Luka Seorang Istri

Luka Seorang Istri
Cemburu Yang Menghancurkan


__ADS_3

Ada dua jenis cemburu, yang dicintai Tuhan, dan ada pula yang dibenci, sekarang tinggal bagaimana kamu memilihnya. Jangan jadi pencemburu buta, hingga matamu tertutup dari kebenaran.


~


"Dimakan ya Dil, semoga kamu suka." Begitulah isi tulisannya.


Bingung, apa maksudnya, wajah Dilra juga aneh, dia tampak gugup sekali.


"Kita bicara di atas Mas.”


~


"Itu surat dari Hiro Mas, pas dia kasih buah-buahan.’


Aku tersenyum getir, sedang Dilra malah menatap iba, kau tahu Dil, mendengar penuturanmu, kurasa begitu menyedihkannya hidupku sekarang.


"Kamu suka sama Hiro?"


"Enggak."


"Enggak apa-apa Dil, aku memang tak berguna, hanya pria cacat yang seumur hidup cuma bisa bikin kamu susah.”


"Dan aku wanita sakit jiwa yang kamu nikahi entah atas dasar apa."


"Apa yang kamu katakan Dil.”


"Berhenti mengeluh pada keadaan Mas, aku ikhlas mengurusi Mas, di saat sakit atau sehat selamanya Mas akan jadi suamiku.”


Jujur ada sedikit kecewa yang mendera, wanita mana yang tak silau dengan rupa dan harta, bukan hal mustahil kalau Dilra begitu, apa yang bisa dibanggakan dariku, keluargaku tak pernah membuatnya nyaman sedang keluarga Hiro lamarannya ditolak pun Ibunya masih mau bertandang ke rumah sakit, menjengukku.


"Mau ke mana Mas?"


"Ke bawah, temani Ibu.”


"Mas marah sama aku?"


Aku tak marah padamu Dil, hanya merutuki keadaanku yang selalu saja membuatmu susah, lantas Dilra memapahku sampai ke bawah, kami duduk di sofa.


"Mas mau bicara sama ibu, berdua saja.”


Dengan berat hati Dilra meninggalkan kami, dia sempat berbalik menatap nanar ke arahku.


Aku kembali fokus pada Ibu yang terus saja berzikir, tatapannya datar, nyaris tanpa ekspresi, di meja dua cangkir teh yang dia suguhkan sudah berubah dingin.


"Masuk yu Bu, istirahat."


"Bapakmu belum pulang Ibu mau menunggu di sini saja."


Ya Tuhan kenapa hidupku bisa sehancur ini, sekarang ke arah mana aku harus melangkah, Berjam-jam aku menemani Ibu duduk di ruang tamu, tak banyak yang kami bicarakan, karena Ibu hanya menjawab sekadarnya hanya iya dan tidak, tak ada percakapan lagi setelahnya.


Dan entah sudah berapa balik Dilra berjalan melewati kami, sepertinya dia sengaja.


Hingga saat dia berjalan ke arah dapur, pandangannya terus saja ke arahku. Dugh.


Kepala Dilra terbentur tembok, mungkin perutnya juga ikut terbentur.


Aku yang melihatnya sontak bangkit, sayang untuk berdiri saja aku begitu kepayahan, terdengar rintihan Dilra, Ibu masih tenang saja di tempatnya, ah sudahlah, aku tetap memaksa berjalan dengan tongkat, meski pelan, akhirnya sampai juga.


"Sakit Dil?” Seraya meraba keningnya yang memerah, tapi dengan cepat Dilra meraih tanganku lalu menggenggamnya.


"Lebih sakit hatiku Mas, kamu fitnah aku selingkuh."


Seketika itu juga genggaman tanganku dia hempas dengan kasar. Setelahnya Dilra malah memilih pergi ke atas lagi.


~

__ADS_1


Aku tak bermaksud memfitnahmu Dil, hanya sedang menetralkan emosi yang berkecamuk dalam dada, kamu hanya belum mengerti Dil, pantang bagi laki laki, melihat wanitanya digoda pria lain, kalau saja fisikku normal, rasanya tak ingin lagi basa basi, sudah kutandangi kediamannya.


