
Mia mengundangku untuk bergabung di siaran langsungnya hanya butuh persetujuan maka wajahku akan ikut muncul di layar ponselnya.
“Abang doakan dari sini Dek." Kuketikan pesan itu di kolom komentar, tinggal tekan tombol kirim, maka pesannya akan muncul, dan tentu Mia akan tahu, ini kali pertama setelah 3 bulan aku bertukar komentar dengannya.
"“Sayang." Suara Dilra terdengar nyaring memanggilku. Aku hampir terperanjat, karenanya aku refleks menyembunyikan ponsel ke bawah bantal, Dilra juga terkejut, dia melempar tatapan heran melihat wajahku yang gugup.
“Kenapa? Ada apa sih di hapenya Mas, sampai kaget begitu?"
"Gak ada apa apa sayang."
“Aku sama Dion udah siap loh dari tadi nungguin Mas gak turun turun, katanya mau lari pagi, kasihan loh dia udah pakai sepatu segala.’
“lya sayang, ayo pergi sekarang.’ Dilra tersenyum, senyum yang begitu hangat dan manis, senyum yang hampir tak pernah bisa kunikmati saat dia dengan keluargaku saling berbagi tempat tinggal. Hari ini aku berjanji pada mereka untuk lari pagi di balai kota, sekalian mampir sarapan di sana, urung sudah niatku membalas komentar dari Mia, maafkan aku Bu, di hari bahagiamu aku tidak bisa hadir di sana.
"“Sayang, are you okay?” tanya Dilra saat kami telah sampai di parkiran, aku tak lantas keluar malah menatap kosong ke depan, kalai Dilra tak bersuara mungkin aku akan terus larut dalam lamunanku, padahal mobil telah berhentin sejak tadi.
"Ilya, Mas baik-baik aja kok."
"Tapi, aku rasa Mas gak baik-baik aja." Lantas Dilra turun dari mobil, kami sudah sampai ke tempat tujuan, setiap akhir pekan di pagi hari balai kota selalu ramai pengunjung dari anak-anak sampai orang dewasa. Dilra menyusul Dion yang sudah berlarian ke sana ke mari, meninggalkanku sendiri di dalam mobil, sesekali kulirik ponsel dalam genggaman, ingin sekali mengirimkan balasan itu, tapi melihat tawa Dilra dan Dion, sanggupkah aku melihatnya terpuruk lagi, mengorbankan jiwanya untuk ke sekian kali. Tidak hari ini, tapi mungkin nanti. Kutinggalkan ponsel di dalam mobil, menyusul anak istriku yang tengah tertawa karena ulah Dion.
"Seru banget, Papah gak di ajak?"
"Kita cari sarapan dulu ya Mas, udah laper aku.
"lya sayang, mau makan apa?”
“Soto tauco itu apa ya Mas?”
“Soto khas tegal itu Dil, kamu belum pernah makan?" Dilra menggeleng.
“Enak loh Dil, mau coba?"
"Boleh deh, tapi pesan seporsi dulu ya kalau enak baru tambah."
"Oke, Dion mau makan apa nih, jagoannya Papah."
0"Bubu yam.” Aku melirik Dilra tak mengerti.
"Bubur ayam, Sayang.” Lagi-lagi Dilra tertawa, dan itu membuat Dion juga ikut larut dalam tawanya. Seorang ibu itu ibarat jantung kehidupan, saat dia berhenti berdetak maka kehidupan juga akan berhenti berjalan.
"Dimakan dong, diliatin aja.” kata Dilra, sedari tadi aku memang terus mengaduk makanan di mangkuk.
"lya, Sayang."
"Aku udah cicipin, enak, aku udah pesan satu lagi.”
"lya, Sayang."
"Kamu kenapa sih Mas, jadi gak mau cerita sama aku?”
"“Bukan gitu sayang, Mas cuma gak mau kamu ikut kepikiran, soal kerjaan."
__ADS_1
“Bener soal kerjaan?”
"Buat apa Mas bohong."
“Apa boleh aku buka WO lagi Mas, bantuin kamu?"
"Gak usah Sayang, kamu bikin kue aja di rumah buat Mas buat Dion biar kita berdua jadi gendut."
"Ih olahraga sana, perutmu itu loh Mas dah buncit banget.”
