Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Jangan Pergi


__ADS_3

"Di depan Mas ke sana saja.” Kutinggalkan mobil di jalanan, mengabaikan bunyi klakson yang terus saja bersahutan.


"Dilra"


Ya Tuhan, Dil. Perempuan itu melompat saat jarakku dengannya hanya tinggal beberapa meter lagi. Allahu akbar, bayinya pun ikut terjun bersamanya. Lututku mendadak lemas, lalu luruh ke aspal begitu saja. Orang-orang berkerumun, sedang di bawah ... aku tak sanggup menyaksikannya.


“Bang bangun dulu, Bang." Seseorang menepuk pundakku ada yang mencoba menguatkan. Sebagian lagi malah berbisik dengan nada cemooh. Di dunia ini memang selalu punya dua sisi. Aku tak bisa seperti ini. Aku berniat turun ke bawah, meski melewati rerumputan dan tebing terjal. Bagaimana bisa kubiarkan jasad Dilra dan Dion tergeletak di bawah jalan tol. Orang-orang itu sudah melarangku, katanya bahaya. Andai saja kalian di posisik. Apa kalian akan berpikir dua kali untuk tidak turun. Seseorang telah menutup jenazah Dilra dengan daun. Banyak darah bercecer di sana, menyaksikannya membuat tubuhku makin gemetar. Apa lagi bayi itu bisa kupastikan tubuhnya ikut hancur.


"Abang keluarganya?”


"Dia istri saya,’ lirihku. Jalanan jadi padat merayap. Orang-orang memelankan laju kendaraannya. Entah karena penasaran atau benar peduli, buktinya hanya sedikit yang turun untuk membantu.


"Tolong istri dan anak saya, Pak." Seseorang meraih lengan istriku, menekannya lalu bergantian dengan si bayi.


"Innalillahi wa inna illahi raji'un," katanya. Pupus sudah harapan terakhirku. Seketika dunia bagai berhenti berputar aku telah membunuh mereka. Akulah alasan mereka melakukan ini. Aku yang jahat, yang diam saja saat mereka dizalimi. Semua karena aku.


"Yang ikhlas Mas, ambulans sebentar lagi datang, saya tahu ini berat," ujar seseorang di tengah kerumunan, dia menepuk pundakku berkali-kali. Sungguh aku tidak pebuli. Di saat seperti ini. Aku tidak butuh dikuatkan. Justru kurasa akan lebih berguna kalau aku menggantikan posisinya saja. Biar aku yang pergi, jangan kamu sayang. Kenapa begini Dil, tidak bisakah kamu kasih aku kesempatan ke dua. Aku pasti akan menggunakannya dengan sebaik-baiknya.


Sirine ambulanc terdengar, jenazah mereka lantas dinaikkan dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Di sana aku hanya bisa duduk lemas, bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin. Hatiku sakit, sampai rasanya seperti mati. Di tengah keheningan yang tercipta, ponselku berbunyi, membuat semuanya buyar. Satu panggilan dari Ardi.


"Di mana, ini mobil diparkir di jalanan, halangin jalan tahu enggak!"


"Rumah sakit."


"Eh kenapa, lemas banget suara lo, Sakit?"


"Dilra bunuh diri, bawa anak gue juga."


"Innallahi, di mana, gue ke sana sekarang."


"Rumah sakit Laura Medika, gue di ruang jenazah."


"Oke lo tunggu gue di sana, jangan ke mana-mana.’ Telepon pun di tutup selang beberapa menit, Ardi sudah berada di sampingku.


"Bro!" sapanya seraya merangkulku.


"Di."


"Mana Dilra, sama Dion?" tanyanya.


"Di dalam, masih dibersihkan."


"Udah pastikan itu benar Nisa?” tanyanya dengan wajah serius.


"Gue enggak sanggup lihatnya, jelas bajunya sama kayak punya Dilra waktu pergi dari rumah." Raut wajah Ardi tampak kesal, dia segera masuk ke dalam, tapi tak lama dia kembali, memaksaku masuk untuk melihat Dilra langsung.


"Siapa?" tanyanya sembari memperlihatkan wajah kedua jenazah tadi.

__ADS_1


"Allahu akbar, gue salah orang Di, dia bukan Dilra." Bagaimana bisa ada orang yang pakaian


dan postur tubuhnya mirip Dilra aku bahkan sampai tak bisa menyadari. Salahku tak langsung menengok wajah. Meski sebagian hancur, tapi jelas itu bukan Dilra. Dia tak punya tahi lalat, di jidat dan hidung dan bayi itu jelas bukan Dion. Ardi menggeleng menatapku.


“Lain kali apa-apa itu pastikan dulu Bro, gue tahu lo lagi kacau, tapi enggak begitu juga kali," katanya seraya merangkul pundak, lalu mengajakku meninggalkan ruang jenazah itu. Aku hanya melempar senyum kecut ke arahnya.


"Sorry ya omongan gue tadi pagi, sudah keterlaluan,’ kata Ardi.


"Gue yang terima kasih Di, berkat lo jadi bisa berpikir gue sudah salah selama ini."


“Baguslah kamu sudah sadar, jemput bini lu sekarang, sebelum semuanya terlambat."


"Thanks ya, ini tadinya juga gue mau langsung ke sana malah ada kejadian begini."


Setelah menempuh 5 jam perjalanan akhirnya sampai juga di kota kelahiran istriku. Tujuan pertama adalah rumah orang tuanya. Aku di


sambut hangat orang tuanya, ternyata mereka tak tahu jujur saja mengetahui kenyataan kalau aku tak pernah sungguh-sungguh menafkahi Dilra. Sekedar menujukan wajah di depan mereka, aku malu. Mereka tetap ramah, seperti biasa, menjamu dengan baik tak seperti perlakuan Ibu pada putri kesayangannya.


