Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

"Dilra dan aku gak tinggal di sini, sementara ibu tinggal di sini dulu ya kami mau fokus punya momongan, lagi pula Dilra juga masih proses pemulihan, gak apa-apa ya Bu?"


Seketika raut ibu berubah sendu, netranya mulai mengembun, dalam keadaan seperti ini, sungguh menatap matanya hanya akan membuatku makin tak bisa mengambil keputusan, Bagaimana pun aku tak punya jalan lain untuk masalah ini, Dilra dan lbu belum bisa disatukan.


"Lihat Ibu Lang! Kenapa kamu gak mau lihat Ibu?"


Kalau sudah begini tak mungkin untuk tak segera beralih menatapnya.


“Kamu tega sama Ibu Lang?" bibir Ibu bergetar menahan getir.


“Bukan begitu Bu, Galang cuma minta pengertian dari Ibu, umur Galang sudah enggak muda lagi, Dilra juga iya, kami masih ingin punya banyak momongan,’ ucapku kala itu. Entah alasan apa lagi yang nantinya akan kusampaikan, demi tak menyinggung perasaannya.


“Ibu yang mengurus kamu dari kecil, apa salahnya kalau Ibu ingin diurus juga sama kamu, kenapa kamu lebih memilih istrimu dari pada ibumu, dia cuma orang lain hiks hiks hiks."


"Bu, tolong jangan buat aku harus memilih antara Ibu dan Dilra, mengerti sedikit Bu, aku ini pria dewasa yang butuh pasangan, aku enggak busa terus melajang, aku permisi."


Ibu masih terisak, mungkin juga masih menatapku dati kejauhan, percayalah meninggalkannya sendirian dalam keadaan begitu bukan hal yang mudah bagiku, tapi mengingat begitu tersiksanya batinku kehilangan istri dan anakku, juga rasa bersalah karena pernah berbuat zalim di masa lalu, kurasa aku tak sanggup kalau harus mengulang masa-masa itu kembali. Aku pulang ke rumah, langsung menuju kamar karena tahu di jam selarut ini, Dilra pasti di sana.


"Malam sayang, belum tidur.”


Wanita itu hanya menggeleng, lalu segera bangkit meraih lenganku menciumnya dengan takzim, falu menawarkan untuk membuat minuman, kukatakan tak usah, aku sudah minum tadi di bawah, dia menurut dan langsung beranjak ke ranjang, menepuk nepuk kasur di sampingnya menyiratkan agar aku duduk di sana, aku mendekat, tapi kali ini memilih merebahkan diri di pangkuannya.


"Kenapa?" katanya lembut, sembari mengusap rambutku dengan pelan.


"Aku salah enggak sih memisahkan Ibu, di apartemen?"


"Kalau Mas takut salah, kenapa Mas gak ajak Ibu tinggal sama-sama lagi."


"Mas takut gak bisa adil, takut berat sebelah kayak dulu.”


"Kehilangan orang tua itu bukan hal yang mudah buat dilewati, meskipun aku tahu perbuatan Ibu dulu cukup bikin aku sedih, tapi setelah Bapak dan Ibu gak ada aku takut kalau itu terjadi sama Ibu, dan Mas gak tahu, Mas bakal nyesel.”


“Untuk itu Mas kasih si Mbak, buat menemani Ibu, jadi kalai ada apa-apa sama Ibu, ada yang laporan.”


"Ibu itu susah sayang, keras, enggak pernah mau mengalah...”


“Sudah ya, nanti kita pikirkan solusi lain ya, sementara kalau Mas maunya begini, ya sudah aku ikut saja."


“Tidur yuk?" tawarnya dengan senyuman.


“Allahumma janibna syaithan wa janibni syathana marazaqna."


“Sebentar sejak kapan doa mau tidur berubah?"


“Sejak Mas kenal kamu sayang hehehe." Dia hanya tersenyum malu-malu,


Jalan hidup, jodoh juga kematian, semua masih rahasia Tuhan, tak ada yang bisa menebak alurnya, akan lurus atau berbelok ke arah yang mana, seperti romansa kita yang harus berakhir, lalu siapa sangka di kemudian hari, Sang Pemilik kehidupan menyatukan kembali dalam maghligai cinta yang suci dan murni.


Aku pernah mengejarnya begitu menggebu tapi yang kudapat justru kecewa yang teramat sangat, berkali kali hasrat untuk berhenti memperjuangkanmu itu kerap timbul tenggelam, apalagi ketika melihatmu begitu lunglai, hingga terjelampah ke tanah, kami semua panik, dan bertepatan dengan itu aku merasa tak layak untuk menjadi imammu, imam yang seharusnya melindungi, justru membuatmu semakin jatuh, jatuh semakin dalam hingga ke titik terendahmu.


