Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 9# Dibuat Tersinggung


__ADS_3

"Bawa mereka!"


"Siap, Komandan!"


Sedari tadi, Dibi masih sabar menjadikan bahunya sebagai sandaran gratis kepala Bunga yang terus mempertahankan pingsan kepura-puraannya. Tetapi, setelah para preman itu dibawa pergi oleh tiga orang bawahannya, dengan tega Dibi segera berdiri dari kursi halte, otomatis kepala Bunga yang bersandar nyaman itu ... gedebuk, jatuh ke samping. Kepalanya sakit terbentur.


"Aduh ..."


Orang pingsan ternyata bisa mengadu sakit. Bunga merutuk suaranya yang tidak bisa bertahan mengadu sakit untuk sementara ini.


Jelas saja Dibi semakin kesal dibuat tingkah konyol Bunga yang menurut sangat membuang buang waktunya.


"Saya tadi berbaik hati dan bersabar, karena hanya menjaga wibawa saya di depan orang lain. Tapi, sekarang tidak ada orang lain lagi selain kita berdua. Jadi, apakah kamu ingin benar-benar merasakan tiduran di tengah jalan atau berenang di danau?"


Diancam lagi. Kadung ketahuannya, ya sudahlah Bunga membuka matanya dengan perasaan takut takut, lalu menarik tubuhnya untuk duduk kaku di kursi halte tersebut. Pandangannya hanya menunduk ke arah sepatu dengan tangan diremak yang terpangku di atas duduknya .


"Ka__


"Terimakasih, Pak."


Mulut yang ingin mengomeli Bunga, terkatup kembali saat gadis itu bersuara demikian. Meski terdengar kecil suaranya, Dibi masih mendengarnya. Namun, Dibi yang bawaanya galak dan memang lagi kesal sama Bunga karena anaknya di rumah sudah dibuat nangis gara gara mencemaskan gadis sableng ini, menganggap suara Bunga hanya angin lalu saja.


"Terimakasih untuk bantuan Bapak barusan," ulang Bunga semakin memperjelas suaranya yang penuh ketulusan.


"Terus?!"


Terus apa? Bunga memberanikan mendongak menatap wajah Dibi yang berdiri di depan duduknya. Alisnya terangkat satu pertanda ia kurang paham dengan pertanyaan Dibi yang kurang lengkap.


"Terus, soal pacarmu yang bernama Dibi, bagaimana?"


Haduuuh... Ngapa pula dibahas soal itu? Bunga kan jadi lemas lagi. Ingin rasanya Bunga menggalih sumur, lalu menjeburkan Dibi ke dalamnya.


"Awas saja kalau pura pura pingsan lagi, saya pastikan, besok pagi kamu akan bangun di salah satu kamar orang gila yang ada di rumah sakit jiwa, seberang sana."


Alamak ... ancaman lagi. Dari pada si galak membuktikan perkataannya, lebih baik ia jujur-sejujur saja kalau, "Maaf soal itu, Pak. Nama pacar yang saya maksud itu memang nama Anda, tapi suer berani disambar geledek deh, kalau saya hanya semerta merta menakuti preman tadi. Sumpah, itu cuma spontan!" Saking semangatnya menjelaskan, Bunga sampai berdiri tegak di depan Dibi dengan jari berbentuk V ia pamerkan. Semoga pak polisi ini memakluminya, amin.


"Kenapa harus pakai nama saya? Kenapa kamu tidak mengaku istri gubernur saja sekalian?" Dibi masih belum puas dengan alasan Bunga. Tidak ada salahnya juga ia mengintimidasi cewek itu karena sudah mengaku ngaku. Dibi tidak suka diakui pacar oleh seseorang selama dirinya memutuskan untuk menutup hati dari wanita manapun untuk saat ini.


Iya juga ya? Kenapa harus nama si Dube? Harusnya ia menyebut nama babang tampan yang tidak pudar pudar pesonanya yaitu Lee Min Ho saja sekalian, batinnya juga bingung.

__ADS_1


"Cepat katakan!" Dibi setengah membentak.


"Karena Anda galak__ eh komandan polisi di daerah ini." Uh, untung cepat cepat meralat. Selamat, selamat.


Terlihat wajah ketat Dibi sedikit mengendur. Itulah yang membuat Bunga elus dada diam diam.


"Terus?"


"Terus terus lagi sih, Pak? Kalau nabrak macam mana?" Bunga memprotes. Kan capek sedari tadi diinterogasi seperti maling kutan* tetangga saja.


"Terus kenapa malam malam masih ada di luar, hah? Asal kamu tau ya, gara gara kamu belum pulang dan mungkin tidak memberi kabar ke Emak mu, beliau dan anak saya nangis nangis di rumah."


Mendengar omelan Dibi, Bunga refleks mengelus prustasi wajahnya sembari terus berkomat kamit dalam hati, merutuki kebodohannya yang lupa memberi alasan pada Emaknya akan kepulangannya yang telat. Tapi, apa iya Arpina juga mencemaskannya?


" Ini itu semua gara gara Bapak juga!"


Loh, kenapa gadis sableng ini yang ngegas marah marah balik menyalahkannya. Di sini kan, yang repot itu dirinya. Otak gadis ini memang bergeser, cibir Dibi dalam hati.


"Gara gara Bapak yang ... yang ..." Bunga ragu mengatakannya tentang kejadian tadi pagi yang sudah menendang 'telur' Dibi.


