
"Enggak bisa Dil, aku mencintai kamu. Mana bisa begitu.’
"Maka berjuanglah di pengadilan nanti."
"Jelas aku akan kalah. Aku yang begitu bodohnya mengabaikan hakmu bertahun-tahun bagaimana bisa aku akan mencegah perpisahan ini tanpa keikhlasan darimu.’
"Ini ambil semuanya, aku enggak butuh ini Dil. Baru 3 hari enggak melihat kamu di rumah, hidupku kacau Dil, lalu bagaimana ke depannya harus hidup tanpa kamu,’ ucapku seraya menyerahkan dompet ke tangannya.
"Mas, hidup itu pilihan. Kamu memilih untuk hidup bersama Ibumu bukan, maka jalani saja pilihanmu. Mari berjalan masing-masing Mas, ini aku kembalikan dompetmu, permisi."
"Dil, tunggu.” Kuraih lengannya, lalu merengkuhnya, semakin erat. Dia tak menolak juga tak membalas pelukanku, dia hanya diam tak bergerak, bagai sebatang kayu.
"Kamu masih mencintai Mas kan, kenapa malah memilih berpisah."
"Cinta itu hanya butuh waktu untuk dilupakan, aku permisi.”
Aku kembali ke rumah dengan perasaan yang entah. Aku tak pernah merasa sekosong ini sebelumnya. Hari-hari berteman sepi membuatku makin tak bisa menikmati hidup. Hingga datang hari itu. Panggilan untuk mediasi dari pengadilan agama. Sayang Dilra tak hadir kala itu. Aku membujuknya untuk hadir di pertemuan berikutnya tapi lagi-lagi penolakan yang kuterima. Sekarang Dilra semakin sulit ditemui. Aku datang jauh dari kota pun dia enggan untuk sekedar bertatap muka denganku barang sebentar.
[Dil aku beli ini buat kita kamu suka ‘kan, nanti kita pakai pas lebaran ya, kembaran sama Dion juga.] Sebuah pesan kukirimkan pada Dilra tak ada jawaban juga. Aku memutuskan untuk dikirim saja lewat ekspedisi, karena ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan aku kembali ke kota. Tidak akan sempat juga kalau harus mengantar pakaian ini langsung ke rumahnya. Dua hari kemudian, seharusnya paket untuk Dilra sudah diterima.
__ADS_1
[Bagaimana Dil, suka enggak bajunya, muatkan ‘kan?] Kukirimkan pesan itu ke nomor Dilra. Sudah sekian lama menunggu tandanya tidak ada yang berubah, hanya centang dua berwarna abu. Selalu saja begitu. Tidak ada satu pun pesan yang dia balas, di baca pun tidak. Tak pernah terbayang aku akan jatuh cinta segila ini setelah sosoknya tak lagi di sampingku. Sekarang hanya tersisa lima hari sampai mediasi ke dua. Bagaimana pun caranya aku harus bisa membuat Dilra hadir. Hari ini kami lembur sampai malam, Si Ardi konyol itu malah menyuruh istrinya mampir. Sudah tahu aku sedang ada masalah dengan Dilra seenaknya pamer kemesraan di depanku.
"Abang mau buka sama apa, kolak atau kurma? Apa Adek dulu?" terdengar suara Farah menggoda dari balik ruangan pribadi kami.
“Mau Adek saja boleh," kata Ardi. Cih!
Mendengarnya saja, rasanya ingin muntah.
“Ih si sayang mah," Farah terdengar terkekeh, malu-malu. Bocah gemblung itu. Pasti sengaja membuatku panas. Ada sebuah kamar di sana, memang kamar itu di peruntukan untuk kami kalau terpaksa harus lembur, sampai tengah malam. Sayang kamar itu jarang kami gunakan, kecuali mendekati akhir tahun. Saat pembukuan berlangsung, kadang kami bermalam di sana. Akhir-akhir ini sering kali saat melihat pasangan yang tampak bahagian. Entah ada apa dengan hatiku rasanya malah sesak, jika dulu melihat Ardi dengan Farah bermesraan di depan umum. Aku akan merasa kesal, tapi sekarang justru ada nyeri yang terus menjalar ke setiap sudut hati. Aku hanya buka dengan air tanpa ucapan dari istriku, atau setidaknya pesanku ada tanda-tanda di baca saja aku sudah bahagia sekali. Apa jangan-jangan Dilra langsung menghapus pesan dariku tanpa pernah membacanya. Bagaimana kalau pakaian yang kukirimkan untuk dia justru di buang, bisa jadi 'kan?
"Bapak enggak buka?" sapa seorang karyawan yang kebetulan memberikan laporan keuangan bulan ini.
“Mau saya pesankan, Pak?” tawarnya lagi.
“Saya mau turun sendiri ke bawah, sebentar lagi.”
"Baik kalau begitu, saya permisi."
Makan sendirian di bulan puasa begini, kenapa rasanya berbeda, entah kapan terakhir aku dan Dilra buka bersama di luar. Sayang, Mas merindukanmu. Rasanya makanan di sini hambar, lebih enak masakan Dilra di rumah. Meski hanya makanan sederhana cita rasanya begitu khas, sesuai dengan seleraku. Sesekali saat menatap layar ponsel, ada rindu yang mulai menjalar perlahan, ada gambar Dilra di sana, aku baru saja mengganti wallpaper di ponselku. Kamu cantik, Dil?
__ADS_1
[Dilra Sayang, mediasi ke dua kita, nant kamu hadir kan] Aku mengirimkan pesan lagi. Setengah jam berlalu, tak ada jawaban. [Mas tunggu ya, mari memperbaiki semuanya Dil. Mas janji apa pun yang kamu mau, mas akan berusaha memenuhi, semampu Mas. Sampai ketemu lima hari lagi , Mas kangen kamu, apa kamu enggak kangen juga.] Terus saja begitu Dil. Dia tak pernah membalasnya sama sekali. Aku kembali ke kantor rupanya Farah juga sedang bersiap pergi. Dia sempat menyapaku sekilas, juga menanyakan kabar istriku, katanya sebulan yang lalu dia bertemu Dilra di klinik tempatnya bekerja.
"Dilra sakit apa?"
"Loh memangnya Mas enggak tahu?" Ardi dan Farah kini menatap heran padaku.
Aku menggeleng, malu rasanya aku bagai orang asing di saat seorang suami seharusnya mengetahui lebih banyak dari orang lain, yang terjadi pada kami justru sebaliknya.
"Kalau menurut saya, Dilra kayaknya lagi enggak baik-baik aja deh Mas."
"Maksudnya bagaimana, Dilra sakit apa, soalnya tiap aku tanya enggak pernah mau jawab."
"Masalahnya Mas, Dilra itu bukan sakit fisik,”
kata Farah. Aku mengerutkan dahi karenanya, begitu pun Ardi.
"Kemarin saya lihat Dilra keluar dari ruang psikiater, Mas,’ tambah Farah.
Bersambung..
__ADS_1