
“Sayang plis bangun, hey sayang.”
Aku mengguncang tubuh Dilra sedikit kera tapi dia tak mau bangun juga.
Hingga akhirnya aku mengusap air ke wajahnya, barulah Dilra terbangun.
“Mas? Kok sudah pulang?" Aku memeluk perempuan itu dengan erat.
“Astagfirrullah Dil, kamu kok susah banget dibangunlan.”
Bukannya menjawab Dilra malah menatap lurus ke arah pintu, lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar, seakan dia tengah memeriksa keadaan sekitar.
"Ini apa?” sekantung plastik putih berisi obat-obatan kudekatkan wajah Dilra.
Dia masih tak mau menjawab.
"Kamu masih rutin minum ini?"
"Ibu ngomong apa sama kamu tadi Dil? Kalau kamu gak mau cerita, biar kutanyakan langsung pada Ibu.”
Dilra dengan cepat melingkarkan tangannya ke pinggangku, mencoba mencegahku, yang sudah kepalang emosi, melihatnya yang sampai harus minum obat-obatan ini.
"Biar ibu aku suruh pulang saja sementara tolong jangan mencegah, jangan menangis Dil, kamu enggak perku takut, ada Mas di sini, tenang oke."
Kembali kueratkan pelukan ditubuhnya, memintanya untuk tetap dikamar, meski dia bersih keras untuk ikut, tapi aku tak mau memperparah lukanya kalau harus menyaksikan sedikit perdebatan, yang mungkin akan terjadi antara aku dan Ibu. Sudah cukup Dil, kamu tak boleh menderita lagi, itu janjiku di depan jenazah Ibumu.
"Ibu kenapa sih kayak begini terus, jujur sama aku, apa salah Dilra sama Ibu?"
"Ibu enggak suka kamu terlalu memanjakan dia?”
"Ibu iri sama Dilra?"
"Ya terus apa namanya kalau bukan iri?”
"Kamu kok menyalahkan Ibu, Dilra pasti mengadu ke kamu?"
"Dilra enggak mengadu Bu, mana ada dia bilang yang buruk tentang Ibu, sekarang aku tanya pernah enggak Dilra nyakitin Ibu, kalau pernah biar menegurnya langsung, akan aku suruh dia minta maaf sekarang juga.’
Ibu terdiam lagi, sekarang malah tertunduk, aku yakin sekali jawabannya pasti tidak, Dilra yang kukenal adalah wanita yang tahu batasan dan punya moral tinggi, untuk apa memusuhi seseorang tanpa alasan yang masuk akal.
"Ibu sakit hati sama perlakuan Bapak dulu? Terus Ibu gak terima karena aku memperlakukan Dilra dengan baik, beda sama yang Bapak lakukan ke Ibu?"
"Ngomong apa kamu, jangan sok tahu, enggak usah bahas orang yang udah gak ada!"
"Ibu kenapa sih, kalau Ibu sakit hati sama Bapak, sakit hati sama nenek kenapa malah ditumpahkan ke aku dan Dilra, dia itu orang lain yang enggak ada hubungannya sama sekali sama Ibu, sekarang terserah Ibu, kalau mau tetap seperti itu, aku angkat tangan.”
Kutinggalkan Ibu sendiri di kamar tapi saat itu justru pintu kami diketuk dari luar, aku membukanya, ada Mia di balik sana, matanya sembab.
“Abang, hiks hiks.”
Mia memelukku, tubuhnya berguncang, hal itu sontak mengundang seisi rumah mendekat, Dilra dengan secangkir teh di tangannya dengan lembut menuntun Mia untuk duduk di sofa. Dilra bahkan dengan berani, mencegah saat Ibu berusaha menginterogasii Mia yang masih terisak. Sekarang Mia malah memeluk Dilra.
"Maafkan aku Mbak, maafkan aku yang diam saja waktu itu, maafkan aku yang enggak pernah membela Mbak sama sekali, seharusnya aku enggak sejahat itu hiks hiks.” Dilra hanya tersenyum simpul, sembari mengusap pundak Mia yang turun naik.
"A aku minta maaf Mbak, aku enggak sanggup lagi..”
__ADS_1
“Astaghfirrullah, jangan bilang gitu, kita masuk ke kamar mau?"
"Kamu kenapa malah mau ngomong sama Dilra, tahu apa dia, ayo ikut ke kamar Ibu aja.”
