
Meski tak tercuat dari mulut Arpina kalau gadis kecil itu 'kecewa' padanya, Bunga sudah tau dari pancaran air muka bocah itu. Tapi, apa yang harus ia lakukan? Lagian, kenapa harus ada Arpina sih? Ah, harusnya ia senang dong. Dengan begitu, Arpina tidak lagi mengganggu hari damainya. Tapi, kok ada rasa aneh ya?
Dengan tampang datar, Arpina naik ke panggung setelah Delon menyelesaikan lagu romantisnya ke Bunga. Gadis kecil itu hanya cuek ke Bunga, tidak menegur apalagi tersenyum seperti sedia kalanya yang suka menggoda Bunga dengan kejahilannya. Lempeng seperti dinginnya seorang Dibi mendominasi wajah galak nan datarnya kalau lagi mood serius.
Arpina berbisik bisik ke om yang memagang kendali alat musik piano dengan berkata, "Om, Arpina boleh membawakan instrumen ku di sini?"
Si Om tentu menyambut baik. Kapan lagi cafe sang bos ada persembahan gratis dari pengunjung yang notabenenya adalah anak kecil jelita. Lagian, si bocah ini tidak akan menawarkan diri kalau tidak mempunyai skill bermusik, pikir pria itu.
"Boleh dong, Dek. Sangat boleh!"
Arpina hanya tersenyum kecil sembari duduk di kursi menggantikan si Om. Sejenak melirik ke Bunga yang bergeming di tempat padahal Delon berusaha menariknya turun ke panggung.
"Tante yang baru jadian sama Om jelek itu, iya, kalian. Instrumen musik ciptaan ku bersama Papa ku ini hadiah untuk hari jadi kalian. Meski, Arpina kurang paham makna pacaran itu apa sih, tapi melihat raut wajah senang si Tante tadi, pasti itu bahagia dan indah mungkin." Arpina berpidato memakai pengeras suara yang sebenarnya sudah tergantung apik menyatu dengan alat musik piano itu. Sebagian besar pengunjung merasa gemas dengan pidato Arpina. Apalagi mengumpati Delon 'jelek' secara terang terangan dengan wajah polos tak berdosa, membuat orang-orang tersenyum geli.
" So, saya persembahkan untuk Tante Bu__ eh maksudnya Tante yang berbunga bunga. Ini untuk mu, jadi kemari lah! Duduk di sampingku! Kalau buat Om jelek, duduk sana. Kursi nggak muat!"
Pelangi dan Guntur hanya bergeming di table mereka. Membiarkan Arpina mengeluarkan apa yang ada di dalam benaknya. Bunga sendiri yang perasaannya tiba-tiba tidak enak hati, menuruti keinginan Arpina. Delon? Dua kali dikatain jelek, menggerutu kesal dalam hati sembari menghampiri mejanya.
"Pin, kamu masih kecil. Suatu saat nanti, pasti kamu tau apa yang aku alami." Bunga segera berbisik menjelaskan baik baik ke Arpina. Tapi, bocah itu hanya sibuk mempersiapkan diri untuk mempertontonkan skillnya yang sedari berumur lima tahun belajar alat musik piano.
Dentingan musik awal pembukaan terdengar berantakan nadanya. Para pengunjung yang tadinya antusias, bersorak kecewa karena pikiran mereka tidak sesuai ekspektasi. Dikira, Arpina jago, tapi masih perlu belajar. Namun sebenarnya, Arpina memang sengaja melencengkan nadanya karena merasa kesal pada Bunga yang berbisik membujuknya.
"Pin, ayo pulang. Jangan nakal di tempat umum."
Teng... Teng...
Huuu... Sorak para pelanggan kembali membully karena Arpina bermain main sengaja lagi. Dan itu adalah jawaban kesalnya ke Bunga yang mengatainya nakal.
Namun, Arpina yang memang bebal, hanya menulikan telinganya akan suara pengunjung cafe terang terangan menyuruhnya turun.
