
"Bagaimana? Ibu saya sudah ketemu?"
"Belum Mas.”
"Kemungkinan pencarian dilanjut besok Mas, karena sudah larut malam juga.”
"Apa enggak bisa dilanjut sampai ketemu Pak?"
"Maaf Mas terlalu bahaya kalau kami tetap memaksa, besok kami akan kerahkan relawan lebih banyak lagi."
Kau tahu saat itu, tubuhku bergetar hebat, ketakutan luar biasa memenuhi isi kepala, ketakutan akan kehilangan sosoknya, benar kata Dilra seberapa pun dalamnya luka yang ditorehkan sejak dulu, dia hanya korban, korban ketidakadilan seseorang. Bagaimana mungkin seseorang mampu membahagiakan orang lain, kalau sekali pun dia belum pernah mengecapnya, bagaimana jiwa-jiwa yang memendam lara menahun dituntut, harus mampu bersikap adil, sedang seumur hidupnya akrab dengan begitu banyak ketidakadilan. Saat itu tubuhku luruh ke tanah, kau benar Dilra, semua dibayar tunai hari ini juga, dia orang yang tadi siang kubentak, telah pergi, pergi entah ke mana, masih di dunia atau ..
Tuhan, tolong jangan biarkan dia pergi dengan cara seperti ini, berikan Ibu kesempatan sekali lagi, panjangkan umurnya Tuhan. Orang-orang berbisik menatap pilu padaku, yang bersimpuh di tanah, ada yang membantu berdiri, ada yang menawarkan minum, dan ada pula yang malah mengarahkan lensa kamera, dunia dan isinya memang selalu punya dua sisi.
"Tutup kameramu!" ucapku mendekati seorang pria yang kuperkirakan usianya sekitar 20 tahunan.
"Apaan sih Mas saya lagi video ke sana kok?"
"Hapus videonya!"
"Orang saya enggak mideo Masnya kok.”
"HAPUS GUE BILANG, DENGER KALAU DI SINI ADA YANG BERANI NGAPLOAD VIDIO SAYA KE SOSIAL MEDIA, SAYA TUNTUT KALIAN!" Aku berteriak kesetanan, seketika, semua kamera yang mengarah ke arahku mendadak diturunkan kembaili.
"Sudah Mas istigfar, sini mari duduk di warung saya, minum dulu,” tawar laki-laki paruh baya, pemilik warung di dekat jembatan itu. Kusempatkan diri menyesap teh yang beliau suguhkan.
"Mas bukan orang kampung sini?"
"Bukan, tapi rumah saya juga enggak jauh dari sini."
"Sebaiknya Mas istirahat dulu, besok biar bisa fokus lanjut cari Ibu, kebetulan warung saya buka 24 jam, jadi nanti kalau ada kabar terbaru saya bisa kabari, Mas tinggalkan nomor teleponnya saja."
"Kalau boleh, bisa gak Pak, saya menumpang di sini saja sampai besok pagi, saya benar-benar gak tenang, khawatir sama Ibu."
"Mau tidur di mana Mas, warung saya kecil itu lihat, cuma masuk badan saya saja, sudah sesak.”
"Saya tidur di mobil, nanti saya parkirkan mobil saya di samping warung Bapak apa boleh?"
"Ya boleh Mas, orang ini jalanan unum."
"Terima kasih ya Pak."
Bapak itu tersenyum, setelah kuparkirkan mobil ke samping warung, aku malah tak mengantuk sama sekali, pikiranku kalut. Aku baru sempat membuka ponsel, ada begitu banyak panggilan dari Dilra.
"Sayang maaf aku enggak jemput kamu.’
"Ya gak apa apa, bagaimana Ibu sudah ketemu?"
"Belum, proses pencarian di hentikan, besok pagi baru lanjut.”
"Di sini ada Mia sama suaminya, Mas di mana biar disusul Saga ke sana.”
"Di jembatan yang mau ke kampung rambutan."
"Aku dan Mia ke sana besok pagi ya, sekarang biar Saga dulu yang menemani Mas di sana."
Semalaman suntuk menyusuri sungai tapi Ibu tak kunjung ditemukan, hingga hampir tubuh ini terjerembap, kalau tak di bantu Saga pasti sudah tercebur ke sungai, jangankan memikirkan pijakan kaki, semua hanya terfokus pada keselamatan Ibu.