Aku takut emosiku ini akan dilampiaskan padamu, aku hanya tak ingin menyakitimu saat aku lepas kendali, tapi lagi-lagi kamu salah paham.


Istri itu harga diri seorang suami Dil, ketika seseorang berani mengusik ya itu sama saja menginjak injak harga diriku. Kau tak akan mengerti rasanya Dil, percayalah ini lebih dari sekedar cemburu.


~


Hingga malam menjelang aku terus saja menghindar, kami bahkan tak tidur seranjang, Dilra sempat mengetuk kamar Dion, tapi tak kubuka.


Hingga esok hari aku melihat Dilra sudah duduk di halaman rumah, padahal jam masih menunjukkan pukul 4 pagi, aku terbiasa bangun di pagi hari untuk berlatih berjalan, agar saat aku terjatuh tak banyak orang yang tahu, tak menyangka Dilra malah sudah menunggu dengan secangkir kopi di hadapannya.


Aku melewatinya, tanpa menyapa, sedang Dilra juga tetap lurus menatap ke depan.


Sebenarnya aku tak tega melihatnya begitu, tapi hatiku masih kecewa, kenapa dia menutupi semuanya dariku kalau memang tak ada hal lain yang terjadi di antara mereka.


"Masuk masih pagi."


Dilra malah menulikan diri, tetap fokus menatap ke depan.


"Lakukan saja rutinitasmu anggap aku gak ada.


Lantas dia bangkit lalu pergi keluar pagar rumah.


"Kamu tidak perlu menghindar biar aku yang pergi,’ katanya seraya berjalan cepat mungkin sengaja agar aku yang pincang ini tak mampu mengimbangi langkahnya.


“Tunggu Dil enggak ada maksud Mas kayak begitu."


Brakk!!


Pagar itu dibanting dengan kerasnya, mengabaikanku yang masih berdiri di baliknya, Dilra terus berjalan tanpa alas kaki, semakin jauh.


Sial!


Andai aku bisa berjalan normal, sudah pasti kucegah dia.


“Kok jadi kasar banget Mbak Dilra Mas?"


“Kalau tidak tahu apa-apa sebaiknya diam!"


Bagi sebagian orang pasti akan menghakimi Dilra tidak sopan, tapi bagiku, sudah hal wajar kalau emosinya kadang-kadang tak stabil, entah sejak kapan, tapi kurasa Dilra tak suka penolakan, tak suka di bantah, juga tak suka kalau segala sesuatu tak berjalan seperti yang dia mau, terlalu banyak luka yang dia pendam di masa lalu, membuatnya tak bisa menahan luka barang sedikit saja, seperti hari ini perasaan ingin memberontak pasti muncul lagi.


Matahari mulai naik, seharusnya Dilra sudah kembali kalau hanya berjalan-jalan sekitar kompleks, tapi sampai pukul 8 pagi, dia belum sampai juga, padahal hari ini jadwalku terapi, mau tak mau aku jadi diantar Saga, ponsel Dilra ditinggal jadi bagaimana aku menghubunginya belum lagi Dion yang terus saja bertanya tentang Ibunya.


Sepanjang menuju rumah sakit, aku terus menyulusuri jalanan, berharap kutemukan Dilra.


Hingga sampai di tepi jalan, ini sudah jauh sekali dari rumah, tapi kalau itu Dilra, bagaimana mungkin dia menempuh perjalanan begitu jauh, hanya dengan berjalan kaki, tapi pakaiannya serta postur tubuhnya mirip sekali dengan Dilra.


Lantas kuhentikan mobil, tepat di sampingnya, Dilra tengah berdiri menatap ke halaman rumah di depannya.


Aneh.


“Lagi apa Dil? Ini jauh banget loh dari rumah.”


Dia tampak terkejut dengan kehadiranku di sisinya, tapi seketika itu juga rautnya kembali masam.


Perempuan kenapa begitu sulit dimengerti.