Karena si Om pemilik piano terlihat dari ujung mata Arpina, memberinya kode turun, Arpina pun tidak bermain main lagi. Instrumen piano yang memukau mulai terdengar indah. Hening sesaat karena mereka semua terpana irama permainan piano Arpina.
Bunga pun merasa speechless. Inilah namanya bocah nakal tapi pintar dan berbakat.
Merasa bangga dengan permainan anaknya, Pe berdiri dan sengaja membuat video yang rencananya akan dikirim ke Dibi.
Tepuk tangan keras menghadiahi Arpina di tengah tengah alunan instrumen romantis menghanyutkan.
__ADS_1
Pertunjukan memukai Arpina cuma berdurasi tujuh menit.
Lagi dan lagi para pengunjung memintanya untuk bermain. Tapi, kode Pe yang menggeleng membuat Arpina paham kalau waktunya ia berhenti dan harus pergi.
Tengok ke kanan sebelum beranjak dari kursi itu, dimana Bunga juga menatapnya dengan diam.
"Tante Bunga bukan lagi kandidat calon Mama tiri ku!"
Deg...
Harusnya, Bunga senang mendengar itu. Tapi, kenapa ada separuh nyawanya yang tercabut paksa dalam perasaannya. Hatinya pun menjelos dan terenyuh sakit melihat tatapan Arpina yang berkaca kaca kecewa menatapnya. Wajah ceria bocah kecil itu pun tertekuk mendung nan dingin untuk dilihat pertama kalinya selama bertetangga. Biasanya, Arpina ia ketusin juga, anak itu malah menggoda ejek kembali. Tapi barusan, sisi lain Arpina menyeramkan sekaligus menyedihkan untuk Bunga. Ada rasa bersalah di hati Bunga saat ini.
Sepersekian detik, Bunga hanya mematung di depan piano itu sembari menatap kepergian Arpina yang digendong gemas oleh pria asing bagi mata Bunga yang tak lain adalah Guntur.
"Are you okay?" Delon datang. Bunga tidak merespon. Wanita itu segera beranjak pelan. Tidak semangat gara gara omongan Arpina yang mengatakan 'Tante Bunga bukan lagi kandidat calon Mama tiri ku!'
"Bunga, ada apa?"
"Aku cuma mau pulang!" Bunga langsung beranjak cepat dengan wajah penuh rasa beban. Membiarkan Delon di belakang sana.
Bunga tidak bisa tenang. Mata kecewa Arpina selalu terbayang bayang memenuhi pikirannya. Harusnya, ia itu bahagia karena habis jadian dengan Delon. Tapi, rasa itu tersisih karena Arpina.
Keluar rumah. Tengok ke balkon bocah itu. Tertutup rapat. Lanjut ngintip ke pelataran dengan berpura-pura menyiram tanaman. Ada noh, bocahnya serta ketiga orang tuanya sedang berpamitan. Apa Arpina akan ikut ke Mamanya lagi? Bunga kepo. Lanjut siram kembang sampai pot itu penuh air dan berceceran berantakan, sembari menajamkan pendengaran.
"Benar nih, Arpina masih betah sama Papa Dibi?" tanya Pe meyakinkan lagi keputusan sang anak.
"Benar, Ma, Pa. Arpina kasihan sama Papa Dibi. Sendirian terus." Arpina memberi senyum terbaiknya ke Pelangi dan Papa tirinya. Dibi yang tau anaknya amat peduli padanya, berangsur merangkul sayang Arpina.
"Aku janji, Pe, Guntur, Arpina akan ku awasi lebih ketat lagi agar jauh dari kata celaka." Dibi mencoba meyakinkan Pelangi kalau ia Bapak yang baik.
"Okelah kalau begitu, keputusan memang ada di tangan Arpina. Kita tidak bisa memaksa. Dan kamu, Arpina, belajar yang giat dan jangan nakal. Nurut sama Papa mu di sini," tutur Guntur diangguki semangat oleh Arpina.