Mia menggeleng, dan malah menggenggam erat telapak tangan Dilra, tampak lengannya bergetar, aku seperti dejavu menyaksikan Mia kembali terluka, meski kali ini aku tak tahu apa duduk permasalahannya, yang jelas dari sini saja, tampak kalau dia tak baik baik saja. Dua perempuan itu semakin menjauh menaiki anak tangga hingga kedua sosoknya tak lagi tampak, setelah bunyi pintu tertutup, hampir satu jam, aku menunggu mereka, Ibu yang sama gelisahnya menjadi tak sabar, diia mengetuk dengan keras berkali kali, tapi sayang usahanya sia sia, mereka memilih menulikan diri.
"Dil? Bagaimana Mia?" tanyaku.
“lya bagaimana Mia, dia baik baik saja kan?" tanya ibu.
"Dia tidur” katanya tenang.
"Kok bisa, dia salat?” aku melihat ke dalam kamar, Mia terbaring dengan mukena yang masih dia kenakan.
"Hmm, malam ini aku tidur sama Mia, Mas enggak keberatan?"”
“Enggak, kalau begitu Mas tidur di sofa."
“Nanti kuantarkan selimut dan bantalnya.’
Aku hanya mengusap rambut Dilra pelan, lega rasanya, setidaknya Mia tak lagi tersedu sedu, wajahnya begitu damai saat terlelap, apa sebenarnya uang terjadi padamu Mia, bukankah di bulan bulan beliau langsung pergi begitu saja, kuikuti ke arah mana langkahnya tertuju, rupanya dia masuk ke dalam kamar. Nyatanya Dilra juga mengikutiku, kini dia persis di sisiku.
"Sini deketan!”
Dilra memeluk, hangat, masih sama saat pertama kali dia memelukku di malam pertama kami.
“Apa yang kamu pikirkan Mas?"
“Apa Mia diperlakukan dengan baik oleh keluarga suaminya?”
“Apa ini karma?”
"Dalam islam enggak ada yang namanya karma, tapi dalam islam setiap perbuatan pasti akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti, ada yang diberikan balasan di dunia, ada juga yang di tunda balasannya di akhirat nanti, yang terjadi sama Mia enggak bisa kita katakan itu balasan dari Allah, bisa jadi itu cuma ujian kan?"
"Kenapa kamu bisa bilang begitu?”
"Bukannya Mas bilang Mia sudah menyesali semua perbuatannya dulu, waktu di pernikahannya bahkan dia sampai menangis memohon maaf dariku, percayalah Tuhan enggak sejahat itu, memberi balasan pada seorang hamba yang sudah kembali ke jalannya."
"Mas akan temui suaminya Dil, Mas gak terima Dil.’
"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, ingat yang terjadi pada kita, karena campur tangan orang lain, hubungan kita pernah kandas.”
Arghhbh!!!! Aku meraup kasar wajah, mengacak rambut dengan asal, melepas emosi yang terlanjur membuncah. Dilra kembali menenangkan, dia menenggelamkan kepalanya ke dalam dadaku.
“Mak akan tunggu sampai besok malam, hanya sampai besok malam, kalau dia enggak mau datang ke sini, Mas akan selesaikan dengan cara Mas sendiri."
Menjelang azan magrib, Mia keluar dari pernikahan harusnya hubungan kalian sedang hangat hangatnya. Ibu turut ikut ke dalam kamar memandangi wajah putrinya yang terlelap, tak ada kata yang terucap,kamar, matanya masih sembab, kami menawarinya makan tapi dia menolak, Ibu yang terus saja mengajak Mia bicara pun, tak ditanggapi sama sekali, sampai raut wajah Ibu berubah kesal.
“Kamu itu enggak sopan! Orang tua ngomong bukannya di jawab."
Mia malah menangis lagi, ya Tuhan apa ini, kenapa keluargaku harus mengalami apa yang terjadi pada Dilra di masa lalu, tatapan kosong Mia, sikapnya semua persis seperti Dilra dulu.
Jadi beginikah rasanya Pak Bu, ketika putri semata wayang Bapak yang tumbuh dan besar dengan penuh kasih dari kalian, harus terluka di rumah orang lain, rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman baginya, tapi yang kuberikan justru neraka, Dilra harus merasakan pedihnya neraka bahkan sebelum kematian itu datang. Ketakutanku akan Mia yang juga harus ketergantungan obat seperti Dilra semakin menjadi.
“Sayang Mia makan dulu sedikit ya?” Nihil dia tak merespons.
