Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Gara Gara keramas


__ADS_3

"Dil gak usah dipikirkan ya, soal omongan Ibu tadi.”


"Ya, sudah biasa Mas, bahkan sejak dulu, makanya minta dibuatkan toilet di kamar, aku merasa enggak nyaman Saja.”


"Mulai besok biar Mas yang bantu mengeringkan rambut kamu, biar Ibu enggak iseng lagi sama kita, maaf ya, Ibu selalu saja bikin kamu enggak nyaman."


Meski wanita di hadapanku ini tersenyum, aku tahu dengan jelas, hatinya tidak begitu.


"Besok aku paksa Ibu pulang, janji.”


"Terserah.”


Kau tahu artinya kata ini? Itu sama dengan iya.


Wanita seringnya begitu, seolah olah memberi pilihan tapi saat pilihannya jatuh tak sesuai dengan keinginannya, pasti timbul masalah baru, dan benar saja dia kembali ke karnar, lalu mendekati lemari.


"Loh kok kamu beres-beres?"


“Aku tahu Mas enggak bakal tega, bingung kan mah suruh ibu pergi pakai cara apa? Lebih baik aku dan Dion yang pergi dari sini."


"Sayang enggak bisa begitu, kamu kan sudah janji buat menghadapi ini sama-sama.”


"Ya Mas maunya bagaimana, aku enggak bisa kayak begini, seminggu lagi kalau Ibu masih cari gara-gara kita cari tempat lain, oke?" tawarku.


"Ya"


Aku tahu dia tak ikhlas, tapi sungguh menghadapi Ibu kenapa sulit sekali, belum lagi Mia, Saga baru akan pulang seminggu lagi, aku tak mungkin membiarkan Ibu dan Mia berdua. Esok hari kami bangun kesiangan, |bu sudah mengetuk pintu dengan keras, membuat kami terlonjak dibuatnya, Dilra aku suruh ke kamar mandi dulu, sedang aku menemui Ibu.


“Mana istrimu?"


“Di kamar mandi."


Lantas mata Ibu langsung memandang ke arah sana.


“Kenapa? mandi lagi?"


“Enggak tahu berak kali.’


Kenapa Ibu serba ingin tahu sampai ke ranah yang paling intim, aku yang lahir dari rahimnya saja kadang kikuk dibuatnya, seharusnya dia mengerti, bukankah Ibu juga pernah menikah.


"Kamu ditanya orang tua jawabnya enggak sopan, itu kenapa juga jam segini enggak pakai baju? Kamu juga belum mandi? Mana pakai kolor kebalik!"


Mana sempat kulihat penampakan celana, masih baik tak kupakai celana milik Dilra yang bermotif hello kitty.


"Udah tapi mau mandi lagi, gerah.”


"Pakai AC kok gerah.”


"Sudah ya Bu aku mau ganti baju dulu.”


Lantas kudorong pelan ibu keluar, dia sempat mengomel, mengatakan Dilra pemalas, selalu saja begitu, kalau begini terus mereka berdua memang tak bisa lagi di satukan.


Aku bisa gila. Aku lekas mendekat ke kamar mandi.


"Sayang keluar gantian!”


"Bentar, sahutnya, tak lama pemilik suara itu keluar, dia tersenyum, lengkap dengan handuk melingkar di dadanya juga rambut yang basah beraroma sampo, membuatku ah sudahlah, aku bahkan masih junub.


"Sayang ada enggak handuk yang bentuknya kayak jubah?"


Dilra menatap bingung, matanya membesar,


anpa berucap satu kata pun.


"Ya semacam gamis begitu, biar enggak menggoda.”


Tangannya malah menggerayangi pinggang dengan lembut, kau tahu suasana mendadak panas lagi, sayang dengan cepat jemarinya mencapit kulit pinggangku dengan kuat.


"Aduh sakit sayang!”


Sekarang Dilra malah mencubit pinggangku berkali kali, lantas mendorongku masuk ke toilet.

__ADS_1


"Mandi biar isi kepala Mas itu enggak kotor.”


Setelahnya Dilra berlalu, menjauh dari pintu toilet. Syukurlah dia tak mendengar perkataan Ibu barusan, yang kutakutkan hanya satu, takut kalau Dilra harus meminum obat obatan antidepresan itu, bagaimana kalau dalam tidurnya nanti, dia tak terbangun lagi.


"Mandi Mas, kenapa masih melihat aku begitu, Mas mau lihat aku ganti baju ya, Ish!”


