
"Apa yang kau katakan? Kau sedang berniat mengancam ku? Kalau kau ingin mengatakan itu, maka silahkan katakan lah pada semua orang. Tapi jangan menyalahkan ku, kalau aku akan menjerat mu hingga kau tak akan bisa lagi merasakan yang nama nya udara kebebasan," ancam Steven balik.
πΊπΊπΊπΊ
Glukk...
"Kenapa kau jadi seperti ini Stev?" tanya Sania.
"Seperti ini bagaimana? Bukan kah ini wajar di lakukan untuk pasangan suami istri?" tanya Steven balik.
Dan posisi mereka saat ini sudah tidak berjarak, kening mereka menyatu seh'ingga baik Steven atau pun Sania dapat mendengar deru nafas hangat masing-masing. Steven dengan perlahan membelai lembut bibir Sania, bibir itu begitu lembut dan terlihat sangat manis, membuat Steven ingin mencicipi nya.
Sania ingin sekali mendorong tubuh Steven untuk menjauh, namun ntah kenapa Sania tidak bisa melakukan itu, tubuh nya seakan kaku dan tidak mengizinkan Sania untuk membrontak, kaki Sania pun juga sudah lemas dan mendadak seperti jelly.
Steven masih membelai lembut bibir Sania, pandangan mata nya pun juga enggan untuk beranjak. "Boleh kah aku mencicipi nya?" Steven tidak menatap mata Sania, dia masih menatap bibir itu yang begitu ranum.
Ntah sadar atau tidak, Sania menganggukkan kepal nya, dan langsung saja Steven menempelkan bibir nya pada bibir Sania, Steven mengira hanya akan mengecup nya saja, namun bibir Sania begitu manis dan lembut hingga Steven tidak rela untuk hanya sekedar kecupan saja.
Steven terus ******* bibir Sania, bahkan Steven mengigit bibir bawah Sania saking gemas nya dengan bibir itu, membuat Sania meringis.
"Astaga pasti aku sudah gila, kenapa ini begitu manis? Rasa nya aku tak pernah merasakan bibir seperti ini," batin Steven.
"Ayo Sania membrontak lah sekuat tenaga, tenda atau pukul pria mesum ini. Kau jangan hanya diam saja dan menikmati nya," batin Sania.
Steven memegang tengkuk Sania untuk memperdalam ciuman nya, Steven mengabsen setiap sudut rongga mulut Sania yang begitu memabukkan. Sania tersentak kaget, pikiran dan tubuh nya sama sekali tidak mau bekerja sama, tubuh nya seakan sangat menerima ciuman dari Steven, hingga tanpa sadar Sania mulai men**sah. Sungguh Steven memang pandai membuat wanita terbang setinggi langit.
"Sstthh....," desah Stevany, saat Steven menurunkan ciuman nya ke leher putih Stevany.
"Terus, sebut lah nama ku dalam setiap de**han mu," bisik Steven.
"Aaakkhhh Steven," racau Sania.
Sania memejamkan mata nya, menikmati sentuhan dan belaian dari Steven, sentuhan yang sama sekali tidak pernah Sania rasakan, Sania tidak mampu menolak sentuhan Steven.
"Sekarang tidur lah, hari sudah semakin malam," ucap Steven.
Ya, Steven menghentikan aksi nya dan pergi ke kamar mandi, melihat aksi Steven, tentu saja membuat Sania bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan nya? Kenapa dia lebih memilih menghentikan nya? Apakah dia tidak tersiksa harus menahan gairah?
Terlihat sangat jelas di wajah Sania ada guratan kekecewaan, padahal Sania berpikir kalau mungkin malam ini dia akan menyerahkan harta yang sudah 20 tahun Sania jaga.
__ADS_1
"Astaga Sania, apa yang kau harapkan dari pernikahan ini? Dia mencium mu itu bukan berarti dia mencintai mu, jadi kau jangan beranggapan kalau dia mencintai mu hanya karena dia sudah pernah mengunjungi bibir mu. Apalagi dia itu adalah pria mesum, pasti sudah sangat sering merasakan banyak bibir." Sania bermonolog sendiri sambil memukul pelan kepala nya.