"Hehe biarin aja.” Begitulah kami menghabiskan waktu, seringnya berbicara hal-hal yang remeh. Kami biasa pulang menjelang siang hari, saat panas mentari tak lagi bersahabat, menyengat seakan membakar kulit. Dilra memasak makanan seperti biasa sedang Dion tak henti menggoda Ibunya, kadang menggelayuti kakinya kadang juga bertanya nama-nama benda di dapur atau bumbu-bumbu dapur, semua barang dia tanyakan.
“Maaaasss ini bantuin anakmu itu loh cerewet banget.”
"Bagus loh sayang, nanti udah gede mau jadi pengacara.’
"Ya aku kapan selesainya.” Bibir Dilra mengerecut seperti cone ice cream. Lucu.
Lekas aku menggendong Dion keluar halaman, selagi Dion bermain bola aku mengeluarkan ponsel, berniat kembali mengecek akun sosial media milik Mia sayangnya tak bisa, akun Mia tak bisa kutemukan di pencarian. Dia pasti sudah memblokirku. Dia marah, kecewa, itu pasti, sudahlah kenyataannya aku tak punya pilihan, sudah cukup Dilra berkorban demi |bu, sekarang biar aku yang berkorban untuknya.
~
Hingga malam tiba semua berjalan seperti biasa, bedanya malam ini kepalaku sedikit pening mungkin karena terlalu banyak berpikir tentang Mia yang memutus semua akses sosial medianya dari mulai Facebook hingga instaaram.
Aku pergi tidur lebih awal, sedang Dilra dan Dion masih bermain di ruang keluarga. Semua berjalan begitu saja, hari demi hari taun demi taun juga telah kita lewati dengan begitu banyak suka, tawa dan keceriaan. Dion tumbuh menjadi anak yang pintar usianya kini menginjak 5 tahun.
Ini adalah tahun ke tiga kami tinggal terpisah dengan Ibu, tak terkira begitu banyak rinduku yang tak pernah menepi. Dilra masih rutin meminum obat yang diresepkan psikiater, tapi itu hanya tinggal beberapa biji saja, sekarang tubuhnya bahkan terlihat lebih berisi, wajahnya segar juga penuh dengan gairah. Namun, siang itu saat kami pergi makan siang di luar, pemandangan di sampingku tiba-tiba saja mengingatkan pada Ibu, sepasang suami istri seusia kami tengah asyik makan bersama seorang wanita, yang kuperkirakan usianya tak jauh beda dengan Ibu, mereka tampak menyayangi si nenek itu, apalagi anak kecil itu dia bahkan menawarkan semua makanan di meja pada si nenek.
~
"Durhaka kamu Lang, kalau tahu kamu bakal buang Ibu, lebih baik Ibu buang saja kamu ke sungai, waktu tahu Bapakmu selingkuh, biar hanyut sekalian.”
"Durhaka kamu Lang!
DURHAKA"" Kata-kata itu terus saja terngiang, sungguh akhir-akhir ini, bahkan intensitasnya semakin sering terdengar, kadang-kadang aku mulai merasa tak bisa mengendalikannya.
"Sayang, bangun dulu."
"Loh Dil, pagi sayang, maaf Mas semalem ketiduran duluan."
"ya"
"Kamu kenapa, Sayang? Kok pucat begitu?" Wajah Dilra pagi ini benar-benar pucat, tak seperti biasanya.
“Kamu kangen sama Ibu 'kan?"
"Enggak kok, Mas enggak pernah kangen sama Ibu, buat apa juga Mas bohong.”
"Ini makan sarapannya dulu habis itu minum obatnya, badanmu panas banget.’
"Dil?"
__ADS_1
"Mas... Salat dulu saja."
"“Semalam Mas mengigau sesuatukah, Dil?"
“Aku keluar sebentar mau salat di bawah nanti aku balik lagi."
"Kenapa enggak salat di sini?" Dilra hanya balik badan menatapku sekilas lalu kembali meneruskan langkahnya keluar kamar mengabaikanku yang masih terpaku di sini, aku sadar betul sejak kecil punya kebiasaan mengigau sejak kecil, apalagi saat demam tinggi karena sesuatu yang terlalu kupikirkan.
