskipun kami telah tinggal bersama, dia seakan menjaga jarak denganku. Sekarang, tahu dia akan menikah dalam waktu dekat, jelas aku tak merestui, enak saja baru saja merasakan uang hasil kerjanya, malah ingin menikah secepatnya. Sudah sekolah tak selesai, bikin malu saja, bagaimana kalau kejadian punya menantu yang pelit, sudah senang setiap bulan ada tambahan dari Mia.


"Ibu masih ingat perjanjian kita sama Pak Hasan?"


“Pak Hasan udah meninggal, mana bisa ibu tetap dituntut?"


"Bisa, surat perjanjiannya kan masih ada.’


"lya Ibu setuju kalian menikah lagi."


Anak enggak ada baktinya sama orang tua, heran apa sih salahku, enggak pernah senang hidup di dunia.


Persiapan pernikahan pun digelar, bersyukur karena Mia mendapatkan pasangan cukup makan, wajahnya juga rupawan, setidaknya aku tak terlalu malu menampakkan diri di resepsi pernikahan mereka, bagaimana pun aib Mia itu sumber masalah.


Di luar sana banyak orang mengatakan, suatu saat perbuatanku akan mendapat karma, terutama Dinar, kami berteman dekat, tapi acap kali kuceritakan tentang rumah tangga anakku, dia seakan memihak pada Dilra, aku memang tak melebih-lebihkan ceritaku padanya, tak seperti pada tetangga-tetanggaku yang lain, seringnya kubuat nama baik Dilra jadi hancur, aku sudah muak dengannya, apa lagi saat Galang sering memperlakukannya dengan manis setiap kali pulang kerja, padahal setiap hari aku selalu buru buru ke dapur untuk membuat teh hangat, tapi Galang, malah menyesapnya sedikit saja, dia lebih memilih meminum air putih dingin dari istrinya sampai tak tersisa.


Bagaimana hatiku tak jengkel melihatnya.


"Ibu kan tahu aku gak suk teh, masalah air aja |lbu mempermasalahkan, bukan berarti aku lebih sayang sama Dilra, aku yang minta Dilra bawakan air es ke sini, di jalanan panas,’ kata Galang saat suatu hari aku menangis karena air tehku tak pernah habis di minum.


"Mulai besok enggak usah ibu repot repot bikin teh sampai dulu duluan sama Dilra, Ibu istirahat saja, biar Dilra yang menyediakan air buat aku.”


Aku sering menggunakan air mata sebagai senjata, Galang tak pernah tega melihat Ibunya bersedih, tapi lambat laun terlebih saat Galang resmi berpisah, dia tak lagi iba saat air mataku keluar dengan derasnya, ini terjadi saat Mia kedapatan hamil, sebenarnya sejak dua bulan yang lalu aku sudah curiga dia hamil, perutnya buncit, wajahnya pucat, juga dia yang kerap mual di sepanjang hari, persis sepertiku yang kerap mual sepanjang hari saat hamil dan nyatanya memang benar, aku kalap waktu itu, aku pukul saja dia, Mia menangis sampai ketakutan, aku tak peduli, yang jelas dalam pikiranku sekarang janin di kandungan Dilra tak boleh dibiarkan hidup, mau ditaruh di mana wajahku nanti.

__ADS_1


Sayang anak itu tetap keras kepala kandungannya mulai menginjak lima bulan, aku memaksanya memakai korset yang ketat tiap kali keluar rumah, tak hanya itu sering juga kucekoki jamu, agar janin itu luruh, tapi nyatanya janin itu kuat sekali sudah berkali kali kuberi jamu pun, Mia hanya kesakitan saja, saat esoknya diperiksa bayi itu masih saja hidup.


Hingga akhirnya ada seseorang yang mengusulkan untuk meminum ramuan yang manjur untuk aborsi dan alhasil janin itu keluar, sebenarnya aku tak tega menyaksikan Mia begitu kesakitan, macam orang sakaratul maut, aku sedikit panik waktu itu, tapi tak mau mengundang curiga warga kututup saja semua pintu dan jendela. Ibu melakukan ini buat kebaikanmu juga, nyatanya siapa yang enak sekarang, bisa dapat pasangan kaya nan rupawan. Sayangnya anak itu malah minum pembersih toilet memang bodohnya keterlaluan, dia bilang tak punya gairah hidup setelah anaknya tiada.


Memikirkan masalah itu sungguh membuat darah naik seketika, belum lagi sekarang melihat Galang begitu tergila-gila pada Dilra.


Aku mendekat ke arah mereka, tapi Galang sudah melirikku dengan tajam, menyiratkan agar aku tak melakukan hal yang akan membuat dia malu.


"Maafkan Ibu ya Dil."


Dilra hanya tersenyum dan menyambut pelukanku, dia tak lagi minta maaf seperti dulu, apa dia merasa tak punya salah padaku.


