Mak Comblang Dube (Duda Beken)

Mak Comblang Dube (Duda Beken)
Bab 39# Pernyataan Delon


__ADS_3

"Yang sakit cuma kaki loh, Pak. Bukan tangan, saya bisa nyuap sendiri!"


"Aaa ... Buka mulutmu! Jangan cerewet bisa nggak sih? Orang lagi diperhatiin juga, selalu saja bawel."


Sudah diprotes masih dipaksa saja disuapin. Ini, si Dube niat ngajak bermesraan dengan cara menyuapinya, apa mau dirinya keselek karena setiap suapannya itu loh yang meresahkan, besar besar bagi mulut Bunga yang terbilang mungil.


"Jangan besar besar, Bapak! Nanti saya mati keselek, nggak elegan sekali scene matinya." protes Bunga dengan mulut penuh. Nyesel Bunga membiarkan Emaknya pulang bersama Arpina tadi. Jadinya, Dibi sekarang bebas bertindak sesuka hati. Duh, dijitak manja lagi.


" Jangan ngomong sembarangan. Kalau kamu mati, saya nanti sama siapa? Menduda lagi, gitu?"


Bunga tersenyum simpul. Meski suara Dibi terkesan seperti orang ngajak ribut, tapi ia tahu, kalau si Dube ini benar-benar serius padanya.


Baiklah, Dibi menurut. Jangan besar besar katanya.


"Ya Allah, Pak. Jangan kecil kecil juga. Itu nasi bisa kehitung." Lima bulir nasi di atas sendok itu yang Bunga lihat. Dibi memang sengaja menggoda, biar Bunga tidak ingat kakinya yang katanya sedang berdenyut denyut sakit nan bengkak.


"Saya memang sudah tua, Bunga. Tapi, bisa nggak sih panggilan Pak atau Bapak nya itu loh, di ubah."


Bunga refleks tersenyum. Dia berpikir sejenak, akan memanggil Dibi dengan sebutan apa?


"Jangan yang alay!"


Baru juga Bunga memutuskan untuk manggil 'Ayang Bebeb' tapi uda di-warning keras.


"Honi?"


"Sangat alay!" tolak Dibi. " Bagaimana kalau 'Mas' saja."


Pasaran amat.


"Jangan mendumel dalam hati."


Dibi tau aja kalau dirinya sedang mengumpat.


"Sok tau Ba- Mas ini." Rasanya asing sekali memanggil Dibi sebutan 'Mas'.


"Jangan Mas lah, kurang enak dengarnya juga."


Lah, Dibi malah menolak sendiri. Bunga kan jadi gemas. Spontan dia mencubit pipi Dibi. Dan dihadiahi plototan galak oleh Dibi.


"Ulu ulu, jangan ngambek, Aga...!" Mata Bunga berkedip kedip lucu.


Dibi tertegun. Bukan karena mata genit Bunga, akan tetapi sapaan 'Aga' nya itu loh.


"Aga? Artinya?"


"Ayang Galak... Hahahaha..." Bukannya takut diberi delikan oleh Dibi, Bunga malah tertawa lucu. Dibi berujung tersenyum. Tangannya terulur mentoel ujung hidung Bunga. "Nakal," katanya.


"Tapi suka nggak panggilan Aga-nya?"


Diam pertanda suka.


"Aga... Ayang galak..." Mood Bunga jadi bagus menggoda Dibi terus. Apalagi melihat Dibi salah tingkah terus dibuatnya. Ternyata, pria galak kalau sedang kasmaran auranya sangat menggemaskan. Bunga ingin cubit pipi lagi jadinya


Ceklek...

__ADS_1


"Bunga--"


Farah dan Dara yang main nyelonong masuk sembari berteriak yang bermaksud membuat kesan ceria untuk sang sahabat, jadi kompak menahan teriakan saat melihat tangan Bunga mencubit pipi Dibi.


