
"Dil aku mau ketemu Bapak sekarang, ada di rumah kan?"
"Jangan sekarang, besok saja,’ kata Dilra dengan nada panik, tapi samar terdengar di seberang telepon riuh suara orang-orang seperti berkerumun.
Apa Dilra sedang di luar?
“Bagaimana bisa besok, Mas sudah di depan gerbang perumahan."
“Balik lagi aja Mas, jangan nekat."
Kenapa perempuan begitu sulit dimengerti. Sudah kuturuti keinginannya tetap saja jual harga tinggi.
Kalau bukan karena sebuah perasaan bersalah yang menghantui sepanjang waktu, situasi semacam ini cukup menguras emosi. Kepalang tanggung akhirnya keputusanku untuk bertandang ke rumahnya tetap kulakukan, dari jauh rumah Dilra begitu ramai, ini bukan hari raya kenapa begitu banyak mobil yang terparkir di sana, sekitar 5 mobil bukankah itu mengundang curiga kalau hanya rekan bisnis Bapak, kurasa lima mobil cukup untuk berada di dalam halamannya, kenapa dibiarkan membeludak ke jalan. Aku sampai memarkir mobil di seberang jalan saking ramainya, Nyatanya di halaman rumah Dilra juga banyak mobil, sudah tampak seperti parkiran kendaraan di pusat perbelanjaan saja.
Ada acara apa sih?
“Hallo Dil Mas di depan, kamu keluar ya, rumahmu ramai sekali, apa sedang ada acara?"
"Mas sudah kubilang besok kenapa tetap nekat sih?"
Dilra keluar dengan wajah merah padam, tampaknya dia marah padaku, apa lagi?. Kali ini perempuan itu menarik lengangku ke halaman samping rumahnya, hanya di sana yang masih punya space kosong.
“Dil kamu tahu kan Mas mau kita bersama secepatnya, Mas sudah dapat restu dari Ibu, tenang saja insyaallah Ibu enggak akan ganggu kita, percaya sama Mas, kita mulai lagi ya dari awal.”
Aku hampir saja hendak menggapai lengan Dilra, tapi wanita itu segera mundur selangkah dariku.
“Mas yakin?" tanyanya.
"Lebih dari yakin.’
"Mas tahu kenapa aku melarangmu datang?"
Aku menggeleng, tapi Dilra menatap resah.
"Ada yang mau melamarku.” Mataku refleks membesar karenanya.
“Apa rencanamu sebenarnya Dil, kamu menyuruhku melamar tapi kamu malah menerima lamaran orang lain.”
“Aku enggak tahu apa-apa Mas.”
"Siapa dia?"
"Partner kerjaku Mas, Bapak yang meerencanakan semua, sekarang pilihannya ada di Mas, kalau hari ini kamu sanggup meluluhkan Bapak maka aku, mau rujuk."
"Siapa takut Dil sekali pun harus menghadapi mereka semua.”
Dilra hanya tersenyum, lalu setelahnya dia menuntunku untuk masuk, tinggal selangkah lagi Dil, sudah kuduga dari awal tidak ada yang biasa-biasa saja saat laki-laki dan perempuan saling bertemu untuk waktu yang intens, kalau tak keduanya maka salah satu dari mereka pasti memiliki rasa berbeda. Dilra mengatakan, dia akan masuk lebih dahulu, katanya tak akan baik kalau aku yang masuk bisa jadi keluarga Hiro, akan merasa sangat dipermainkan, ini juga demi menjaga nama dan hubungan baik dua keluarga, awalnya aku menolak tapi Dilra bersih keras meyakinkan kalau dia akan menolaknya dengan cara apa pun.
Aku bisa apa saat wanita sudah mengultimatum, aku pikir ini juga jalan terbaik, aku bisa masuk setelah keluarga mereka meninggalkan rumah. Sembari menunggu aku kembali ke dalam mobil, kulantunkan zikir agar hatiku tenang, bagaimana pun keluarga Hiro tampaknya cukup terpandang, beberapa mobil mewah yang berjajar di halaman, sudah cukup menjelaskan. Ketakutanku kalau Dilra malah menarik kembali janjinya, mengingat aku yang selama ini justru tak pernah memberinya hak dalam mengurus asetku. Itu kesalahan besar, yang harus kubayar dengan perpisahan yang menyakitkan, membuatku frustrasi sepanjang waktu.
Hampir 30 menit, rombongan Hiro, satu persatu meninggalkan rumah, sekarang tinggal mobilku. Aku melangkah perlahan, sembari memanjatkan doa agar Tuhan mempermudah jalan kami.
