
"Enggak usah repot-repot Bu Rima, bagaimana sekarang, repot kan di tinggal anakku?" sindir Bapak. Ibu langsung menunduk, sedangkan Bapak malah menyunggingkan bibir atasnya. Selang beberapa detik beruntung ibu mertuaku menyenggol lengan suaminya, lantas Bapak langsung tersenyum, seolah penuh kepuasan.
"Bercanda, Bu Rima."
"Oh iya," jawab Ibu diiringi senyum paksanya. Suasana mendadak canggung, penuh dengan kepura-puraan. Bukan aku tak mau membela Ibu, entah sampai hari ini saja aku masih enggan mengajaknya bicara, aku takut kelepasan, hingga nanti kehilangan rasa hormat padanya.
"Permisi ya, Bu Rima,” kata Bapak lagi dengan seringai di bibirnya. Mereka bersalaman, tapi jelas sekali di dalam hati mereka ada emosi yang menggebu.
"Dil, ayo pulang, untuk apa di sini,’ kata Bapak, yang sudah jalan lebih dulu. Laki-laki paruh baya itu menggenggam istrinya dengan penuh cinta, bisa kulihat sesekali genggaman itu berpindah ke pundak, membuat denyut nyeri di dalam dada. Aku iri, entah kapan terakhir aku dan Dilra melakukannya. Dilra enggan mencium lenganku seperti biasa. Ketika aku mengulurkannya pun hanya dibalas dengan tatapan dinginnya. Dia memilih berjalan begitu saja meninggalkanku lagi di sini. Baru terasa sekarang, kehilangan Dilra seperti kehilangan sebagian dalam diriku. Hidup ini tak lengkap lagi. Hari-hari berlalu tanpa gairah. Meski akhir-akhir ini dia lebih banyak diam saat di rumah, tapi hatiku tak pernah merasa segelisah ini jika ada Dilra di sisi.
"Lang, kenapa tiba-tiba mereka ke sini,’ tanya Ibu.
"Kenapa ibu enggak tanya langsung ke mereka.”
"Lang, kamu kok ngomongnya begitu? terus kamu mau ke mana, enggak buka dulu?"
“Ibu makan saja dulu, aku mau keluar sebentar.”
"Lang," panggilnya dengan wajah sendu.
"Tolong Bu, aku sudah besar, aku bisa buka di jalan nanti, pamit dulu.” Aku tahu ini salah, tapi ini batas toleransiku pada setiap sikap buruk Ibu. Entah di mata Tuhan. Aku pergi dengan motor matic ke Masjid. Sepertinya akan lebih baik. Mungkin pikiranku akan tenang di sana. Sesampainya di pelataran masjid. Ada mobil mertuaku terparkir di sana. Tentu saja aku akan merasa lebih tenang, kalau di sini ada Dilra. Aku sengaja melambatkan jalan saat melewati tirai pembatas antara saf laki-laki dan perempuan. Memang ini tak sopan, tapi sungguh mengetahui sosok yang kurindukan berada tak jauh, membuat jantungku berdetak tak karuan. Meski kenyataannya hubungan kami tengah di ambang batas kehancuran. Hanya butuh tanda tangan semua cerita tentang kita akan lenyap, tak akan ada masa depannya lagi. Sakit kembali mendera hanya dengan mengingatnya. Mereka masih tak menyadari kehadiranku. Aku bukan tak mau menyapa. Sudah kupastikan yang terjadi pasti mereka akan langsung pergi dari sini. Padahal aku masih ingin melihat Dilra, meski dari jauh. Mereka mulai makan dan minum di pelataran Masjid. Entah mau ke mana Dilra dia malah pergi ke mobil. Begitu balik lagi teryata Dilra datang dengan Dion. Aku tak bisa menahan hasratku untuk mendekat. Tidak peduli apa pun yang akan terjadi aku rindu sekali dengan anakku.
“Dil, Pak Bu,’ sapaku. Mereka tampak terkejut, tapi tak bicara apa pun.
"Mas boleh gendong Dion, Dil?"
"Kenapa sih sudah sana, nanti dicari ibunya," sindir Bapak. Ibu kembali menyenggol lengan Bapak, memberi kode agar jangan sampai emosi. Mengingat kami tengah berada di rumah Allah. Aku hanya melirik ke arah pasangan itu. Meskipun aku sendiri merasa tidak nyaman dengan perkataanya barusan.
"Boleh, Dil?” tanyaku lagi. Dilra mengangguk, setelahnya dia memberikan bayi Dion padaku, bayi itu menggeliat-geliat, lucu sekali.