"Kita datang tepat waktu nggak sih?" bisik Dara. Sejurus tersenyum kikuk ke Bunga yang mempersilakan mereka masuk.


"Tepatlah. Ada si Dube, waktunya kita daftar jadi calon istrinya langsung. Kita harus bersaing secara sehat ya." Farah menyempatkan membalas bisikan Dara. Lalu mereka pun benar-benar melangkah ke arah brankar Bunga. Keduanya tentu saja belum ada yang tau kalau Bunga sudah resmi menjadi wanita Dibi.


"Kebetulan kalian datang, saya titip Bunga. Tolong di temani." Farah dan Dara mengangguk kompak.


Dibi lanjut menatap Bunga, "Saya lanjut kerja dulu."


"Eum, hati hati..." balas Bunga seperti pada umumnya. Tidak mungkin juga ia bersuara mesra di depan kedua sahabatnya, kasihan pada nasib jomblo Dara dan Farah.


"Eh, Pak Pol. Kenalin, nama saya Farah." Satu sahabat Bunga itu mulai beraksi.


Bunga melongo melihat Dara pun menjabat paksa tangan Dibi layaknya kelakuan Farah tadi.


"Eum..."


Argh ... Semakin dingin wajah Dibi, dua sahabatnya itu semakin terpesona. Keduanya ingin menjerit, tetapi takut dibilang anak singa.


"Pak, saya mau daftar calon istri, Bapak." Farah to the point.


"Saya juga, Pak." Dara tak mau kalah. "Bapak tinggal tunjuk salah satu dari kami," sambungnya. Jangan ditanya wajah Bunga yang terbakar api cemburu. Dor... Untung Dibi jauh dari jangkauannya, kalau tidak. Senjata Dibi ingin ditarik Bunga dan menembak kedua bokong sang sahabatnya. Tapi, Bunga kembali berfikir dan sadar diri. Tempo hari kan, hatinya masih buta untuk Dibi, dan kedua sahabatnya tersebut sudah ngebet ingin mendaftarkan kandidat calon ibu tiri Arpina. Mereka juga sudah janji akan datang bertamu yang niatnya cuma mau mengambil perhatian Arpina.


Sudahlah, Dibi saja yang mengurus kedua temannya. Bunga juga sebenarnya ingin melihat cara Dibi mengelak dari dua sahabatnya.


"Kalian sudah lama jadi teman Bunga?" tanya Dibi ambigu.


"Oh, pantes!"


"Pantas?" Farah kebingungan. Dua kepala wanita yang lainnya pun demikian. Tapi, mereka cukup menunggu jawaban Dibi.


"Pantas Bunga jadi sableng. Kalian berdua tak kalah sablengnya.


Asem... Bunga cemberut.


" Bapak salah, Bunga yang ngajarin kami sableng. Iya kan, Farah? "


"Betul! Bunga ratunya sableng!" Farah menimpali semangat.


Kampret lah nih tiga orang di depannya. Ghibah tepat di depan hidungnya langsung. Panas dong kuping Bunga.


"Sekalian saja kalian minjam toa gih, atau buat spanduk sana kalau Bunga adalah cewek sableng." Bunga memicing ke Dibi. Seperti biasa, tampang Dibi itu selalu datar datar nyebelin, sialnya ia menyukai pria macam Dibi.


"Eh, Pak. Kok mau pergi tanpa menjawab kami?" Dara mencegah Dibi yang ingin melangkah ke arah pintu.


"Saya sudah memiliki kekasih untuk dijadikan calon istri."


Bunga mengembangkan senyum saat Dibi menatapnya penuh arti.


"Permisi..." Pamit Dibi. Tinggallah Dara dan Farah yang potek hatinya sekaligus penasaran wanita Dibi itu siapa.


Bunga adalah sumber informasi mereka berdua.

__ADS_1


"Pasti kamu tau kan, Unga?"