Aku pernah mundur tapi kamu malah datang dengan identitas palsu, laku ketika waktu terus berputar hingga Tuhan mengambil mereka yang teramat berarti bagimu, aku berjanji saat itu, setelah mereka tiada maka aku akan kembali memperjuangkanmu sampai akhir, mengobati hatiku yang juga terus digrogorti perasaan bersalah.


Tanpa terduga, kamu malah menerima lamaranku, dengan disaksikan begitu banyak orang, hari itu ikatan cinta kita akhirnya bertaut kembali. Setelah puluhan purnama, Tuhan mengujinya dengan begitu banyak rintangan. Hari ini aku bisa memeluk raga itu lagi, raga yang selalu mampu mengusir gundah dalam hati, tak ada lagi jarak di antara kita, bahkan jika itu hanya selembar kain tipis.


"Mas kenapa kok sedih?”


“Mas terharu aja, Mas bisa sama kamu lagi, berapa tahun kita dipisahkan Dil, Mas kesepian."


"Hey sayang, sini!” Dilra merentangkan lengannya.


Aku mendekat, bersender pada dadanya yang hanya berbalut selimut.


“Terima kasih buat tetap menunggu aku, aku tahu di luar sana Mas bisa saja menikah dengan perempuan lain, tapi Mas malah memilih menunggu wanita yang sakit jiwa kayak aku.”


“Siapa yang bilang kamu sakit jiwa sayang? Mana ada begitu, stop untuk bilang kata-kata itu lagi, Mas gak mau dengar, hari ini janji sama Mas kamu gak akan pergi lagi, kita hadapi apa pun berdua, jangan pernah ada yang dipendam sendirian lagi, semuanya, termasuk kalau ibu berbuat sesuatu, katakan semuanya sama Mas, oke." Sengaja kuangkat jari kelingkingku, lantas tak berselang lama Dilra menautkan kelingkingnya denganku.

__ADS_1


“Janji” Mmuuach.


“Nakal,” katanya.


~


Esok hari berjalan dengan indah dan menyenangkan, sarapan sudah tersedia, pakaian kerja juga sudah rapi dan wangi.


“Mas kenapa sih, senyum-senyum terus, bukannya buruan di makan."


“Kamu tahu enggak si Di, sudah lama banget Mas enggak sarapan kayak begini di rumah.”


“Loh? Bukannya Mas tinggal sama Ibu dan Mia waktu itu, memang enggak pernah sarapan?"


“Mas tinggal terpisah Dil, Mas enggak kuat tinggal sama |bu."


“Kenapa?"


“Takut kelepasan kalau Mas ingat Ibu pernah bikin kita kehilangan anak dua kali.


Terdengar Dilra mengucap istighfar, lalu tak berselang lama netranya mengembun, aku menatapnya khawatir, bisa-bisanya aku keceplosan soal keguguran Dilra, sudah jelas itu akan membuatnya seolah kembali dibawa ke masa itu.


“Aku baik-baik saja kok Mas.”


Aku menawarkannya minum susu hangat, tapi dia malah menolak.


“Aku enggak suka susu,' katanya.


“Kenapa enggak suka? Susu itu sehat buat tubuh.”


“Tapi aku sudah punya sumbernya.”


“Dil ih, kamu ya, dikhawatikan malah meledek!"


"Oke jangan lama-lama Mas mau berangkat soalnya.”


Dilra hanya mengangkat jempolnya lalu berlari ke atas, loh sebentar kenapa malah lari ke atas, bukannya di lantai satu juga ada toilet, kenapa harus pakai toilet kamar, di lantai dua, aneh Dilra ini.


Dia kembali ke bawah, jam sudah menunjukkan pukul 7 aku harus segera berangkat atau akan terjebak macet di jalan nantinya.


"Berangkat dulu ya sayang, mmuaach."


"Berasa pengantin baru ya kita,’ kata Dilra dengan senyumannya yang menjengkelkan. Ketika hendak membuka pintu, nyatanya dari arah luar sudah lebih dulu di ketuk.


"BU?"


"Kenapa apa ibu juga gak boleh main ke sini?"


"Ibu tau dari mana rumahku, Ibu mengikuti kami?"


"Sudah lah enggak penting Ibu tahu dari mana.’


“Sudah sarapan Bu?" tanya Dilra ramah.