Azan subuh berkumandang, dalam sujud terakhir kupanjatkan doa pada Sang Illahi Robbi, meminta perlindungan padanya, jalanku terasa buntu, perasaan bersalah padanya semakin berkecamuk dalam dada, membuatku tak bisa tenang, bagaimana pun aku telah menyakiti wanita itu, bahkan belum sempat terucap maaf padanya, tak terbayang kalau dia harus pergi meninggalkanku secepat ini, jangan lakukan ini Tuhan, kumohon.
Tak berselang lama terdengar teriakan warga di sekitar sungai.
“Pak itu ada ibu ibu di pinggiran sungai, kayaknya korban yang hanyut semalam."
“Allahuakbar, alhamdulillah, itu Ibu saya, di mana pak tolong antar saya ke sana."
"Di seberang Mas, kayaknya Ibu itu udah selamat dari semalam cuma karena kehabisan tenaga jadi pingsan.’
Netraku tak sanggup menahan linangan yang terus saja membasahi wajah, gegas aku dan Saga menggendong Ibu, di bantu warga sekitar juga.
"Mas, alhamdulillah.” Dilra sudah menunggu tepat di samping mobilku terparkir.
Aku merebahkan tubuh Ibu di pangkuan, kami berusaha membuat Ibu terjaga, di bantu warga setempat juga. Akhirnya Ibu bisa sadar.
Dia menatap sendu ke arahku, lalu setelahnya air matanya mulai mengalir dari sudut matanya, gegas kugendong dia ke mobil. Mia duduk di belakang menjaga Ibu, sedang aku di depan bersama Mia. Kupercepat laju mobil, agar Ibu bisa segera diperiksa kondisinya, sebagian kaki dan tangan Ibu banyak terdapat luka memar dan sayatan seperti terhantam bebatuan juga tersayat ranting pohon di sepanjang aliran sungai.
Ibu tak banyak bicara, mungkin masih shock juga. Hingga dokter sudah keluar dari ruangan Ibu, Ibu juga masih diam saja, hanya sesekali mencuri pandang padaku lalu setelahnya memilih memalingkan wajah dariku. Kami hanya berdua sejarang Mia dan Saga sedang mencari sarapan, sedang Dilra tengah mengurus ke bagian administrasi.
"Maafin Galang Bu, maaf karena sudah kasar sama Ibu,’ kucium lengannya yang masih bergetar, karena Ibu masih terus terisak.
"Apa Ibu salah minta diperhatikan anaknya sendiri, kenapa kamu cuma sibuk sama istrimu.”
__ADS_1
"Bu, aku ini sudah menikah, tanggung jawabku bukan cuma Ibu, ada Dilra dan Dion juga.”
"Ibu ini lbu kamu Lang, Ibu juga enggak akan hidup selamanya, seumur hidup enggak pernah ada yang peduli sama Ibu hiks hiks hidup Ibu enggak pernah senang, Ibu baru senang pas kamu sudah besar tapi setelah kamu menikah, kamu juga berubah kamu sudah enggak peduli sama Ibu.”
"Astaghfirrullah, Bu, Dilra itu sakit, kelihatannya saja baik-baik saja, dia sakit karena siapa? Karena kita, karena perlakuan Ibu dan aku, dia harus kehilangan anak-anaknya dua kali, apa Ibu enggak pernah merasa bersalah sama sekali? Aku menegur, buat kebaikan Ibu juga, aku enggak mau !bu terus-terusan menyakiti orang lain."
"Terus saja bela istrimu Lang, sudah tinggalkan Ibu sendiri, biar Ibu tinggal di kampung, kalian dibesarkan susah payah sudah besar malah buang orang tua kayak sampah."
"Siapa yang buang Ibu, enggak ada sama sekali buat menyingkirkan Ibu.”
"Ya sudah kamu mau pilih Ibu atau istrimu.’
"Aku enggak akan meninggalkan Ibu."
"Bagus kalau begitu, tinggalkan istrimu.”
"Aku juga enggak bakal meninggatkan Dilra,dia istriku, dan selamanya juga akan begitu Bu, aku permisi.”
“Durhaka kamu Lang."
Aku lantas menutup pintu, selalu seperti ini tiap kali membicarakan hal ini dengan Ibu, dari pada emosiku naik lagi lebih baik menghindar.
"Eh Dil? Kamu di sini? Dengar semuanya?"”