"Dua minggu lagi kami akan menikah Bu."


“Apa enggak kecepatan?" kataku.


"Bu..."


"Oh iya Lang, terserah kamu saja."


Kalau saja, tidak ada perjanjian dengan Pak Hasan tempo hari, tak akan aku tunduk pada kemauan Galang, sudah kupermalukan Dilra di depan semua orang, bagaimanapun caranya.


"Rencananya kami akan kembali tinggal di rumah lama,” kata Galang.


"Ibu tinggal sama kalian kan?" Hening.


"Ibu sementara di kampung dulu ya, atau bisa tinggal sama Mia." Galang memecah kebisuan.


“Kami ingin fokus punya momongan dulu Bu, mungkin kamu juga akan sering meninggalkan rumah."


“Memangnya enggak bisa di rumah saja."


"Sesekali menyenangkan anak istri kan boleh Bu, insyaallah kami akan sering berkunjung toh rumah kita juga dekat enggak sampai sejam, Galang sama Dilra mau belajar mandiri-"


Kalau sudah begini aku bisa apa, sudahlah tak ada Galang, kan masih ada Mia, sekali-kali aku akan berkunjung ke rumahnya nanti, setahuku suaminya sudah menyiapkan rumah untuk tempat tinggal mereka, toh Mia dan suaminya, juga tak keberatan saat aku hilang ingin tinggal dengannya suatu hari nanti. Kalau kulihat suami Mia juga orang baik, jadi aku yakin dia tak akan banyak menuntut nantinya.


Hingga hari yang di tunggu pun tiba Galang dan Dilra menggelar pernikahan, tak semewah Mia hanya resepsi sederhana di sebuah gedung. Begitu lebih baik, agar tak perlu keluar biaya banyak.


Cucuku sudah besar rupanya sedari tadi aktif sekali berlarian ke sana ke mari tanpa henti, mirip sekali Galang waktu balita, putih dan rambutnya tipis.


"Dion sini sama Nenek.”


Anak kecil itu melirikku, tatapannya menyiratkan seolah aku tak dikenal. Apa apaan sih Dilra, memangnya dia sengaja membuat anaknya tak mengenal siapa neneknya.


"Ini nenek sayang.”


"Nenek aku sudah di surga."


"Hah?"

__ADS_1


Keterlaluan ini Dilra, aku dibilang sudah meninggal.


"Siapa yang mengajarkan kamu bilang begitu?"


"Bunda.


"Bu...' Entah sejak kapan Galang berada di dekatku, dia menggenggam tanganku dengan lembut di sampingnya sudah ada Dilra.


"Dion sayang sini!” panggil Dilra dan anak itu langsung mendekat.


"Kamu kok mengajarkan anak gak benar masa neneknya dibilang sudah meninggal."


"Dion tahunya cuma punya nenek satu, Ibuku, kan Dion dari kecil sudah enggak pernah ketemu Ibu."


"Nah bukannya Ibu sendiri yang gak mau ketemu Dion juga?” Galang malah menambahkan, membuatku makin terpojok. Kenapa dia terus saja membela istrinya kalau begini lebih baik aku tinggal bersama Mia.


~


"Kalau rumah kalian sudah jadi Ibu boleh kan tinggal sama kalian?" tanyaku pada Mia dan suaminya.


Mia seperti ragu untuk menjawab, dia melirik suaminya seperti orang setengah cemas.


Ada apa sih?


"Boleh, besok kebetulan kami pindahan,’ kata suami Mia.


Esok hari tiba semua pakaian dan barang-barang pribadiku, sudah kusiapkan Galang dan Dilra ikut membantu mengantar, sayang hanya sebentar katanya sudah pesan tiket pesawat, takut ketinggalan.


Gaya!


"Kamu lanjut beresin ya Mas mau ada urusan sebentar,’ ucapnya ringan, padahal ini baru setengahnya masih banyak barang yang harus dirapikan.


"Tapi ini kan baru setengah,’ kataku.


Mia segera menarik lenganku, dia menggeleng, mengisyaratkan agar aku diam dan tak protes.


Suami Mia hanya melirikku dan Mia bergantian.


"Aku ada pekerjaan, kalau aku enggak kerja siapa yang mau membiayai kehidupan sehari-hari, wajarlah istri beres-beres rumah, benar begitu kan Bu?"


"lya iya."


Ah hanya seperti ini saja membuatku lelah kalau harus membereskan sampai akhir bisa patah pinggangku.


"Kenapa sikap suamimu begitu?"


"Sudah biasa Bu, biarkan saja."


"Jangan mau diinjak-injak begitu."

__ADS_1


"Aku cinta sama dia Bu, tolong Bu kami baru menikah siapa tahu dia berubah nantinya.’


Bersambung...


__ADS_2