Hampir 30 menit akhir nya Steven keluar dari kamar mandi, namun Sania malah tidur di sofa.
"Kenapa wanita ini sangat keras kepala sih? Sudah ku bilang tidur di kasur, tapi kenapa dia tetap kekeh untuk tidur di tempat yang tidak nyaman," geram Steven.
Akhir nya Steven pun mengangkat tubuh Sania dan memindahkan nya di atas kasur, tapi baru saja Steven meletakkan nya di atas kasur, Sania malah terbangun dan lebih sial nya lagi, handuk yang Steven pakai untuk menutupi senjata nya malah terbuka.
"Aaakkhhhhhh!!!!" teriak Sania.
Sania terkejut bukan main saat melihat sesuatu yang cukup besar dan panjang bergelayutan, Steven pun menutupi benda pusaka nya itu dengan handuk.
Dorrr....
Dorrr....
"Sania, apa kau baik-baik saja?" tanya Kia.
Ya, rupanya teriakan dari Sania mampu membuat satu mansion itu terkejut.
"Lihat lah, gara-gara kau semua penghuni di sini jadi terbangun," ucap Steven.
tokkk....
"Hayyy Sania buka lah pintu nya, jangan membuat kami khawatir," teriak Rara.
"Cepat kau temui mereka," perintah Steven.
Sania pun melangkahkan kaki nya membuka pintu sambil memikirkan alasan apa yang akan dia katakan.
"Sania apa kau baik-baik saja?" tanya Kia.
"Iya, apa kau terluka?" tanya Flow.
"Ah iya tentu, aku baik-baik saja kok," elak Sania.
"Lalu tadi kenapa kau berteriak?" tanya Rara.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, tadi Sania hanya menduga ada ular besar dan panjang," sahut Steven tiba-tiba.
__ADS_1
"Ular? Yang benar saja, di mansion ku mana ada ular?" tanya Chris.
"Maka dari itu, aku katakan kalau yang dia lihat itu salah," jawab Steven.
"Astaga Sania, kau membuat kami terkejut tau," ucap Rara.
"Maaf ya, sudah membuat kalian terganggu," ucap Sania merasa tak enak.
"Yasudah sekarang kita semua balik ke kamar saja yuk," ajak Chris.
Setelah mereka bubar, Sania dan Steven pun langsung ke kamar mereka lagi.
"Reaksi mu terlalu berlebihan San, baru melihat saja kau sudah berteriak, apa lagi kalau ini sampai masuk, pasti kau langsung pingsan," ledek Steven.
"A-pa kau bilang? Ma-suk? Mas-uk kemana?" tanya Sania.
Bukan tanpa alasan Sania bertanya seperti itu, dia hanya tak mau salah menduga saja. Alih-alih menjawab, Steven malah mendekat ke arah nya, Sania langsung memundurkan langkah nya, setengah hati nya sangat berharap kalau dia bisa merasakan sentuhan dari Steven, tapi setengah nya lagi menolak dengan keras sentuhan dari Steven.
"Ka-u mau apa?" tanya Sania dengan gugup.
"Kenapa kau gugup? Bukan kah tadi kau menikmati nya? Bahkan ku mend**ah menyebut nam ku." Steven tersenyum meledek ke arah Sania.
"Tid-dak tuh, kau jangan memfitnah ku ya, mana ada aku seperti itu," elak Sania.
Melihat respon Sania yang gugup dan bahkan tidak mau mengakui nya, membuat Steven semakin mendekat dan menarik pinggang ramping Sania, hingga Sania terbentur dada bidang nya.
"Apa perlu aku ulangi lagi agar kau bisa mengingat dengan baik?" bisik Steven.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
WAH BABANG STEVEN GERCEP YA BUND ππ
JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE AKU YA
DAN JANGAN LUPA JUGA BERI HADIAH OKE
SALAM CINTA DARI OTHOR ABAL-ABAL π
SARANGHEO β€οΈ
__ADS_1