__ADS_1
“Buku mulut Mia, biar Mbak yang suapi, Mia belum makan kan dari pagi?” Dan kau tahu apa yang terjadi Mia malah membuka mulutnya, meski dia tak menghabiskan jatah makannya tapi luar biasa, Dilra dengan mudahnya membuat Mia bisa makan, padahal kami keluarganya, orang-orang yang bersamanya sejak dulu, malah gagal dan tahu harus berbuat apa. Usai makan Dilra dan Mia kembali ke kamar, meninggalkan aku dan Ibu di meja makan.
"Kenapa Mia bisa begitu Lang?"
"Sakit kan liat Mia begitu Bu?" Ibu diam.
"Ibu juga dulu bikin anak orang depresi seperti itu, apa ibu enggak merasa bersalah?"
"Kapan Ibu buat orang jadi depresi Lang, enggak pernah."
"Dilra, Ibu pikir Kenapa mertuaku sampai membawa Ibu ke kepolisian, kalau anaknya baik baik saja, mereka pasti enggak akan senekat itu.”
~
Ibu masih saja terdiam, sejak aku menyinggungnya tentang depresi Dilra, bahkan saat aku sudah masuk lagi ke dalam, ibu masih saja duduk di ruang makan.
“Kenapa masih di sini, istrirahat Bu.’
"Boleh enggak Ibu yang tidur sama Mia?"
"Gak usah, biarkan sama Dilra saja.”
"Kamu gak percaya sama Ibu, bagaimana pun namanya anak pasti akan lebih tenang sama lbunya."
"Ibu tahu gak dulu yang ibu lakukan ke Mia juga bikin dia depresi, sudahlah Ibu istirahat saja."
“Kamu marah sama Ibu?"
"Aku gak marah hanya kecewa sama sikap Ibu yang suka membalaskan dendam pada orang yang bahkan tak punya salah apa-apa, dia istriku Bu, perempuan yang memberikan Ibu cucu, penerus generasi kita, gak bisa kah ibu menyayanginya, sedikit saja.”
Dan yang paling aku benci itu saat berada di posisi ini, ibu selalu diam tiap kali meminta berdamai dengan Dilra.
Pagi hari di akhir pekan, selalu ramai, banyak orang yang sekedar berjalan-jalan, lari pagi atau hanya mencari sarapan di alun-alun, perumahanku, hari ini sengaja kuajak semua anggota keluargaku jalan-jalan keliling kompleks, kata Dilra itu bagus untuk Mia, meski di lapangan Mia lebih banyak diam dan mengamati sekitar, tapi dia sudah mau di ajak bicara, walau dengan jawaban sekadarnya.
Dari kejauhan tampak satu keluarga seperti kami berjalan dari arah yang berlawanan, ada sepasang suami istri yang sudah senja, sepasang suami istri seumuran kami, juga 2 orang anak laki-laki tengah mengapit ke dua tangan neneknya yang tampak kepayahan.
“Pelan-pelan saja Nek,’ kata bocah laki-laki yang lebih besar, mungkin kakanya.
Si Nenek hanya tersenyum, mereka sudah tertinggal jauh, tapi begitu sanak keluarganya yang lain menengok, mereka semua tertawa, menyadari ada anggota keluarganya yang tertinggal cukup jauh.
Tanpa kusadari Ibu terus memperhatikan ke arah mereka, hingga berakhir pada derai bulir bening, yang jatuh begitu saja.
"Ibu ingin diperlakukan seperti itu?” Ibu menatap.
"Mulai sekarang berhenti buat membenci menantu-menantu Ibu tanpa alasan yang jelas."
Kami semua pulang dalam keadaan kenyang, tadi kami sempatkan sarapan di jalan. Hari ini Mia lebih memilih istirahat di kamar Ibu mungkin merasa terganggu melihatku kerap masuk dan keluar mengambil sesuatu dari dalam kamar.
Hari itu kenapa hasratku pada Dilra begitu tak terbendung, entah kurasa kami seperti pengantin baru lagi.
“Kamu tadi kan pas berangkat sudah mandi sekarang mandi lagi?” terdengar suara Ibu dari balik pintu kamar, tepat saat Dilra keluar, hendak mengambilkan air minum untukku.
Apa sih Ibu, sampai urusan ranjang pun dia ikut campur, apa kali ini aku juga harus minta bantuan Ardi, kasihan Dilra wajahnya merah padam gara-gara Ibu yang terus mencecarnya, perihal rambutnya yang basah sehabis keramas karena ulahku.
Bersambung...
__ADS_1