!bu sudah menatap Dilra tak suka gegas aku mengenggam tangannya, berharap dia mengerti maksudku, lantas Ibu melirik, aku menggeleng agar dia tahu aku tak suka keributan, hubungan kami baru mencair setelah sekian lama membeku.


"Ibu belum sarapan."


"Mari makan, Mas berangkat aja, biar aku sama Ibu."


"Kamu serius?"


"Kamu pikir Ibu mau melakukan apa sama istri kamu?" sahut Ibu penuh penekanan, lekas aku segera menatap lekat mata Ibu, hingga dia tertunduk, sungguh hatiku begitu tak tenang melihat wajah Dilra yang langsung berubah sendu setelah bercerita tentang kegugurannya tempo hari, lalu bagaimana bisa aku meninggalkannya dengan Ibu, orang yang menjadi penyebab luka di hatinya.


"Mas enggak usah berangkat saja ya?" kataku, kali ini kami sudah berada di luar rumah.

__ADS_1


"Mau sampai kapan Mas enggak berangkat dan jaga aku? Insyaallah enggak akan apa apa, kan ada Si Mbak.”


"Kalau ada apa-apa plis langsung telepon Mas ya.”


Dilra hanya tersenyum, dan mendorongku supaya lekas masuk mobil, aku masih menatapnya di kursi kemudi, lewat celah jendela yang kubuka, lantas Dilra malah mengangkat lengan, mengetuk ngetuk jam di pergelangannya, lalu menaik turunkan alisnya padaku.


Aku menatapnya sekali lagi.


"Yakin?" kataku sembari menyembulkan kepala ke dekatnya.


"Yakin sayang, percaya deh, enggak akan ada masalah."


"Mas berangkat ya."


"Sudah dua kali ngomong begitu, enggak berangkat-berangkat.”


"Ya sudah sini deketan, Mas mau bisikkin sesuatu!"


Lantas Dilra mendekat ke jendela. "Apa?" Mmuaach


Aku batu saja mengecup bibirnya, lantas darj kejauhan perempuan itu, malah tetap memegangi bibirnya dengan ibu jarinya, senyumnya masih bertahan, meski mobilku terus menjauh, semua bisa kulihat dari balik kaca spion mobil.


~


"Woy kenapa lu?" kata Ardi,


"Khawatir gue, ada Ibu di rumah, takut ngapa-ngapain bini gue.”


"Ada CCTV?"


"Ada, oh iya ya.”


"Heran dalem kepala lu isinya otak bukan?”


"Hehe."


Si Ardi ini memang kadang-kadang. Sayang karena ada clien yang datang, aku harus menunda mengawasi rumah lewat CCTV


"Loh Dilra ke mana kenapa enggak ada di semua tempat, kenapa cuma Ibu, si Mbak, dan Dion."


Hari sudah menunjukkan pukul 2 siang, Dilra harusnya ada di rumah, kenapa tak ada dia di mana pun, aku memundurkannya 5 jam terakhir. Entah apa yang Ibu katakan, Dilra langsung masuk kamar dan tak keluar lagi, bahkan meski sudah diketuk Ibu dan si Mbak. Tak mau buang waktu, aku segera pulang, tujuanku yang pertama ke kamar.


"Tuh istrimu di kamar dari tadi enggak keluar-keluar udah 3 jam!" kata Ibu.


Aku tak peduli, kuteruskan langkah menuju kamar, aku punya kunci cadangan, jadi pintu itu dengan mudah bisa terbuka. Dilra terbaring di atas ranjang, kau tahu perasaanku waktu itu, jantungku rasanya hampir saja jatuh, takut kalau Dilra menyusuk ke dua orang tuanya, beruntung deru nafasnya masih bisa kurasakan


"Dil sayang bangun!"


Dilra sulit sekali dibangunkan, sekarang Ibu dan si Mbak malah ikut ke dalam.


“|bu sama Mbak keluar dulu ya.’


Ibu sempat protes tapi aku memaksanya, karena dengan hadirnya Ibu di sini membuat suasana semakin tidak kondusif.


"Sayang please bangun, hey sayang.’


Aku mengguncang tubuh Dilra sedikit keras, tapi dia tak mau bangun juga. Hingga akhirnya aku mengusap air ke wajahnya, barulah Dilra terbangun.


"Mas? Kok sudah pulang?" Aku memeluk perempuan itu dengan erat.


"Astagfirrullah Dil, kamu kok susah banget dibangunkan."


Bukannya menjawab Dilra malah menatap lurus ke arah pintu, lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar, seakan dia tengah memeriksa keadaan sekitar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2