Saat aku menjauh dia mendekat tapi saat aku mulai mendekat dia malah sebaliknya. Meski kecewa ini belum hilang sepenuhnya membayangkan dia berjalan bertelanjang kaki sejauh ini, aku jadi tak sampai hati.


“Mau apa ke sini, aku bisa pulang sendiri," ketusnya tanpa menoleh.


“Harusnya Mas yang tanya kamu kenapa berdiri di depan rumah orang.”


“Tuh lihat!"

__ADS_1


"Apa?"


"Itu ada pohon kedongdong, aku mau memetik tapi dari kemarin orangnya masih mudik!" katanya dengan bibir mengerucut, sembari berdecak pinggang.


Astaghfirrullahaladzim. Apakah mengurus wanita hamil sesulit ini.


“Apa Mas harus masuk ke dalam."


“Jangan! kamu mau mencuri, haram hukumnya.”


“Ya kan Mas bisa izin ke tetangganya, bilang kalau Mas mau ambil buahnya.’


"Sudah enggak mau nanti saja, kamu mau ke mana Mas kok rapi.”


“Terapi, kamu ikut yuk."


"“Bukannya Mas enggak mau dekat-dekat aku.


"Siapa bilang?"


Saat kamu tengah mengobrol, bunyi klakson mobil membuat kamu terlonjak, rupanya pemilik rumah itu baru saja datang, ada dua mobil yang beriringan.


Salah satu penumpang mereka turun, dan kau tahu siapa itu Hiro.


Dari sekian banyak tempat kenapa harus bertemu laki-laki ini di sini, Dilra terus saja melirikku, tak seperti biasanya dia terlihat sekali menghindari terlibat obrolan dengan Hiro, dari percakapan mereka baru kutahu kalau pemilik rumah ini masih kerabat dengan Hiro.


Kami dipersilahkan masuk, Saga memilih kembali, dan menunggu di mobil, menghilangkan rasa sungkan, aku berterus terang akan niatku bertandang ke rumahnya.


"Istri saya mau makan kedongdong Bu, tapi yang memetik langsung dari pohonnya, apa boleh saya membeli buahnya dari Ibu."


"Ya Allah Mas tinggal petik saja silakan, enggak usah pakai beli belian apa lagi ini temannya Hiro sudah enggak apa-apa, tapi ini maaf ya enggak ada alat buat memetiknya bagaimana?"


“Enggak apa-apa Bu saya bisa, kamu mau berapa biji Dil, biar Mas petikan.”


Dilra menatapku, tapi tatapannya barusan kenapa seolah merendahkanku.


Miris, benar katanya aku memang selalu tak bisa diandalkan.


“Biar Mas Saja yang ambilkan, benar tiga biji saja?” Hiro langsung menyahut, tanpa pikir panjang dia langsung naik ke pohon, lalu mengambil beberapa buah itu.


“Eh enggak usah Mas.”


“Telat, ini ambil.”


Dilra melirikku sekilas, kau tahu Dil, rasanya sekarang aku benar-benar tak berguna.


“Terima kasih Mas, Bu.”


Sang pemilik rumah lantas mengajak kami untuk mampir, sayangnya waktuku hanya sebentar kami menolak, tapi lagi-lagi Hiro seperti mencegah Dilra agar tetap tinggal.


“Loh kamu kok enggak pakai sendal Dil, panas loh, ini pakai sendalku saja."


Dengan cepat Hiro melepas sandalnya, Dilra tak lantas bergerak, dia kembali melirikku.


“Gak usah Mas, aku mau langsung pulang saja.”


“Olahraga sih boleh Dil, tapi liat jam juga ini sudah siang banget,kata Hiro.


“Pake saja Dil, biar cepat pulang.”


“Eh iya Mas, aku duluan ya."


Hiro tersenyum dengan penuh kemenangan, sedang di dalam sini, ada yang diam-diam terbakar.


Sepanjang perjalanan Dilra terus memijat kakinya, perempuan memang lucu, berjalan sejauh itu hanya demi beberapa biji kedongdong, lagi-lagi hatiku luluh, melihatnya kesakitan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2