Aku hanya tersenyum nakal ke arahnya tapi Dilra malah berjalan cepat ke arahku, lalu menarik handle pintu toilet dengan cepat, aku dikurung di dalam sekarang.


"Mandi!!!" Dilra menjerit gemas, membuatku terkekeh dari dalam.


Hubungan kami jauh lebih hangat setelah sempat terpisah. Seperti saat ini, aku tengah membantunya mengeringkan rambut, dengan hair dryer, hal yang tak pernah kulakukan sejak awal pernikahan kami.


"Padahal aku juga bisa sendiri Mas,’ kata Dilra.


"Kan enggak tiap hari ini sayang, apa salahnya Mas bant kamu.”


Lagi-lagi senyum Dilra perlahan bergelincir, membuat hatiku merasa damai, damai hanya karena melihat wanitaku terus tersenyum.


Hari berlalu, sudah sepekan Mia tinggal di rumah kami, siang itu Saga datang ke rumah, bermaksud menjemput Mia, ada sedikit drama saat itu, Mia menolak di jemput, sekedar bertatap muka pun enggan.


Bisa kumengerti bagaimana hancurnya perasaan Mia, dia bahkan tak bisa membeli makanan, nasibnya lebih tragis dari pada Dilra, setiap hari mertuanya akan datang mengantar uang jatah harian pada Mia, mereka tak serumah tapi cukup berdekatan, jadi mertuanya kadang datang sesuka hati, dengan uang pas-pasan, seringnya Mia harus menahan lapar, apa lagi Saga sering pergi tugas keluar kita dalam waktu 3 sampai satu minggu.


"Kamu itu menikahi adik saya buat jadi istri atah pembantu?"


"Istri Mas, bukannya Mas juga sama?”


“Kamu menyamakan saya sama kamu? kalau saya menceburkan diri ke sungai kamu juga mau ikut?"


"Enggak Mas."


“Kalau kamu butuh ART, cari di yayasan!"


"Saya mohon Mas bantu saya kembali dengan Mia saya masih mencintai dia."


"Kenapa saya harus membantu orang yang memperlakukan adik saya seperti pelayan? Kamu tahu Mia sering kelaparan waktu kamu dinas."


"Mia kelaparan?”


Tuhan rasanya aku ingin mengumpat, kalau tak ingat aku pun pernah berbuat salah sepertinya.


"lya Bang.”


“Belajar hidup mandiri.’


w


"Ba baik Bang.”


"Kamu tahu, saya pernah salah, pernikahan saya pernah kandas di tengah jalan, saya enggak mau kalau itu juga terjadi sama kalian, susul dia, kalau kamu berhasil membujuknya, silakan bawa dia, saya tidak akan melarang, tapi saya ingatkan seorang suami tidak akan masuk surga jika mengabaikan tanggung jawab pada anak istrinya.”


Ujian mereka hampir sama dengan kami, sama-sama saling suka, tapi lagi-lagi harus terhalang bakti juga balas budi yang salah kaprah, memang benar tak ada yang mampu menukar air susu ibu dengan apa pun, tapi selayaknya manusia normal ada kalanya menjadi orang tua, bisa sedikit saja menurunkan ego, semua ada masanya, meski menolak suatu hari nanti sampai pada saat putra putri kita harus menikah, memikul tanggung jawab baru, peran baru, juga kehidupan yang baru, semua tak akan lagi sama.


Aku terkekeh melihat tingkah Mia pada suaminya, Saga pria bertubuh kekar itu di keluar dari kamar, lalu sedetik kemudian sebuah bantal melayang tepat mengenai kepalanya, dia tak melawan sama sekali, memilih mengambil bantal dengan hati-hati lalu berniat masuk lagi, sayang kali ini justru teriakan Mia terdengar sampai ke ruang keluarga.


Wanita memang sulit dimengerti, berkata pergi padahal ingin dikejar.


Aku tak mau ikut campur kutinggalkan mereka, biar Saga berjuang sendirian, nyatanya tangan orang ke tiga tak selalu membawa kedamaian justru membuat hubungan yang memanas malah semakin merenggang.


Sore hari Saga dan Mia berpamitan, rupanya dia berhasil membujuk.


"Sudah ngambeknya?" tanyaku menatap lurus ke arah Mia.


“Ih Abang mah.”


"Jaga adik saya, lain kali kalau saya sampai dengar Mia kelaparan di rumahmu, saya gak akan tinggal diam."


"Baik Bang, mulai hari ini, kami akan belajar mandiri, terima kasih ya Bang, karena nasihat Abang, rumah tangga saya dan Mia jadi selamat."


