
Sepulangnya dari rumah sakit, Denisa tidak bisa tidur. Terus menerus kepikiran Emak Dahlia yang mempunyai rekaman suaranya yang telah menjelek jelekkan nama Dibi. Ketahuan sama orangnya, maka boom... Denisa ngeri membayangkan hukuman apa yang akan Dibi berikan padanya. Alih alih mendapat pria itu, ujung ujungnya akan gigit jari doang kalau Emak bocor ke Dibi. Bagaimana dong?
"Come on, Denisa. Pikirkan sesuatu!"
Memindai jam dinding, ternyata sudah pukul tiga dini hari. Semalaman tidak tidur. Kepala Denisa nyut-nyutan. Daripada usahanya berujung sia sia mendapatkan Dibi yang selama ini menjadi idaman hatinya, Denisa berpikir nekat untuk datang ke rumah Emak di dini hari itu juga. Tidak bisa ditunda tunda lagi.
Keluar kamar dengan hoddie hitam lengkap tudungnya telah menyempurnakan penyamarannya. Masker untuk menutupi wajahnya pun ada di saku saat ini.
"Mbak...?" Denisa mematung di ruang tengah yang temaram, ada Delon rupanya.
Tap...
Lampu pun dinyalakan oleh Delon, ingin memastikan kalau sosok misterius yang membelakangi nya benar kakaknya atau bukan?
"Mbak!"
Denisa berbalik. "Apa?"
Benar kakaknya. "Mau kemana? Ini masih dini hari loh, nggak mungkin jogging, kan?"
Cerewet sekali adiknya ini. "Saya mau maling hape Emaknya Bunga."
Delon menyerinyit. "Mbak becanda, kan?"
"Ini itu salah mu juga Delon! Kamu terlalu ceroboh dan berakhir cepat ketahuan oleh Bunga. Coba dia masih menjadi kekasih mu, Mbak tidak akan mencelakai dia dan Emak nya yang tua itu tidak berujung mempunyai rekaman suaraku yang telah memfitnah Pak Dibi. Ini salah mu! Salah mu!" Denisa mengomeli adiknya. Lalu berbalik ke arah pintu utama.
Delon menghadang dan berkata menasehati Denisa, "Mbak, jangan terlalu mengejar sesuatu yang tidak mungkin kita dapatkan. Jangan buta karena cinta, Mbak. Dan mbak harus ketahui kalau panah yang kita lesatkan dengan paksa, bisa saja anak busurnya berbalik arah mengenai tuannya. Jadi please, sebelum terlambat, maka berhenti berbuat jahat. Saya tidak akan mengijinkan Mbak Denisa berbuat diluar nalar lagi."
__ADS_1
Denisa mengeraskan rahangnya. Adiknya yang masih bau kencur ini berani melawannya. Tanpa bersuara, Denisa menggeser paksa tubuh Delon agar menyingkir dari jalannya.
" Mbak __"
"Kalau kamu sudah mempunyai penghasilan, baru berhak menasehati Mbak!"
Delon tidak bisa mencegah. Apalagi mendapat kalimat sarkasme kakaknya yang menyepelekannya.
"Terserah, Mbak. Saya memang cuma adik yang menyusahkan mu. Dan mulai besok, saya akan berhenti merepotkan Mbak. Tidak usah mengurusku lagi. Saya akan membuktikan pada Mbak, kalau aku bisa mandiri!"
Delon ngambek. Denisa tidak peduli. Adik nya itu paling sedang emosi dan berbicara ngaur. Toh, selain dirinya, tidak ada lagi orang yang bisa diandalkan oleh Delon. Dengan gamblang, Denisa berkata, "Bagus!" Nadanya penuh ejek. Dan menghilang di balik pintu utama. Delon yang merasa tidak dianggap, langsung melempar foto hangat bersama kakaknya yang kebetulan berada di atas bupet sebelahnya.
Foto yang berpose saling merangkul itu pecah. Dilihatnya senyum kakaknya yang lebar. Kakaknya yang dulu, beda sekali dengan Denisa yang sekarang, itu menurut Delon. Obsesian dan juga ambisius dalam tujuan. Dulu, mbaknya itu sangat baik dan memiliki sikap penuh kasih sayang. Apakah karena dari dulu, Sang kakak selalu gagal dalam hal percintaan? Dalam akibat, pasti ada sebab awalnya dan Delon benci sekaligus kasihan pada kakaknya itu.
Di sisi Denisa, wanita itu benar-benar nekat. Denisa yang mempunyai skill, dengan mudah membuka pintu Emak hanya menggunakan kawat khusus yang memang sudah dibawanya dari rumah.
Keadaan ruangan masih redup, itu tandanya si pemilik rumah masih tertidur. Pelan pelan, Denisa melangkah ke arah kamar yang ia yakini milik Emak. Hape biasanya selalu tak jauh dari pemiliknya bukan, jadi Denisa memberanikan diri membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati. Mengintip sedikit ke dalam kamar. Sial ... ada Arpina di atas peraduan.
Denisa kembali menutup pintu. Kamar tersebut pasti bukan milik Emak.
Mengedarkan mata, pintu kamar baru telah ditargetnya. Seperti tadi, Denisa bergerak dengan sangat pelan, hampir tidak ada suara dari pergerakannya.