Ya Allah, berikan jalan terbaik untuk hamba, sungguh hamba tak bisa jika harus menzalimi di antara keduanya, hamba menyayangi keduanya.
"Dil?"
"Sudah salatnya kan? Makan sedikit dulu nanti minum obat." Aku menurut saja, toh dia melakukan ini juga demi kebaikanku, dia tak berhenti memasukkan suapan demi suapan ke mulutku, tapi matanya tetap enggan menatap langsung ke arahku, keadaan menjadi hening, meski jarak kami hanya sejengkal. Aku meraih lengan Dilra yang bergetar, saat hendak menyuapkan bubur ke mulutku.
“Kenapa enggak bilang kalau Mas mau ketemu Ibu, kenapa dipendam sampai sakit begini?"
“Mas melakukan ini untuk menebus semua kesalahan yang Mas dan keluarga Mas lakukan sama kamu, sama keluarga kamu, secara enggak langsung Mas merasa kematian Bapak dan Ibu itu semua karena kesalahan Mas, salah kalu Mas ingin melakukan ini, semata-mata demi kamu Dil? Demi membahagiakan kamu?"
“Enggak salah, yang salah kenapa Mas enggak pernah jujur, sampai akhirnya Mas sakit kan, itu juga gara-gara aku.”
“Mas sakit bukan karena kamu sayang, sakit itu dari Tuhan, bukan karena kamu sayang.”
"Aku gak mau kamu jadi durhaka Mas, aku enggak mau jadi penghalang bakti kamu sama Ibu.”
"Dil demi Allah kamu bukan perempuan seperti itu, kamu yang rela mengorbankan apa pun untukku, apa semua itu tak boleh kubalas sedikit saja kebaikanmu Dil?"
“Apa salah kalau Mas ingin lihat kamu bahagia, Mas benci saat lihat kamu terus menerus meminum obat-obatan itu, kamu tahu rasanya? Sakit Dil, Mas telah gagal menjadi suami, menjadi imam yang harusnya melindungi, tapi yang Mas lakukan malah merusakmu.”
"Aku enggak apa apa Mas, sudah kubilang aku baik-baik saja."
"Kau hanya baik-baik saja di luar, tapi di hatimu, berapa banyak luka yang kamu simpan sendirian, mau seberapa banyak lagi, tolonglah aku belum siap kehilanganmu, jangan terus menyiksaku, dengan luka-lukamu
yang membuatku takut, takut setiap hari, aku takut kamu tak bangun lagi setiap malam, betapa takutnya aku setiap kali di pagi hari kamu sulit sekali dibangunkan, kamu tahu rasanya seperti setiap hati aku berhadapan
dengan kemaitian.”
"Jangan suruh aku temui Ibu, cukup, sini mana obatnya, biar Mas minum, setelah ini semuanya akan baik-baik saja, apa yang kamu takutkan Ibu sudah bahagia."
"Bahagia apanya?" "Dia sudah menikah Dil." "Kapan?"
"Sudah lama, sudah enggak perlu lagi bahas-bahas soal Ibu, pikirkan saja tentang kita sudah cukup, oke bisa kan berhenti bahas Ibu." Dilra malah pergi begitu saja aku pikir dia akan senang dengan pembelaanku padanya nyatanya wanita begitu sulit ditebak, sulit dimengerti juga. Lantas aku menyusulnya ke halaman belakang rumah di sedang duduk di bangku panjang yang kubuat dari batang pohon yang di papas satu perempainya.
Dilraku menangis tergugu, bisa kulihat dari kejauhan, bahunya berguncang hebat. Aku memeluknya tanpa ragu, meski awalnya dia menolak, tapi rengkuhanku terlalu kuat untuk
dia lawan. "Pergilah temui [bumu Mas."
"Enggak akan Dil, sudah Mas bilang enggak akan pernah.’
"Terus, seumur hidup kamu akan terus begini, kamu sama saja membuatku semakin merasa bersalah Mas."
"Kau tahu alasanku Dil, jangankan menemuinya menyebut namanya saja sudah membuatmu bersedih, sudah berhasil membuat keharmonisan keluarga kita hancur, lalu bagaimana nanti kalau kita harus tinggal bersamanya.’ Dilra mendadak menghentikan tangisnya dia menatap tajam padaku.
__ADS_1
Bersambung...