Aku hanya menepuk bahunya, setelahnya mereka meninggalkan rumah kami, satu masalah sudah selesai, sekarang tinggal memikirkan Ibu yang semakin menjadi. Sejak kedatangan Ibu, Dilra lebih banyak berdiam diri di kamar, sebenarnya aku yang menyuruhnya untuk menjaga jarak dengan Ibu, bagaimana aku tak khawatir kalau kejadian tadi siang saja, dia tak ragu untuk menanyakan hal yang intim, bisa kupastikan dia pasti mencecar Dilra habis-habisan di belakangku.


Aku berinisiatif mengajak Dilra keluar, sekedar jalan-jalan. Sayang di bawah malah berpapasan dengan Ibu.

__ADS_1


Kamu sama Dilra mau ke mana?”


"Mau keluar sebentar.


"Cuma berdua?" kata Ibu. Aku dan Dilra saling menatap.


"Ibu ikut ya bentar siap-siap dulu."


"Mending gak usah deh,” bisik Dilra pelan, setelah langkah Ibu makin menjauh.


"Ibu gak usah ikut.”


"Kenapa? Kalian keberatan?"


"Ibu sebenarnya mau apa? Mengikuti aku ke mana saja?"


"Sebentar saja Ibu ganti baji dulu.”


Ibu tak peduli malah bersih keras ingin ikut, sekarang Ibu sudah keluar dengan pakaian yang lebih rapi, tepat saat Ibu keluar dari kamar, tampak dari kejauhan Dion berlari dengan cepat dengan es krim di lengannya. Tanpa terduga Dion menubruk Ibu, bisa kupastikan baju Ibu kotor lagi, penuh dengan noda es krim. [bu sempat marah-marah membuat Dion jadi takut dan menangis.


"“Nenek akal Ndaaaa huhuhu haaaaa."


[Nenek nakal bunda]


Dion menangis ketakutan, dia lantas berlari lalu memeluk Dilra.


Sesang wajah Ibu merah padam.


"Kalau begini kan Ibu harus ganti baju lagi," katanya seraya masuk ke kamar.


“Ayo berangkat saja Dil."


“Tapi Ibu?"


"Sudah biarkan saja.”


"IBU AKU DULUAN YA, DIONNYA UDAH REWEL,' aku berteriak saat sampai di ambang pintu.


Entah Ibu menyahut apa yang jelas kami buru-buru masuk mobil, kadang aku merasa konyol dengan ulahku, tapi sikap ibu semakin hari malah seperti anak kecil saja. Kami sampai di sebuah taman bermain, aku dan Dilra duduk di bangku panjang, sedang Dion berlarian ke sana ke mari, mencoba wahana bermain, mengikuti teman-temannya yang lain.


Selagi di luar aku menelepon Mia, meminta padanya mencari solusi untuk Ibu, bagaimana pun hanya dia satu-satunya keluargaku.


"Ibu tinggal sama aku aja Bang, lagian aku kan tinggal sendiri,” kata Mia lewat telepon.


"Tapi masalahnya Ibu mau gak?"


"Biar Mia tanyakan dulu, nanti di telepon.”


“Tapi suamimu mengizinkan?"


“Saya gak apa-apa Bang, kasihan juga Mia kesepian di rumah saya sering pergi ke luar kota, akhir-akhir ini” suara Saga terdengar di telepon.


Mereka mungkin sedang meloudspeker sambungan teleponnya, baguslah setidaknya hubungan mereka ada sedikit kemajuan. Panggilan ditutup Mia bilang ingin menelepon ibu, tapi batu 5 menit sudah kembali menghubungi nomorku.


“Ibu gak mau tinggal sama aku Bang, bagaimana ya? Apa besok aku ke rumah? Jemput Ibu langsung?"


"Kenapa katanya Ibu gak mau?”


"Gak nyaman, katanya mau tinggal sama Abang aja selamanya, malah marah mengatakan Abang durhaka, kayaknya Ibu tahu kalau aku ajak Ibu tinggal di rumah di suruh Abang.”


Tuhan, rasanya kepalaku ingin meledak.


Mia dan Saga tak bisa jadi solusi, kau tahu rasanya pikiranku buntu, tak mungkin juga, aku tinggal di rumah Dilra di kampungnya, bagaimana pun juga pekerjaanku semuanya di sini. Dilra mengusap pelan pundakku.


"Sabar Mas,’ lirih Dilra pelan.


"Mas bingung menghadapi Ibu."


"Mungkin gak sih, kalau Ibu sebenarnya kesepian, kata Dilra.


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Butuh pasangan mungkin."


Bersambung...


__ADS_2