Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 13# Syarat Memusingkan


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan di atas boncengan Dibi, Bunga terus berpikir keras. Kenapa ia harus menurut manis ikut Dibi menemui Arpina yang ngambek katanya. Kan, bocah itu bukan ponakan, anak apalagi. Harusnya cuekin aja bocah itu mau nangis nangis juga. Bandel ini, kan? Jadi ngapa harus ngurus ya. Hadeeh, kadang kadang, Bunga sendiri menghardik dirinya bodoh.


"Pak, saya ada kelas pagi, loh."


Dibi mendengar suara Bunga, namun ia diam saja. Memangnya hanya Bunga yang diburu waktu, ia pun sama. Hari ini jadwal briefing pagi yang langsung dimentori olehnya. Tetapi gara gara Arpina yang tiba-tiba ngambek saat di gerbang sekolah, membuatnya harus membawa Bunga ke hadapan Arpina. Entah apa sih istimewa Bunga di mata Arpina? Bingung sekali otak Dibi. Dari segi kecantikan, Bunga bisa disebut, oke. Body? Sebenarnya masuk ke kategori petite. Tapi kelakuan sableng dan mulut non filter Bunga yang membuat Dibi kadang kala ingin mengetuk jidat gadis yang masih terus menerus cerewet di belakang sana.


Dibi tak ada niat menjawab. Cukup membonceng Bunga di mata Arpina maka semoga acara ngambek anak tersayangnya usai sudah.


Broomm...


Motor sampai di depan gerbang sekolah. Melihat orang yang ditunggu-tunggu sudah datang, kepala Arpina melongok dari pos jaga.


Senyum devil tersemat. Papanya tidak berbohong yang akan membawa Bunga ke hadapannya pagi ini juga. Memang the best lah Papanya ini.


Flasback beberapa menit lalu di depan gerbang sekolah.


"Kok cemberut?"


"Arpina nggak mau sekolah. Mau pulang aja!"


"Loh, kenapa?"


"Arpina mau pulang ke jakarta. Sama Papa Guntur dan Mama. Nggak mau sama Papa Dibi."


Terang saja, Dibi terkejut kejut. Tidak ada angin apalagi hujan, Arpina mau pergi meninggalkannya disaat ia sudah nyaman akan kehadiran anaknya itu di rumahnya yang sepi. Sebelum Arpina datang, Dibi seperti orang yang tak bernyawa. Langkahnya tidak ada arah. Kalau anaknya pulang dan memilih tinggal bersama Palangi, hampa lagi hidupnya. Dibi tidak mau harta yang tak ternilai harganya ini pun pergi dari sisinya.


Dulu, waktu Arpina masih bayi merah, Dibi-lah yang mengurus sendiri anaknya sampai berusia satu tahun lebih dan saat ini, Arpina datang sendiri padanya, jelas Dibi tidak mau kehilangan lagi.


"Jangan ya, Sayang. Katakan, apa salah Papa, sampai Arpina tega meninggalkan Papa sendiri di kota ini?"


Arpina menyeringai dalam hati sembari menggeleng. "Papa nggak salah. Tapi Tante Bunga."


Gadis sableng itu lagi yang salah. Why?


Dibi masih diam berjongkok di depan berdiri ngambeknya Arpina dengan bibir gadis kecilnya ini cemberut akut.


"Arpina tidak suka melihat Tante Bunga dekat dengan orang lain." Arpina membahas Delon.

__ADS_1


"Sayang, itu haknya dia."


Arpina menggeleng tidak setuju. Namanya juga anak anak yang taunya 'suka dan tidak suka.' Kalau bukan hatinya yang berkata, tidak suka, maka apalah arti dari 'hak' itu. Intinya, anak kecil itu maunya menang sendiri dalam artian perasaannya itu nyaman dalam bentuk apapun yang diinginkan, contohnya mainan, anak lain suka lato lato, tapi Arpina sukanya kelereng, mau apa lo?


"Nak, Bunga itu orang lain buat kita. Jadi, jangan berharap yang tidak pasti." Dibi masih menjelaskan dengan nada bersabar.


"Yang pasti itu seperti apa? Seperti Papa Dibi dan Mama? Terus, Papa Guntur kenapa ada di dekat Mama? Kenapa bukan Papa Dibi yang dekat dengan Mamaku saja?"


Semakin runyam kalau Arpina menyinggung masa lalu. Dibi mau menyerah saja kalau bersangkutan dengan nama Guntur dan Pelangi - mantan istrinya yang dulu sempat ia sia siakan.


" Nak, ini soal Tante Bunga, kan?"


Arpina mengangguk cepat.


" Papa harus apa biar hatimu tenang, tapi eits, jangan minta Papa nikah sama dia."