Hari ini kupastikan kamu tak perlu menahan rindu lagi Dil, tak perlu berpura-pura menjadi Rere hanya karena malu menyapaku. Dilra menyambut dengan senyuman hangat yang penuh isyarat, sedang Bapak dan !bu memasang wajah terkejut, juga sedikit masam.
__ADS_1
Sejenak pandangan mereka, beralih pada Dilra.
"Kamu menolak lamaran Hiro demi laki-laki ini?" katanya dengan sorot mata memerah.
"Pak, saya minta maaf bukan saya bermaksud demikian, tapi saya benar-benar menyesal dan ingin memperbaiki semuanya.”
Bapak tak menjawab tapi dia memilih duduk di ruang tamu.
"Duduk! Kamu Dil, biarkan Bapak bicara berdua sama mantan suamimu ini!" tegas Bapak.
Dilra ragu tapi Ibu menarik paksa lengannya.
"Kamu tahu yang kamu lakukan barusan? Kamu laki-laki bukan? Kenapa malah menyuruh Dilra yang menghadapi keluarga Hiro, kamu yang mau mempersuntingnya apa hal barusan kamu sebut berjuang untuk Dilra, kamu masih saja tak berubah, tegaslah jadi laki-laki, jangan terus berlindung pada perempuan!"
Ya aku salah, tapi semua sudah berlalu, putrimu yang memaksa untuk tetap diam, tapi sekarang malah aku juga yang disalahkan.
Selain minta maaf apa lagi yang kulakukan.
"Kamu tahu hal apa yang Dilra alami setahun terakhir?"
“Bagaimana saya bisa tahu sedang Dilra dan Bapak menutup akses untuk menghubungi.’
"Untuk apa saya membuka akses untuk kamu saling berhubungan, itu sama saja menggali kuburan sendiri untuk putriku.’
"Dia depresi parah sampai sering melakukan aksi bunuh diri, kamu tahu berapa kali dia masuk rumah sakit?"
"4 KALI SETIAP BULANNYA?"
“Astaghfirrullahaladzim, Pak."
"Demi Allah Pak, saya tidak tahu tentang kabar ini.”
Kali ini mataku mulai memerah, ada nyeri yang teramat sangat menjalar perlahan ke dalam relung hati.
"Setiap hari dia menangis sepanjang waktu, berteriak-teriak kadang-kadang melamun di kamar dengan tatapan kosong, dan sekarang kamu datang ingin menikahinya, apa maumu sebenarnya hah?"
Tanpa aba-aba Bapa memukul perut dengan cukup kencang, kepalan lengannya masih terasa sakit meski usianya tak muda lagi, tanpa sadar air mata hampir saja luruh, bukan karena sakit menahan pukulan, tapi sakit sekali mendengar Dilraku seputus asa itu.
"KENAPA KAMU TIDAK SEKALIAN BUNUH SAJA PUTRIKU, DARI PADA KAMU BUAT DEPRESI LAGI!"
Aku masih terbatuk, karena pukulan Bapak, hampir saja muntah, tapi mati-matian ditahan, tapi akhirnya aku tak sanggup juga, gegas aku berlari ke depan.
Setelah kembali Bapak menatapku dengan sorot mata membunuh.
"Masih berani kamu menampakkan diri? Sakit kan? Ini enggak seberapa dari pada nyawa anakku yang kau bunuh berkali-kali,tapi Tuhan masih saja memberi Dilra kesempatan untuk hidup, padahal waktu itu saya sendiri malah menginginkan kematian untuknya."
"Hidup Dilra begitu terpuruk hampir tak bisa membedakan yang nyata dan tidak, kamu tahu pengasuh Dilra, kau pikir dia pengasuh? Tidak, dia perawat yang kutugaskan mengontrol keadaan Dilra."
“Andai saya tahu ini, pasti saya bantu pengobatan Dilra Pak."
"Apa kamu merasa cukup hanya karena mengirimkan uang ganti rugi waktu itu? Lalu saat sembuh kamu bisa mengambil Dilra dari saya lagi?”
“Enggak akan saya biarkan, sampai saya mati, enggak akan saya izinkan Dilra rujuk dengan kamu!"
__ADS_1
Sekarang tiba-tiba Bapak terdiam, matanya memerah, tapi wajahnya memucat sering waktu, dia bahkan tetap diam meski terus kuajak bicara perihal keadaannya.
Hingga keringat dingin mulai mengucur dari dahinya, aku mulai beranjak bermaksud mendekat untuk memastikan beliau baik-baik saja sayang telapak tangannya di angkat secepat kilat, niatku urung seketika, dia menolak bantuanku.