Rupanya sedari tadi Dilra berasa di balik pintu, matanya sudah berembun.
“Sayang, Mas enggak akan meninggalkan kamu apa pun kondisinya, cukup sekali Mas kehilangan kamu, ke depannya Mas enggak mau itu terjadi lagi.”
Dilra diam, dan inilah yang paling kutakutkan.
"Sayaang?"
Aku memeluk wanitaku yang membisu, terus menatapku dengan pandangannya yang memilukan.
"Jangan begini sayang, Mas gak akan ninggalin kamu, kita akan punya banyak anak nanti, ya? Jangan begini, kita carikan Ibu pasangan, siapa tahu dengan begitu, Ibu gak lagi bersikap begini.”
Dilra masih diam, hingga Ardi dan Farah tiba-tiba saja sudah di depanku, bersamanya ada juga gerombolan teman-temannya, seorang laki laki paruh baya, dia tampak sudah berumur mungkin tak beda jauh dengan Ibu, tapi postur tubuhnya masih tegak juga kelihatan bugar.
Ardi tersenyum nakal ke arahku.
"Set ah pengantin baru di mana saja pelukan, sudah kayak teletabies.”
"lh Mas biarkan saja,’ sahut Farah gemas.
"Bini lu tadi bilang, habisnya gue telepon, enggak diangkat-angkat."
"Ini siapa?"
"Ini Om Guntur, kenalan dong, Ini Om teman saya yang punya WO istrinya sih yang punya, ini mah suaminya.”
“Saya Guntur Mas Mbak."
Kami saling berjabat tangan, Si Ardi ini sangat pintar, jadi Om Guntur sengaja dikenalkan dengan Dilra, agar tak mengundang curiga nantinya, kebetulan Om Guntur akan menikahkan salah satu pengurus Yayasannya dia seorang yatim piatu juga sejak kecil, anak itu, sudah tinggal bersama Om Guntur, jadi sudah seperti putri kandungnya sendiri. Dilra yang awalnya bersedih dia jadi menatap bingung.
"Ini Dil mau kasih pekerjaan ke kamu loh, kok di diemin.’
Sekarang Dilra malah mengerutkan dahi. "Jodoh buat ibu,” bisikku pelan.
“Ohhh.” Sekarang Dilra tampaknya mengerti.
"Begini Om mertua saya kan masih di rawat ya, besok saja kita bahas soal proyeknya ya, bagaimana?”
"Oh ya enggak apa apa, saya ke sini juga sekalian mau menengok, saya kenal baik dengan Galang, mertua adek ini Ibunya teman Galang kan?”
"lya Orn, mari masuk saja."
"Terima kasih ya." Setelahnya kami pun masuk ke dalam, kecuaili Dilra.
"Sayang kamu enggak masuk?”
“Aku di sini saja." Dilra masih saja mencoba tersenyum, meski aku tahu hatinya sedang tak baik-baik saja, aku cuma mau masuk sebentar nanti aku balik lagi. Dilra mengangguk, lalu setelahnya kutepati janjiku untuk menemaninya duduk di luar, sayang Dilra tak ada di sana.
Rupanya hanya berpindah tempat dia sedang berdiri di dekat jendela, sepertinya tengah mencari sesuatu di tasnya.
“Astaghfirrullah sayang sebanyak itu mau kamu telen semua? Kamu bisa over dosis sayang."
Kau tahu Dilra tengah menggenggam begitu banyak pil di tangannya, kalau saja aku telat barang sedikit obat itu pasti sudah berpindah ke mulutnya.
“Ikut Mas, ayo kita pergi."
Aku memaksanya untuk ikut denganku. Dilra menggeleng.
__ADS_1
"Kasih obat itu ke aku Mas."
"Gak kayak begini caranya sayang, kamu bisa mati, aku enggak bisa kehilangan kamu.”
"Aku enggak bakal mati, kasih obatnya ke aku Mas.”
“Sudah ayo,’ kukantongi obat itu, tak mungkin kuberikan pada Dilra, bisa saja dia meminumnya dengan dosis sembarangan.
"Aku tahu takarannya percayalah padaku."
"Bagaimana bisa kamu minum segitu banyak dibilang ada takarannya.”
"Kamu enggak bakal mengerti, hanya orang orang kurang waras sepertiku yang paham, kamu yang bodoh, BOD*H MEMIKIH MENIKAH SAMA PEREMPUAN SAKIT JIWA!" kami hampir saja sampai ke tempat psikiater, tapi Dilra sudah teriak teriak.