Baru juga mau ngomong gitu, uda di-warning terlebih dahulu. Tapi sabar, Arpina tau dari Omanya kalau menikah itu tidak mudah katanya. Padahal tinggal ijab qobul maka selesai. Itu lah pikiran polos Arpina, yang lain masih asing baginya.


" Arpina cukup beri jalan untuk mendekatkan Papamu dan calon ibu tiri yang Arpina sukai. Hasilnya, serahkan pada jodoh Tuhan." Begitulah kata kata Omanya yang ia ingat. Setidaknya, ia berusaha dengan caranya sendiri. Kan selebihnya serahkan pada Tahun katanya. Lihatlah saja, setiap di atas sajadahnya, Arpina akan curhat terus sama Tuhan agar Arpina diberi Mama Tiri yang baik dan isteri terbaik buat Papanya juga.


"Papa tidak boleh galak galak dan judes sama Tante Bunga."


" Iya," jawabnya setuju. Tapi dalam hati tidak berjanji. Kalau di depan Arpina, ia akan menahan diri untuk tidak mengomel. Tapi kalau tidak ada anaknya, Bunga adalah manusia yang wajib diomelin, diketusin dan digalakin.


"Terus, Papa harus antar jemput Tante Bunga."


Syarat eek kucing. Dibi mendumel kesal dalam hati. "Iya, Nak." Tapi tercuat manis. Anaknya adalah ratunya yang harus dituruti asal masih dalam kata wajar.


"Tunggu apalagi?"


Nyaris saja alis Dibi menyatu karena menyerinyit bingung.


"Astaga Papa. Malah senyum senyum bahagia." Arpina tepuk jidat.


Siapa yang senyum, lah Dibi kan lagi berekspresi bingung.


"Sana pulang, cepat antar Tante Bunga ke kampusnya. Arpina tungguin di sini. Sampai bel masuk pun, Arpina nggak mau belajar kalau Papa tidak ada bukti nganter Tante Bunga pagi ini."

__ADS_1


Begitulah awal Dibi kenapa bisa membonceng Bunga saat ini. Hidupnya pasti akan repot kalau tiap hari antar jemput cewek sableng itu. Demi anaknya, Dibi akan mencoba bertahan dalam syarat syarat memusingkan Arpina. Terpenting, Arpina tidak menyuruhnya ke KUA untuk menghalalkan Bunga yang katanya sudah terang terangan menolak jodoh duda.


"Arpina!"


"I-iya. Ah, bikin kaget aja nih." Arpina memegang dadanya yang dag dig dug dapat guncangan dari Bunga di depan gerbang sekolah.


"Lagian situ malah melamun."


Arpina cuma tercengir. "Uda, ya. Belnya uda bunyi. Sana naik boncengan lagi."


Apa maksudnya bocah badung ini. Katanya kan lagi ngambek sekolah sampai Dibi memaksanya ngikut kemari. Setelah sampai, mana muka ngambeknya Arpina? Adanya lagi mesem mesem gaje. Terus malah diusir. Kan kesal.


"Buruan naik, Bunga. Saya hampir telat ke kantor!" PaLak bin Pak Galak mulai bersuara datar yang masih stay cool di atas mogenya. Mengingat dirinya pun ada kuis di kelas pertamanya, Bunga akhirnya menurut. Kebingungannya nanti sajalah bertanyanya soal kenapa Dibi mau mengantarnya ke kampus.


"Papa, syarat pertama harus diingat. Jangan galak galak sama Tante Bunga."


"Iya, Nak. Sana masuk. Papa pergi ya."


Duh, lembut amat sih kalau bersuara ke Arpina. Bunga mengakui satu hal di sini, kalau Dibi meski galak tetapi pada anaknya sikap jeleknya itu tidak ada.


"Dadah Papa. Dadah Tante. Peluk Papa dari belakang ya, biar nggak jatuh."


Bocah asem. Bunga nggak menurut. Ngapain juga pegangan sampai peluk peluk. Rugi kali dadanya bisa kegesek sama punggung keras Dibi.


Broomm...


"Eh, dadaku." Sialan, kegesekkan meski ada baju juga yang menghadang. Dasar polisi gila, main bram brom aja.


Dibi hanya bisa pasrah tangan Bunga refleks memeluknya dari belakang. Karena tidak mau telat, motor kian melaju cepat membelah jalanan yang syukurnya tidak macet seperti di ibu kota sana.


"Bapak, jangan ngebut. Aku masih mau merasakan nikah tauuuu!"


Broomm...


"Bapak gila ya. Makin ngebut saja."


Broomm...

__ADS_1


"Argh...!" Semakin Bunga cerewet, maka gas di tangan Dibi kian naik. Otomatis, pelukan pegangan Bunga semakin kuat. Enak kan nempel nempel hangat tanpa disadari lagi dadanya uda kegesekkan.


__ADS_2