Sekarang telapak tangannya itu malah diletakkan di bagian dadanya, dengan ringkih juga sedikit tertatih Bapak bangkit tapi lagi lagi telapak tangannya di angkat, agar aku tak mendekat, padahal untuk jalan saja dia sempoyongan, harus di bantu dengan berpegangan pada tembok juga benda-benda di sekelilingnya.
"BAPAK!!!
Bapak baru saja terjatuh, karena teriakanku juga, Ibu dan Dilra keluar, lantas kami membawa Bapak ke rumah sakit.
Kami semua menunggu di luar, hingga hampir setengah jam berlalu dokter baru keluar dari ruangan Bapak.
Dokter itu mengajak Ibu bicara berdua, sayang aku dan Dilra tak bisa ikut mendengar pembicaraan mereka.
Hampir 5 menit kedua orang itu terlibat dalam obrolan yang entah, pada akhirnya setelah Ibu mendekat ke arah kami, lantas dia terduduk lesu, air matanya luruh, kami berusaha mengajak ibu bicara tapi wanita paruh baya itu malah memeluk Dilra, hal seperti ini justru membuat pikiran kami kian melayang ke arah yang negatif.
“Bapak kena stroke Dil,’ ucapnya dengan isaknya yang tak tertahankan.
Dilra tak banyak bicara, kali ini dia membiarkan Ibu menghilangkan sesak dalam pelukannya, sesekali netra Dilra melirikku, aku paham Dil tak mungkin kalau kita harus meneruskan rencana kita kali ini, mendengar yang terjadi setahun lalu padamu saja hati ini ragu, meski kelihatan baik-baik saja dari luar, aku tak pernah tahu apa yang terjadi dalam hatimu.
Waktu terus berlalu, Ibu begitu terpukul mendapati keadaan Bapak yang tak bisa bicara dengan normal, badan sebelah kirinya kaku, tak bisa digerakkan sama sekali. Aku baru saja ingin ikut masuk tapi Ibu segera mencegah, dia bahkan sedikit mendorong keluar.
“Selesaikan masalah kalian di luar, dan kamu Dil pikirkan baik-baik, sekarang gara-gara laki laki ini Bapak jadi dirawat di rumah sakit, kalau kamu masih tetap mempertahankan laki-laki ini, silakan, Ibu dan Bapak enggak akan lagi peduli sama kamu!"
Aku dan Dilra saling menatap dengan perasaan gundah, bingung mungkin juga ragu, keputusan apa yang harus kami ambil.
"Kita salah Mas, dari awal kita sudah gagal membina rumah tangga maka selamanya juga akan gagal.”
"Kenapa selalu ada halangan Dil?"
"Aku enggak tahu.”
"Kita tunda sampai Bapak sembuh?" Dilra malah menggeleng.
"Dulu Mas sering banget menuruti permintaan Ibu yang enggak masuk akal termasuk kalau itu menyakiti hati aku, bahkan juga harga diriku, kamu terus saja menuruti kata-kata Ibu tanpa peduli, aku protes."
"Maafkan Mas Dil, Mas janji enggak bakal begitu lagi.”
“Maka hari ini, biarkan Mas merasakan apa yang aku rasakan, aku akan menuruti kata-kata Bapak."
"Dil tolong, apa kamu sedang berusaha membalas semuanya?”
"Enggak, tapi keadaan dan waktu yang membawa Mas harus merasakan hal ini, sudah kubilang yakinkan Bapak, BUKAN BIKIN BAPAK SAKIT!"
Dilra lantas berjalan cepat mendekati ruangan Bapak, gegas aku mengejarnya.
"Sama sekali Mas enggak ada niat buat bikin Bapak sakit, Dil tolong dengerkan Mas dulu....”
Belum selesai bicara Dilra malah mengangkat tangannya mengisyaratkan supaya aku berhenti mengikuti, tapi beruntung sebelum masuk ke ruangan itu, Dilra sempat bicara padaku.
"Pulang! Dan jangan kembali lagi, atau aku akan lebih membencimu, kamu tahu siapa orang yang terbaring di sana, dia bukan hanya sekedar Bapak, tapi orang yang telah mengembalikan hidupku, kebahagiaanku, menarikku dari penderitaan yang kamu dan Ibumu buat, apa kamu tak pernah diajari Ibumu bicara dengan baik, kamu harusnya tahu batasan kapan kamu bicara dan stop, pergi!"
Dan setelahnya pintu itu tertutup.
__ADS_1
Bersambung...