"Karena apa, hah?"


Mendengar pernyataan Bunga, Dibi dirundung rasa bersalah. Apalagi mengingat video yang memperlihatkan Bunga mengurusnya saat sakit tadi pagi.


"Ayo pulang, saya anter!" Dibi berjalan menuju ke arah mogenya yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka. "Ayo, naik!" sambungnya yang sudah di atas motor.


Namun, Bunga ragu menerima tumpangan Dibi, takut si Duda itu membawanya ke tempat terpencil, diperkosa lalu dibunuh. Ihhh... Masih teringat segar di otaknya suara ancaman Dibi yang mengerang murka padanya setelah ia berhasil menendang aset Dibi yang berkata, 'Awas kamu, Bungaaaa!'


Tidak mau ditipu, Bunga berjalan meninggalkan halte.


"Hey, buruan naik. Kamu malah pergi sendiri!" Dibi membuntuti dengan laju motor seperti keong.


"Saya nggak mau. Takut Bapak nipu saya dan berujung saya diperdaya di tempat terpencil." Tanpa tedeng aling aling, Bunga begitu gamblang menyuarakan isi hatinya yang terkesan menuduh Dibi sebagai penjahat wanita.


"Wah, otak mu saja yang kotor. Saya mah mana mau sama cewek rata seperti mu." Dibi mencibir.


Aih, menghina. Masih melangkah, Bunga melirik kesal ke Dibi. "Kayak situ sempurna saja."


Bunga mencari perkara. Tanpa ia sadari, Dibi yang hatinya sensitif kalau mendengar kata sempurna yang memang tidak dimiliki oleh hatinya dan berujung menyakiti Mama Arpina di masa lalunya yang masih tersimpan segar di otaknya, sekarang malah tersinggung.

__ADS_1


"NAIK CEPAT!" bentak Dibi. Bunga sampai terjengkit kaget. Apalagi melihat pancaran mata Dibi yang tiba-tiba memerah.


"NAIK!"


"I-iya!" Cepat cepat Bunga menurut duduk kaku di boncengan motor Dibi yang jog belakangnya sengaja dimodifikasi tinggi, jadi posisi duduk Bunga sedikit tidak nyaman. Sepeti bebek nungging yang siap mengeluarkan telurnya.


Dalam hati, Bunga berkomat kamit menghafal doa keselamatan di sepanjang perjalanan itu. Apapun yang terjadi di depan sana maka terjadilah. Ia kicep terlebih dahulu melihat emosi Dibi naik turun. Sangat susah ditebak.


Broomm ...


"Aaarggh...!" Bunga menjerit di boncengan. Dibi Popret (Polisi kampret) ini menambah kecepatan lajunya. Polisi tidur di jalan itu pun di labas tanpa sedikit mau menurunkan gasnya. Alhasil, si tubuh mungil Bunga yang tidak mau terjatuh atau terbang di bawah angin, terpaksa memeluk pinggang Dibi begitu erat. Membuat pinggang berikut perut Dibi sedikit sesak.


"Jangan kencang kencang pegangannya!" Teriak Dibi di balik helmnya.


Oh, kencang kencang pegangannya katanya. Telinga Bunga bermasalah karena angin ribut di atas motor itu memberi efek budek. Baiklah kalau begitu. Semakin erat, Bunga melingkarkan pegangannya.


Dibi hanya menghela nafas kesal di depan sana. Gadis ini memang selalu juara membuat emosinya naik terus. Lama lama, ia bisa terserang penyakit darah tinggi dibuat kesablengan Bunga.


Sudah malas memberitahukan, Dibi membiarkan Bunga berpegangan kuat di sepanjang perjalanan.


Ckiit...


Sampai di depan pagar rumah pun, Bunga masih berpegangan kuat, dengan mata masih terpejam takut, akibat cara kemudi Dibi seperti kesurupan arwah pembalap liar yang mati di tempat kejadian saat bertanding.


Terang saja Emak dan Arpina melihat scane tersebut yang sangat so sweet menurutnya.


"Cieeee, Cieeee ... Uhuyy..." Arpina langsung menggoda dari kejauhan sembari mendekat ke arah pagar. Lantas menyadarkan Bunga. Gadis itu gelagapan salah tingkah. Tanpa berterima kasih, Bunga secepatnya turun dari boncengan dan main ngacir ke rumahnya. Si Emak yang menyapa dengan raut lega melihat keadaan fisik Bunga masih lengkap, pun tidak mendapat respon.


"Tante, besok cerita cerita ya. Arpina tunggu __Hehe, Papa. Yuk, Pa. Masuk rumah. Jangan melotot dong. Nanti __"


"Masuk, Arpina. Atau besok Papa kirim lagi ke jakarta."


"Iya, Papa! Arpina nurut."


Arpina saja dapat percikan kekesalan Dibi. Gadis kecil itu langsung berlari masuk ke rumahnya. Daripada dipulangkan katanya.


"Nak Dibi, terimakasih ya sudah membawa pulang Bunga dengan selamat. Maaf merepotkan mu," ucap Emak dari rumah sebelah.


"Tidak masalah, Emak. Selamat malam." Sepeti biasa, Dibi selalu sopan pada orang tua.

__ADS_1


Sementara Bunga yang sudah di dalam kamarnya, langsung membanting tubuhnya ke kasur, lalu berkata, "Semoga besok bertemu pangeran perjaka, bukan Dube itu lagi. Amin!"


__ADS_2