Aku jadi gugup sendiri, setelah teriak dia bahkan menangis lagi tersedu sedu.
Aku jadi teringat ucapan Bapak.
Dilra pernah bulak-balik rumah sakit empat kali dalam sebulan karena percobaan bunuh diri, hari ini aku tahu dia belum benar-benar sembuh, dia masih sakit, dan kali ini bodohnya aku malah mengantongi obainya.
"Hahahhaha aku gak gila Mas, gak gila!”
"Anakku masih hidup kok, kamu aja yang gak bisa lihat mereka, hahahaha.”
"Hiks hiks hiks Bapaaak Ibuuuu, aku mau ikut kalian aja hiks hiks.”
Sayang ya Allah, Dil. Aku harus bagaimana, mau meneruskan jalan pun kadang Dilra memukul-mukul kaca jendela minta turun, kadang-kadang menarik lenganku juga. Telepon saja, telepon psikiater Dilra.
"Hallo Pak, istri saya Dilra, teriak-teriak, nangis, apa yang harus saya lakukan Pak, saya bingung?”
“Loh, memangnya Bu Dilra sudah tidak mengonsumsi obat yang saya resepkan kemarin?"
"Kemarin? Ini masalahnya istri saya minum obatnya banyak banget, terus juga beda sama yang kemarin, saya panik takutnya over dosis, makanya saya rampas."
"lya kemarin Ibu sempat datang ke saya, saya tambahkan dosisnya, kenapa ditahan, kasih aja Bu Dilra obatnya kalau masih bisa, kalau tidak bawa saja ke tempat saya, liat aja di plastiknya kan ada aturannya kasih saja Bu Dilra sesuai takaran yang tertera di sana.”
"Oh iya Pak."
“Sayang ini, minum dulu.’
"GAK MAU!" lantas Dilra malah membuang semua obat yang kuberikan, hingga berserakan di bawah mobil.
“Sayang ini biar kita cepat punya anak, kita mau punya banyak anak kan? Ayo sayang buka mulutnya ya."
"Banyak anak?” katanya dengan wajah mendadak berbinar. Kau tahu meski wajah Dilra berubah sumringah dalam sekejap, tapi justru itu membuatku semakin sesak, air mataku sudah jatuh begitu saja.
“Kamu jangan nangis,’ katanya seraya mengusap sudut mataku yang basah, rupanya dia menyadari keadaanku. Bagaimana aku bisa baik-baik saja sayang, kalau kamu terus begini.
“Aku mau minum obatnya kok, biar punya anak kan? Ayo aaa."
Dilra membuka mulutnya lebar-lebar. Sungguh aku tak tahan Tuhan, sekarang obat-obatan di tanganku telah masuk seluruhnya ke perut Dilra, dia meminumnya dengan baik.
“Aku udah minum obatnya, kenapa kamu masih nangis aja?"
“Enggak siapa yang nangis Mas, gak nangis sayang, tuh mana ada Mas nangis.” Dilra diam menatapku, polos, seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa.
Setelah memastikan aku berhenti menangis lantas Dilra menyandarkan punggungnya ke kursi, dia mulai menguap, dan tak lama dia pun terlelap. Aku langsung tancap Gas, agar segera sampai ke rumah Psikiater itu. Sayang di jalan Ardi malah menelepon.
"Ke mana lu?"
“Nganter Dilra bentar, bagaimana Ibu gue, ada tanda-tanda tertarik gak sama Om Guntur."
“Santai napa, baru pertama ketemu Lang."
"Serius gue Di."
"Kayaknya si ada nyokap lu rada baper gitu, kayaknya sih bakal jadi Lang."
"Baguslah.’
"Oh ya bilang sama Mia, kalau Ibu gue udah boleh pulang bawa dia ke rumah Mia dulu, jangan ke rumah gue pokoknya."
"Heh kenapa lu? Durhaka amat jadi orang, Ibu lu baru celaka juga."
"Tolong Di.”
"Heh kenapa sih, tumben lu sampai
segininya sama nyokap, biasanya apa-apa juga gak tega mulu, Dilra ada masalah lagi."
"Gue gak bisa cerita, tapi tolong bilangin ke Mia, gimana pun caranya Ibu jangan sampai pulang ke rumah gue.
__ADS_1
Bersambung...