"Kami mau pergi makan, kamu sudah buka belum?" tanya Ibu.
"Sudah Bu, biarkan sama Ibunya saja,’ sahut Bapak. Entah kenapa aku malu, memang tak salah kalau Bapak menyindirku. Aku tak bisa tegas pada Ibu.
__ADS_1
"Sudah ayo, mampir ke sana sebentar!" ucap Ibu seraya menunjuk rumah makan khas sunda, di seberang jalan. Suasana buka puasa mendadak canggung. Dilra hanya makan sedikit, lebih banyak mengaduk. Padahal Dion sedang tidur. Kami makan berlima dengan pengasuh Dion juga. Aku bahkan tak pernah memberikan Dilra pengasuh, meski dari segi ekonomi, aku mampu. Penampilan Dilra jauh berbeda saat berada di sisiku, pakaiannya tampak lebih rapi. Meski begitu, wajahnya tetap pucat, aku masih penasaran penyakit apa yang tengah dia derita sayang dia tak pernah mau terbuka, membuatku semakin khawatir saja.
"Dimakan nasinya Lang, sudah mau pergi
kita,’ kata Ibu, tanpa sadar piring mereka sudah hampir habis sedang punyaku belum di sentuh sama sekali, sedari tadi pandanganku terus saja menatap ke arah Dilra. Dilra hanya melirik, tanpa berniat mengajakku bicara. Gegas aku menghabiskan makanan dengan cepat.
"Bagaimana sudah ditanda tangan suratnya?" tanya Bapak saat makananku sudah habis.
"Galang enggak bisa, Pak."
"Mau apa lagi sih, sudah jelas kamu enggak pernah menafkahi anak saya. Apanya yang mau di perbaiki?"
"Saya salah tapi saya mohon saya masih ingin sama Dilra."
"Saya enggak mengizinkan."
"Dil, kamu Memang benar mau pisah? Jangan diam saja!"
"Tuh dengar sendiri ‘kan, jangan mempersulit keadaan Lang, sudahlah lepaskan anakku. Biar nanti kujodohkan dengan laki-laki yang bisa bikin dia bahagia, gak kayak ...."
"Huss, Pak!" Ibu kembali menghentikan Bapak.
"Dil kita harus bicara, enggak bisa kayak begini."
"Mau apa lagi sih?" tanya Bapak.
"Saya minta ijin untuk bicara sama Dilra Pak, kita perlu bicara berdua."
"Tanya sama anakku, mau enggak?” "Dil, bagaimana?"
"Mari keluar,’ Lirih Dilra lalu kami pun pergi keluar.
~
__ADS_1
“Dil, Kasih kesempatan sekali lagi, Mas mohon:
“Enggak."
"Mas masih mencintaimu Dil, Mas janji Ibu enggak akan lagi ikut campur masalah ekonomi kita.”
"Aku enggak peduli.”
"Dil, oke abaikan tentang masalah kita, jujur sama Mas kamu Sakit apa?"
“Hanya sakit biasa”"
"Mana mungkin, wajahmu pucat begitu, Mas khawatir, apa itu salah?"
"Bukan urusan Mas juga, mari berpisah secara baik-baik Mas, tenang saja aku enggak akan menuntut hartamu."
"Dil sekali pun kita bercerai maka akan kuberikan semua hartaku untukmu. Aku tak peduli kalau harus tidur di kontrakan seperti dulu untuk apa punya rumah kalau tidak ada kamu di sana."
“Untuk Ibumu."
"Dil, Mas mohon."
"Aku telah kehilangan dua anakku Mas. Seharusnya mereka masih hidup kalau saja kamu mau mendengarku sekali saja, setidaknya Aira bisa terselamatkan. Sayang kamu lebih percaya Ibu. Memaklumi semua tindakannya, meski kamu tahu itu "Aku telah kehilangan dua anakku Mas. Seharusnya mereka masih hidup kalau saja kamu mau mendengarku sekali saja, setidaknya Aira bisa terselamatkan. Sayang kamu lebih percaya Ibu. Memaklumi semua tindakannya, meski kamu tahu itu menyakitkan, Kamu paksa aku memakluminya, padahal jelas tindakan Ibumu bukan hal yang layak untuk dimengerti manusia normal. Apa salah aku ingin bahagia, Mas?"
"Apa nantinya kamu akan menikah lagi, Dil?"
“Mungkin,’ katanya.
“Bagaimana bisa, apa kamu sudah enggak mencintaiku lagi?" Dilra hanya tersenyum menatapku.
"Mas menikahlah lagi, dunia kita enggak kekurangan perempuan ‘kan?"
Bersambung..
__ADS_1