"Ayo, beri tahu kami!" Dara ikut merengek. Keduanya merubungi Bunga, siap bergosip ria.


"A-apaan sih kalian? Niat nengok aku atau mau ngepot info tentang Aga eh... Pak Dibi?" Syukurlah, Farah dan Dara tidak mengerti sapaan khususnya ke Dibi.


"Dua duanya, Unga."


Dara terus memaksa Bunga untuk bercerita apa yang temannya itu tau tentang Dibi. Farah tak kalah dari Dara. Sampai Bunga yang tersudut keceplosan mengaku, "Aku orangnya!"Oupss... Hening seketika. Bunga tercengir bodoh sembari menatap Dara dan Farah yang terlihat shock. Marah nggak ya padanya?


" Kok bisa? Kamu selingkuh di belakang Delon ya?" Dara memicingkan matanya. Menuntut jawaban Bunga.


Tidak ingin ada dusta di antara persahabatan mereka, Bunga pun dengan rinci menjelaskan tentang Delon yang hanya berpura-pura doang terhadapnya. Sampai rasa yang ia alami belakangan ini ke Dibi tak disembunyikan lagi oleh Bunga untuk Farah dan Dara dengar.


"Maaf ya, pasti kalian marah sama aku." Bunga mengaku salah. Soal hati itu sangat sensitif, jadi Bunga sedini mungkin merendahkan hatinya demi keutuhan persahabatan mereka.


"No problem. Aku ikhlas kalah kok, iya kan Farah?" kata Dara. Sang Empu nama mengangguk sembari tersenyum tanpa beban.


Lanjut Dara mengelus bahu Bunga. "Selamat, sebentar lagi akan berstatus tua."


Ketiganya lanjut tertawa bersama. Untungnya, Dibi memilihkan ruangan rawat VIP untuk Bunga, jadi tidak ada pasien lain yang terganggu oleh suara berisik mereka.


Ceklek... Pintu kembali terbuka, sekarang tamu Bunga adalah Delon dengan membawa parsel buah sebagai oleh oleh untuk Bunga.


"Boleh saya masuk?" kata Delon di dekat pintu.


"Nggak boleh!" Farah yang menjawab ketus.


"Nanti teman kami kamu bohongin lagi. Huuu..." Dara ikut ikutan. Mereka memang sangat menyayangi Bunga sebagai sahabat yang baik.


"Come on, guys. Delon cuma pion. Sudahlah, kita nggak boleh dendam. Masuklah Delon."


Farah dan Dara hanya pasrah. Sahabatnya itu memang rendah hati untuk memaafkan.


Delon pun masuk. Memberikan buah tersebut untuk Bunga sembari bertanya, "Bagaimana keadaanmu?"


"Beginilah... Saya nggak boleh menggunakan kaki secara leluasa untuk beberapa bulan, kata Dokter."


Meski kakaknya yang melakukan kejahatan ke Bunga, Delon pun ikut bersalah dan tidak enak hati. "Boleh kita berbicara empat mata?"


Belum bersuara, Bunga menatap kedua sohibnya.


"Iya, kami paham. Tapi, Delon. Awas macam macam. Kami ada di luar, Unga. Teriak saja kalau dia bertingkah aneh." Dara lanjut menarik tangan Farah. Meninggalkan ruangan.


"Jangan diambil hati omongan Dara dan Farah. Mereka memang ceplos, tapi baik kok."


Delon kenapa baru sadar, kalau Bunga itu sangat baik. Nyesal sekali dirinya sempat menyakiti wanita ini.


"Nggak kok. Saya mengerti. Sebenarnya, saya kemari ingin meminta maaf padamu, Unga." Delon berniat mengungkapkan kesalahan kakaknya.


"Jangan dibahas lagi deh, Delon. Kan saya sudah memaafkan mu__"


"Ini soal Mbak saya. Sebenarnya, dia lah yang membuat kaki mu seperti ini."


Deg...

__ADS_1


__ADS_2