"Sudah buka puasa?" tanya Ibu Mertua.


"Sudah di jalan, Bu."


“Bener? Gak usah malu, sudah lama nikah masih canggung saja sama kita ya, Pak." Kata ibu seraya menyenggol lengan Bapak mertuaku.


"lya ayo makan dulu, bareng sama Bapak Ibu." Bapak mertuaku malah merangkul ke meja makan, mau tak mau aku harus ikut makan bersama.


"Loh memang enggak bilang sama kamu?" tanya Ibu yang terlihat keheranan.


“Enggak sih, Pak."


"Dilra lagi ke klinik,’ kata Bapak.


"Dilra sakit?" tanyaku lagi.


"Cuma pusing saja katanya.”


"Dionnya diajak, Bu?"


"Dion ada di kamar lagi tidur.”


“Boleh Galang masuk, kangen mau gendong."


"Boleh masuk saja." Gegas aku mempercepat makan. Tidak sabar rasanya ingin bertemu dengan Dion. Malam semakin larut jam menunjukkan pukul 21:00, tapi Dilra tak kunjung datang, kuputuskan untuk menyusul saja ke klinik. Sayang resepsionis di Klinik malah mengatakan tak ada pasien bernama Dilra yang datang tadi sore. Ketika menunjukkan foto Dilra pun tak ada yang mengenalinya. Mereka mengatakan dengan yakin, perempuan itu tak datang kemari. Terus dia ke mana? Aku menyusuri lagi jalanan kota ini. Tepat didekat lampu merah, punggung itu dan cara jalannya, mirip sekali dengan istriku.


"Dilra!" teriakku. Entah kenapa haru kian


menyeruak, tanpa peduli tatapan orang-orang pada kami, aku memeluk perempuan itu. Wanita itu tak banyak bereaksi, hanya menatap datar tanpa membalas pelukanku.

__ADS_1


"Mas sedang apa di sini?" tanyanya.


"Jemput kamu pulang Dil, ayo ikut Mas ya."


"“Enggak usah aku pulang sendiri saja Mas."


"Dil, ini sudah malam untuk apa masih di sini?"


"Bukan urusan Mas."


"Lupakan semua masalah yang terjadi di antara kita, tapi ini sudah malam."


"Terus?" katanya dengan wajah yang sedikit menantang.


"Kamu mau pulang pakai apa?"


"Mau jalan atau naik ojek juga bisa, ‘kan banyak."


"Dil Mas tahu kamu orang baik, Mas salah Dil, mari kita perbaiki semuanya."


"“Apanya yang mau di perbaiki?"


"Kita pulang lagi ke rumah, mulai semua dari awal. Mas janji mulai besok biar kamu yang pegang keuangan kita.”


"Lalu bagaimana aku harus menghadapi Ibu. Aku enggak bisa Mas, solusi terbaik buat kita hanya satu,’ katanya dengan mata menatap lekat ke arahku. Aku menggeleng.


"Harus, Mas,’ lirih Dilra.


"Enggak, Dil.” Kuraih lengannya. Lengan yang selalu memberi kehangatan padaku, yang selalu berhasil membuatku tenang saat gundah. Membuatku damai saat gelisah datang. Hari ini, bagaimana bisa aku melepasnya. Tidak akan pernah.


"Dil, mas mohon sekali saja kasih kesempatan buat Mas.” Dilra malah menyunggingkan bibirnya.


"Lepas!” sentak Dilra, seraya berusaha melepaskan diri dari cengkeramanku.


“Enggak, ini apa, kamu sakit?" tanyaku. Kali ini pandanganku lurus pada kantung plastik berisi obat, di tangan kirinya. Dilra tidak menjawab, malah berjalan semakin cepat. Terus saja menghindar. Sampai pada jalanan yang tidak terlalu ramai, dia membelokkan langkahnya masuk ke dalam gang di sana tak ada orang sepi sekali.


"Dil ucapku seraya menahan Jengannya demi mematahkan jarak di antara kami. Lantas aku mencumbunya, ******* bibirnya dengan sedikit kasar.


"Lepas!" Dilra lagi-lagi mendorong, tapi kali ini matanya memerah menahan mendung di wajahnya, setelahnya dia menangis lagi, mengusap kasar bibirnya seolah yang kulakukan barusan sebuah hal yang menjijikkan.


"Sorry Dil, Mas enggak tahu lagi cara ngomong sama kamu bagaimana. Ayo pulang, kamu boleh marah tapi enggak seperti ini.”


Kali ini dia menerima uluran tanganku, syukurlah aku hampir menyerah karenanya. Sepanjang perjalanan Dilra hanya diam meski aku terus mengajaknya bicara. Sampai di rumah Dilra langsung masuk kamar, saat Ibu menyapa kami di bilang ingin langsung istirahat saja. Sekarang kami berada dalam satu ruangan, meski aku senang bisa bersamanya tapi sikap dingin perempuan ini sungguh membuatku makin tersiksa. Aku tak biasa terus diabaikan seperti ini.


"Sayang?"


"Apa? Kamu ingin meniduriku, lakukan semaumu! Aku tahu Mas, di matamu aku hanya perempuan lemah yang enggak punya harga diri ‘kan? Kamu selalu menganggapku orang rendahan. Lakukan sekarang juga, untuk apa menahannya, teriak Dilra. Dilra terus meracau. Aku tahu ini bukan dia. Apa yang telah ibu lakukan padanya hingga Dilraku yang lembut bisa serapuh ini. Aku tak bermaksud melukai harga dirinya dengan mencumbunya di tengah jalan tadi. Sungguh aku hanya ingin melunakkan hatinya sebentar.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2