Satu kecupan jidat dari Pe, Arpina dapatkan serta pelukan perpisahan. Guntur pun demikian. Kendati kemudian, mobil mengkilap tersebut meninggalkan pelataran.
Dibi dan Arpina, kompak menoleh ke rumah tetangga, ada Bunga yang ketahuan curi curi pandang sedari tadi oleh mereka.
"Ayo, kita masuk!" ajak Dibi.
__ADS_1
"Arpina mau duduk di teras aja, Pa. Nyari angin segar, boleh?"
"Jangan keluar pelataran ya." Dibi membiarkan dan ia pun segera masuk.
Setelah punggung sang Papa menghilang. Arpina menengok ke arah Bunga. Si tante masih ada di sana. Arpina iseng samperin dan berdiri di sisi pembatas rumah, lalu berkata, "Kata Mama, saya harus minta maaf ke Tante Bunga karena selama ini uda gangguin dan repotin," tuturnya sangat lancar.
"Nggak kok, nggak repotin." Salah ngomong nggak sih? Kok Bunga plin plan begini. Haduuuh...
"Jadi, dimaafkan nggak Arpinanya?"
Bunga menggeleng, sejurus mengangguk. Arpina tersenyum, meski kecewa sama si Tante, menurutnya Bunga tetap lucu.
Tadi, Arpina itu mendapat panjang kali lebar penjelasan bijak dari Papa Guntur dan Mamanya selama perjalanan pulang dari cafe, kalau keputusan seseorang tidak boleh dipaksa apalagi memaksa orang cuma keuntungan pribadi semata. Maka dari itu, Arpina meminta maaf ke Bunga karena sudah merasa keterlaluan memaksakan kehendaknya ke Bunga untuk menjadikan wanita itu menjadi ibu tirinya.
Duh, kok anak orang tiba-tiba sikapnya sopan begini ya. Bunga semakin galau saja.
"Tante, Arpina mau nanya nih, sebenarnya apa bedanya sih Duda sama perjaka itu? Kenapa Tante, ngebet nolak Papa dan milih Om Melon?"
Gimana ya jelasinnya ke bocah kecil yang masih awam ini? Bunga bingung. Masa ia nyamplak tanpa saringan sih.
"Apa orang duda itu seseorang yang patut dikucilkan ya? Atau karena Papa punya anak Arpina yang nakal, jadi tante nolak? Kalau Arpina tidak ada di sisi Papa, apa tante tetap memilih Om Melon ketimbang sama Papa? Duda juga manusia loh, Tante."
Jlebb...
Kenapa pertanyaan cerewet Arpina sangat mengena yang berhasil menjatuhkan mentalnya. Bunga gelagapan tidak bisa berkata kata untuk menjawab pertanyaan anak cerdas ini.
"Tadi, Tante Denisa ... kenal kan? Itu, kakaknya Om Melon yang pernah ngurung Arpina di bagasi?" Bunga mengangguk pelan sebagai jawaban. "Datang ke rumah Arpina. Minta maaf sama Arpina dan Mama Papa ku. Kira kira, cocok nggak jadi calon mama tiri ku?"
"A_ a..." Seperti orang gagu, Bunga kembali tidak bisa menjawab.
"Arpinaaaaa, masuuukkkk!"
Suara samar samar Dibi yang berteriak di dalam rumah, terdengar. Mungkin pria itu melihat anaknya berbicara dengan Bunga.
"Iya, Paaa. Arpina nggak nakal dan nggak gangguin Tante Bunga lagi, kok." Arpina balas berteriak di depan Bunga. Sejurus menuruti panggilan sang Papa. Meninggalkan Bunga yang mematung di tempat.
Nggak gangguin lagi? Harusnya, Bunga senang mendengarnya, tapi tapi...? Hah... Entahlah. Bunga juga bingung pada diri nya yang plin plan.
__ADS_1