Kasur terlihat berantakan, tapi tidak ada orangnya. Kemana pemiliknya? Jujur, jantung Denisa bekerja dua kali. Ia takut ketahuan, tetapi terpaksa juga harus melakukan hal yang dibilang kriminal tersebut.
Tanpa Denisa sadari, ada sosok wanita gemoy yang memakai bukena putih berdiri tidak jauh dari Denisa. Keadaan ruangan itu memang sengaja lampunya dimatikan. Jadi, Denisa tidak menyadari ada sang pemilik rumah.
Emak yang selesai sholat sunnah di sepertiga malam, tidak sengaja melihat ada maling yang mengendap endap membuka kamar Bunga yang ditempati Arpina. Karena tidak punya skill bela diri, Emak pun cuma memakai otaknya. Sebelumnya, tadi Emak masuk ke dapur. Mencari tepung lalu membaluri seluruh wajahnya sampai putih. Biar ada sentuhan seramnya, Emak memakai pewarna merah makanan di sudut bibirnya. Terkesan sebagai darah yang mengalir. Masih belum sempurna kehororannya, Emak yang melihat panta* panci gosong, mencolek hitam hitamnya lalu memasangnya ke lingkaran mata. Lengkap sudah cosplay Emak sebagai pocong tanpa tali.
__ADS_1
"Taliiiiii ... Kembalikan tali ku..." Suara Emak terdengar horor. Serak dan berat, mirip pemeran tokoh setan sesungguhnya yang kehilangan tali pocongnya.
"Kembalikan taliku..." ulang Emak di belakang Denisa yang berjarak sekitar empat langkah orang dewasa. Seruan seram terakhir tersebut, berhasil membuat bulu kuduk Denisa meremang. Alih alih melangkah masuk ke kamar Emak, Denisa yang penasaran suara pelan tetapi sangat berat itu, berujung membalik tubuhnya secara perlahan.
Gedubrak... Punggung Denisa refleks menabrak tembok karena terperanjat kaget sembari berucap takut, "Ha_hantuuu..." Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, sekedar bibirnya yang bergetar ketakutan. Lutut Denisa pun terasa lemas. Namun, ia yang tidak mau ketahuan ujung ujungnya oleh Emak besok pagi, Denisa pun mati matian mengingatkan dirinya untuk bertahan supaya tidak pingsan.
"Mana talikuuuuu..." Emak kembali bersuara seram. Jujur, meski takut takut diserang oleh maling yang memakai serba hitam dari ujung kepala sampai kos kakinya dengan masker putih menutupi area wajah, Emak yang penasaran pemilik wajah di balik kostum tersebut, melompat maju layak nya pocong.
Tentu saja Denisa ngacir pontang panting. Tabrak meja, jatuh bangun. Kembali tersandung ujung sofa karena panik ketakutan. Benjol jidat Denisa karena terbentur lantai. Bangun lagi saat suara seram di belakang sana minta gendong katanya. Setan buntet sialan! Maki Denisa yang sudah berhasil keluar dari rumah Emak. Terbirit birit Denisa sampai terkencing kencing di celana levis hitamnya. Namun, itu tak di hiraukan Denisa. Terpenting tidak digrandongi pocong.
Hah...hah...hah... Nafas Denisa tersengal sengal seperti guguk yang habis berlari. Untung lidah dan liurnya tidak menetes. Celingak celinguk sebentar yang sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Aman! Pocongnya tidak mengejar. Merasa kapok berulah malam ini, Denisa pun masuk ke dalam rumahnya. Sampai di ruang tengah, Denisa mendapati Delon yang sepertinya terlihat rapi dengan jaket denim.
Karena malu ketahuan oleh Delon yang dirinya habis ngompol ketakutan, Denisa pun berlalu cuek tanpa sepatah katapun. Membuat Delon bersedih dan merasa mantap untuk pergi dari sisi kakaknya yang tidak mau peduli lagi dengannya.
"Bahkan, dia tidak mau mencegahku meski di sebelah ku saat ini ada koper."
Ya, kesalahan Denisa kali ini adalah punya mata tetapi tidak melihat koper Delon yang berisi barang barangnya. Tekadnya sudah bulat yaitu PERGI!
Lain halnya Emak, kepergian maling tadi membuatnya merasa lega. Bokongnya yang bohai, ia banting ke sofa. Mengelus dada lega sembari mengucapkan syukur karena selamat dari maling yang sebenarnya takut dibacok kayak berita berita kriminal di tv. Seram.
Teringat dengan Arpina, Emak buru buru copot penyamaran pocong tanpa talinya. Cuci muka meski kurang bersih terpenting Arpina tidak menganggapnya hantu seperti maling tadi.
"Bodo amatlah sama barang barang. Terpenting keselamatan Arpina," gumam Emak cemas. Toh, barang berharganya itu cuma motor dan televisi yang masih ada di tempat.
"Alhamdulillah... Arpina baik baik aja." Emak elus dada. Kamar Bunga pun rapi sedia kalanya. Lanjut dia pergi ke kamarnya. Mana tau barang keramatnya hilang yaitu benda renda renda segitiga yang kondoi punya. Mungkin malingnya punya penyakit parafilia atau bisa dibilang suka maling dalama* orang. Bagaimana Emak tidak berpikirin demikian? Lah, rumah Dibi dan tetangga lainnya terlihat mewah tetapi kenapa pula rumah tuanya yang jelas jelas paling jelek malah dipilih oleh maling.
"Apa jangan jangan orang tadi punya motif lain?"
__ADS_1